SMA Patriot 1
Aku memasuki
kelas yang sudah terlihat ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok
Dika. Aku benar-benar merindukannya. (Kamu boleh bilang aku gila!)
Aku menemukannya.
Dia sedang tertawa membicarakan sesuatu dengan teman sebangkunya sambil menenteng
gitar kesayangannya. Pandangan kami beradu. Untuk pertamakalinya aku panik saat
melihat matanya. Ralat, dulu lumayan sering sih. Dulu sekali. Tapi ini
pertamakalinya sejak deklarasi perang yang dia lontarkan padaku.
“Eh Na, bedaknya
ketebelan tuh!” Dia tertawa meledek. Sial. Aku benar-benar malu dibuatnya. Apa
benar bedakku ketebelan? Aku memang melakukan make-up tambahan saking
semangatnya mau bertemu dengan Dika. Dalam keadaan normal mungkin aku akan
membalas ledekannya dengan teriakan atau apalah namun harus dicatat bahwa saat
ini aku sedang tidak normal. Aku malah berjalan setengah berlari menuju mejaku
tanpa berani melihat wajahnya lagi. Beberapa siswa terlihat keheranan. Mungkin
awalnya mereka berfikir akan menyaksikan perang hebat lagi diantara kami.
Pelajaran hari
ini adalah membahas tentang otak manusia. Bu guru menyinggung sesuatu yang
disebut synesthesia. Sesorang yang memiliki synesthesia bisa melihat sesuatu
dengan sisi bebeda. Misal melihat huruf dengan warna yang berbeda, setiap hari
juga memiliki warna yang berbeda.
“Menurut kalian,
synesthesia itu kelainan atau bukan?” Tanya Bu Fani.
“Kelainan bu!
Cara otak si penderita mengolah data yang masuk berbeda dengan otak normal.
Sehingga hasilnya pun memiliki persepsi yang berbeda dengan kebanyakan orang.
Sudah jelas ini kelainan.” Lukman yang duduk paling depan menjawab.
Ibu Fani
mengangguk-anggukan kepalanya “Ada yang berfikir lain?” dia kembali bertanya.
“Menurut aku itu
bukan kelainan, hanya sebuah kondisi atau kemampuan bu. Menurut Wiki
synesthesia adalah a neurological phenomenon in which simulation of one sensory
or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second
sensory or cognitive pathway. Sebuah penomena, sebuah kondisi. Ini bukan
penyakit ataupun kelainan yang menggangu fungsi otak. Synesthesia lebih ke
berupa kemampuan lebih seseorang. Karena justru banyak pemilik kemampuan
synesthesia tidak mau di sembuhkan. Seorang synethetes bisa melihat hurup atau
angka dengan warna yang berbeda, suara/nada juga memiliki warna/bentuknya
sendiri membuat mereka bisa membedakannya dengan cepat.”
“Wah, seperti biasa
Dika seperti wiki berjalan ya?” Ibu Fani tertawa disambut tawa siswa lainnya.
“Ada pendapat yang lain mungkin?” tanyanya lagi.
Akupun mengangkat
tangan. Ibu Fani mempersilahkanku untuk bicara. Tiba-tiba seluruh ruangan
hening – seperti biasa. Mungkin mereka sedang menunggu sebuah bom di lemparkan
dari bawah mejaku. “....aku setuju dengan pendapat Dika.”
Haaaaaaahhhhh?????
Suara keheranan terdengan di seluruh ruangan.
“.....kita semua
memiliki synesthesia sepertinya. Seperti berkata ‘wajah cantiknya sangat
manis’. Mana ada wajah yang manis? Wajah dilihat oleh indra penglihatan, manis
dirasakan oleh indra pengecap. Keduanya disatukan oleh otak. Hanya karena cara
kerja otaknya yang berbeda bukan berarti otak itu tidak bekerja atau terganggu.
Namun apa benar yang seperti itu sudah bisa dibilang synesthesia? Menurut saya
tingkat kemampuan synesthesia seseorang itu berbeda-beda. Pada tingkatan yang
lebih ekstrim, saat seorang synethetes membuat hurup P, dia melihat warna ungu,
setelah dia menambahkan garis menjadi hurup R warnanya berubah jadi orange.
Bunyi klakson juga memiliki warna yang berbeda. Nada Do memiliki warna yang
berbeda dengan Mi. Dan seterusnya. Mungkin ada juga yang misal saat melihat
Lukman dia mencium bau bunga kenanga, tentu bukan bau farfume ya, dan saat
melihat Dika mencium bau bunga Raflesia arnoldi, sorry, bunga mawar maksudnya.”
