Sudah sebulan sejak kejadian di Hotel waktu itu. Sheila masih suka mengurung diri di kamarnya. Baginya rasa cinta yang selama ini dia tunjukan pada Joe bukanlah hanya sekedar hubungan bisnis keluarga. Tapi benar-benar tulus adanya.
Karena itulah, rasa sakit yang ditinggalkan Joe terasa sangat dalam. Baginya butuh waktu yang lama untuk kembali menata perasaannya. Tiga tahun yang dia lewati bersama Joe bukanlah waktu yang singkat yang bisa dengan mudah dilupakan.
"Woi, Shei. Cukup galaunya. Move on girl! Bangun!" Tania mulai mengoyang-goyangkan tubuh Sheila sambil berusaha menariknya menjauhi tempat tidur. Tania adalah tunangan dari Dion, sepupunya Sheila.
"Apa sih Tan? Males ah!"
"You need some air, girl! Ngapain ngegalauin cowok brengsek kayak, Joe?" Tania berkacak pinggang di depan Shei.
"Please jangan mention nama itu! Rasanya aku pengen muntah."
"Ya udah muntahin, ngapain di tahan-tahan. Setelah itu cari makanan baru yang layak untuk dimakan!"
"Gak semudah itu, Tan!"
"Sheila. You are Suharjo! Semua cowok yang deketin kamu pasti punya motif bisnis. Tapi bukan berarti mereka bisa selingkuhin kamu. Cowok seperti Jo, maksudku si brengsek, tidak pantas bikin seorang Suharjo menderita kayak gini. Be Strong Shei."
"Apa aku bener-bener terlalu naif ,Tan?"
"Yes, you are! Bukan berarti cinta tulus itu gak ada cuma status kamu memang menggiurkan banyak orang. hahahaha"
"Lalu, apa motif hubungan kamu dengan Dion?"
"Money? Bisnis? Yes! Pada awalnya memang begitu. Aku sama Dion saling memanfaatkan status keluarga kami tapi dalam prosesnya kami saling mencintai. Dan itu yang tidak terjadi antara kamu dan si brengsek. Kamu terlalu naif, sedangkan si brengsek terlalu brengsek. Kamu beruntung Shei, orang-tuamu tidak pernah melihat orang dengan statusnya, tapi berbeda dengan keluargaku maupun keluarganya Dion. Status keluarga sangat teramat penting."
"Rasanya aku pengen terlahir kembali jadi orang yang biasa-biasa aja." Keluh Shei sambil memeluk kedua lututnya.
"No, Shei. Jadi konglomerat juga tidak buruk! Kamu tau apa yang dikeluhkan orang kelas bawah? Mereka berkata 'Aku ingin dilahirkan kembali menjadi konglomerat'. Intinya manusia tidak pernah bisa puas dan bersyukur dengan hidupnya."
"Tan!"
"Ya?"
"Aku seneng kamu ada disini sekarang."
"Itu bagus! Kalau begitu sekarang bangun, mandi dan siap-siap ikut aku!"
"Kemana?"
"Nanti aku ceritakan di mobil!"
@@@
Dava membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia terlahir menjadi seorang konglomerat mungkin dia bisa melindungi cintanya. Namun apa gunanya menyalahkan takdir. Seberapa keras pun dia memaki, dia tidak akan pernah mengubah kenyataan yang ada. Sebesar apapun dia bekerja keras, dia tidak akan pernah bisa mengubah status dirinya.
Dia tersenyum kecut sambil memegang sebuah kartu undangan pertunangan yang dikirimkan ke kantornya. Kartu undangan berwarna Putih-Pink berhiaskan mawar seolah mengejek cintanya.
Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Gumamnya.
Sebuah pesan teks masuk
Tania : Va, sekarang aku OTW ke tempatmu. Soal rencana liburan.
Dava: Oke. datang aja, aku dikantor kok.
Tania : Are you ok?
Dava : Sure. Kenapa nanya gitu?
Tania : Aku denger dari Dion soal Karina.
