Selasa, 29 September 2015

BROKEN HEART : (3) BERHENTILAH SAAT LAMPU MERAH

Ada sebuah cerita tentang lampu merah. Bukankah disana ada 3 warna lampu? Merah, Kuning, dan Hijau. Tapi kenapa orang-orang menyebutnya Lampu Merah, bukan lampu Kuning, Lampu Hijau atau Lampu Merah Kuning Hijau? Menurutmu kenapa? Jawabannya mungkin karena jika kamu tidak berhenti saat lampu merah menyala, kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar. Cedera atau bahkan kehilangan nyawa. Berbeda saat seseorang melanggar lampu hijau atau lampu kuning semuanya masih akan baik-baik saja. Jadi ketika kita melihat 'lampu merah' dari seseorang, berhentilah! Supaya kamu tidak merasa lebih sakit.

Line.

Tania: Aku akan menerormu sampai kamu ikut liburan! Siapkan diri!

Line.

Dion: Hei. Lebih baik kamu ikut kami liburan kalo tidak pertemanan kita berakhir. Ini ancaman serius tolong jangan diabaikan.

Line.

Dion: Aku akan kirim pesan 3 kali sehari. Ah tidak, 10 kali sehari.


Dava tersenyum melihat pesan dari Dion dan Tania yang menerornya dalam waktu yang bersamaan. Ah mungkin mereka sedang duduk bersebelahan saat ini. Sepertinya Dion dan Tania ingin menjodohkan dirinya dengan Shei. Apa mereka gila? Kisah cintanya dengan putri keluarga politisi saja berakhir sia-sia setelah 7 tahun, sekarang dia harus menjalin hubungan dengan keluarga Suharjo. Sebuah keluarga konglomerat dimana ayah Sheila adalah orang terkaya di Indonesia saat ini. Dava berfikir itu semua tidak akan berhasil. Lagi pula 7 tahun hubungannya dengan Karina bukanlah waktu yang dengan mudah bisa dilupakan. Terlalu banyak kenangan indah didalamnya.

Ting tong! Suara bel terdengar. Dava berjalan gontai menuju kearah pintu. Ditariknya pegangan pintu dengan malas.

Dava sedikit tersentak melihat siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya.

"Karin..."

"Hai Va. Boleh aku masuk?" ucap Karina ragu.

Dava tidak menjawab hanya gestur tubuhnya memberikan isyarat untuk mempersilahkan Karina masuk. Karina pun duduk di sofa, dia terlihat sangat gelisah dan tak nyaman. Begitu pun dengan Dava. Namun mereka tetap harus bicara bukan? Mereka belum pernah bicara lagi sejak malam lamaran itu.

"Kenapa kamu kemari?" tanya Dava memecah keheningan yang sedari tadi mengelilingi mereka.

Karina mengeluarkan sesuatu dari tas-nya dan menaruhnya di meja.

"Aku sama sekali tidak ingin kamu datang. Tapi aku pikir aku harus menyerahkan undangan ini sendiri daripada kamu terima dari orang lain. Untuk menghormati 7 tahun hubungan kita" ucap Karina sambil berusaha mengatur nada suaranya yang semakin parau. Terlihat sekali ekspresi acuhnya dibuat-buat.

"Kenapa aku berfikir sebaliknya. Kenapa aku berharap sekarang kamu gak disini buat ngasih undangan ini?" Dava berbicara dengan tenang. Dia mencoba mencari celah untuk melihat mata Karina yang sedari tadi hanya melihat ke sembarang tempat.

"Maaf, Va! Aku minta maaf!" ucap Karina lirih, suaranya terdengar semakin parau menahan tangis yang sepertinya akan pecah. Karina tidak bisa lagi berpura-pura di depan Dava kalau dia sebenarnya juga merasa hancur. Tapi toh Karina sudah membuat keputusan yang menurutnya adalah yang terbaik.

"(Teng tong). Dava ini aku, Va. Buka pintunya!" terdengar suara seseorang memanggil. Dava mencoba mengenali suara itu. Ah Shei rupanya. Dia pun kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya. Dengan cepat Shei sudah berlari kedalam apartemen Dava dengan wajah paniknya, seakan tertulis di kening Shei 'aku baru saja keluar dari kematian'. Dava tersenyum.

"Sumpah Va. Di apartemenku banyak kecoa, semut bahkan tikus! Kotor banget, aku sampai mau pingsan! Aku boleh diam disini ya sampai mba Irah pembantuku datang. Pleaseeee!" Shei memasang muka 'cute' pada Dava tanpa menyadari kalau sedari tadi ada orang lain sedang duduk di sofa memperhatikan polahnya.

"Eh ada tamu. Maaf ya tadi aku panik jadi gak sadar kalau ada orang lain." Shei tersenyum pada Karin sambil sedikit membungkukan badannya.

"Gak apa-apa kok. Karin udah mau pulang juga. Iya kan, Rin?" Dava menatap Karin.

"Ah, iya. Aku juga mau pulang. Santai aja!" Karin membalas senyum Shei seraya berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Karin beberapa kali menoleh ke arah Dava dan Shei. Dia menyadari bahwa hatinya cemburu. Sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan oleh orang jahat seperti dia.


"Siapa Va? Pacarmu ya?" Shei meninju manja bahu Dava sambil mengerlingkan matanya.

"Bukan. Kami cuma temen dan dia datang buat ngasih undangan pertunangan." Dava menunjuk kartu undangan yang tergelatak di meja.

"Oh" Shei manggut-manggut.

"Mau minum apa Shei?"

"Apa aja, asal jangan air keran. hehehe"

"Mana mungkin aku kasih air keran. Kamu ini! Kok bisa apartemenmu kotor begitu?"