Semua siswa tertawa mendengar penjelasanku.
“Wah menarik,
bagaimana kalau kita jadikan ini pekerjaan rumah? Setiap siswa menuliskan
apakah synesthesia itu penyakit,kelainan atau kemampuan lebih, atau apa?
Terangkan juga pendapat kalian masing-masing. Kumpulkan minggu depan ya!” Ibu
Fani mengakhiri pelajarannya dengan pekerjaan rumah. Seperti biasa, selalu
seperti itu.
Jadi perbincangan
heboh setelah itu bukan lagi masalah synesthesis tapi mengenai seorang Keena
yang menyetujui pendapat Dika di depan semua orang. Hal ini adalah yang pertama
kalinya terjadi.
“Ini aneh. Keena
setuju sama pendapat Dika. OMG udah mau kiamat kayaknya. Biasanya kalopun Dika
bener, Keena bakal milih diam daripada bilang setuju di depan semua orang. Dan
tadi sejarah banget gak sih?” Seorang gadis bernama Hana mulai menggosip dengan
siswa dari kelas lain. Dia memang biang gosip di sekolahku. Semua gosip yang
beredar 99% berasal dari mulutnya.
***
“Gosip soal lo
sudah berkembang sangat ekstrim Na.” Ucap Nayla sambil menyuapkan siomay mang
Udin ke mulutnya.
“Ekstrim?”
“Katanya lo kayak
gitu karena lo mulai suka sama Dika.”
Aku terdiam
mendengar gosip itu. Ah mungkin karena itu bukan gosip. Aku memang menyukainya.
Mataku tak pernah lepas dari sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di ujung
meja sana. Dika dan Renata. Pasangan paling serasi di sekolah, katanya. Renata
adalah siswi cantik nan populer dari kelas 2. Ya, dia adik kelas Dika.
“Halo Na? Lo
liatin apa sih? Dika sama Renata?” Nayla terlihat bingung saat tahu aku sedang
memperhatikan mereka.
“Lo beneran suka
sama Dika ya?” tanyanya setengah berbisik.
“Berani-beraninya
dia bermesraan di depan gue. Gue gak terima suami masa depan gue mesra-mesraan
sama cewek lain di depan gue.”
“Bentar. Suami
masa depan? Lu kesambet apaan si Na?” Nayla semakin bingung dengan sikapku.
“Tunggu disini. NAY
GUE BAYAR MINUMAN DULU YA” Aku mengeraskan suaraku saat mengucapkan kalimat
terakhir.
Nayla hanya
mengangguk bingung padaku. Aku kemudian berjalan menuju sepasang iguana kurang
ajar itu dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minumanku ke baju Renata.
“Ups. gak
sengaja.” Ucapku
Renata
merengek-rengek pada Dika karena baju dan rok nya basah olehku. Minta di
perhatikan banget. Jijik banget liatnya. Idih dasar laler.
“Kak Keena pasti
sengaja deh yang, kamu udah denger kan gosip kalo Kak Keena suka sama kamu.”
Ucap Renata manja. Sementara Dika masih menatapku dingin.
“Idih, kan udah
di bilangin gak sengaja.” Aku kesel juga liat muka sok nya Renata.
“Gimana itu bisa
di bilang gak sengaja Na? Lo tuh paling jelek kalo akting. Minta maaf sama Rena
sekarang!” Dika membentakku pemirsah. Helloooo
gue istri masa depan lo Dika, buka mata lo! Gumamku dalam hati
“Kenapa gue harus
minta maaf? Kan gak sengaja. Kalo sengaja baru gue mau minta maaf.” Wah aku
benar-benar mengeluarkan kekejamanku. Kutatap sinis wajah sok lugunya Rena.
“Udah Re, kamu
pergi ke toilet sekarang. Biar dia aku yang urus.” Rena pun pergi atas titah
Dika. Setelah Rena tak kelihatan lagi, Dika melanjutkan perdebatan ini denganku
“Lo kan punya
masalahnya sama gue, jadi jangan bawa-bawa cewek gue dong. Kalo lo sekali lagi
ngebully Rena. Gue gak bakal tinggal diam.”
“Bully? Wow. Gue
cuma gak sengaja numpahin minuman (hehe bohong, sebenernya SENGAJA :P) terus lu
sebut gue ngebully dia? Wow!” Emosi Keena emosi.