Dava : Ah itu. Bohong kan kalo aku bilang baik2 aja.
Tania : Kamu orang baik, Va.
Dava : Aku tau :) See you!
Dava tersenyum kecil sebelum akhirnya menutup pesan dari Tania.
Tania adalah pacar Dion, sahabat Dava. 3 Tahun yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu, Dava sudah mengira kalau Dion adalah orang yang luar biasa. Pakaian yang dia kenakan dan cara dia berbicara benar-benar menunjukan kelasnya. Ternyata benar dia adalah bagian dari keluarga Suharjo.
Saat itu, Dava tidak pernah berpikir bahwa mereka akan cocok namun ternyata malah sebaliknya. Dava tidak pernah memiliki sahabat yang begitu dekat dengannya karena dia terlalu sibuk untuk belajar dan mencari uang. Baginya Sahabat tidaklah terlalu penting. Dia hanya ingin membuktikan dirinya bisa bersanding dengan Karina, orang yang sangat dicintainya. Tapi ternyata Dion mampu memasuki celah itu, celah yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dava. Dion walaupun orangnya high class tapi dia tidak pernah memandang Dava dengan pandangan Low Class. Bagi Dion, Dava adalah orang yang baik, menyenangkan, setia, pekerja keras, ambisius, dan berdedikasi. Yah begitulah gambaran seorang Dava yang dikatakan Dion langsung di depannya dan berhasil membuat Dava merasa jijik saat mendengar semua itu.
"Dava!"
"Hai, Tan. Long time no see!"
"Iya,nih! Maklum aku baru pulang dari LA. Tapi sering ketemu Dion kan?"
"Ya, Tentu. Teman dekatku kan cuma Dion." Jawab Dava tersenyum.
"Temennya Dion?" Shei menyela percakapan mereka.
"Ah sampai lupa, kenalin ini Sheila sepupunya Dion!"
"Suharjo juga ternyata. Hai, aku Dava!"
"Sheila, panggil saja Shei. Aku baru tahu kamu temannya Dion. Aku bahkan hampir mengenal semua temannya Dion."
"Hampir semua berarti tidak semua kan. Aku beberapa kali ikut pesta yang di adakan Dion kok. Tapi memang sepertinya kita baru bertemu."
"Tapi kamu bilang kamu temen dekatnya Dion. Aku cuma gak habis pikir aja kalau ada temen dekatnya Dion yang gak aku tahu."
"It's your problem!"
"What?"
"Hei, hei stop debating! Kita disini mau merencakan soal liburan." Tania mencoba melerai perdebatan mereka berdua.
"Ah, sorry. Silahkan duduk. Jadi destinasi mana yang kalian pilih?" Tanya Dava.
"Paris!" Jawab Tania mantap.
"No, Tan! NO! Aku gak ikut kalau kesana!" Shei menyatakan ketidaksetujuannya.
"Ah. Lupa. Jadi mau kemana?" Tania merasa bersalah pada Shei. Tentu saja Shei tidak akan mau pergi ke Paris setelah insiden dengan Joe. Paris adalah tempat yang bersejarah buat Shei dan Joe. Mereka jadian di kota itu.
"Belanda aja, kan lagi musim tulip." Dava memberi saran.
"Good idea! Gimana Shei?" Tania menimpali.
"Oke." jawab Shei singkat.
"Oke. Belanda! Kamu ikut juga dong Va. Aku kan pergi sama Dion, daripada Tania jadi obat nyamuk mendingan kan ditemenin kamu. Gimana?" Tania sebenernya mempunyai rencana lain. Dan tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Tania, Shei sadar akan rencana itu.
"Aku sepetinya tahu kemana arah pembicaraan kamu, Tan. Tapi aku baik-baik saja!" Shei menatap Tania dengan tatapan 'Akan ku bunuh kau kalau bicara lagi' sementara Tania membalas tatapan Shei dengan tatapan 'Aku akan hidup lagi walaupun kau bunuh'
"Ah maaf Tan sepertinya aku gak bisa ikut. Banyak kerjaan." Dava menyadari apa yang sedang di bicarakan kedua wanita di depannya.