"Salah aku juga sih, Va. Jadi kan aku gak pernah tinggal disana, nah temenku yang dari Ausie tinggal sementara disitu. Ternyata orangnya jorok banget! Sampah dimana-mana! Kesel banget!"

"Oh, tapi aneh loh. Aku juga belum pernah berpapasan sama temenmu itu. Jadi aku pikir apartemen itu masih kosong."

"Ah sudahlah jangan dibahas lagi. Aku masih kesel sama temenku yang tidak bertanggungjawab itu!"

Shei berjalan melihat sekeliling. Apartemen Dava terlihat sangat rapih, berbanding terbalik dengan apartemennya yang seperti tempat pembuangan sampah. Di meja yang ada di sebelah kiri ruang tamu terlihat berjejer piala-piala beserta piagam penghargaan yang di terima Dava.
Sekali lihat pun, Shei tahu kalau Dava memang orang yang pintar.

Shei melihat sebuah figura foto tertelungkup di meja. Shei pun mengambilnya.

Wanita ini? Gumamnya

Tentu saja foto yang dilihat Shei adalah foto Dava dan Karin. Foto mereka telihat sangat bagus dan serasi. Wajah bahagia mereka juga terpancar jelas dari foto itu. Tiba-tiba tangan Dava menarik foto yang sedang dipegang Shei dengan cepat.

"Jangan menyentuh barang pribadi orang lain, anak nakal." Dava menyentuh kepala Shei dan mengacak-acak rambutnya seperti anak kecil.

"Aku bukan anak kecil!" Shei tidak terima. Shei benar-benar penasaran akan sesuatu tapi dia ragu untuk menanyakannya pada Dava. Dia pun hanya terdiam menatap Dava.

"Namanya Karina." Ucapan Dava yang tiba-tiba itu membuat Shei tersadar dari diamnya. Shei sama sekali tidak mengira bahwa Dava ternyata membaca pikirannya.
"Kami sudah pacaran selama 7 tahun. Dan berakhir karena dia bertunangan dengan orang lain." Lanjut Dava. Dan Shei semakin tidak menyangka bahwa Dava sekarang sedang menceritakan masalalunya. Padanya!

"Wanita yang gak punya hati!" ucap Shei sedikit bergumam.

"Karina itu orang baik, Shei. Cewek terbaik yang pernah aku temui. Mungkin kita memang tidak berjodoh aja."

"Kamu masih membela dia? Gak bisa dipercaya! Well, setidaknya kita punya persamaan. Sama-sama ditinggalin sama orang yang kita sayang."

"Siapa yang berani ninggalin cewek lucu kayak kamu, Shei?" Dava tersenyum. Sementara Shei sedikit kikuk dibuatnya.

"Ada deh, cowok brengsek yang bilang kalau dari awal hubungan kami itu hubungan bisnis. Padahal aku tulus banget sama dia. Oke lah kalo memang awalnya karena bisnis tapi masa iya setelah 3 tahun pacaran dia gak punya perasaan apa-apa sama aku? Kan brengsek banget! Aku bahkan mergokin dia selingkuh di hotel" Sheila berusaha mengatur emosinya.

"Ah, jadi itu sebabnya Dion bilang supaya aku jagain kamu!"

"Jagain aku? Dasar Dion! Emangnya aku anak kecil apa? Awas aja kalau ketemu!"

"Tapi dari yang aku tahu kamu memang kayak anak kecil Shei. Lucu-lucu ngegemesin gimana gitu."

"Uhuk! Uhuk! Kok aku jadi mules dengernya. Hahahaha"

Shei mengambil kartu undangan pertunangan Karina. "Rio Arva Dharmawan?" Shei mengernyitkan dahinya. "Rio?"

"Kamu kenal dia Shei?" tanya Dava menyelidik.

"Aku ketemu dia pas Kuliah di Ausie. Bodoh banget Karina lebih milih Rio daripada kamu Va!"

"Apa yang kamu tahu soal Rio?"

"Gak tahu banyak sih. Tapi dia lebih brengsek dari Joe."

"Joe?"

"Ah, mantan pacarku yang brengsek. Rio itu temennya Joe. Aku kenal Rio ya karena dikenalin Joe. Dia suka make Va!"

"Make? Narkoba maksudnya?"

"Iya. Dia juga pernah terlibat kasus kekerasan pas di Ausie. Cuma karena orang tuanya kaya jadi semuanya diselesaikan dengan baik dan cepat."

Dava tertegun.

"Are you okay?" Shei sedikit khawatir melihat Dava yang membatu dan bergulat dengan pikirannya sendiri. Shei mengambil teh yang dipegang Dava kemudian menyeruputnya.

"Ah, aku baik-baik aja."

"Dava, kamu mau tahu sebuah cerita yang dicertakan Tania padaku?"

"Cerita apa?"

"Cerita tentang lampu merah."

"Lampu merah?"

"Ada 3 lampu di persimpangan jalan. Lampu hijau, lampu kuning, dan lampu merah. Saat lampu merah menyala, apa kamu mau tetap melajukan kendaraanmu?"

"Tentu saja tidak!"

"Jadi berhentilah saat kamu melihat lampu merah dari Karina, Va." Shei menepuk pundak Dava.

"Anak kecil bisa bicara seperti ini juga?" Dava tersenyum.

"Ini cerita Tania untuk menghiburku. Dan satu lagi AKU BUKAN ANAK KECIL!!!! Aku 24 tahun!"

"Oh ya? 24? Kamu kayak anak 17 tahun Shei. Hahahaha"

"Dava rese!"