“Gak sengaja?
Oke!” Dika maju satu langkah dan menumpahkan minumannya padaku. “Ups, gue gak
sengaja” Dika pun melempar gelas plastik itu dan pergi meninggalkanku.
“Dika!” Aku
berteriak tidak percaya. Kini pakaiannyaku basah oleh teh manis yang
ditumpahkannya. Saat itu aku baru sadar Nayla sudah berdiri di sampingku dan
mulai mengelap bajuku dengan saputangannya.
“Duh. Lo cari
masalah sih Na. Kita ke toilet yuk.” Nayla menuntun tanganku, namun aku
mengibaskan tangannya. “...Na lo mau kemana, toiletnya arah sini” Nayla berlari
mengejarku yang sedang berjalan ke arah toilet anak kelas 2.
Jebred. Aku
membuka pintu dengan keras ala-ala sinetron abg yang lagi ngelabrak. Aku
menghampiri Rena yang tengah membersihkan bajunya. Entah apa yang telah
merasukiku sekarang, aku juga tak mengerti apa yang mau aku lakukan disini. “Yang
lain keluar!” perintahku pada 3 cewek kelas 2 yang ada disitu.
“Na, lo ngapain
sih? Udah yuk balik ke kelas!” Nayla mencoba menarikku keluar, khawatir melihat
emosiku yang meletup-letup tak terkendali.
“Ini bukan
pertama kalinya lo gak ngehormati gue sebagai orang yang lebih tua dari lo.”
Aku mulai membuka pembicaraan dengannya.
“Gue cuma
menghormati orang yang pantas gue hormati” Renata menimpali.
“Jadi maksud lo
gue gak pantas buat di hormati?”
“Yes! Lo tuh cuma
tukang cari perhatian , numpang tenar sama Dika. Sok pinter, sok cantik, dan
sok-sokan jadi senior yang pengen di hormati. Cuma sampah!”
Aku merasa mual
melihat wajah Renata saking jijiknya. Dia bahkan tidak terlihat seperti korban
labrakan kakak seniornya. So confident. “Jaga ucapan lo ya, mulut lo lebih
sampah!” bentakku.
“Ah...gue tahu
kenapa lo over kayak gini. Apa gara-gara keluarga lo yang lagi kacau karena bokap
lo yang punya wanita simpanan? Dan lo lampiasinnya ke gue.”
“Bitch!” Tanpa
berfikir panjang aku mulai menyerangnya, menjambak rambutnya. Dia juga membalas
jambakanku. Nayla panik berusaha menghentikan kami.
“Stop!” Dika yang
entah kapan masuknya melerai kami berdua. “Lo gila ya Na? Sayang kamu gak
apa-apa kan?” Dika menghampiri Rena yang mulai menangis mendramatisir keadaan.
Seolah-olah dia benar-benar korban.
“Lo ternyata
lebih rendah daripada yang gue kira Na. Cewek yang punya sikap dan sifat rendah
itu elo Na. Bukannya minta maaf malah datang ke toilet anak kelas dua dan
ngelakuin ini semua. Keterlaluan lo Na!” Dika memarahiku. Emosinya meluap-luap.
“Sebelum lo
marah-marah sama gue, tolong ya ajarin dulu cewek lo sopan santun. Mulutnya
lebih sampah daripada mulut gue Dik. Gue cewek rendahan? Emang lo tau apa
tentang gue hah? Gue bahkan sampai sekarang masih inget apa yang lo bilang ke
gue 5 tahun yang lalu kalo lo bakal bikin gue jatuh berkali-kali di depan lo.
Gue gak ngerti Dik, alasan lo benci ke gue tuh apa? Yang gue tahu, gue benci
elo karena elo benci gue!” Aku keluar dari toilet dengan muka yang memerah
menahan tangis. Nayla mengikutiku di belakang. Kami tidak langsung kembali ke
kelas, aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan diri.
‘Lo kenapa sih
Na? Hari ini emosi lo susah di tebak. Cerita aja ke gue!” tanya Nayla dengan
lembut.
“Lo gak bakal
percaya sama apa yang gue omongin ke elo Nay.”
“Tapi gue akan
selalu memahami elo Na!”
“Gue time
traveler ke masa depan Nay dan ternyata gue nikah sama Dika.” Aku melihat
ekspresi bingung Nayla. “.... Dika 5 tahun mendatang berbeda dengan Dika
sekarang. Dia lebih dewasa, perhatian, sayang sama gue.” Lanjutku.
