Selasa, 10 Mei 2016

ANGIN PUJAAN HUJAN (7)

BAB 7 : ANGIN YANG MULAI SEJUK

Aku membuka beberapa website, sesaat aku tersenyum. Ah, berita tentang aku dan Arya sudah menyebar dengan cepat. Semua orang mulai membicarakan hubungan asmara seorang CEO muda sukses yang pacaran dengan gadis biasa. Tapi kesenangan itu secepat kilat berlalu saat aku melihat kolom komentar yang dipenuhi umpatan.

“She is so ugly! Gak cocok banget! Cocokan sama Joana ah!” – komentar seseorang dengan akun @papayananya

“Gak pinter milih cewek nih Pak CEO. Padahal yang ngantri banyak, termasuk si cantik Joana.” - @dianxdiana

“Kirain sama Joana? Kan udah deket!” - @kipliversus

“Lumayan sih, tapi setuju cantikan Joana.” - @evitapevita2

“Ya udah kalo Pak CEO gak mau sama Joana. Joana buat saya.” - @always_fever02

“Matanya Arya belekan. Joana is the best!” - @pilapilates

“Aduh Karina gak selevel sama Joana yang cantik dan pinter. Joana – Karina bagai Langit dan comberan.” - @sephiasophia (Sebentar aku mau protes sama mbak Sephiashopia, okelah kalau cantikan Joana tapi aku lebih pintar dari dia! Boleh diadu! Dan satu lagi, aku tidak jelek-jelek banget kok sampai harus disamakan dengan comberan -__-)

Membaca komentar mereka memang membuat emosi. Rasanya aku ingin membalas semua komentar jahat mereka satu-persatu tapi tidak mungkin juga aku se-kekanak-kanakan itu. Aku mencoba menarik nafasku berkali-kali.

Ada juga beberapa orang yang mendukung hubunganku dengan Arya walaupun masih kalah jumlah dengan para pendukung Joana.

“Karina Cantik kok. Mungkin Karina punya sesuatu yang buat Arya jatuh cinta.” – komentar @lovelygirl0909

“Jangan menghina orang dan hargai pilihan orang. Kalo cintanya sama Karina ya hak nya Mas Arya. Congrat’s deh :D” - @tulungbungkus

“Langgeng deh buat Mas Arya sama mba Karina. Jadi ngiri saya hehehehe” - @pipitceriwis12

Aku sama sekali tidak mengira kalau Arya ternyata dikenal banyak netizen. Dia cukup popular juga toh. Karena kepopularan dia, aku juga jadi ketularan.

Hari pun berganti menjadi minggu. YUP! sudah seminggu berlalu sejak kejadian di Hotel Mulia, hotel tempat Arya mengenalkan aku sebagai tunangannya kepada semua orang. Tempat dimana hidupku berubah menjadi sangat rumit. Berurusan dengan si wanita iblis saja sudah cukup membuatku mual dan sekarang harus menghadapi si nenek sihir yang super menyeramkan.

Pagi ini aku dipanggil ke ruang Direktur untuk pertamakalinya sejak aku bekerja disini. Tempat yang biasanya didatangi oleh orang-orang elit perusahaan ataupun rekanan penting. Editorku saja sepertinya baru 2 kali diundang kesana dan saat itu dia sangat kegirangan. Di Brave magazine, ruang Direktur adalah ruang yang sangat sakral, Tidak semua bisa masuk. Dengar-dengar sih karena CEO Brave orang yang sangat kaku dan ‘menyeramkan’. Dia orang yang tidak mau bertemu dengan sembarang orang. Mereka yang ingin bertemu harus memiliki janji terlebih dahulu. Nama CEO Brave Magazine adalah Ibu Widya. Ya dialah si nenek sihir, yang ternyata adalah Ibunya Arya.

Tok...tok... “Permisi!” Dengan sedikit gemetar dan tak percaya diri aku mulai mengetuk pintu.

“Masuk!” Terdengar suara si nenek sihir dari dalam ruangan. Kubuka pintu perlahan dan mencoba menarik nafas berulang kali.

Ruangan Direktur ini terlihat sangat rapi dan juga luas, beberapa lukisan terpajang dengan indah. Terdapat dua buah sofa panjang saling berhadapan dan satu single sofa ditempatkan ditengah sebagai lambang kepemimpinan. Bunga angrek mini berwarna putih-pink diletakan ditengah meja, disebelahnya terdapat gelas dan teko kaca berisi teh.

“Siang, bu.” Ucapku kikuk. Entahlah rasanya aku ingin segera menghilang dari ruangan ini atau tiba-tiba terkena amnesia. “Aku dimana? Anda siapa? Aku Siapa?”. Sudahlah abaikan, itu hanya ada di dalam pikiranku saja. Realita kadang memang lebih kejam.

“Dunia itu sempit ya! Ternyata kamu karyawan disini!” Si nenek sihir tersenyum menyeringai bersiap dengan tongkat sihirnya ingin menghilangkan eksistensiku. Aku hanya terdiam.

“Jadi, apa yang ingin ibu bicarakan dengan saya?” Aku memulai pembicaraan, lebih tepatnya ingin segera mengakhiri.

“Aku yakin kamu cukup pintar untuk menebak apa yang ingin saya bicarakan.” Si nenek sihir berjalan mendekat. Gestur tubuhnya mempersilahkan aku untuk duduk.

“Soal hubungan saya dengan Arya?” Tentu saja aku tidak asal menebak.

“Saya ingin kamu jauhi anak saya!” Sumpah demi apapun, akhirnya aku mengetahui bagaimana rasanya jadi seorang Geum Jan Di atau Gil Ra Im yang ada di drama korea (lol). Apa akan ada scene lempar melempar cek, amplop berisi uang dan sebagainya?

“Kalo saya menolak?” aku mencoba menantang nenek sihir. Sambil mengharapkan dilempar cek 1 Milyar tentunya. Hahahaha.

“Dalam 3 hari kamu dipecat! Waktu kamu 3 hari untuk mengambil keputusan.” Bam Bam Bam!!!! Keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa. Baru saja aku mendapatkan kesempatan wawancara dengan Kemarau untuk menyelamatkan aku dari pemecatan, dan sekarang ini yang terjadi? Ancaman pemecatan dari CEO-nya langsung? Karina, kamu luarrrrr biasaaaa.

Sesaat aku terdiam. Bingung ingin menjawab apa? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Apa aku lempar saja nenek sihir ini dengan sepatuku? Ah bagaimanapun beliau adalah orang tua yang harus aku hormati. Aku tidak pernah membayangan sesuatu seperti ini terjadi dalam hidupku. Maksudku adegan-adegan dalam drama korea yang aku tonton muncul satu persatu. Bentar, apa aku curi-curi waktu untuk googling dulu? Search: Tutorial menghadapi calon mertua buas. Hahaha Aku urungkan.

“Bagaimana?” Si nenek sihir mulai membuyarkan imajinasi liarku. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul. Sebuah ide yang aku pikir cukup briliant dan muncul tepat waktu. Ide untuk memanfaatkan anaknya. Toh anaknya juga memanfaatkanku seenak udelnya.

Aku melihat kontak teleponku dan langsung menelepon seseorang. Ya! Arya!

“Halo” Terdengar suara Arya diujung telepon. Suara tanpa emosi, datar dan seolah tidak tertarik. Seperti biasa.

“Aku ada diruangan ibumu sekarang. Dan aku diancam akan dipecat jika dalam 3 hari tidak memutuskan kamu!” ucapku tanpa koma maupun titik.

“Ya! Apa yang kamu lakukan? Matikan hanphone-nya!” Si nenek sihir berusaha merebut HP ku, namun aku lebih cepat darinya dan berhasil menghindar.

“Aktifkan loudspeakernya!” Arya menyuruhku dan akupun menuruti. Suara Arya terdengar berbeda dari sebelumnya, mungkin dia juga terkejut.

“Kalau Ibu memecat Karina, Aku juga akan mengundurkan diri dari perusahaan.”

WOW!!! Apa aku tidak salah mendengar? Arya rela mengundurkan diri demi aku? Atau dia hanya asal menggertak karena tahu Ibunya sangat mencintai si anak semata wayang?

“Nanti aku telepon lagi ya” ucapku sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.

“Dasar wanita penyihir! Berani-beraninya memanfaatkan anaku yang polos!”

Polos??? Arya polos??? Terus Arya yang aku kenal yang membohongi Ibunya adalah semacam makhluk kloningan? Oke. Dan satu lagi! Aku dijuluki wanita penyihir oleh si nenek sihir. Jadi kesimpulannya kalau aku suatu saat nanti menikah dengan Arya, kita akan menjadi keluarga penyihir. Hahaha baiklah kita lanjutkan aksi si wanita penyihir ini. Kepalang tanggung jadi antagonis.

“Ibu sudah dengar sendiri kan dari Arya? Kalau begitu saya permisi!” Aku sedikit membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan neraka. Aku sempat melihat wajah si nenek sihir yang penuh amarah melihat kepergianku.

Aku berjalan sedikit terseok. Kakiku sudah mulai lemas karena rasa gugup. Good Job Karin. Kamu udah melakukan hal yang terbaik. Aku mencoba menyemangati diri sendiri.

Mata-mata disekitar mulai melirik menyelidik diselingi bisik-bisik gosip dengan rekan disebelahnya. Aku tidak terlalu kaget lagi sekarang karena mungkin sudah terbiasa menjadi bahan gosip. Ah rasanya aku ingin memaki mereka semua.

Hah Arya? Ucapku dalam hati saat melihat panggilan masuk dari Hpku.

“Hallo”

“Kamu masih di kantor?”

“Emm...”

“Kamu baik-baik aja?”

“Enggak.” Aku tidak mau berbohong dengan mengatakan kalau aku baik-baik saja.

“Kalo gitu kita pergi dari sini!”

“Hah Kita? Dari sini?” Aku langsung berbalik kearah pintu masuk. Dan disitu aku melihat Arya sedang berdiri menatapku.

“Kenapa kamu disini?” ucapku melalui sambungan telepon yang belum terputus.

“Menyelamatkanmu!” ucapnya pelan. 

Kami pun bertatapan sejenak. Tidak sampai menghabiskan durasi screentime kok tatap-tatapannya. Tenang, dia memakai kacamata hitam jadi aku tidak bisa langsung melihat ke matanya. Entahlah, setelah melihat Arya berdiri disitu yang katanya untuk ‘menyelamatkanku’, air mataku seolah melumer.

Arya berjalan mendekat setelah melihat aku berusaha keras menahan tangis. Aku mulai merasakan bisikan-bisikan dari orang disekitarku terdengar semakin nyaring.

Arya berjalan semakin mendekat, dan aku semakin sesak. Membuat air mataku makin sulit dibendung. Arya kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan memakaikannya padaku. Dia menarik tanganku.

“Target Rescued” dan kami pun melarikan diri.

Wait! Melarikan diri mungkin terdengar terlalu didramatisir. Karena akhirnya kami hanya duduk berdua di mobil di basemen gedung. Arya menyalakan musik di mobilnya dengan volume yang keras. Tidak tahu lagu apa yang dia putar. Lagu itu beraliran rock metal yang bahkan aku tidak bisa mendengar liriknya dengan jelas. Hanya seperti suara teriakan orang marah.

“Kalo mau nangis, nangis aja. Gak ada orang yang akan denger selain aku.”

Seakan dikasih gong, aku pun mulai menangis seperti anak SD yang tidak diberi uang jajan. Lebih tepatnya aku sekarang sedang meraung-raung tanpa malu didepan Arya. Tanpa melihat ke arahku, Arya memberikan beberapa tissue sampai aku berhenti menangis.

“Kamu udah bisa matiin musiknya.” Dengan suara sedikit parau dan dengan ingus yang menyumbat hidung, aku mulai mengatur emosiku. Arya kemudian mematikan musik metal yang barusan dia putar.

“Mamaku gak gigit kan?” Tanyanya polos dan berhasil membuatku tertawa.

