BAB 7 : ANGIN
YANG MULAI SEJUK
Aku membuka
beberapa website, sesaat aku tersenyum. Ah, berita tentang aku dan Arya sudah menyebar dengan cepat. Semua orang mulai membicarakan hubungan asmara seorang
CEO muda sukses yang pacaran dengan gadis biasa. Tapi kesenangan itu secepat
kilat berlalu saat aku melihat kolom komentar yang dipenuhi umpatan.
“She is so
ugly! Gak cocok banget! Cocokan sama Joana ah!” – komentar seseorang dengan
akun @papayananya
“Gak pinter
milih cewek nih Pak CEO. Padahal yang ngantri banyak, termasuk si cantik
Joana.” - @dianxdiana
“Kirain sama
Joana? Kan udah deket!” - @kipliversus
“Lumayan sih,
tapi setuju cantikan Joana.” - @evitapevita2
“Ya udah kalo
Pak CEO gak mau sama Joana. Joana buat saya.” - @always_fever02
“Matanya Arya
belekan. Joana is the best!” - @pilapilates
“Aduh Karina
gak selevel sama Joana yang cantik dan pinter. Joana – Karina bagai Langit dan
comberan.” - @sephiasophia (Sebentar aku mau protes sama mbak Sephiashopia,
okelah kalau cantikan Joana tapi aku lebih pintar dari dia! Boleh diadu! Dan
satu lagi, aku tidak jelek-jelek banget kok sampai harus disamakan dengan comberan
-__-)
Membaca
komentar mereka memang membuat emosi. Rasanya aku ingin membalas semua komentar jahat
mereka satu-persatu tapi tidak mungkin juga aku se-kekanak-kanakan itu. Aku
mencoba menarik nafasku berkali-kali.
Ada juga beberapa orang yang mendukung hubunganku dengan Arya walaupun masih kalah
jumlah dengan para pendukung Joana.
“Karina Cantik
kok. Mungkin Karina punya sesuatu yang buat Arya jatuh cinta.” – komentar
@lovelygirl0909
“Jangan
menghina orang dan hargai pilihan orang. Kalo cintanya sama Karina ya hak nya
Mas Arya. Congrat’s deh :D” - @tulungbungkus
“Langgeng deh
buat Mas Arya sama mba Karina. Jadi ngiri saya hehehehe” - @pipitceriwis12
Aku sama sekali
tidak mengira kalau Arya ternyata dikenal banyak netizen. Dia cukup popular
juga toh. Karena kepopularan dia, aku juga jadi ketularan.
Hari pun
berganti menjadi minggu. YUP! sudah seminggu berlalu sejak kejadian di Hotel
Mulia, hotel tempat Arya mengenalkan aku sebagai tunangannya kepada semua
orang. Tempat dimana hidupku berubah menjadi sangat rumit. Berurusan dengan si
wanita iblis saja sudah cukup membuatku mual dan sekarang harus menghadapi si
nenek sihir yang super menyeramkan.
Pagi ini aku
dipanggil ke ruang Direktur untuk pertamakalinya sejak aku bekerja disini.
Tempat yang biasanya didatangi oleh orang-orang elit perusahaan ataupun rekanan
penting. Editorku saja sepertinya baru 2 kali diundang kesana dan saat itu dia
sangat kegirangan. Di Brave magazine, ruang Direktur adalah ruang yang sangat
sakral, Tidak semua bisa masuk. Dengar-dengar sih karena CEO Brave orang yang
sangat kaku dan ‘menyeramkan’. Dia orang yang tidak mau bertemu dengan
sembarang orang. Mereka yang ingin bertemu harus memiliki janji terlebih
dahulu. Nama CEO Brave Magazine adalah Ibu Widya. Ya dialah si nenek sihir, yang
ternyata adalah Ibunya Arya.
Tok...tok...
“Permisi!” Dengan sedikit gemetar dan tak percaya diri aku mulai mengetuk
pintu.
“Masuk!”
Terdengar suara si nenek sihir dari dalam ruangan. Kubuka pintu perlahan dan
mencoba menarik nafas berulang kali.
Ruangan
Direktur ini terlihat sangat rapi dan juga luas, beberapa lukisan terpajang
dengan indah. Terdapat dua buah sofa panjang saling berhadapan dan satu single
sofa ditempatkan ditengah sebagai lambang kepemimpinan. Bunga angrek mini
berwarna putih-pink diletakan ditengah meja, disebelahnya terdapat gelas dan
teko kaca berisi teh.
“Siang, bu.”
Ucapku kikuk. Entahlah rasanya aku ingin segera menghilang dari ruangan ini
atau tiba-tiba terkena amnesia. “Aku dimana? Anda siapa? Aku Siapa?”. Sudahlah
abaikan, itu hanya ada di dalam pikiranku saja. Realita kadang memang lebih
kejam.