“Tuh kan lo gak
percaya. Sudahlah.” Aku terdiam.
“Mungkin lo cuma
sedang bingung sama perasaan lo ke Dika, Na! Maksud gue, lo mengharapkan Dika
yang baik, perhatian, care sama lo jadi lo mimpiin Dika seperti itu.” Nayla
mengucapkannya dengan hati-hati.
“Itu bukan mimpi
Nay. Ini adalah gelang yang di berikan Dika di 100 hari perayaan pernikahan gue
sama dia. Gelang ini dari masa depan yang ikut ke masa sekarang. Gelang ini
yang buat gue percaya kalo gue gak lagi mimpi Nay.” Ucapku sambil menujukan
gelang pemberian Dika.
“Na...” Nayla
melihatku dengan tatapan simpatiknya. Mungkin dia berfikir aku benar-benar
gila.
“Terserah lo mau
percaya gue atau nggak Nay. Denger Nay, gue lihat lo dimasa depan, LO BAKALAN
NIKAH SAMA TONY. Nanti, suatu saat nanti, lo bakal tau apa gue bohong atau
enggak.”
“Tony?”
“Yes, Tony!”
Nayla tersenyum
padaku “Balik ke kelas yuk, udahan bolosnya. Udah jam pulang.” Nayla menarik
tanganku dan menggandengnya berjalan menuju kelas.
“Tony ya? Awas ya
kalo ternyata gue gak jodoh sama Tony. Gue gelitikin lo sampai nangis.”
Aku tahu sekali
kalau Nayla cinta mati sama Tony, anak SMA Persada si Jago Basket. Aku
mengangguk dan kami pun tertawa. Mungkin Nayla tidak mempercayai ucapanku, tapi
benar bahwa dia selalu berusaha memahamiku, memahami bahwa aku gila. Hahahaha.
***
Diam. Sudah 1
bulan aku dan Dika tidak saling berbicara sejak insiden di toilet. Cekcok, adu
argumen, saling ledek sudah tidak pernah kami lakukan. Kami hanya diam. Ah,
rasanya hari-hari yang aku lalui selama sebulan ini lebih buruk dari
sebelumnya. Hatiku rasanya ingin meledak, memaki-makinya. Lebih tepatnya, aku
merindukannya.
Hari ini selepas
sekolah, panitia pelepasan siswa kelas 3 menggelar rapat lanjutan. Kami harus
pintar membagi waktu agar persiapan kami tidak mengganggu belajar kami. Kami
semua sadar bahwa kami juga akan menghadapi UAN yang ada tepat di depan mata.
Kami pun mulai membagi tugas untuk acara perpisahan nanti. Ada yang bertugas
sebagai dekorator, konsumsi, kostum dll. Sementara aku bertugas menjadi
photografer acara.
“Na, kayaknya
kita harus bicara.” Dika menahanku setelah acara rapat selesai.
“Bicara apa lagi
sih Dik? Gue udah males adu mulut sama lo!”
“Ini udah sebulan
kita diem-dieman Na. Lo gak ngerasa aneh apa?”
“Aneh? Bukannya
lo seneng gak bicara sama cewek yang punya sikap dan sifat rendahan kayak gue?”
“Oke, sorry soal
omongan kasar gue waktu itu, Na. Gue juga udah nanyain berkali-kali ke Rena
soal apa yang dia bilang ke Elo sampai lo marah banget kayak gini. Tapi dia
bilang dia gak ngomong apa-apa ke elo.”
“Udahlah Dik,
jangan ngebahas soal itu lagi. Males sumpah.”
“Soal gosip itu.
Apa bener lo suka sama gue, Na?”
Aku bingung harus
jawab apa sekarang. Jantungku berdetak semakin keras dan tak terkendali.
Rasanya aku ingin lari, kabur dari ruangan ini secepatnya. Pintu, aku harus
segera lari. Namun aku urungkan saat melihat Renata mematung tepat di depan
pintu. Mungkin dia sedang menahan dirinya untuk tidak cemburu. Entah kenapa
perasaan berani muncul dari diriku. Aku ingin menyingkirkan Renata dari hidup
Dika. Dan mungkin ini kesempatannya. Ku tatap wajah Dika lekat. Dan aku
tersadar bahwa aku benar-benar merindukannya. Aku menciumnya lembut, awalnya
aku hanya ingin memberikan kecupan cepat namun tanpa kuduga Dika malah membalas
ciumanku. Ya, kami berciuman. Kakiku rasanya sangat lemas menahan desiran rasa
bahagia yang mulai menghangatkan hatiku.