"Aku akan menerormu sampai kamu ikut dengan kami. Hati-hati!" Tania berusaha mengancam dengan candaannya.
"Lakukan sesukamu!" ucap Dava sambil menepuk pundak Tania.
"Ah ya, aku baru ingat. Aku ada janji penting. Dava kamu bisa antar Shei pulang gak? Ini udah jam pulang jadi gak ganggu pekerjaan kamu kan?" Tania melanjarkan jurus keduanya.
"Tania! Aku bisa pulang sendiri." Ucap Shei tak nyaman.
"No! Kondisi kamu sedang tidak baik, jadi lebih baik Dava yang antar."
"Aku bisa telepon supir untuk jemput." Shei gak mau kalah.
"Gak apa-apa, biar aku yang antar." Dava menawarkan diri untuk mencoba mengakhiri perdebatan dua wanita kaya di depannya.
"Gak perlu Dava, aku bisa pulang sendiri!"
"Aku gak merasa di repotkan kok. Daripada telepon supir bukannya lebih efisien kalau aku yang antar."
"Seperti yang aku tahu, Dava adalah yang terbaik!" Tania memberikan 2 jempolnya. "Aku pergi! Bye!"
@@@
Tidak ada pembicaraan yang berarti antara mereka selama di perjalanan. Yang keluar dari mulut Shei hanya kalimat penunjuk jalan menuju apartemennya 'belok kanan', 'belok kiri', 'lurus aja'. Dava pun sepertinya tidak terlalu tertarik untuk membuka pembicaraan dengan salah satu keturunan Suharjo ini.
Sesampainya di Apartemen.
"Sudah kubilang tidak perlu di antar. Tapi makasih."
"Jadi kamu tinggal di apartemen ini?"
"Iya, sebenarnya aku lebih sering tidur di rumah sih dan hanya sesekali tidur di apartemen." jawab Shei sambil keluar dari mobil Dava. Dava pun ikut turun dari mobil.
"Kenapa keluar? Kamu gak perlu mengantar sampai dalam."
"Oke." Dava mengangguk menahan senyumnya.
Shei kemudian berjalan memasuki gedung apartemen tanpa menoleh kebelakang. Saat memasuki lift Shei terkejut melihat Dava sudah berdiri di sampingnya.
"Aku bilang tidak perlu mengantarku! Ah....Jangan-jangan kamu punya ketertarikan padaku? Aku tahu aku cantik dan menarik tapi maaf aku tidak berniat menjalin hubungan dalam waktu sekarang ini. So, segera hilangkan perasaanmu itu!" Shei mulai berbicara nyerocos di depan Dava, sementara Dava hanya tersenyum.
"Sudah selasai bicaranya?"
Shei mengangguk.
"Kamu narsis juga ya orangnya, benar-benar tipikal seorang Suharjo. Mungkin ini semacam gen yang sama kayak Dion. Pertama, aku sedang tidak mengantar kamu pulang melainkan sedang dalam perjalanan pulang kerumahku sendiri. Kedua, aku juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan dalam waktu sekarang ini." Dava mengerlingkan matanya.
"Oh, syukurlah - Shei mencoba untuk menahan rasa malunya- Kamu tinggal di apartemen ini juga? Lantai berapa?"
Dava melirik kearah tombol lift, kemudian berkata "Sepertinya kita tinggal di lantai yang sama!"
"Apa? Tapi aku belum pernah lihat kamu sebelumnya."
"Aku juga belum pernah lihat kamu selama 3 tahun aku tinggal disini."
Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan berjalan berdampingan.
"Jadi kamu sudah 3 tahun tinggal disini. Yang mana apartemenmu?" tanya Shei.
"Ini." Dava menunjuk ke arah pintu apartemennya. Bertuliskan 406.
"Wah! Aku bener-bener gak percaya! Itu apartemenku, no 409!" Giliran Shei menunjuk apartemennya.
"Ah, jadi kamu yang beli apartemennya Pak Yudi?"