“Dunia itu
sempit ya! Ternyata kamu karyawan disini!” Si nenek sihir tersenyum menyeringai
bersiap dengan tongkat sihirnya ingin menghilangkan eksistensiku. Aku hanya
terdiam.
“Jadi, apa yang
ingin ibu bicarakan dengan saya?” Aku memulai pembicaraan, lebih tepatnya ingin
segera mengakhiri.
“Aku yakin kamu
cukup pintar untuk menebak apa yang ingin saya bicarakan.” Si nenek sihir
berjalan mendekat. Gestur tubuhnya mempersilahkan aku untuk duduk.
“Soal hubungan
saya dengan Arya?” Tentu saja aku tidak asal menebak.
“Saya ingin
kamu jauhi anak saya!” Sumpah demi apapun, akhirnya aku mengetahui bagaimana rasanya jadi seorang Geum
Jan Di atau Gil Ra Im yang ada di drama korea (lol). Apa akan ada scene lempar
melempar cek, amplop berisi uang dan sebagainya?
“Kalo saya
menolak?” aku mencoba menantang nenek sihir. Sambil mengharapkan dilempar cek 1
Milyar tentunya. Hahahaha.
“Dalam 3 hari
kamu dipecat! Waktu kamu 3 hari untuk mengambil keputusan.” Bam Bam Bam!!!! Keluar
dari kandang macan masuk ke kandang singa. Baru saja aku mendapatkan kesempatan
wawancara dengan Kemarau untuk menyelamatkan aku dari pemecatan, dan sekarang
ini yang terjadi? Ancaman pemecatan dari CEO-nya langsung? Karina, kamu
luarrrrr biasaaaa.
Sesaat aku
terdiam. Bingung ingin menjawab apa? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus
aku katakan? Apa aku lempar saja nenek sihir ini dengan sepatuku? Ah bagaimanapun
beliau adalah orang tua yang harus aku hormati. Aku tidak pernah membayangan
sesuatu seperti ini terjadi dalam hidupku. Maksudku adegan-adegan dalam drama
korea yang aku tonton muncul satu persatu. Bentar, apa aku curi-curi waktu
untuk googling dulu? Search: Tutorial menghadapi calon mertua buas. Hahaha Aku
urungkan.
“Bagaimana?” Si
nenek sihir mulai membuyarkan imajinasi liarku. Tiba-tiba saja sebuah ide
muncul. Sebuah ide yang aku pikir cukup briliant dan muncul tepat waktu. Ide
untuk memanfaatkan anaknya. Toh anaknya juga memanfaatkanku seenak udelnya.
Aku melihat
kontak teleponku dan langsung menelepon seseorang. Ya! Arya!
“Halo”
Terdengar suara Arya diujung telepon. Suara tanpa emosi, datar dan seolah tidak
tertarik. Seperti biasa.
“Aku ada diruangan
ibumu sekarang. Dan aku diancam akan dipecat jika dalam 3 hari tidak memutuskan
kamu!” ucapku tanpa koma maupun titik.
“Ya! Apa yang
kamu lakukan? Matikan hanphone-nya!” Si nenek sihir berusaha merebut HP ku,
namun aku lebih cepat darinya dan berhasil menghindar.
“Aktifkan
loudspeakernya!” Arya menyuruhku dan akupun menuruti. Suara Arya terdengar
berbeda dari sebelumnya, mungkin dia juga terkejut.
“Kalau Ibu
memecat Karina, Aku juga akan mengundurkan diri dari perusahaan.”
WOW!!! Apa aku
tidak salah mendengar? Arya rela mengundurkan diri demi aku? Atau dia hanya asal
menggertak karena tahu Ibunya sangat mencintai si anak semata wayang?
“Nanti aku
telepon lagi ya” ucapku sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.
“Dasar wanita
penyihir! Berani-beraninya memanfaatkan anaku yang polos!”
Polos??? Arya
polos??? Terus Arya yang aku kenal yang membohongi Ibunya adalah semacam
makhluk kloningan? Oke. Dan satu lagi! Aku dijuluki wanita penyihir oleh
si nenek sihir. Jadi kesimpulannya kalau aku suatu saat nanti menikah dengan
Arya, kita akan menjadi keluarga penyihir. Hahaha baiklah kita lanjutkan aksi si
wanita penyihir ini. Kepalang tanggung jadi antagonis.
“Ibu sudah
dengar sendiri kan dari Arya? Kalau begitu saya permisi!” Aku sedikit
membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan neraka. Aku sempat melihat
wajah si nenek sihir yang penuh amarah melihat kepergianku.