“Kamu ternyata gampang dihibur. Baru saja tadi nangis meraung-raung sekarang sudah tertawa seperti itu.” Lanjut arya sedikit menyindir.

“Itu karena kepribadianku yang positif.” Jawabku bangga. “Tunggu! Kamu sedang menghiburku? Aku gak salah denger kan?” Aku mencoba menjangkau jidatnya dan berpura-pura mengecek suhu tubuhnya. Arya mencoba mengindari tanganku namun gagal. Dan sialnya sekarang posisi kami terasa sangat aneh, wajah kami hanya berjarak sekitar 10 cm. Cukup untuk membuat meriam-meriam dihati meledak tiba-tiba.


“Mau sampai kapan kamu menatapku seperti ini?” Ucap Arya menyadarku dari keterdiaman yang memalukan. Aku langsung menarik badanku ke posisi duduk semula. Setelah itu tiba-tiba suasana jadi hening, kikuk dan aneh. Sepertinya sekarang aku semakin yakin kalau aku menyukainya.

Selasa, 29 September 2015

BROKEN HEART : (3) BERHENTILAH SAAT LAMPU MERAH

Ada sebuah cerita tentang lampu merah. Bukankah disana ada 3 warna lampu? Merah, Kuning, dan Hijau. Tapi kenapa orang-orang menyebutnya Lampu Merah, bukan lampu Kuning, Lampu Hijau atau Lampu Merah Kuning Hijau? Menurutmu kenapa? Jawabannya mungkin karena jika kamu tidak berhenti saat lampu merah menyala, kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar. Cedera atau bahkan kehilangan nyawa. Berbeda saat seseorang melanggar lampu hijau atau lampu kuning semuanya masih akan baik-baik saja. Jadi ketika kita melihat 'lampu merah' dari seseorang, berhentilah! Supaya kamu tidak merasa lebih sakit.

Line.

Tania: Aku akan menerormu sampai kamu ikut liburan! Siapkan diri!

Line.

Dion: Hei. Lebih baik kamu ikut kami liburan kalo tidak pertemanan kita berakhir. Ini ancaman serius tolong jangan diabaikan.

Line.

Dion: Aku akan kirim pesan 3 kali sehari. Ah tidak, 10 kali sehari.


Dava tersenyum melihat pesan dari Dion dan Tania yang menerornya dalam waktu yang bersamaan. Ah mungkin mereka sedang duduk bersebelahan saat ini. Sepertinya Dion dan Tania ingin menjodohkan dirinya dengan Shei. Apa mereka gila? Kisah cintanya dengan putri keluarga politisi saja berakhir sia-sia setelah 7 tahun, sekarang dia harus menjalin hubungan dengan keluarga Suharjo. Sebuah keluarga konglomerat dimana ayah Sheila adalah orang terkaya di Indonesia saat ini. Dava berfikir itu semua tidak akan berhasil. Lagi pula 7 tahun hubungannya dengan Karina bukanlah waktu yang dengan mudah bisa dilupakan. Terlalu banyak kenangan indah didalamnya.

Ting tong! Suara bel terdengar. Dava berjalan gontai menuju kearah pintu. Ditariknya pegangan pintu dengan malas.

Dava sedikit tersentak melihat siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya.

"Karin..."

"Hai Va. Boleh aku masuk?" ucap Karina ragu.

Dava tidak menjawab hanya gestur tubuhnya memberikan isyarat untuk mempersilahkan Karina masuk. Karina pun duduk di sofa, dia terlihat sangat gelisah dan tak nyaman. Begitu pun dengan Dava. Namun mereka tetap harus bicara bukan? Mereka belum pernah bicara lagi sejak malam lamaran itu.

"Kenapa kamu kemari?" tanya Dava memecah keheningan yang sedari tadi mengelilingi mereka.

Karina mengeluarkan sesuatu dari tas-nya dan menaruhnya di meja.

"Aku sama sekali tidak ingin kamu datang. Tapi aku pikir aku harus menyerahkan undangan ini sendiri daripada kamu terima dari orang lain. Untuk menghormati 7 tahun hubungan kita" ucap Karina sambil berusaha mengatur nada suaranya yang semakin parau. Terlihat sekali ekspresi acuhnya dibuat-buat.

"Kenapa aku berfikir sebaliknya. Kenapa aku berharap sekarang kamu gak disini buat ngasih undangan ini?" Dava berbicara dengan tenang. Dia mencoba mencari celah untuk melihat mata Karina yang sedari tadi hanya melihat ke sembarang tempat.

"Maaf, Va! Aku minta maaf!" ucap Karina lirih, suaranya terdengar semakin parau menahan tangis yang sepertinya akan pecah. Karina tidak bisa lagi berpura-pura di depan Dava kalau dia sebenarnya juga merasa hancur. Tapi toh Karina sudah membuat keputusan yang menurutnya adalah yang terbaik.

"(Teng tong). Dava ini aku, Va. Buka pintunya!" terdengar suara seseorang memanggil. Dava mencoba mengenali suara itu. Ah Shei rupanya. Dia pun kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya. Dengan cepat Shei sudah berlari kedalam apartemen Dava dengan wajah paniknya, seakan tertulis di kening Shei 'aku baru saja keluar dari kematian'. Dava tersenyum.

"Sumpah Va. Di apartemenku banyak kecoa, semut bahkan tikus! Kotor banget, aku sampai mau pingsan! Aku boleh diam disini ya sampai mba Irah pembantuku datang. Pleaseeee!" Shei memasang muka 'cute' pada Dava tanpa menyadari kalau sedari tadi ada orang lain sedang duduk di sofa memperhatikan polahnya.

"Eh ada tamu. Maaf ya tadi aku panik jadi gak sadar kalau ada orang lain." Shei tersenyum pada Karin sambil sedikit membungkukan badannya.

"Gak apa-apa kok. Karin udah mau pulang juga. Iya kan, Rin?" Dava menatap Karin.

"Ah, iya. Aku juga mau pulang. Santai aja!" Karin membalas senyum Shei seraya berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Karin beberapa kali menoleh ke arah Dava dan Shei. Dia menyadari bahwa hatinya cemburu. Sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan oleh orang jahat seperti dia.


"Siapa Va? Pacarmu ya?" Shei meninju manja bahu Dava sambil mengerlingkan matanya.

"Bukan. Kami cuma temen dan dia datang buat ngasih undangan pertunangan." Dava menunjuk kartu undangan yang tergelatak di meja.

"Oh" Shei manggut-manggut.

"Mau minum apa Shei?"

"Apa aja, asal jangan air keran. hehehe"

"Mana mungkin aku kasih air keran. Kamu ini! Kok bisa apartemenmu kotor begitu?"

"Salah aku juga sih, Va. Jadi kan aku gak pernah tinggal disana, nah temenku yang dari Ausie tinggal sementara disitu. Ternyata orangnya jorok banget! Sampah dimana-mana! Kesel banget!"

"Oh, tapi aneh loh. Aku juga belum pernah berpapasan sama temenmu itu. Jadi aku pikir apartemen itu masih kosong."

"Ah sudahlah jangan dibahas lagi. Aku masih kesel sama temenku yang tidak bertanggungjawab itu!"

Shei berjalan melihat sekeliling. Apartemen Dava terlihat sangat rapih, berbanding terbalik dengan apartemennya yang seperti tempat pembuangan sampah. Di meja yang ada di sebelah kiri ruang tamu terlihat berjejer piala-piala beserta piagam penghargaan yang di terima Dava.
Sekali lihat pun, Shei tahu kalau Dava memang orang yang pintar.

Shei melihat sebuah figura foto tertelungkup di meja. Shei pun mengambilnya.

Wanita ini? Gumamnya

Tentu saja foto yang dilihat Shei adalah foto Dava dan Karin. Foto mereka telihat sangat bagus dan serasi. Wajah bahagia mereka juga terpancar jelas dari foto itu. Tiba-tiba tangan Dava menarik foto yang sedang dipegang Shei dengan cepat.

"Jangan menyentuh barang pribadi orang lain, anak nakal." Dava menyentuh kepala Shei dan mengacak-acak rambutnya seperti anak kecil.

"Aku bukan anak kecil!" Shei tidak terima. Shei benar-benar penasaran akan sesuatu tapi dia ragu untuk menanyakannya pada Dava. Dia pun hanya terdiam menatap Dava.

"Namanya Karina." Ucapan Dava yang tiba-tiba itu membuat Shei tersadar dari diamnya. Shei sama sekali tidak mengira bahwa Dava ternyata membaca pikirannya.
"Kami sudah pacaran selama 7 tahun. Dan berakhir karena dia bertunangan dengan orang lain." Lanjut Dava. Dan Shei semakin tidak menyangka bahwa Dava sekarang sedang menceritakan masalalunya. Padanya!

"Wanita yang gak punya hati!" ucap Shei sedikit bergumam.

"Karina itu orang baik, Shei. Cewek terbaik yang pernah aku temui. Mungkin kita memang tidak berjodoh aja."

"Kamu masih membela dia? Gak bisa dipercaya! Well, setidaknya kita punya persamaan. Sama-sama ditinggalin sama orang yang kita sayang."

"Siapa yang berani ninggalin cewek lucu kayak kamu, Shei?" Dava tersenyum. Sementara Shei sedikit kikuk dibuatnya.

"Ada deh, cowok brengsek yang bilang kalau dari awal hubungan kami itu hubungan bisnis. Padahal aku tulus banget sama dia. Oke lah kalo memang awalnya karena bisnis tapi masa iya setelah 3 tahun pacaran dia gak punya perasaan apa-apa sama aku? Kan brengsek banget! Aku bahkan mergokin dia selingkuh di hotel" Sheila berusaha mengatur emosinya.

"Ah, jadi itu sebabnya Dion bilang supaya aku jagain kamu!"

"Jagain aku? Dasar Dion! Emangnya aku anak kecil apa? Awas aja kalau ketemu!"

"Tapi dari yang aku tahu kamu memang kayak anak kecil Shei. Lucu-lucu ngegemesin gimana gitu."

"Uhuk! Uhuk! Kok aku jadi mules dengernya. Hahahaha"

Shei mengambil kartu undangan pertunangan Karina. "Rio Arva Dharmawan?" Shei mengernyitkan dahinya. "Rio?"

"Kamu kenal dia Shei?" tanya Dava menyelidik.

"Aku ketemu dia pas Kuliah di Ausie. Bodoh banget Karina lebih milih Rio daripada kamu Va!"

"Apa yang kamu tahu soal Rio?"

"Gak tahu banyak sih. Tapi dia lebih brengsek dari Joe."

"Joe?"

"Ah, mantan pacarku yang brengsek. Rio itu temennya Joe. Aku kenal Rio ya karena dikenalin Joe. Dia suka make Va!"

"Make? Narkoba maksudnya?"

"Iya. Dia juga pernah terlibat kasus kekerasan pas di Ausie. Cuma karena orang tuanya kaya jadi semuanya diselesaikan dengan baik dan cepat."

Dava tertegun.

"Are you okay?" Shei sedikit khawatir melihat Dava yang membatu dan bergulat dengan pikirannya sendiri. Shei mengambil teh yang dipegang Dava kemudian menyeruputnya.

"Ah, aku baik-baik aja."

"Dava, kamu mau tahu sebuah cerita yang dicertakan Tania padaku?"

"Cerita apa?"

"Cerita tentang lampu merah."

"Lampu merah?"

"Ada 3 lampu di persimpangan jalan. Lampu hijau, lampu kuning, dan lampu merah. Saat lampu merah menyala, apa kamu mau tetap melajukan kendaraanmu?"

"Tentu saja tidak!"

"Jadi berhentilah saat kamu melihat lampu merah dari Karina, Va." Shei menepuk pundak Dava.

"Anak kecil bisa bicara seperti ini juga?" Dava tersenyum.

"Ini cerita Tania untuk menghiburku. Dan satu lagi AKU BUKAN ANAK KECIL!!!! Aku 24 tahun!"

"Oh ya? 24? Kamu kayak anak 17 tahun Shei. Hahahaha"

"Dava rese!"