Keesokan harinya,
hampir saja aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah saking malunya untuk
bertemu dengan Dika. Namun ternyata hari itu Dika tidak masuk sekolah. Kata
Nayla, Ibunya Dika di rawat di rumah sakit karena...
“Kangker.” Ucapku
“Kamu sudah
tahu?”
“Ibunya akan
meninggal saat hari perpisahan sekolah.”
“Hush! Jangan
sembarangan kalo ngomong. Nanti kalo beneran gimana? Gue tahu lo emang benci
banget sama Dika tapi jangan ngomong kayak gitu dong Na. Pamali!”
“Aku gak lagi
nyumpahin Nay. Aku tahu saat aku pergi ke masa depan.”
“Hehehe....itu
lagi. Udahlah ngomongin yang lain aja.”
“Yang lain? Mmm Gue
sama Dika kissing!”
“What?” Nayla
tersedak siomay yang dia makan. “....kapan, dimana dan bagaimana?”
***
Papaku punya
simpanan? Bagaimana bisa Renata menyimpulkan hal itu. Memang sempet rada heboh
sih, pas ada tante-tante ngaku kalau dia lagi hamil anak papa. Tante itu mulai
ribut dan minta tanggungjawab dari papa. Papa bilang dia tidak ingat apapun
malam itu. Aku dan mama tahu dengan jelas kalau papa bukan orang yang bisa
mengkhianati keluarga, tapi mama juga harus punya bukti untuk mendukung
keyakinannya. Mama pun menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu
tentang wanita itu. Dan hasilnya, wanita itu memang hanya ingin memeras papa.
Dia menjebak papa setelah keluar dari tempat karaoke. Ceritanya sangat panjang.
Intinya, papaku tidak seperti yang dipikirkan Renata. Itulah kenapa aku
menjambaknya waktu itu.
***
“Dik!” aku
menghampiri Dika yang sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi.
“Na! Kamu
dateng?” Ini adalah pertamakalinya dia memanggilku ‘kamu’ sepertinya hubungan
kami mulai membaik. Aku pun duduk disampingnya.
“Udah makan?”
Dika menggeleng.
“Na, boleh minjem bahu kamu gak?”
Aku menepuk
pundaku. “Here!”. Dika mulai merebahkan kepalanya. Beberapa saat kemudian aku
merasa pundakku terasa basah dan hangat. Dika menangis. Aku pun memeluknya.
“Aku gak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja atau enggak Dik. Aku cuma
bisa bilang, aku bakal ada buat kamu terus, nemenin kamu, minjemin pundak aku
ke kamu Dik. Kalo mau nangis ya nangis tapi abis itu kamu harus senyum lagi.”
“Na, kamu pernah
nanya kenapa aku benci sama kamu, apa masih butuh jawaban?”
“Tergantung kamu
mau jawab atau enggak. Aku gak bakal maksa.”
“Ivan. Kamu tau
Ivan anak kelas 2B?”
“Yang meninggal
bunuh diri?” tentu saja aku ingat.
“Yang bukan cuma
kamu tolak tapi juga kamu permalukan di depan banyak orang.”
Aku terdiam.
Bagaimana aku bisa lupa orang itu. 2 hari setelah insiden itu, dia meninggal
bunuh diri.
“Dia sahabatku
Na.” Nafasku tiba-tiba tercekat. “....dia mengidap bipolar disorder. Dia selalu
membicarakan tentang kamu. Dia bener-bener tulus sama kamu, Na. Gak masalah
kalau kamu nolak dia, tapi gak perlu sampai mempermalukan dia seperti itu.”
“Jadi emang
bener, Ivan meninggal gara-gara aku. Aku nggak nyesel nolak Ivan Dik karena aku
emang gak cinta sama dia tapi aku nyesel banget udah mempermalukan dia.
Semuanya karena taruhan bodoh aku sama Lili.”
“Lili?”
“Lili temen
sekelasku, satu organisasi sama kamu Dik. Lili kan pernah di tolak Ivan dan dia
ingin aku membalas dendam dengan bikin Ivan malu. Setelah itu Lili janji mau
ngasih nomor HP kamu Dik.”
“No HP ku?”
“Sebenernya, aku
udah suka kamu dari dulu Dik. Aku penasaran sama cowok badung yang sering bolos
tapi selalu masuk 10 besar di kelas. Katanya kalo kamu rajin masuk, kamu yang
bakal dapet rangking 1. Aku pikir ‘wah orang ini bener-bener jenius’. Aku
beberapakali membuka percakapan saat kita tidak sengaja bertemu. Tapi kamu
selalu cuek. 2 hari setelah insiden itu, aku baru dapat nomor HP kamu dan hari
itu juga kamu nemuin aku dan bilang akan jatuhin aku berkali-kali di depan
kamu.”
“Ternyata,
semuanya juga salahku Na.” Dika menatapku.
“Enggak. Tapi
salah aku. Maaf” Aku tertunduk.
Sejak saat itu,
aku sering menengok ibunya Dika di rumah sakit. Hubungan aku dengan tante Widya
sangat baik. Sepertinya beliau menyukaiku. Dia bahkan memintaku untuk terus ada
disamping Dika. Dan ternyata hubungan mamaku dengan tante Widya juga sama
baiknya. Beberapa kali aku datang menengok dengan mama dan papa.
Suatu hari, tante
Widya memberiku sebuah cincin.
“Na, setelah
tante gak ada, Dika pasti bakal ngurung diri di kamar. Murung, gak makan, gak
minum, gak sekolah. Pada saat itu, kamu harus pukul kepalanya biar dia sadar.
Kamu harus buat dia tersenyum lagi. Kamu harus janji sama tante ya!”
Seperti yang
sudah kukatakan sebelumnya, semua yang aku tahu saat pergi ke masa depan satu
per satu terjadi. Dihari perpisahan siswa kelas 3, tante Widya meninggal. Dika
3 hari mengurung diri dikamar dan di hari ketiga aku memutuskan untuk mendobrak
pintunya.
Nayla dan Tony bertunangan
sebelum akhirnya 2 tahun kemudian menikah. Begitupula aku dan Dika menjadi
sepasang kekasih yang tak terpisahkan sejak kuliah. Kami menikah setahun
setelah pernikahan Nayla dan Tony. Kami sangat bahagia. Sampai akhirnya sesuatu
terjadi pada kami berdua.
***
3 Maret 2015 Pkl
15:05
Aku terbangun,
nafasku terasa tidak beraturan. Air mata tiba-tiba saja keluar dengan derasnya.
Kupukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Semua ingatan muncul bergantian
tanpa jeda membuatku sangat kesakitan. Ingatan buruk yang kata dokter bisa
membunuhku akhirnya muncul seperti neraka buatku. Aku semakin histeris.
Terdengar suara
papa dan mama yang berusaha menenangkanku. Aku terus berteriak, sakit sekali.
Bukan hanya kepalaku tapi juga hatiku.
“Dikaaaa” Aku
berteriak memanggil namanya. Ku seka air mataku yang semakin deras. “Dika mana
mam? Dika mana?” Mama memeluku sambil menangis. Tubuhku semakin berguncang
dibuatnya.
26 Desember 2014
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, sebuah
mobil inova terjun ke jurang setelah bertabrakan dengan truk di tikungan curam.
Pengemudi mobil tersebut diketahui bernama Mahardika yang sedang dalam
perjalanan berlibur bersama istrinya. Beruntung sang istri berhasil selamat dan
langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis yang berada di TKP.
***
Epilog
9 Maret 2015
“Na, lo nangis?”
Nayla terlihat khawatir.
“Dika mati Nay.
Huhuhu” Aku terisak.
“MATI??? Ah,
cerita yang lagi lo bikin kan maksudnya? Kenapa dibikin mati sih?”
“Biar dramatis
gitu.”
“Hadeuh....
udahan nangisnya! Tuh ada Dika yang asli dan nyata!”
“Mana?” Aku
langsung menyeka air mataku.
“Itu duduk di
depan jus mang Adang”
“Wah, iya. Tunggu
disini sebentar ya Nay!”
“Mau ngapain Na?”
“Mau memulai
sejarah!” Aku tersenyum pasti pada sahabatku Nayla.
Aku berjalan
kearahnya dengan seluruh keberanian yang terkumpul di diriku. Aku melakukan
pertaruhan besar saat ini.
“Dik,
gue...gue...suka sama lo!”
“Hah? Lo abis
ketiban balok Na?”
THE END