Senin, 10 Agustus 2015
BROKEN HEART : (1) INI SEPERTI TAKDIR
"Hallo sayang kamu lagi dimana?" Gadis bermata bulat itu terus saja mengayunkan kakinya saat berbicara di telepon.
"Aku lagi ada meeting di kantor. Kenapa sayang?" ucap pria disebrang telepon lembut.
"Cuma mau ngingetin, jangan pulang terlalu malam. Kan kamu bilang lagi gak enak badan!"
"Iya sayang. Tenang aja, aku sudah baikan kok! Udah dulu ya, aku sudah di tunggu di ruang meeting nih."
"Hmm, oke. I love you, Joe!"
"I love you too, shei"
Sambungan pun terputus.
Shei dan Joe telah berpacaran sejak 3 tahun yang lalu. Mereka bertemu di sebuah pesta yang diadakan keluarga Hadiningrat, keluarga besar Joe.
Baginya Joe adalah pria tampan yang sempurna. Selalu membuatnya bahagia dan istimewa. Joe selalu memperlakukan Shei dengan sangat baik yang membuat banyak wanita lain merasa iri.
Royal Couple, begitulah orang-orang menjuluki mereka. Dengan background keluarga mereka yang luar biasa cukup membuat banyak orang merasa iri.
Joenathan Aksa Hadiningrat. Merupakan pewaris utama dari kerajaan bisnis Properti Hadiningrat. Sebagai anak pertama, Joe, memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarganya. Namun Joe termasuk 'Prince' yang santai. Dia bahkan masih memiliki waktu untuk membuat pesta dan bersenang-senang ditengah kesibukannya.
Sementara Sheila Revana Suharjo adalah anak kedua dari CEO SC Group. Sebuah perusahaan Ritel terbesar di Indonesia. Selain dibidang Ritel semacam Suharjo Store dan S-mart, SC grup juga menggarap sektor lain seperti Properti, Pariwisata, Farmasi hingga pertambangan. Bisnis keluarga Suharjo sudah sangat mengakar. Menurut Survei Forbes, Adnan Suharjo, ayah Shei adalah orang terkaya no 1 di Indonesia saat ini.
@@@
"Tolong letakan bunganya di sebelah sana!"
"Ah hati-hati bawa mejanya!"
"Aku ingin semuanya terlihat sangat manis!"
Seorang pria lengkap dengan tuxedo-nya terlihat sangat tampan. Berkali-kali dia melihat jam tanggannya. Dia biarkan dirinya berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa gugup. Malam ini, dia akan melamar kekasih yang sudah dia kencani selama 7 tahun. Seorang gadis yang selalu ada untuk menyemangatinya dan tentunya mencintainya.
Mereka bertemu di tahun ke 3 masa kuliahnya dan tidak lama kemudian mereka berpacaran. Dava Putra Ghanindra seorang pria cerdas yang memiliki ambisi besar dalam dirinya. Dia berjuang sangat keras untuk membuktikan kepada keluarga Karina bahwa dia pantas bersanding dengan putri dari keluarga besar Karina yang kaya raya dan terpandang.
Karina berasal keluarga politisi salah satu Partai Besar di Indonesia. Ayahnya adalah orang yang terpandang dan disegani di dunia politik Tanah Air. Mungkin kalian sering mendengar nama Lukman Pranoto di berbagai media. Ya, dialah ayah Karina.
Sebenarnya Karina mencintai Dava apa adanya, tanpa memandang status keluarganya yang dari kalangan biasa. Karina melihat potensi dari Dava. Dava adalah pekerja keras, baik dan juga cerdas. Oleh karena itu Karina mendukung Dava dari Nol. Saat Dava mendirikan perusahan travel pertamanya 3 tahun yang lalu, Karinalah yang selalu ada disisinya. Kini perusahaannya sudah berkembang pesat. Perusahaan Travel milik Dava masuk 10 besar perusahaan Travel terbaik tahun ini. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat perusahaannya baru berdiri selama 3 tahun.
Kebaikan hati Karinalah yang membuat Dava mantap untuk melamar. Dan dia akan memperjuangkannya di depan keluarga Karina. Sampai saat ini, keluarga Karina belum memberikan lampu hijau atas hubungan mereka. Dengan melamar Karina, Dava ingin menunjukan keseriusannya. Dia yakin dengan penghasilannya sekarang, dia bisa menghidupi Karina dengan baik.
@@@
"Restorannya tutup ya?" Shei bertanya pada salah satu petugas yang bejaga di depan restoran favoritnya. Sebuah restoran yang terletak di dalam hotel bintang 5 ini memang memiliki citarasa yang khas. Shei sering mengajak Joe maupun teman-temannya makan disini.
"Iya, mba. Restorannya disewa malam ini!"
"Di sewa? Wah sepertinya acara lamaran?" Shei melongok kearah dalam restoran yang benuansa putih-pink dihiasi bunga mawar disekelilingnya. Dia juga melihat seorang pria terlihat sedang mondar-mandir menahan rasa gugup. Shei tersenyum kecil. Sesaat dia membayangkan bagaimana cara Joe akan melamarnya. Apakah Joe akan terlihat sangat gugup seperti pria itu?
"Iya, mba. Acara lamaran. Pria itu kebetulan teman kuliah pemilik restoran jadi bos kami rela menutup restorannya malam ini. Kalo begitu saya permisi"
"Iya sayang tenang aja aku sudah atur semuanya. Ini akan jadi hari ulang tahun terbaik kamu!"