"Mungkin. aku gak begitu tau pemilik lamanya."
"Well, walaubagaimana pun kita ternyata bertetangga. Mari bertetangga yang baik." Dava mengulurkan tangannya.
"Tentu!" Shei pun membalas jabatan tangan Dava dan kemudian berjalan menuju apartemennya.
Sulit dipercaya. Baik Dava maupun Shei menggumamkan hal yang sama.
"Apa sih Tan? Males ah!"
"You need some air, girl! Ngapain ngegalauin cowok brengsek kayak, Joe?" Tania berkacak pinggang di depan Shei.
"Please jangan mention nama itu! Rasanya aku pengen muntah."
"Ya udah muntahin, ngapain di tahan-tahan. Setelah itu cari makanan baru yang layak untuk dimakan!"
"Gak semudah itu, Tan!"
"Sheila. You are Suharjo! Semua cowok yang deketin kamu pasti punya motif bisnis. Tapi bukan berarti mereka bisa selingkuhin kamu. Cowok seperti Jo, maksudku si brengsek, tidak pantas bikin seorang Suharjo menderita kayak gini. Be Strong Shei."
"Apa aku bener-bener terlalu naif ,Tan?"
"Yes, you are! Bukan berarti cinta tulus itu gak ada cuma status kamu memang menggiurkan banyak orang. hahahaha"
"Lalu, apa motif hubungan kamu dengan Dion?"
"Money? Bisnis? Yes! Pada awalnya memang begitu. Aku sama Dion saling memanfaatkan status keluarga kami tapi dalam prosesnya kami saling mencintai. Dan itu yang tidak terjadi antara kamu dan si brengsek. Kamu terlalu naif, sedangkan si brengsek terlalu brengsek. Kamu beruntung Shei, orang-tuamu tidak pernah melihat orang dengan statusnya, tapi berbeda dengan keluargaku maupun keluarganya Dion. Status keluarga sangat teramat penting."
"Rasanya aku pengen terlahir kembali jadi orang yang biasa-biasa aja." Keluh Shei sambil memeluk kedua lututnya.
"No, Shei. Jadi konglomerat juga tidak buruk! Kamu tau apa yang dikeluhkan orang kelas bawah? Mereka berkata 'Aku ingin dilahirkan kembali menjadi konglomerat'. Intinya manusia tidak pernah bisa puas dan bersyukur dengan hidupnya."
"Tan!"
"Ya?"
"Aku seneng kamu ada disini sekarang."
"Itu bagus! Kalau begitu sekarang bangun, mandi dan siap-siap ikut aku!"
"Kemana?"
"Nanti aku ceritakan di mobil!"
@@@
Dava membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia terlahir menjadi seorang konglomerat mungkin dia bisa melindungi cintanya. Namun apa gunanya menyalahkan takdir. Seberapa keras pun dia memaki, dia tidak akan pernah mengubah kenyataan yang ada. Sebesar apapun dia bekerja keras, dia tidak akan pernah bisa mengubah status dirinya.
Dia tersenyum kecut sambil memegang sebuah kartu undangan pertunangan yang dikirimkan ke kantornya. Kartu undangan berwarna Putih-Pink berhiaskan mawar seolah mengejek cintanya.
Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Gumamnya.
Sebuah pesan teks masuk
Tania : Va, sekarang aku OTW ke tempatmu. Soal rencana liburan.
Dava: Oke. datang aja, aku dikantor kok.
Tania : Are you ok?
Dava : Sure. Kenapa nanya gitu?
Tania : Aku denger dari Dion soal Karina.
Dava : Ah itu. Bohong kan kalo aku bilang baik2 aja.
Tania : Kamu orang baik, Va.
Dava : Aku tau :) See you!
Dava tersenyum kecil sebelum akhirnya menutup pesan dari Tania.
Tania adalah pacar Dion, sahabat Dava. 3 Tahun yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu, Dava sudah mengira kalau Dion adalah orang yang luar biasa. Pakaian yang dia kenakan dan cara dia berbicara benar-benar menunjukan kelasnya. Ternyata benar dia adalah bagian dari keluarga Suharjo.
Saat itu, Dava tidak pernah berpikir bahwa mereka akan cocok namun ternyata malah sebaliknya. Dava tidak pernah memiliki sahabat yang begitu dekat dengannya karena dia terlalu sibuk untuk belajar dan mencari uang. Baginya Sahabat tidaklah terlalu penting. Dia hanya ingin membuktikan dirinya bisa bersanding dengan Karina, orang yang sangat dicintainya. Tapi ternyata Dion mampu memasuki celah itu, celah yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dava. Dion walaupun orangnya high class tapi dia tidak pernah memandang Dava dengan pandangan Low Class. Bagi Dion, Dava adalah orang yang baik, menyenangkan, setia, pekerja keras, ambisius, dan berdedikasi. Yah begitulah gambaran seorang Dava yang dikatakan Dion langsung di depannya dan berhasil membuat Dava merasa jijik saat mendengar semua itu.
"Dava!"
"Hai, Tan. Long time no see!"
"Iya,nih! Maklum aku baru pulang dari LA. Tapi sering ketemu Dion kan?"
"Ya, Tentu. Teman dekatku kan cuma Dion." Jawab Dava tersenyum.
"Temennya Dion?" Shei menyela percakapan mereka.
"Ah sampai lupa, kenalin ini Sheila sepupunya Dion!"
"Suharjo juga ternyata. Hai, aku Dava!"
"Sheila, panggil saja Shei. Aku baru tahu kamu temannya Dion. Aku bahkan hampir mengenal semua temannya Dion."
"Hampir semua berarti tidak semua kan. Aku beberapa kali ikut pesta yang di adakan Dion kok. Tapi memang sepertinya kita baru bertemu."
"Tapi kamu bilang kamu temen dekatnya Dion. Aku cuma gak habis pikir aja kalau ada temen dekatnya Dion yang gak aku tahu."
"It's your problem!"
"What?"
"Hei, hei stop debating! Kita disini mau merencakan soal liburan." Tania mencoba melerai perdebatan mereka berdua.
"Ah, sorry. Silahkan duduk. Jadi destinasi mana yang kalian pilih?" Tanya Dava.
"Paris!" Jawab Tania mantap.
"No, Tan! NO! Aku gak ikut kalau kesana!" Shei menyatakan ketidaksetujuannya.
"Ah. Lupa. Jadi mau kemana?" Tania merasa bersalah pada Shei. Tentu saja Shei tidak akan mau pergi ke Paris setelah insiden dengan Joe. Paris adalah tempat yang bersejarah buat Shei dan Joe. Mereka jadian di kota itu.
"Belanda aja, kan lagi musim tulip." Dava memberi saran.
"Good idea! Gimana Shei?" Tania menimpali.
"Oke." jawab Shei singkat.
"Oke. Belanda! Kamu ikut juga dong Va. Aku kan pergi sama Dion, daripada Tania jadi obat nyamuk mendingan kan ditemenin kamu. Gimana?" Tania sebenernya mempunyai rencana lain. Dan tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Tania, Shei sadar akan rencana itu.
"Aku sepetinya tahu kemana arah pembicaraan kamu, Tan. Tapi aku baik-baik saja!" Shei menatap Tania dengan tatapan 'Akan ku bunuh kau kalau bicara lagi' sementara Tania membalas tatapan Shei dengan tatapan 'Aku akan hidup lagi walaupun kau bunuh'
"Ah maaf Tan sepertinya aku gak bisa ikut. Banyak kerjaan." Dava menyadari apa yang sedang di bicarakan kedua wanita di depannya.
"Aku akan menerormu sampai kamu ikut dengan kami. Hati-hati!" Tania berusaha mengancam dengan candaannya.
"Lakukan sesukamu!" ucap Dava sambil menepuk pundak Tania.
"Ah ya, aku baru ingat. Aku ada janji penting. Dava kamu bisa antar Shei pulang gak? Ini udah jam pulang jadi gak ganggu pekerjaan kamu kan?" Tania melanjarkan jurus keduanya.