Selasa, 11 Agustus 2015

BROKEN HEART : (2) PATAH HATI? NOT BAD!


Sudah sebulan sejak kejadian di Hotel waktu itu. Sheila masih suka mengurung diri di kamarnya. Baginya rasa cinta yang selama ini dia tunjukan pada Joe bukanlah hanya sekedar hubungan bisnis keluarga. Tapi benar-benar tulus adanya.

Karena itulah, rasa sakit yang ditinggalkan Joe terasa sangat dalam. Baginya butuh waktu yang lama untuk kembali menata perasaannya. Tiga tahun yang dia lewati bersama Joe bukanlah waktu yang singkat yang bisa dengan mudah dilupakan.

"Woi, Shei. Cukup galaunya. Move on girl! Bangun!" Tania mulai mengoyang-goyangkan tubuh Sheila sambil berusaha menariknya menjauhi tempat tidur. Tania adalah tunangan dari Dion, sepupunya Sheila.

"Apa sih Tan? Males ah!"

"You need some air, girl! Ngapain ngegalauin cowok brengsek kayak, Joe?" Tania berkacak pinggang di depan Shei.

"Please jangan mention nama itu! Rasanya aku pengen muntah."

"Ya udah muntahin, ngapain di tahan-tahan. Setelah itu cari makanan baru yang layak untuk dimakan!"

"Gak semudah itu, Tan!"

"Sheila. You are Suharjo! Semua cowok yang deketin kamu pasti punya motif bisnis. Tapi bukan berarti mereka bisa selingkuhin kamu. Cowok seperti Jo, maksudku si brengsek, tidak pantas bikin seorang Suharjo menderita kayak gini. Be Strong Shei."

"Apa aku bener-bener terlalu naif ,Tan?"

"Yes, you are! Bukan berarti cinta tulus itu gak ada cuma status kamu memang menggiurkan banyak orang. hahahaha"

"Lalu, apa motif hubungan kamu dengan Dion?"

"Money? Bisnis? Yes! Pada awalnya memang begitu. Aku sama Dion saling memanfaatkan status keluarga kami tapi dalam prosesnya kami saling mencintai. Dan itu yang tidak terjadi antara kamu dan si brengsek. Kamu terlalu naif, sedangkan si brengsek terlalu brengsek. Kamu beruntung Shei, orang-tuamu tidak pernah melihat orang dengan statusnya, tapi berbeda dengan keluargaku maupun keluarganya Dion. Status keluarga sangat teramat penting."

"Rasanya aku pengen terlahir kembali jadi orang yang biasa-biasa aja." Keluh Shei sambil memeluk kedua lututnya.

"No, Shei. Jadi konglomerat juga tidak buruk! Kamu tau apa yang dikeluhkan orang kelas bawah? Mereka berkata 'Aku ingin dilahirkan kembali menjadi konglomerat'. Intinya manusia tidak pernah bisa puas dan bersyukur dengan hidupnya."

"Tan!"

"Ya?"

"Aku  seneng kamu ada disini sekarang."

"Itu bagus! Kalau begitu sekarang bangun, mandi dan siap-siap ikut aku!"

"Kemana?"

"Nanti aku ceritakan di mobil!"

@@@

Dava membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia terlahir menjadi seorang konglomerat mungkin dia bisa melindungi cintanya. Namun apa gunanya menyalahkan takdir. Seberapa keras pun dia memaki, dia tidak akan pernah mengubah kenyataan yang ada. Sebesar apapun dia bekerja keras, dia tidak akan pernah bisa mengubah status dirinya.

Dia tersenyum kecut sambil memegang sebuah kartu undangan pertunangan yang dikirimkan ke kantornya. Kartu undangan berwarna Putih-Pink berhiaskan mawar seolah mengejek cintanya.

Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Gumamnya.

Sebuah pesan teks masuk
Tania : Va, sekarang aku OTW ke tempatmu. Soal rencana liburan.
Dava: Oke. datang aja, aku dikantor kok.
Tania : Are you ok?
Dava : Sure. Kenapa nanya gitu?
Tania : Aku denger dari Dion soal Karina.
Dava : Ah itu. Bohong kan kalo aku bilang baik2 aja.
Tania : Kamu orang baik, Va.
Dava : Aku tau :) See you!

Dava tersenyum kecil sebelum akhirnya menutup pesan dari Tania.
Tania adalah pacar Dion, sahabat Dava. 3 Tahun yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu, Dava sudah mengira kalau Dion adalah orang yang luar biasa. Pakaian yang dia kenakan dan cara dia berbicara benar-benar menunjukan kelasnya. Ternyata benar dia adalah bagian dari keluarga Suharjo.

Saat itu, Dava tidak pernah berpikir bahwa mereka akan cocok namun ternyata malah sebaliknya. Dava tidak pernah memiliki sahabat yang begitu dekat dengannya karena dia terlalu sibuk untuk belajar dan mencari uang. Baginya Sahabat tidaklah terlalu penting. Dia hanya ingin membuktikan dirinya bisa bersanding dengan Karina, orang yang sangat dicintainya. Tapi ternyata Dion mampu memasuki celah itu, celah yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dava. Dion walaupun orangnya high class tapi dia tidak pernah memandang Dava dengan pandangan Low Class. Bagi Dion, Dava adalah orang yang baik, menyenangkan, setia, pekerja keras, ambisius, dan berdedikasi. Yah begitulah gambaran seorang Dava yang dikatakan Dion langsung di depannya dan berhasil membuat Dava merasa jijik saat mendengar semua itu.

"Dava!"

"Hai, Tan. Long time no see!"

"Iya,nih! Maklum aku baru pulang dari LA. Tapi sering ketemu Dion kan?"

"Ya, Tentu. Teman dekatku kan cuma Dion." Jawab Dava tersenyum.

"Temennya Dion?" Shei menyela percakapan mereka.

"Ah sampai lupa, kenalin ini Sheila sepupunya Dion!"

"Suharjo juga ternyata. Hai, aku Dava!"

"Sheila, panggil saja Shei. Aku baru tahu kamu temannya Dion. Aku bahkan hampir mengenal semua temannya Dion."

"Hampir semua berarti tidak semua kan. Aku beberapa kali ikut pesta yang di adakan Dion kok. Tapi memang sepertinya kita baru bertemu."

"Tapi kamu bilang kamu temen dekatnya Dion. Aku cuma gak habis pikir aja kalau ada temen dekatnya Dion yang gak aku tahu."

"It's your problem!"

"What?"

"Hei, hei stop debating! Kita disini mau merencakan soal liburan." Tania mencoba melerai perdebatan mereka berdua.

"Ah, sorry. Silahkan duduk. Jadi destinasi mana yang kalian pilih?" Tanya Dava.

"Paris!" Jawab Tania mantap.

"No, Tan! NO! Aku gak ikut kalau kesana!" Shei menyatakan ketidaksetujuannya.

"Ah. Lupa. Jadi mau kemana?" Tania merasa bersalah pada Shei. Tentu saja Shei tidak akan mau pergi ke Paris setelah insiden dengan Joe. Paris adalah tempat yang bersejarah buat Shei dan Joe. Mereka jadian di kota itu.

"Belanda aja, kan lagi musim tulip." Dava memberi saran.

"Good idea! Gimana Shei?" Tania menimpali.

"Oke." jawab Shei singkat.

"Oke. Belanda! Kamu ikut juga dong Va. Aku kan pergi sama Dion, daripada Tania jadi obat nyamuk mendingan kan ditemenin kamu. Gimana?" Tania sebenernya mempunyai rencana lain. Dan tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Tania, Shei sadar akan rencana itu.

"Aku sepetinya tahu kemana arah pembicaraan kamu, Tan. Tapi aku baik-baik saja!" Shei menatap Tania dengan tatapan 'Akan ku bunuh kau kalau bicara lagi' sementara Tania membalas tatapan Shei dengan tatapan 'Aku akan hidup lagi walaupun kau bunuh'

"Ah maaf Tan sepertinya aku gak bisa ikut. Banyak kerjaan." Dava menyadari apa yang sedang di bicarakan kedua wanita di depannya.

"Aku akan menerormu sampai kamu ikut dengan kami. Hati-hati!" Tania berusaha mengancam dengan candaannya.

"Lakukan sesukamu!" ucap Dava sambil menepuk pundak Tania.

"Ah ya, aku baru ingat. Aku ada janji penting. Dava kamu bisa antar Shei pulang gak? Ini udah jam pulang jadi gak ganggu pekerjaan kamu kan?" Tania melanjarkan jurus keduanya.

"Tania! Aku bisa pulang sendiri." Ucap Shei tak nyaman.

"No! Kondisi kamu sedang tidak baik, jadi lebih baik Dava yang antar."

"Aku bisa telepon supir untuk jemput." Shei gak mau kalah.

"Gak apa-apa, biar aku yang antar." Dava menawarkan diri untuk mencoba mengakhiri perdebatan dua wanita kaya di depannya.

"Gak perlu Dava, aku bisa pulang sendiri!"

"Aku gak merasa di repotkan kok. Daripada telepon supir bukannya lebih efisien kalau aku yang antar."

"Seperti yang aku tahu, Dava adalah yang terbaik!" Tania memberikan 2 jempolnya. "Aku pergi! Bye!"

@@@

Tidak ada pembicaraan yang berarti antara mereka selama di perjalanan. Yang keluar dari mulut Shei hanya kalimat penunjuk jalan menuju apartemennya 'belok kanan', 'belok kiri', 'lurus aja'. Dava pun sepertinya tidak terlalu tertarik untuk membuka pembicaraan dengan salah satu keturunan Suharjo ini.

Sesampainya di Apartemen.

"Sudah kubilang tidak perlu di antar. Tapi makasih."

"Jadi kamu tinggal di apartemen ini?"

"Iya, sebenarnya aku lebih sering tidur di rumah sih dan hanya sesekali tidur di apartemen." jawab Shei sambil keluar dari mobil Dava. Dava pun ikut turun dari mobil.

"Kenapa keluar? Kamu gak perlu mengantar sampai dalam."

"Oke." Dava mengangguk menahan senyumnya.

Shei kemudian berjalan memasuki gedung apartemen tanpa menoleh kebelakang. Saat memasuki lift Shei terkejut melihat Dava sudah berdiri di sampingnya.

"Aku bilang tidak perlu mengantarku! Ah....Jangan-jangan kamu punya ketertarikan padaku? Aku tahu aku cantik dan menarik tapi maaf aku tidak berniat menjalin hubungan dalam waktu sekarang ini. So, segera hilangkan perasaanmu itu!" Shei mulai berbicara nyerocos di depan Dava, sementara Dava hanya tersenyum.

"Sudah selasai bicaranya?"

Shei mengangguk.

"Kamu narsis juga ya orangnya, benar-benar tipikal seorang Suharjo. Mungkin ini semacam gen yang sama kayak Dion. Pertama, aku sedang tidak mengantar kamu pulang melainkan sedang dalam perjalanan pulang kerumahku sendiri. Kedua, aku juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan dalam waktu sekarang ini." Dava mengerlingkan matanya.

"Oh, syukurlah - Shei mencoba untuk menahan rasa malunya- Kamu tinggal di apartemen ini juga? Lantai berapa?"

Dava melirik kearah tombol lift, kemudian berkata "Sepertinya kita tinggal di lantai yang sama!"

"Apa? Tapi aku belum pernah lihat kamu sebelumnya."

"Aku juga belum pernah lihat kamu selama 3 tahun aku tinggal disini."

Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan berjalan berdampingan.

"Jadi kamu sudah 3 tahun tinggal disini. Yang mana apartemenmu?" tanya Shei.

"Ini." Dava menunjuk ke arah pintu apartemennya. Bertuliskan 406.

"Wah! Aku bener-bener gak percaya! Itu apartemenku, no 409!" Giliran Shei menunjuk apartemennya.

"Ah, jadi kamu yang beli apartemennya Pak Yudi?"

"Mungkin. aku gak begitu tau pemilik lamanya."