Aku berjalan
sedikit terseok. Kakiku sudah mulai lemas karena rasa gugup. Good Job Karin. Kamu udah
melakukan hal yang terbaik. Aku mencoba menyemangati diri sendiri.
Mata-mata
disekitar mulai melirik menyelidik diselingi bisik-bisik gosip dengan rekan
disebelahnya. Aku tidak terlalu kaget lagi sekarang karena mungkin sudah
terbiasa menjadi bahan gosip. Ah rasanya aku ingin memaki mereka semua.
Hah Arya?
Ucapku dalam hati saat melihat panggilan masuk dari Hpku.
“Hallo”
“Kamu masih di
kantor?”
“Emm...”
“Kamu baik-baik
aja?”
“Enggak.” Aku
tidak mau berbohong dengan mengatakan kalau aku baik-baik saja.
“Kalo gitu kita
pergi dari sini!”
“Hah Kita? Dari
sini?” Aku langsung berbalik kearah pintu masuk. Dan disitu aku melihat Arya
sedang berdiri menatapku.
“Kenapa kamu
disini?” ucapku melalui sambungan telepon yang belum terputus.
“Menyelamatkanmu!”
ucapnya pelan.
Kami pun bertatapan sejenak. Tidak sampai menghabiskan durasi screentime kok tatap-tatapannya. Tenang, dia memakai kacamata hitam jadi aku tidak bisa langsung melihat ke matanya. Entahlah, setelah melihat Arya berdiri disitu yang katanya untuk ‘menyelamatkanku’, air mataku seolah melumer.
Kami pun bertatapan sejenak. Tidak sampai menghabiskan durasi screentime kok tatap-tatapannya. Tenang, dia memakai kacamata hitam jadi aku tidak bisa langsung melihat ke matanya. Entahlah, setelah melihat Arya berdiri disitu yang katanya untuk ‘menyelamatkanku’, air mataku seolah melumer.
Arya berjalan
mendekat setelah melihat aku berusaha keras menahan tangis. Aku mulai merasakan
bisikan-bisikan dari orang disekitarku terdengar semakin nyaring.
Arya berjalan semakin mendekat,
dan aku semakin sesak. Membuat air mataku makin sulit dibendung. Arya kemudian
melepaskan kacamata hitamnya dan memakaikannya padaku. Dia menarik tanganku.
“Target Rescued” dan kami pun melarikan diri.
“Target Rescued” dan kami pun melarikan diri.
Wait! Melarikan
diri mungkin terdengar terlalu didramatisir. Karena akhirnya kami hanya duduk
berdua di mobil di basemen gedung. Arya menyalakan musik di mobilnya dengan
volume yang keras. Tidak tahu lagu apa yang dia putar. Lagu itu beraliran rock
metal yang bahkan aku tidak bisa mendengar liriknya dengan jelas. Hanya seperti
suara teriakan orang marah.
“Kalo mau
nangis, nangis aja. Gak ada orang yang akan denger selain aku.”
Seakan dikasih
gong, aku pun mulai menangis seperti anak SD yang tidak diberi uang jajan. Lebih
tepatnya aku sekarang sedang meraung-raung tanpa malu didepan Arya. Tanpa
melihat ke arahku, Arya memberikan beberapa tissue sampai aku berhenti
menangis.
“Kamu udah bisa
matiin musiknya.” Dengan suara sedikit parau dan dengan ingus yang menyumbat
hidung, aku mulai mengatur emosiku. Arya kemudian mematikan musik metal yang
barusan dia putar.
“Mamaku gak
gigit kan?” Tanyanya polos dan berhasil membuatku tertawa.
“Kamu ternyata
gampang dihibur. Baru saja tadi nangis meraung-raung sekarang sudah tertawa
seperti itu.” Lanjut arya sedikit menyindir.
“Itu karena
kepribadianku yang positif.” Jawabku bangga. “Tunggu! Kamu sedang menghiburku?
Aku gak salah denger kan?” Aku mencoba menjangkau jidatnya dan berpura-pura
mengecek suhu tubuhnya. Arya mencoba mengindari tanganku namun gagal. Dan
sialnya sekarang posisi kami terasa sangat aneh, wajah kami hanya berjarak
sekitar 10 cm. Cukup untuk membuat meriam-meriam dihati meledak tiba-tiba.
“Mau sampai
kapan kamu menatapku seperti ini?” Ucap Arya menyadarku dari keterdiaman
yang memalukan. Aku langsung menarik badanku ke posisi duduk semula. Setelah
itu tiba-tiba suasana jadi hening, kikuk dan aneh. Sepertinya sekarang aku semakin yakin kalau aku menyukainya.