"Tania! Aku bisa pulang sendiri." Ucap Shei tak nyaman.
"No! Kondisi kamu sedang tidak baik, jadi lebih baik Dava yang antar."
"Aku bisa telepon supir untuk jemput." Shei gak mau kalah.
"Gak apa-apa, biar aku yang antar." Dava menawarkan diri untuk mencoba mengakhiri perdebatan dua wanita kaya di depannya.
"Gak perlu Dava, aku bisa pulang sendiri!"
"Aku gak merasa di repotkan kok. Daripada telepon supir bukannya lebih efisien kalau aku yang antar."
"Seperti yang aku tahu, Dava adalah yang terbaik!" Tania memberikan 2 jempolnya. "Aku pergi! Bye!"
@@@
Tidak ada pembicaraan yang berarti antara mereka selama di perjalanan. Yang keluar dari mulut Shei hanya kalimat penunjuk jalan menuju apartemennya 'belok kanan', 'belok kiri', 'lurus aja'. Dava pun sepertinya tidak terlalu tertarik untuk membuka pembicaraan dengan salah satu keturunan Suharjo ini.
Sesampainya di Apartemen.
"Sudah kubilang tidak perlu di antar. Tapi makasih."
"Jadi kamu tinggal di apartemen ini?"
"Iya, sebenarnya aku lebih sering tidur di rumah sih dan hanya sesekali tidur di apartemen." jawab Shei sambil keluar dari mobil Dava. Dava pun ikut turun dari mobil.
"Kenapa keluar? Kamu gak perlu mengantar sampai dalam."
"Oke." Dava mengangguk menahan senyumnya.
Shei kemudian berjalan memasuki gedung apartemen tanpa menoleh kebelakang. Saat memasuki lift Shei terkejut melihat Dava sudah berdiri di sampingnya.
"Aku bilang tidak perlu mengantarku! Ah....Jangan-jangan kamu punya ketertarikan padaku? Aku tahu aku cantik dan menarik tapi maaf aku tidak berniat menjalin hubungan dalam waktu sekarang ini. So, segera hilangkan perasaanmu itu!" Shei mulai berbicara nyerocos di depan Dava, sementara Dava hanya tersenyum.
"Sudah selasai bicaranya?"
Shei mengangguk.
"Kamu narsis juga ya orangnya, benar-benar tipikal seorang Suharjo. Mungkin ini semacam gen yang sama kayak Dion. Pertama, aku sedang tidak mengantar kamu pulang melainkan sedang dalam perjalanan pulang kerumahku sendiri. Kedua, aku juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan dalam waktu sekarang ini." Dava mengerlingkan matanya.
"Oh, syukurlah - Shei mencoba untuk menahan rasa malunya- Kamu tinggal di apartemen ini juga? Lantai berapa?"
Dava melirik kearah tombol lift, kemudian berkata "Sepertinya kita tinggal di lantai yang sama!"
"Apa? Tapi aku belum pernah lihat kamu sebelumnya."
"Aku juga belum pernah lihat kamu selama 3 tahun aku tinggal disini."
Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan berjalan berdampingan.
"Jadi kamu sudah 3 tahun tinggal disini. Yang mana apartemenmu?" tanya Shei.
"Ini." Dava menunjuk ke arah pintu apartemennya. Bertuliskan 406.
"Wah! Aku bener-bener gak percaya! Itu apartemenku, no 409!" Giliran Shei menunjuk apartemennya.
"Ah, jadi kamu yang beli apartemennya Pak Yudi?"
"Mungkin. aku gak begitu tau pemilik lamanya."
"Well, walaubagaimana pun kita ternyata bertetangga. Mari bertetangga yang baik." Dava mengulurkan tangannya.
"Tentu!" Shei pun membalas jabatan tangan Dava dan kemudian berjalan menuju apartemennya.
Sulit dipercaya. Baik Dava maupun Shei menggumamkan hal yang sama.