"Well, walaubagaimana pun kita ternyata bertetangga. Mari bertetangga yang baik." Dava mengulurkan tangannya.

"Tentu!" Shei pun membalas jabatan tangan Dava dan kemudian berjalan menuju apartemennya.


Sulit dipercaya. Baik Dava maupun Shei menggumamkan hal yang sama.



Senin, 10 Agustus 2015

BROKEN HEART : (1) INI SEPERTI TAKDIR


"Hallo sayang kamu lagi dimana?" Gadis bermata bulat itu terus saja mengayunkan kakinya saat berbicara di telepon.

"Aku lagi ada meeting di kantor. Kenapa sayang?" ucap pria disebrang telepon lembut.

"Cuma mau ngingetin, jangan pulang terlalu malam. Kan kamu bilang lagi gak enak badan!"

"Iya sayang. Tenang aja, aku sudah baikan kok! Udah dulu ya, aku sudah di tunggu di ruang meeting nih."

"Hmm, oke. I love you, Joe!"

"I love you too, shei"

Sambungan pun terputus.

Shei dan Joe telah berpacaran sejak 3 tahun yang lalu. Mereka bertemu di sebuah pesta yang diadakan keluarga Hadiningrat, keluarga besar Joe.

Baginya Joe adalah pria tampan yang sempurna. Selalu membuatnya bahagia dan istimewa. Joe selalu memperlakukan Shei dengan sangat baik yang membuat banyak wanita lain merasa iri.

Royal Couple, begitulah orang-orang menjuluki mereka. Dengan background keluarga mereka yang luar biasa cukup membuat banyak orang merasa iri.

Joenathan Aksa Hadiningrat. Merupakan pewaris utama dari kerajaan bisnis Properti Hadiningrat. Sebagai anak pertama, Joe, memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarganya. Namun Joe termasuk 'Prince' yang santai. Dia bahkan masih memiliki waktu untuk membuat pesta dan bersenang-senang ditengah kesibukannya.

Sementara Sheila Revana Suharjo adalah anak kedua dari CEO SC Group. Sebuah perusahaan Ritel terbesar di Indonesia. Selain dibidang Ritel semacam Suharjo Store dan S-mart, SC grup juga menggarap sektor lain seperti Properti, Pariwisata, Farmasi hingga pertambangan. Bisnis keluarga Suharjo sudah sangat mengakar. Menurut Survei Forbes, Adnan Suharjo, ayah Shei adalah orang terkaya no 1 di Indonesia saat ini.


@@@

"Tolong letakan bunganya di sebelah sana!"

"Ah hati-hati bawa mejanya!"

"Aku ingin semuanya terlihat sangat manis!"

Seorang pria lengkap dengan tuxedo-nya terlihat sangat tampan. Berkali-kali dia melihat jam tanggannya. Dia biarkan dirinya berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa gugup. Malam ini, dia akan melamar kekasih yang sudah dia kencani selama 7 tahun. Seorang gadis yang selalu ada untuk menyemangatinya dan tentunya mencintainya.

Mereka bertemu di tahun ke 3 masa kuliahnya dan tidak lama kemudian mereka berpacaran. Dava Putra Ghanindra seorang pria cerdas yang memiliki ambisi besar dalam dirinya. Dia berjuang sangat keras untuk membuktikan kepada keluarga Karina bahwa dia pantas bersanding dengan putri dari keluarga besar Karina yang kaya raya dan terpandang.

Karina berasal keluarga politisi salah satu Partai Besar di Indonesia. Ayahnya adalah orang yang terpandang dan disegani di dunia politik Tanah Air. Mungkin kalian sering mendengar nama Lukman Pranoto di berbagai media. Ya, dialah ayah Karina.

Sebenarnya Karina mencintai Dava apa adanya, tanpa memandang status keluarganya yang dari kalangan biasa. Karina melihat potensi dari Dava. Dava adalah pekerja keras, baik dan juga cerdas. Oleh karena itu Karina mendukung Dava dari Nol. Saat Dava mendirikan perusahan travel pertamanya 3 tahun yang lalu, Karinalah yang selalu ada disisinya. Kini perusahaannya sudah berkembang pesat. Perusahaan Travel milik Dava masuk 10 besar perusahaan Travel terbaik tahun ini. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat perusahaannya baru berdiri selama 3 tahun.

Kebaikan hati Karinalah yang membuat Dava mantap untuk melamar. Dan dia akan memperjuangkannya di depan keluarga Karina. Sampai saat ini, keluarga Karina belum memberikan lampu hijau atas hubungan mereka. Dengan melamar Karina, Dava ingin menunjukan keseriusannya. Dia yakin dengan penghasilannya sekarang, dia bisa menghidupi Karina dengan baik.

@@@

"Restorannya tutup ya?" Shei bertanya pada salah satu petugas yang bejaga di depan restoran favoritnya. Sebuah restoran yang terletak di dalam hotel bintang 5 ini memang memiliki citarasa yang khas. Shei sering mengajak Joe maupun teman-temannya makan disini.

"Iya, mba. Restorannya disewa malam ini!"

"Di sewa? Wah sepertinya acara lamaran?" Shei melongok kearah dalam restoran yang benuansa putih-pink dihiasi bunga mawar disekelilingnya. Dia juga melihat seorang pria terlihat sedang mondar-mandir menahan rasa gugup. Shei tersenyum kecil. Sesaat dia membayangkan bagaimana cara Joe akan melamarnya. Apakah Joe akan terlihat sangat gugup seperti pria itu?

"Iya, mba. Acara lamaran. Pria itu kebetulan teman kuliah pemilik restoran jadi bos kami rela menutup restorannya malam ini. Kalo begitu saya permisi"

"Iya sayang tenang aja aku sudah atur semuanya. Ini akan jadi hari ulang tahun terbaik kamu!"

Deg. Jantung Shei tiba-tiba berdetak lebih kencang.

Ah tidak, mungkin aku salah dengar. Gumamnya. Shei membalikan badannya secara perlahan seraya mengatur nafasnya yang terasa sesak.

Shei mengambil handphone-nya

Terlihat Joe melihat layar HPnya dengan tenang.

"Sheila ya?" ucap wanita di sebelah Joe. Joe mengangguk.

"Halo sayang!" Joe mengangkat teleponnya.

"Kamu dimana?"

"Aku? Masih meeting. Kenapa? Sudah kangen ya?" Joe mengeluarkan suara manjanya.

"Iya, aku pengen ketemu kamu." jawab Shei datar.

"Besok aku jemput kamu, kita makan siang bareng di restoran favoritmu. Sekarang aku tutup teleponnya ya sayang. Love you!"

Sambungan terputus. Shei masih terpaku di tempat. Pikirannya kalut begitupun hatinya.

"Kamu beneran gak bisa putus sama Shei? Jadi aku harus terus jadi yang kedua?" Tanya wanita bergaun merah itu merajuk manja.

"Kamu tahu sendiri, aku sama Sheila itu cuma hubungan bisnis. Kita sudah bahas ini sebelumnya kan?"

@@@

"Kamu pasti terkejut ya, Sayang? Aku mempersiapkan ini untuk kamu." Ucap Dava seraya menatap lekat mata kekasihnya.

"Aku mau bilang sesuatu sama kamu dan aku yakin kamu sudah bisa menebaknya." Lanjut Dava.

Karina melepaskan pegangan tangan Dava perlahan dan mulai menangis.

"Apapun yang mau kamu bilang, aku gak mau denger." Karina tertunduk. Tubuhnya sedikit bergetar menahan tangis.

"Maksud kamu?"

"Aku udah mutusin untuk mengakhiri hubungan kita, Va!"

Dava tersentak, tak terasa tangannya mulai gemetar dan berkeringat. Dia sungguh tidak ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Karina. Tidak ingin.

"Kenapa Rin?"

"Aku memilih orangtuaku, Va. Maaf."

"Rin, aku sudah berusaha sangat keras untuk membuktikan kalau aku pantas ada disamping kamu. 7 tahun hubungan kita apa kamu ingin membuangnya seperti ini?"

"Selama 7 tahun juga aku berusaha menyakinkan keluargaku kalau kamu pantas untuk aku. Tapi selama itu juga aku merasa menderita karena kita tidak pernah mendapat restu. Aku menyerah, Va!"

Karina melangkahkan kakinya keluar restoran tanpa menoleh lagi. Semua berakhir untuk mereka berdua.
Dava tertunduk dan perlahan air matanya keluar tak terbendung. Rasa sakitnya berbaur dengan air mata yang terus keluar membasahi tuxedo-nya. Seperti hujan yang terlihat semakin deras diluar sana. Dia membiarkan dirinya menangis bersama hujan berharap kesedihannya akan menghilang.

@@@

Shei berjalan mengikuti Joe dan selingkuhannya dengan tatapan kosong. Sesampainya di depan kamar yang mereka masuki. Kakinya terasa sangat berat. Dia benar-benar taku tidak bisa menanggung rasa kecewa. Tapi Sheila adalah orang yang kuat. Dia yakin bisa melakukannya. Saat itu dia melihat seorang petugas hotel berjalan melewatinya.

"Tok...Tok.."

"Siapa?"

"Room service!"

"Sebentar."

Pintu pun terbuka.... "Sheila?"

"Hubungan bisnis? Hah! Brengsek!" Shei mulai memukuli badan Joe dengan tangan mungilnya.

"Shei!" Joe berusaha menahan tangan Sheila.

"Ah, lupa. Aku kesini bukan untuk menangis di depan kamu, atau pun meminta penjelasan dari kamu. Aku kesini ingin bilang kalo mulai saat ini kita putus! Silahkan kalian lanjutkan apapun yang akan kalian lakukan!"

"Berhenti kekanak-kanakan seperti ini Shei!"

"Apa? Kekanak-kanakan?"

"Ya! Jangan bersikap seperti anak remaja usia 17 tahun yang mengharapkan cinta tulus. Kita hidup di dunia yang menempatkan bisnis keluarga diatas segalanya. Cinta? Itu hanya mainan anak-anak kelas bawah. Hubungan diantara orang-orang kelas atas seperti kita adalah hubungan bisnis yang dibungkus seperti cinta!"

"Kamu benar-benar brengsek. Perasaanku padamu tulus, Joe! Aku harap aku tidak pernah ketemu kamu lagi, Joe"

"Baiklah kalo itu yang kamu mau. Tapi jangan sampai mempengaruhi bisnis yang sedang kedua perusahaan keluarga kita lakukan."

"Kamu bener-bener brengsek sampai akhir, Joe!"

@@@

Mendung pun tak terlihat saat malam. Hujan yang turun juga semakin deras. Dua orang yang sedang patah hati terlihat sangat menyedihkan saat itu. Mereka hanya berdiri menatap kosong ke arah hujan.

"Taksi"

"Taksi"

Saat itulah mereka pertamakali bertemu. Dalam tangis yang sama di bawah hujan yang sama.


Selasa, 17 Maret 2015

BAGIAN 2 END : KEENA MAHARDHIKA

SMA Patriot 1

Aku memasuki kelas yang sudah terlihat ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Dika. Aku benar-benar merindukannya. (Kamu boleh bilang aku gila!)

Aku menemukannya. Dia sedang tertawa membicarakan sesuatu dengan teman sebangkunya sambil menenteng gitar kesayangannya. Pandangan kami beradu. Untuk pertamakalinya aku panik saat melihat matanya. Ralat, dulu lumayan sering sih. Dulu sekali. Tapi ini pertamakalinya sejak deklarasi perang yang dia lontarkan padaku.

“Eh Na, bedaknya ketebelan tuh!” Dia tertawa meledek. Sial. Aku benar-benar malu dibuatnya. Apa benar bedakku ketebelan? Aku memang melakukan make-up tambahan saking semangatnya mau bertemu dengan Dika. Dalam keadaan normal mungkin aku akan membalas ledekannya dengan teriakan atau apalah namun harus dicatat bahwa saat ini aku sedang tidak normal. Aku malah berjalan setengah berlari menuju mejaku tanpa berani melihat wajahnya lagi. Beberapa siswa terlihat keheranan. Mungkin awalnya mereka berfikir akan menyaksikan perang hebat lagi diantara kami.

Pelajaran hari ini adalah membahas tentang otak manusia. Bu guru menyinggung sesuatu yang disebut synesthesia. Sesorang yang memiliki synesthesia bisa melihat sesuatu dengan sisi bebeda. Misal melihat huruf dengan warna yang berbeda, setiap hari juga memiliki warna yang berbeda.

“Menurut kalian, synesthesia itu kelainan atau bukan?” Tanya Bu Fani.

“Kelainan bu! Cara otak si penderita mengolah data yang masuk berbeda dengan otak normal. Sehingga hasilnya pun memiliki persepsi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Sudah jelas ini kelainan.” Lukman yang duduk paling depan menjawab.

Ibu Fani mengangguk-anggukan kepalanya “Ada yang berfikir lain?” dia kembali bertanya.

“Menurut aku itu bukan kelainan, hanya sebuah kondisi atau kemampuan bu. Menurut Wiki synesthesia adalah a neurological phenomenon in which simulation of one sensory or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second sensory or cognitive pathway. Sebuah penomena, sebuah kondisi. Ini bukan penyakit ataupun kelainan yang menggangu fungsi otak. Synesthesia lebih ke berupa kemampuan lebih seseorang. Karena justru banyak pemilik kemampuan synesthesia tidak mau di sembuhkan. Seorang synethetes bisa melihat hurup atau angka dengan warna yang berbeda, suara/nada juga memiliki warna/bentuknya sendiri membuat mereka bisa membedakannya dengan cepat.”

“Wah, seperti biasa Dika seperti wiki berjalan ya?” Ibu Fani tertawa disambut tawa siswa lainnya. “Ada pendapat yang lain mungkin?” tanyanya lagi.

Akupun mengangkat tangan. Ibu Fani mempersilahkanku untuk bicara. Tiba-tiba seluruh ruangan hening – seperti biasa. Mungkin mereka sedang menunggu sebuah bom di lemparkan dari bawah mejaku. “....aku setuju dengan pendapat Dika.”
Haaaaaaahhhhh????? Suara keheranan terdengan di seluruh ruangan.

“.....kita semua memiliki synesthesia sepertinya. Seperti berkata ‘wajah cantiknya sangat manis’. Mana ada wajah yang manis? Wajah dilihat oleh indra penglihatan, manis dirasakan oleh indra pengecap. Keduanya disatukan oleh otak. Hanya karena cara kerja otaknya yang berbeda bukan berarti otak itu tidak bekerja atau terganggu. Namun apa benar yang seperti itu sudah bisa dibilang synesthesia? Menurut saya tingkat kemampuan synesthesia seseorang itu berbeda-beda. Pada tingkatan yang lebih ekstrim, saat seorang synethetes membuat hurup P, dia melihat warna ungu, setelah dia menambahkan garis menjadi hurup R warnanya berubah jadi orange. Bunyi klakson juga memiliki warna yang berbeda. Nada Do memiliki warna yang berbeda dengan Mi. Dan seterusnya. Mungkin ada juga yang misal saat melihat Lukman dia mencium bau bunga kenanga, tentu bukan bau farfume ya, dan saat melihat Dika mencium bau bunga Raflesia arnoldi, sorry, bunga mawar maksudnya.” Semua siswa tertawa mendengar penjelasanku.

“Wah menarik, bagaimana kalau kita jadikan ini pekerjaan rumah? Setiap siswa menuliskan apakah synesthesia itu penyakit,kelainan atau kemampuan lebih, atau apa? Terangkan juga pendapat kalian masing-masing. Kumpulkan minggu depan ya!” Ibu Fani mengakhiri pelajarannya dengan pekerjaan rumah. Seperti biasa, selalu seperti itu.

Jadi perbincangan heboh setelah itu bukan lagi masalah synesthesis tapi mengenai seorang Keena yang menyetujui pendapat Dika di depan semua orang. Hal ini adalah yang pertama kalinya terjadi.

“Ini aneh. Keena setuju sama pendapat Dika. OMG udah mau kiamat kayaknya. Biasanya kalopun Dika bener, Keena bakal milih diam daripada bilang setuju di depan semua orang. Dan tadi sejarah banget gak sih?” Seorang gadis bernama Hana mulai menggosip dengan siswa dari kelas lain. Dia memang biang gosip di sekolahku. Semua gosip yang beredar 99% berasal dari mulutnya.

***
“Gosip soal lo sudah berkembang sangat ekstrim Na.” Ucap Nayla sambil menyuapkan siomay mang Udin ke mulutnya.

“Ekstrim?”

“Katanya lo kayak gitu karena lo mulai suka sama Dika.”

Aku terdiam mendengar gosip itu. Ah mungkin karena itu bukan gosip. Aku memang menyukainya. Mataku tak pernah lepas dari sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di ujung meja sana. Dika dan Renata. Pasangan paling serasi di sekolah, katanya. Renata adalah siswi cantik nan populer dari kelas 2. Ya, dia adik kelas Dika.

“Halo Na? Lo liatin apa sih? Dika sama Renata?” Nayla terlihat bingung saat tahu aku sedang memperhatikan mereka.

“Lo beneran suka sama Dika ya?” tanyanya setengah berbisik.

“Berani-beraninya dia bermesraan di depan gue. Gue gak terima suami masa depan gue mesra-mesraan sama cewek lain di depan gue.”

“Bentar. Suami masa depan? Lu kesambet apaan si Na?” Nayla semakin bingung dengan sikapku.

“Tunggu disini. NAY GUE BAYAR MINUMAN DULU YA” Aku mengeraskan suaraku saat mengucapkan kalimat terakhir.

Nayla hanya mengangguk bingung padaku. Aku kemudian berjalan menuju sepasang iguana kurang ajar itu dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minumanku ke baju Renata.

“Ups. gak sengaja.” Ucapku

Renata merengek-rengek pada Dika karena baju dan rok nya basah olehku. Minta di perhatikan banget. Jijik banget liatnya. Idih dasar laler.

“Kak Keena pasti sengaja deh yang, kamu udah denger kan gosip kalo Kak Keena suka sama kamu.” Ucap Renata manja. Sementara Dika masih menatapku dingin.

“Idih, kan udah di bilangin gak sengaja.” Aku kesel juga liat muka sok nya Renata.

“Gimana itu bisa di bilang gak sengaja Na? Lo tuh paling jelek kalo akting. Minta maaf sama Rena sekarang!” Dika membentakku pemirsah. Helloooo gue istri masa depan lo Dika, buka mata lo! Gumamku dalam hati

“Kenapa gue harus minta maaf? Kan gak sengaja. Kalo sengaja baru gue mau minta maaf.” Wah aku benar-benar mengeluarkan kekejamanku. Kutatap sinis wajah sok lugunya Rena.

“Udah Re, kamu pergi ke toilet sekarang. Biar dia aku yang urus.” Rena pun pergi atas titah Dika. Setelah Rena tak kelihatan lagi, Dika melanjutkan perdebatan ini denganku

“Lo kan punya masalahnya sama gue, jadi jangan bawa-bawa cewek gue dong. Kalo lo sekali lagi ngebully Rena. Gue gak bakal tinggal diam.”

“Bully? Wow. Gue cuma gak sengaja numpahin minuman (hehe bohong, sebenernya SENGAJA :P) terus lu sebut gue ngebully dia? Wow!” Emosi Keena emosi.

“Gak sengaja? Oke!” Dika maju satu langkah dan menumpahkan minumannya padaku. “Ups, gue gak sengaja” Dika pun melempar gelas plastik itu dan pergi meninggalkanku.

“Dika!” Aku berteriak tidak percaya. Kini pakaiannyaku basah oleh teh manis yang ditumpahkannya. Saat itu aku baru sadar Nayla sudah berdiri di sampingku dan mulai mengelap bajuku dengan saputangannya.

“Duh. Lo cari masalah sih Na. Kita ke toilet yuk.” Nayla menuntun tanganku, namun aku mengibaskan tangannya. “...Na lo mau kemana, toiletnya arah sini” Nayla berlari mengejarku yang sedang berjalan ke arah toilet anak kelas 2.

Jebred. Aku membuka pintu dengan keras ala-ala sinetron abg yang lagi ngelabrak. Aku menghampiri Rena yang tengah membersihkan bajunya. Entah apa yang telah merasukiku sekarang, aku juga tak mengerti apa yang mau aku lakukan disini. “Yang lain keluar!” perintahku pada 3 cewek kelas 2 yang ada disitu.

“Na, lo ngapain sih? Udah yuk balik ke kelas!” Nayla mencoba menarikku keluar, khawatir melihat emosiku yang meletup-letup tak terkendali.

“Ini bukan pertama kalinya lo gak ngehormati gue sebagai orang yang lebih tua dari lo.” Aku mulai membuka pembicaraan dengannya.

“Gue cuma menghormati orang yang pantas gue hormati” Renata menimpali.

“Jadi maksud lo gue gak pantas buat di hormati?”

“Yes! Lo tuh cuma tukang cari perhatian , numpang tenar sama Dika. Sok pinter, sok cantik, dan sok-sokan jadi senior yang pengen di hormati. Cuma sampah!”

Aku merasa mual melihat wajah Renata saking jijiknya. Dia bahkan tidak terlihat seperti korban labrakan kakak seniornya. So confident. “Jaga ucapan lo ya, mulut lo lebih sampah!” bentakku.

“Ah...gue tahu kenapa lo over kayak gini. Apa gara-gara keluarga lo yang lagi kacau karena bokap lo yang punya wanita simpanan? Dan lo lampiasinnya ke gue.”

“Bitch!” Tanpa berfikir panjang aku mulai menyerangnya, menjambak rambutnya. Dia juga membalas jambakanku. Nayla panik berusaha menghentikan kami.

“Stop!” Dika yang entah kapan masuknya melerai kami berdua. “Lo gila ya Na? Sayang kamu gak apa-apa kan?” Dika menghampiri Rena yang mulai menangis mendramatisir keadaan. Seolah-olah dia benar-benar korban.

“Lo ternyata lebih rendah daripada yang gue kira Na. Cewek yang punya sikap dan sifat rendah itu elo Na. Bukannya minta maaf malah datang ke toilet anak kelas dua dan ngelakuin ini semua. Keterlaluan lo Na!” Dika memarahiku. Emosinya meluap-luap.

“Sebelum lo marah-marah sama gue, tolong ya ajarin dulu cewek lo sopan santun. Mulutnya lebih sampah daripada mulut gue Dik. Gue cewek rendahan? Emang lo tau apa tentang gue hah? Gue bahkan sampai sekarang masih inget apa yang lo bilang ke gue 5 tahun yang lalu kalo lo bakal bikin gue jatuh berkali-kali di depan lo. Gue gak ngerti Dik, alasan lo benci ke gue tuh apa? Yang gue tahu, gue benci elo karena elo benci gue!” Aku keluar dari toilet dengan muka yang memerah menahan tangis. Nayla mengikutiku di belakang. Kami tidak langsung kembali ke kelas, aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan diri.

‘Lo kenapa sih Na? Hari ini emosi lo susah di tebak. Cerita aja ke gue!” tanya Nayla dengan lembut.

“Lo gak bakal percaya sama apa yang gue omongin ke elo Nay.”

“Tapi gue akan selalu memahami elo Na!”

“Gue time traveler ke masa depan Nay dan ternyata gue nikah sama Dika.” Aku melihat ekspresi bingung Nayla. “.... Dika 5 tahun mendatang berbeda dengan Dika sekarang. Dia lebih dewasa, perhatian, sayang sama gue.” Lanjutku.

“Tuh kan lo gak percaya. Sudahlah.” Aku terdiam.

“Mungkin lo cuma sedang bingung sama perasaan lo ke Dika, Na! Maksud gue, lo mengharapkan Dika yang baik, perhatian, care sama lo jadi lo mimpiin Dika seperti itu.” Nayla mengucapkannya dengan hati-hati.

“Itu bukan mimpi Nay. Ini adalah gelang yang di berikan Dika di 100 hari perayaan pernikahan gue sama dia. Gelang ini dari masa depan yang ikut ke masa sekarang. Gelang ini yang buat gue percaya kalo gue gak lagi mimpi Nay.” Ucapku sambil menujukan gelang pemberian Dika.

“Na...” Nayla melihatku dengan tatapan simpatiknya. Mungkin dia berfikir aku benar-benar gila.

“Terserah lo mau percaya gue atau nggak Nay. Denger Nay, gue lihat lo dimasa depan, LO BAKALAN NIKAH SAMA TONY. Nanti, suatu saat nanti, lo bakal tau apa gue bohong atau enggak.”

“Tony?”

“Yes, Tony!”

Nayla tersenyum padaku “Balik ke kelas yuk, udahan bolosnya. Udah jam pulang.” Nayla menarik tanganku dan menggandengnya berjalan menuju kelas.

“Tony ya? Awas ya kalo ternyata gue gak jodoh sama Tony. Gue gelitikin lo sampai nangis.”

Aku tahu sekali kalau Nayla cinta mati sama Tony, anak SMA Persada si Jago Basket. Aku mengangguk dan kami pun tertawa. Mungkin Nayla tidak mempercayai ucapanku, tapi benar bahwa dia selalu berusaha memahamiku, memahami bahwa aku gila. Hahahaha.

***

Diam. Sudah 1 bulan aku dan Dika tidak saling berbicara sejak insiden di toilet. Cekcok, adu argumen, saling ledek sudah tidak pernah kami lakukan. Kami hanya diam. Ah, rasanya hari-hari yang aku lalui selama sebulan ini lebih buruk dari sebelumnya. Hatiku rasanya ingin meledak, memaki-makinya. Lebih tepatnya, aku merindukannya.

Hari ini selepas sekolah, panitia pelepasan siswa kelas 3 menggelar rapat lanjutan. Kami harus pintar membagi waktu agar persiapan kami tidak mengganggu belajar kami. Kami semua sadar bahwa kami juga akan menghadapi UAN yang ada tepat di depan mata. Kami pun mulai membagi tugas untuk acara perpisahan nanti. Ada yang bertugas sebagai dekorator, konsumsi, kostum dll. Sementara aku bertugas menjadi photografer acara.

“Na, kayaknya kita harus bicara.” Dika menahanku setelah acara rapat selesai.

“Bicara apa lagi sih Dik? Gue udah males adu mulut sama lo!”

“Ini udah sebulan kita diem-dieman Na. Lo gak ngerasa aneh apa?”

“Aneh? Bukannya lo seneng gak bicara sama cewek yang punya sikap dan sifat rendahan kayak gue?”

“Oke, sorry soal omongan kasar gue waktu itu, Na. Gue juga udah nanyain berkali-kali ke Rena soal apa yang dia bilang ke Elo sampai lo marah banget kayak gini. Tapi dia bilang dia gak ngomong apa-apa ke elo.”

“Udahlah Dik, jangan ngebahas soal itu lagi. Males sumpah.”

“Soal gosip itu. Apa bener lo suka sama gue, Na?”

Aku bingung harus jawab apa sekarang. Jantungku berdetak semakin keras dan tak terkendali. Rasanya aku ingin lari, kabur dari ruangan ini secepatnya. Pintu, aku harus segera lari. Namun aku urungkan saat melihat Renata mematung tepat di depan pintu. Mungkin dia sedang menahan dirinya untuk tidak cemburu. Entah kenapa perasaan berani muncul dari diriku. Aku ingin menyingkirkan Renata dari hidup Dika. Dan mungkin ini kesempatannya. Ku tatap wajah Dika lekat. Dan aku tersadar bahwa aku benar-benar merindukannya. Aku menciumnya lembut, awalnya aku hanya ingin memberikan kecupan cepat namun tanpa kuduga Dika malah membalas ciumanku. Ya, kami berciuman. Kakiku rasanya sangat lemas menahan desiran rasa bahagia yang mulai menghangatkan hatiku.

Keesokan harinya, hampir saja aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah saking malunya untuk bertemu dengan Dika. Namun ternyata hari itu Dika tidak masuk sekolah. Kata Nayla, Ibunya Dika di rawat di rumah sakit karena...

“Kangker.” Ucapku

“Kamu sudah tahu?”

“Ibunya akan meninggal saat hari perpisahan sekolah.”

“Hush! Jangan sembarangan kalo ngomong. Nanti kalo beneran gimana? Gue tahu lo emang benci banget sama Dika tapi jangan ngomong kayak gitu dong Na. Pamali!”

“Aku gak lagi nyumpahin Nay. Aku tahu saat aku pergi ke masa depan.”

“Hehehe....itu lagi. Udahlah ngomongin yang lain aja.”

“Yang lain? Mmm Gue sama Dika kissing!”

“What?” Nayla tersedak siomay yang dia makan. “....kapan, dimana dan bagaimana?”

***

Papaku punya simpanan? Bagaimana bisa Renata menyimpulkan hal itu. Memang sempet rada heboh sih, pas ada tante-tante ngaku kalau dia lagi hamil anak papa. Tante itu mulai ribut dan minta tanggungjawab dari papa. Papa bilang dia tidak ingat apapun malam itu. Aku dan mama tahu dengan jelas kalau papa bukan orang yang bisa mengkhianati keluarga, tapi mama juga harus punya bukti untuk mendukung keyakinannya. Mama pun menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu tentang wanita itu. Dan hasilnya, wanita itu memang hanya ingin memeras papa. Dia menjebak papa setelah keluar dari tempat karaoke. Ceritanya sangat panjang. Intinya, papaku tidak seperti yang dipikirkan Renata. Itulah kenapa aku menjambaknya waktu itu.

***

“Dik!” aku menghampiri Dika yang sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi.

“Na! Kamu dateng?” Ini adalah pertamakalinya dia memanggilku ‘kamu’ sepertinya hubungan kami mulai membaik. Aku pun duduk disampingnya.

“Udah makan?”

Dika menggeleng. “Na, boleh minjem bahu kamu gak?”

Aku menepuk pundaku. “Here!”. Dika mulai merebahkan kepalanya. Beberapa saat kemudian aku merasa pundakku terasa basah dan hangat. Dika menangis. Aku pun memeluknya. “Aku gak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja atau enggak Dik. Aku cuma bisa bilang, aku bakal ada buat kamu terus, nemenin kamu, minjemin pundak aku ke kamu Dik. Kalo mau nangis ya nangis tapi abis itu kamu harus senyum lagi.”

“Na, kamu pernah nanya kenapa aku benci sama kamu, apa masih butuh jawaban?”

“Tergantung kamu mau jawab atau enggak. Aku gak bakal maksa.”

“Ivan. Kamu tau Ivan anak kelas 2B?”

“Yang meninggal bunuh diri?” tentu saja aku ingat.

“Yang bukan cuma kamu tolak tapi juga kamu permalukan di depan banyak orang.”

Aku terdiam. Bagaimana aku bisa lupa orang itu. 2 hari setelah insiden itu, dia meninggal bunuh diri.

“Dia sahabatku Na.” Nafasku tiba-tiba tercekat. “....dia mengidap bipolar disorder. Dia selalu membicarakan tentang kamu. Dia bener-bener tulus sama kamu, Na. Gak masalah kalau kamu nolak dia, tapi gak perlu sampai mempermalukan dia seperti itu.”

“Jadi emang bener, Ivan meninggal gara-gara aku. Aku nggak nyesel nolak Ivan Dik karena aku emang gak cinta sama dia tapi aku nyesel banget udah mempermalukan dia. Semuanya karena taruhan bodoh aku sama Lili.”

“Lili?”

“Lili temen sekelasku, satu organisasi sama kamu Dik. Lili kan pernah di tolak Ivan dan dia ingin aku membalas dendam dengan bikin Ivan malu. Setelah itu Lili janji mau ngasih nomor HP kamu Dik.”

“No HP ku?”

“Sebenernya, aku udah suka kamu dari dulu Dik. Aku penasaran sama cowok badung yang sering bolos tapi selalu masuk 10 besar di kelas. Katanya kalo kamu rajin masuk, kamu yang bakal dapet rangking 1. Aku pikir ‘wah orang ini bener-bener jenius’. Aku beberapakali membuka percakapan saat kita tidak sengaja bertemu. Tapi kamu selalu cuek. 2 hari setelah insiden itu, aku baru dapat nomor HP kamu dan hari itu juga kamu nemuin aku dan bilang akan jatuhin aku berkali-kali di depan kamu.”

“Ternyata, semuanya juga salahku Na.” Dika menatapku.

“Enggak. Tapi salah aku. Maaf” Aku tertunduk.

Sejak saat itu, aku sering menengok ibunya Dika di rumah sakit. Hubungan aku dengan tante Widya sangat baik. Sepertinya beliau menyukaiku. Dia bahkan memintaku untuk terus ada disamping Dika. Dan ternyata hubungan mamaku dengan tante Widya juga sama baiknya. Beberapa kali aku datang menengok dengan mama dan papa.

Suatu hari, tante Widya memberiku sebuah cincin.

“Na, setelah tante gak ada, Dika pasti bakal ngurung diri di kamar. Murung, gak makan, gak minum, gak sekolah. Pada saat itu, kamu harus pukul kepalanya biar dia sadar. Kamu harus buat dia tersenyum lagi. Kamu harus janji sama tante ya!”

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, semua yang aku tahu saat pergi ke masa depan satu per satu terjadi. Dihari perpisahan siswa kelas 3, tante Widya meninggal. Dika 3 hari mengurung diri dikamar dan di hari ketiga aku memutuskan untuk mendobrak pintunya.

Nayla dan Tony bertunangan sebelum akhirnya 2 tahun kemudian menikah. Begitupula aku dan Dika menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan sejak kuliah. Kami menikah setahun setelah pernikahan Nayla dan Tony. Kami sangat bahagia. Sampai akhirnya sesuatu terjadi pada kami berdua.

***

3 Maret 2015 Pkl 15:05

Aku terbangun, nafasku terasa tidak beraturan. Air mata tiba-tiba saja keluar dengan derasnya. Kupukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Semua ingatan muncul bergantian tanpa jeda membuatku sangat kesakitan. Ingatan buruk yang kata dokter bisa membunuhku akhirnya muncul seperti neraka buatku. Aku semakin histeris.

Terdengar suara papa dan mama yang berusaha menenangkanku. Aku terus berteriak, sakit sekali. Bukan hanya kepalaku tapi juga hatiku.

“Dikaaaa” Aku berteriak memanggil namanya. Ku seka air mataku yang semakin deras. “Dika mana mam? Dika mana?” Mama memeluku sambil menangis. Tubuhku semakin berguncang dibuatnya.

26 Desember 2014
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, sebuah mobil inova terjun ke jurang setelah bertabrakan dengan truk di tikungan curam. Pengemudi mobil tersebut diketahui bernama Mahardika yang sedang dalam perjalanan berlibur bersama istrinya. Beruntung sang istri berhasil selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis yang berada di TKP. 


***
Epilog

9 Maret 2015

“Na, lo nangis?” Nayla terlihat khawatir.

“Dika mati Nay. Huhuhu” Aku terisak.

“MATI??? Ah, cerita yang lagi lo bikin kan maksudnya? Kenapa dibikin mati sih?”

“Biar dramatis gitu.”

“Hadeuh.... udahan nangisnya! Tuh ada Dika yang asli dan nyata!”

“Mana?” Aku langsung menyeka air mataku.

“Itu duduk di depan jus mang Adang”

“Wah, iya. Tunggu disini sebentar ya Nay!”

“Mau ngapain Na?”

“Mau memulai sejarah!” Aku tersenyum pasti pada sahabatku Nayla.

Aku berjalan kearahnya dengan seluruh keberanian yang terkumpul di diriku. Aku melakukan pertaruhan besar saat ini.

“Dik, gue...gue...suka sama lo!”

“Hah? Lo abis ketiban balok Na?”


THE END

BAGIAN 1 : KEENA MAHARDHIKA

5 Februari 2015

2 bulan aku mengalami koma, katanya.
Saat aku terbangun, aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa aku dan siapa orang-orang yang berdiri disekitarku dengan cemas. Aku menderita amnesia, begitulah katanya.

Katanya, katanya. Aku hanya mendengar penjelasan singkat dari orang lain tanpa ada sedikitpun yang aku ingat.

Saat berusaha mengingatnya, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat bahkan sampai membuatku pingsan. Orang tuaku terlihat sangat panik ketika tubuhku terkulai di lantai akibat serangan vertigo tersebut.

Aku mendengar pembicaraan orang tuaku dengan dokter saat itu. Dokter menyarankan agar aku menghindari sesuatu –seperti ingatan- yang bisa membuatku drop. Tubuhku belum kuat menerima pukulan besar untuk ingatanku. Ingatan buruk yang ku ingat bisa saja membunuhku. Orang tuaku menangis. Tangisannya tertahan berharap aku tidak bisa mendengarnya.

Aku mendapatkan perawatan intensif selama aku di rumah sakit. Total sudah 1 bulan aku disini sejak terbangun dari koma. Kondisi tubuhku sudah membaik, hanya saja ingatanku masih sama. Aku masih menderita amnesia.

Beberapa orang datang menjenguk. Nayla, katanya (lagi) dia sahabatku sejak SMA. Dia datang bersama suaminya. Ah suami. Apa aku juga memiliki suami? Saat aku menanyakan hal itu pada Nayla, dia menatap ibuku ragu.

“Kamu sudah lama bercerai, setahun yang lalu” Ibuku memberi jawaban.
“Oh, sayang sekali aku gagal.” Aku mendesah kecewa.

***
3 Maret 2015

Hari ini aku pulang kerumah. Seorang pembantu rumah tangga menyambutku dengan ramah, seolah sangat merindukanku. Ayah membawaku ke kamar untuk beristirahat sementara ibu pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.

Dalam ingatanku, aku memang tidak mengingat rumah ini. Tapi hatiku pasti mengingatnya. Aku lahir dan besar disini, aku merasa tidak asing. Sesuatu yang membuatmu nyaman walaupun kamu tidak mengingatnya.

Setelah makan siang, aku kembali ke kamar. Kepalaku sedikit pusing. Kurebahkan badanku. Sesekali aku mencoba meneliti seluruh sudut di kamar ini. Sebuah piagam yang menepel di dinding menarik perhatianku. Wah juara photografi tingkat nasional. Aku tersenyum, seolah bangga dengan diriku sendiri. Di meja tepat dibawah piagam, ada sebuah kamera yang mungkin aku gunakan untuk mengikuti perlombaan itu. Aku ingin mencoba memotretnya tapi tidak kutemukan memori di dalamnya.

Aku pun mencari-cari di laci meja. Namun tetap tak ada. Aku malah menemukan sebuah cincin. Apa ini cincin kawinku? Gumamku.
Aku berjalan kembali ke ranjangku sembari terus memperhatikan cincin kawin yang begitu indah ini. Aku menyematkannya di jariku. Sangat pas dan sangat cantik. Kemudian akupun terlelap.

***
Januari 2010

Aku kalah. Selalu saja begitu. Dari dulu aku selalu jatuh berkali-kali karenanya.
Namanya Dika. Mahardika. Dia teman sekolahku. Lebih tepatnya mungkin musuh bebuyutanku sejak SMP. Dan ironisnya kita malah sekelas sejak kelas 1 SMA sampai sekarang menginjak kelas 3 semester akhir.

Dia terpilih menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan kami melalui sebuah voting yang melibatkan seluruh siswa kelas 3. Aku berada di posisi kedua dan akhirnya terpilih menjadi wakil ketua.

“Udah deh Na, lo harus mengakui kekalahan.” Ucapnya saat melihat wajahku yang cemberut. Ucapannya terdengar sangat arogan membuatku semakin kesal.

“Siapa yg gak ngakuin kekalahan? Jangan asal ngomong deh lo dik!”

“Santai dong, gue lebih populer daripada lo, itu fakta.”

Uh. Dia senang sekali membuatku kesal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat telingaku sakit.

“Iya deh Mr. Popular. Ah, atau gue harus panggil Ketua mulai sekarang. Lo kan seneng banget disanjung-sanjung.” Aku menepuk pundak Dika sekuat tenaga. Sebenernya maksud tersembunyi gue adalah PUKULAN DISENGAJA YANG DISAMARKAN SEBAGAI TEPUKAN DUKUNGAN.

Mahardika. Aku tak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kami selalu berseteru. Seingatku perseteruan kami bermula saat kelas 2 SMP. Seorang cowok badung yang hobby bolos tiba-tiba berubah menjadi cowok teladan yang selalu mendapat peringkat satu. Bukan hanya di kelas tapi nilainya juga paling besar se-SMP Patriot 1 ini. Entah apa yang membuatnya berubah, tapi setelah dia berubah menjadi cowok Popular yang pintar dan aktif berorganisasi, dia seolah mengambil lahanku untuk bersinar. Ya. Sebelumnya akulah si Bintang sekolah bukan dia.

Sejak saat itu, kami selalu saling kejar-mengejar prestasi. Saling menyalip untuk mendapatkan perhatian guru dan siswa lainnya. Cek cok sudah biasa diantara kami.

“Mulai sekarang, gue bakal bikin lo jatuh berkali-kali di depan gue.” Aku masih ingat kalimat yang di ucapkan Dika saat mendeklarasikan perang denganku. Aku bisa melihat raut kemarahan dan kebencian terpancar untukku. Aku begidik, sedikit takut sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku dan kenapa dia ingin ‘menjatuhkanku berkali-kali’. Namun karena sikapnya yang sangat tidak bersahabat padaku, akhirnya membuatku sangat membencinya. Kami terkenal sebagai duo Na and Dika (Katanya sodara kembarnya Tom And Jerry). Dan yang lebih menyebalkannya lagi, kita bukan hanya satu SMA sekarang tapi juga 1 kelas.
Neraka. Itulah perasaanku tentang kelas kami. Kalau Aku dan Dika sedang adu argumen tentang suatu permasalahan yang dilontarkan guru, seluruh kelas hening. Adu argumen kami selalu berakhir dengan teriakanku yang sudah melewati batas emosional. Aku selalu kalah. Begitulah cara dia menjatuhkanku. Aku tidak tahu otaknya terbuat dari apa, tapi aku pikir dia siswa yang sangat jenius. Dengan berat hati aku harus mengakui itu. Tapi sikap arrogannya itu selalu membuat semua kelebihan dia minus di depanku.

“Pengumuman.....” Terdengar suara Ibu wakil kepala sekolah di speaker kelas. “.....setelah melalu hasil voting seluruh siswa kelas 3, Mahardika siswa kelas 3 IPA 1 terpilih menjadi ketua panitia pelepasan siswa kelas 3 tahun ini. Selamat.”

Ruangan kelas pun semakin riuh dengan ucapan selamat. Jabatan sebagai ketua Panitia Pelepasan siswa adalah sebuah jabatan terhormat di sekolahku. Saat kamu terpilih penjadi Ketua Panitia, itu berarti bahwa teman-teman seangkatan sangat menghormati kamu selama 3 tahun bersekolah disini. Jabatan yang selalu diperebutkan oleh siswa-siswa kelas 3 yang berprestasi dan mencuri perhatian. Tidak semua siswa populer dapat terpilih, karena siswa lainnya juga akan mempertimbangkan masalah tanggungjawab. Seberapa besar kamu percaya pada orang yang akan bertanggungjawab pada acara sakral seperti perpisahan sekolah. Sebuah acara yang sangat emosional.

Dika menatapku dengan wajah arogannya. Seperti ingin menunjukan bahwa dia, sekali lagi, berhasil menjatuhkanku.

“Keena juga terpilih jadi wakil ketua.” Dia menunjuk ke arahku. “Mohon kerjasamanya, ibu wakil.” Dia mengerlingkan matanya padaku. Sedetik kemudian aku merasa ingin muntah.

Speaker kembali berdengung. “Pengumuman. Pihak sekolah baru saja mendapatkan kabar yang menggembirakan. Salah satu siswa kita, Keena Anastasia, siswa kelas 3 IPA 1 berhasil menjuarai lomba photografi tingkat nasional. Selamat dan terus berkarya.”

“Nay, yang gue denger bener kan? Gue....Gue juara Nay!” aku memekik bahagia.

“Iya Na. Selamat Na” Nayla memeluku, begitu juga dengan anak-anak lain yang bergantian mengucapkan selamat. Bintang hari ini berganti dalam hitungan menit, dari Dika ke Aku.

Aku melihat Dika dengan wajah pamerku. Tersenyum dengan lebar pertanda bahwa kali ini aku menang, menyalip euporianya. Namun dia malah membalas senyumku sinis dan menggumamkan sesuatu. “Se-la-mat. Bu-wa-kil”. Dia selalu membuatku sangat kesal. Selalu.

“Na, sampai kapan lo mau terus gak akur sama Dika sih? Gak capek apa berantem mulu?” Nayla membuka percakapan setelah mendengar aku menyumpahi arogansi Dika sedemikian rupa.

“Capek sih iya. Tapi gimana lagi, orangnya sengak banget. Sebel banget gue Nay. Sumpah!” ucapku berapi-api.

“Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh.”
“Jodoh? Please deh Nay. Gue jodoh sama Dika? Gak mungkin. Mimpi buruk banget jodoh sama cowok kasar dan arogan kayak dia.” Aku gak habis pikir kenapa Nayla sempet-sempetnya berfikiran seperti itu. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Ralat. Aku pernah membayangkan hal itu tapi dulu. (Catat: DULU!)

***
Aku terbangun dari tidurku. Hmmm hangat. Sehangat pelukan seseorang. Aku menggeliat malas.

Cup. Ada yang mencium kepalaku. Pelukannya terasa semakin kuat dan semakin hangat.

“Good morning, sayang.” Ucap orang itu. Aku tersentak sepertinya aku sangat mengenal suara itu. Aku berbalik perlahan sambil berdo’a bahwa semua ini hanya mimpi.

“Arrrrrgggghhhhh” Aku teriak sekeras mungkin sambil terus memukuli orang itu. Shit! Aku menyadari bahwa tubuh kami berdua hanya tertutup oleh 1 selimut.

“Cabul..... dasar cabul....” Aku berteriak, menangis dan terus memukuli Dika. Ya, orang yang sedang tidur bersamaku adalah Mahardika. Musuh bebunyutanku. Kenapa aku bisa tidur dengannya? Apa aku mabuk, terus semua ini terjadi? Tapi ini tidak mungkin. Aku tidak pernah minum-minuman keras.

“Sayang, are you okay?” Dika mencoba menenangkanku. Menahan tanganku agar tidak terus memukulinya.

“Brengsek lo Dika! Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Kita kan masih sekolah!” Aku menatap kejam matanya tentu dengan sisa-sisa airmataku yang tumpah ruah seperti pancuran.

“Sekolah? Itu hampir 5 tahun yang lalu sayang! Kamu mimpi ya?” Dika mengelus rambutku khawatir.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Ini jelas bukan kamarku. Terasa asing. Di salah satu dinding terpasang sebuah foto pernikahan. What? Aku dan Dika menikah? Ini gak masuk akal, aku pasti cuma mimpi. Please bangun Na. Bangun.

Oh baby I’ll take you to the sky, Forever you and I...... (Petra S-Mine)

Suara nada dering dari lagu yang sama sekali tidak ku kenal menyadarkanku di tengah kebingungan.

“Yang, kok diem aja. Itu handphone-nya bunyi.” Dengan sedikit linglung, ku raih sebuah HP di meja samping tempat tidur.

“Halo?”

“Gak baru bangun kan?” Aku langsung menyadari suara ibuku.

“Jadi kan belanja bareng buat acara syukuran pindah ke rumah barunya? Ayo siap-siap udah siang nanti kehabisan bahan-bahan yang masih segar.”
“Iya, mam.” Aku segera menutup telepon dari Ibuku. Kulihat wallpaper di layar HP-ku adalah foto kami berdua. Aku dan Dika. Tertulis pula di layar : 24 Agustus 2014
Wait? 2014? Apa ini berarti aku time traveler ke masa depan seperti di film-film? Aku berharap semua ini hanyalah mimpi namun entah kenapa terasa begitu nyata.

Mama katanya akan menjemputku kerumah. Dari tadi aku hanya diam dan berusaha menghindari berbicara atau berinteraksi dengan Dika. Dika senang sekali melakukan kontak fisik denganku. Tiba-tiba memelukku, tiba-tiba mengelus kepalaku. Telingaku masih agak ‘gak terima’ saat Dika memanggilku mesra dengan kata ‘sayang’, ‘dear’, ataupun ‘honey’. Rasanya sedikit jijik dan geli kalau mengingat sikapnya padaku kemarin eh apa aku harus menyebutnya ‘dahulu’ karena aku datang dari masa lalu? Tapi aneh aja gitu, kok Dika bisa berubah seperti ini sikapnya padaku. Apa yang membuat dia jatuh cinta padaku? Wah ternyata sebesar apapun setidaksukaan seorang Mahardika padaku tetap tidak bisa menolak inner beauty dari seorang Keena. Hahahaha. Rasa bangga entah darimana menjalar keseluruh tubuhku.

“Kamu aneh hari ini.” Dika duduk di depanku. Memberikan segelas susu padaku.

“Ayo diminum biar sehat.” Dia tersenyum sambil, sekali lagi melakukan kontak fisik, mengacak-acak sayang rambutku.

Aku tiba-tiba begidik mengingat kenyataan bahwa semalam aku baru saja melakukan ‘itu’ dengan seorang Mahardika. Aku tidak punya pilihan selain berdo’a bahwa ini cuma mimpi belaka. Dan saat aku membuka mata besok, aku kembali ke kehidupanku sebagai Keena siswi SMA.

Wajahku dan wajah Dika tidak jauh berbeda dengan saat kami di SMA. Hanya saja penampilan kami sedikit dewasa. Dika, harus aku akui, hmm gimana ya cara menjelaskannya. HOT. Dewasa. Dan ternyata ganteng banget. Ditambah sikapnya yang sangat lembut padaku, sedikit membuatku goyah dan menikmati penjalanan mimpi ini – aku masih tidak percaya tentang time traveler – So mari kita menyebutnya perjalanan mimpi.

Mama datang, wajah mama pun tidak jauh berbeda. Aku memeluk mama dengan bahagia. Paling tidak aku tidak merasa akward saat bersama mama, tidak seperti saat aku hanya berdua saja dengan Dika. Dika menyalami mama. Mama tersenyum sambil mengelus kepala Dika dengan sayang. Sepertinya mama sangat menyukai menantu seperti Dika.

“Mama pinjam Na sebentar ya Dik!” mama mengerlingkan matanya pada Dika. Dika langsung memberikan simbol OK dengan tangannya. Dia kemudian mencium pipiku lembut. Terserah mau mengatakan aku gila atau gak tau malu, tapi aku menikmatinya, maksudku perlakuan spesial Dika padaku. Sepertinya aku sangat menyakini kalau ini hanya perjalanan mimpi yang akan segera berakhir. Anggap saja ini hanya sekedar mimpi erotis seorang remaja. Ya walaupun pasangannya adalah Mahardika si Arogan. Hello ini cuma mimpi dan besok pagi aku akan bangun sebagai Na si siswi SMA.

Di pasar, aku kebetulan bertemu dengan seseorang yang sangat ku kenal. Nayla.

“Nay! Gue seneng banget ketemu lo saat ini.” aku menghambur memeluk Nayla.

“Hai, Na. Are you ok?”

“Gue baik-baik aja kok Nay.”

“Acara syukurannya besok pagi ya?”

“Hmm.” Aku menggangguk.

“Eh Nay, ada yang mau gue ceritain ke lo. Lo pasti gak bakalan percaya deh.”

“Apaan?”

“Kayaknya lebih enak kalo kita ngobrol sambil makan atau minum gitu deh. Yuk?”

“Ok.”

“Bentar, gue bilang nyokap dulu ya. Tunggu disini.”

Aku pun menghampiri mama, dan mengatakan padanya untuk pulang lebih dulu karena aku ada urusan penting dengan Nayla.

***
“Ih gila ya tempat ini gak ada yang berubah. Padahal beberapa tempat udah ada yang berubah sedikit-sedikit.” Aku memulai percakapan. Nayla menampakan wajah bingungnya padaku.

“Eh Nay, lo pasti gak percaya kalo gue itu datang dari masa lalu. Gue kaget tiba-tiba pas gue bangun disebelah gue ada Dika. OMG, gue masih inget banget lo pernah ngomong gini ‘Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh’. Terus besoknya gue udah ada di tahun 2014 dengan status gue menikah sama Dika. Gila banget kan?” Aku nyerocos dihadapan Nayla. Aku sama sekali tidak berharap Nayla mempercayai omonganku, karena aku tahu ini gila dan gak masuk di akal. Cuma aku ngerasa plong aja setelah cerita ke Nayla.

“Gue tahu, saking cintanya elo ke Dika sampe-sampe lo spaneng kayak gini Na.” Aku sudah menduga jawaban Nayla pasti seperti ini.

“Gimana sih ceritanya kok gue bisa nikah sama Dika, kayak aneh aja gitu. Kok bisa.”

“Kayaknya lo kena sindrome misterius kayak 5 tahun yg lalu. Inget gak dulu lo juga ngomong hal-hal aneh kayak gini ke gue? Dan anehnya gue percaya. Lebih tepatnya berusaha memahami lo.”

“Maksudnya? Hal aneh apa?”

“Lo bilang kalo lo habis dari masa depan dan ternyata di masa depan lo nikah sama Dika. Sejak saat itu lo kayak kepelet sama Dika. Cinta mati sampe-sampe lo bikin Dika putus sama Renata. Katanya lo gak rela kalo ‘calon suami masa depan’ lo pacaran sama orang lain tepat di depan lo. Gue mikir kayaknya lo abis kesurupan atau abis ketiban balok. Hahahaha” Kali ini aku yang bingung mendengar penjelasan Nay tentang bagaimana hubungan aku dan Dika dimulai. Jadi bukan Dika yang tergila-gila padaku tapi aku yang ngejar-ngejar Dika. Ya Tuhan.

“Really?”

“Serius. Lo juga bilang soal gelang dari masa depan yang ikut kebawa sama lo. Katanya itu hadiah 100 hari pernikahan dari Dika. Kalau gue inget soal itu, gue jadi mikir lo bener-bener butuh psikiatris, Na. Tapi lo keukeuh bilang kalo lo gak gila. Tapi emang sih selain perasaan cinta mati lo sama Dika yang bilang kalo Dika itu ‘calon suami masa depan’ lo, semuanya masih normal-normal aja. hahaha” Nayla kembali tertawa.

“Terus lo percaya gitu aja sama gue?”

“Kan gue udah bilang, gue cuma mencoba memahami lo. Tapi lo bilang hal-hal aneh lainnya yang terbukti bener. Kayak lo bilang kalo pas hari perpisahan, Ibunya Dika meninggal. Dan itu beneran kejadian. Lo kayak punya kemampuan meramal.”

“Ibunya Dika meninggal?” Aku syok. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi.

“Kanker.” Nay berhenti sejenak, kemudian menyeruput kopinya. “Lo kelihatan sedih banget Na. Terus lo selalu ada buat Dika sejak saat itu. Akhirnya lo pacaran dan menikah. Kalo dipikir-pikir semua yang udah lo kasih tahu ke gue soal masa depan semuanya kejadian. Termasuk soal gue sama Tony.” Dia tersenyum malu.

“Tony? Oh gebetan lo yang ngenalin gue ke cowok brengsek itu (baca: Mantan, namanya Ravi). Emangnya gue ngomong apaan soal kalian berdua?”

“Lo bilang kalo, gue bakalan jadian dan nikah sama Tony.” Ucapnya sambil membentuk HATI dengan tangannya ke arahku. Terlihat jelas kalau Nayla cinta mati sama Tony.

“Jadi sekarang lo udah nikah sama Tony?”

“Setahun yang lalu.”

***
Aku semakin bingung dengan semua ini. Aku berharap esok hari, aku bisa kembali ke kehidupan SMA. Aku ingin kembali dari perjalanan mimpi ini.

Saat aku masuk kerumah, rumah terlihat gelap. Ternyata rumahku tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Masih satu komplek namun beda Blok. Aku pun menyalakan lampu di ruang tamu. Tak ada siapapun. Ah, syukurlah Dika belum pulang. Aku akan langsung tidur supaya tidak perlu bertemu atau berbicara dengannya.

“Happy 100th days for us, dear” Dika mengecup bibirku mesra. Ada sesuatu yang menjalar di tubuhku. Aku merasakan hal aneh yang sulit di jelaskan saat dia terus saja menciumi leherku. Aku mendorongnya perlahan setelah sekian lama mematung. Dia sedikit kaget melihat reaksiku namun kemudian tersenyum.

“For you. Di pake ya sayang.” Dia memberikan sebuah kotak kecil padaku. Aku pun membuka kotak itu perlahan. Sebuah gelang yang sangat indah. Dika memakaikannya di pergelanganku.
“I love you, Na. I love you so much. Aku pengen kita tetep sama-sama kayak gini terus. Aku sayang banget sama kamu Na. Aku cuma punya kamu di dunia ini.” Dia memeluku sambil terisak. Aku melepas pelukannya. Menatap wajahnya. Aku bisa merasakan ketulusan dimatanya yang basah dengan air mata. Dia balik menatap mataku lekat, penuh cinta, penuh kasih sayang. Dika yang ada di depanku sangatlah berbeda dengan Dika yang aku kenal. Atau mungkin memang sebenarnya hati Dika selembut ini. Hanya saja yang dinampakan padaku hanya sebuah tembok yang sengaja dia tinggikan?

“I love you too.” Aku menjawabnya. Melihat Dika menangis, tanpa sadar air mataku juga mengalir tak terbendung.

Dika menyeka air mataku dengan tangannya. Kemudian kami kembali berciuman. Kali ini aku juga membalas ciumannya. Ciuman hangat nan mesra berubah menjadi ciuman intens yang mendebarkan.

Malam pun ikut tersenyum melihat sepasang kekasih bergulat mesra dalam cinta. Bulan juga seakan cemburu melihat kami yang menyatu dalam satu nafas. Aku dan Dika tersenyum penuh kasih melihat mata bahagia yang terpancar dari masing-masing kami. Cinta selalu begitu, merobohkan dinding yang kami bangun dengan mudahnya.

***
Januari 2010

Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar. Aku menggeliat sambil menutupi mata yang silau karena cahaya matahari itu. Aku kemudian mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling kamar.

“Oh No!” Aku sekarang berada di kamarku sendiri, kamar di rumah orang tuaku. Dan tentu saja tidak ada Dika yang memelukku dengan hangat atau menatapku dengan penuh cinta. Aku sedikit kecewa bahwa ini benar-benar hanya sebuah perjalanan mimpi. Ketika kau terbangun dan semuanya menghilang.

Hari ini aku harus bertemu dengan Dika yang lain. Dika yang arogan dan menyebalkan. Karena itulah Dika yang nyata. Bukan Dika yang ada di mimpiku semalam.

Aku terkejut bukan main melihat gelang yang di berikan Dika melingkar di pergelangan tanganku. Ini bukan perjalanan mimpi. Aku benar-benar melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Sulit di percaya dan ini luar biasa.


Aku berjinkrak-jinkrak kegirangan mengetahui bahwa apa yang aku alami bukanlah mimpi. Dan aku juga bahagia karena itu berarti, aku memang akan menjadi istri Mahardika. Ah aku benar-benar gila. Seperti kata Nayla.