Deg. Jantung Shei tiba-tiba berdetak lebih kencang.
Ah tidak, mungkin aku salah dengar. Gumamnya. Shei membalikan badannya secara perlahan seraya mengatur nafasnya yang terasa sesak.
Shei mengambil handphone-nya
Terlihat Joe melihat layar HPnya dengan tenang.
"Sheila ya?" ucap wanita di sebelah Joe. Joe mengangguk.
"Halo sayang!" Joe mengangkat teleponnya.
"Kamu dimana?"
"Aku? Masih meeting. Kenapa? Sudah kangen ya?" Joe mengeluarkan suara manjanya.
"Iya, aku pengen ketemu kamu." jawab Shei datar.
"Besok aku jemput kamu, kita makan siang bareng di restoran favoritmu. Sekarang aku tutup teleponnya ya sayang. Love you!"
Sambungan terputus. Shei masih terpaku di tempat. Pikirannya kalut begitupun hatinya.
"Kamu beneran gak bisa putus sama Shei? Jadi aku harus terus jadi yang kedua?" Tanya wanita bergaun merah itu merajuk manja.
"Kamu tahu sendiri, aku sama Sheila itu cuma hubungan bisnis. Kita sudah bahas ini sebelumnya kan?"
@@@
"Kamu pasti terkejut ya, Sayang? Aku mempersiapkan ini untuk kamu." Ucap Dava seraya menatap lekat mata kekasihnya.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu dan aku yakin kamu sudah bisa menebaknya." Lanjut Dava.
Karina melepaskan pegangan tangan Dava perlahan dan mulai menangis.
"Apapun yang mau kamu bilang, aku gak mau denger." Karina tertunduk. Tubuhnya sedikit bergetar menahan tangis.
"Maksud kamu?"
"Aku udah mutusin untuk mengakhiri hubungan kita, Va!"
Dava tersentak, tak terasa tangannya mulai gemetar dan berkeringat. Dia sungguh tidak ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Karina. Tidak ingin.
"Kenapa Rin?"
"Aku memilih orangtuaku, Va. Maaf."
"Rin, aku sudah berusaha sangat keras untuk membuktikan kalau aku pantas ada disamping kamu. 7 tahun hubungan kita apa kamu ingin membuangnya seperti ini?"
"Selama 7 tahun juga aku berusaha menyakinkan keluargaku kalau kamu pantas untuk aku. Tapi selama itu juga aku merasa menderita karena kita tidak pernah mendapat restu. Aku menyerah, Va!"
Karina melangkahkan kakinya keluar restoran tanpa menoleh lagi. Semua berakhir untuk mereka berdua.
Dava tertunduk dan perlahan air matanya keluar tak terbendung. Rasa sakitnya berbaur dengan air mata yang terus keluar membasahi tuxedo-nya. Seperti hujan yang terlihat semakin deras diluar sana. Dia membiarkan dirinya menangis bersama hujan berharap kesedihannya akan menghilang.
@@@
Shei berjalan mengikuti Joe dan selingkuhannya dengan tatapan kosong. Sesampainya di depan kamar yang mereka masuki. Kakinya terasa sangat berat. Dia benar-benar taku tidak bisa menanggung rasa kecewa. Tapi Sheila adalah orang yang kuat. Dia yakin bisa melakukannya. Saat itu dia melihat seorang petugas hotel berjalan melewatinya.
"Tok...Tok.."
"Siapa?"
"Room service!"
"Sebentar."
Pintu pun terbuka.... "Sheila?"
"Hubungan bisnis? Hah! Brengsek!" Shei mulai memukuli badan Joe dengan tangan mungilnya.
"Shei!" Joe berusaha menahan tangan Sheila.
"Ah, lupa. Aku kesini bukan untuk menangis di depan kamu, atau pun meminta penjelasan dari kamu. Aku kesini ingin bilang kalo mulai saat ini kita putus! Silahkan kalian lanjutkan apapun yang akan kalian lakukan!"
"Berhenti kekanak-kanakan seperti ini Shei!"
"Apa? Kekanak-kanakan?"
"Ya! Jangan bersikap seperti anak remaja usia 17 tahun yang mengharapkan cinta tulus. Kita hidup di dunia yang menempatkan bisnis keluarga diatas segalanya. Cinta? Itu hanya mainan anak-anak kelas bawah. Hubungan diantara orang-orang kelas atas seperti kita adalah hubungan bisnis yang dibungkus seperti cinta!"
"Kamu benar-benar brengsek. Perasaanku padamu tulus, Joe! Aku harap aku tidak pernah ketemu kamu lagi, Joe"
"Baiklah kalo itu yang kamu mau. Tapi jangan sampai mempengaruhi bisnis yang sedang kedua perusahaan keluarga kita lakukan."
"Kamu bener-bener brengsek sampai akhir, Joe!"
@@@
Mendung pun tak terlihat saat malam. Hujan yang turun juga semakin deras. Dua orang yang sedang patah hati terlihat sangat menyedihkan saat itu. Mereka hanya berdiri menatap kosong ke arah hujan.
"Taksi"
"Taksi"
Saat itulah mereka pertamakali bertemu. Dalam tangis yang sama di bawah hujan yang sama.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar