Selasa, 10 Mei 2016

ANGIN PUJAAN HUJAN (7)

BAB 7 : ANGIN YANG MULAI SEJUK

Aku membuka beberapa website, sesaat aku tersenyum. Ah, berita tentang aku dan Arya sudah menyebar dengan cepat. Semua orang mulai membicarakan hubungan asmara seorang CEO muda sukses yang pacaran dengan gadis biasa. Tapi kesenangan itu secepat kilat berlalu saat aku melihat kolom komentar yang dipenuhi umpatan.

“She is so ugly! Gak cocok banget! Cocokan sama Joana ah!” – komentar seseorang dengan akun @papayananya

“Gak pinter milih cewek nih Pak CEO. Padahal yang ngantri banyak, termasuk si cantik Joana.” - @dianxdiana

“Kirain sama Joana? Kan udah deket!” - @kipliversus

“Lumayan sih, tapi setuju cantikan Joana.” - @evitapevita2

“Ya udah kalo Pak CEO gak mau sama Joana. Joana buat saya.” - @always_fever02

“Matanya Arya belekan. Joana is the best!” - @pilapilates

“Aduh Karina gak selevel sama Joana yang cantik dan pinter. Joana – Karina bagai Langit dan comberan.” - @sephiasophia (Sebentar aku mau protes sama mbak Sephiashopia, okelah kalau cantikan Joana tapi aku lebih pintar dari dia! Boleh diadu! Dan satu lagi, aku tidak jelek-jelek banget kok sampai harus disamakan dengan comberan -__-)

Membaca komentar mereka memang membuat emosi. Rasanya aku ingin membalas semua komentar jahat mereka satu-persatu tapi tidak mungkin juga aku se-kekanak-kanakan itu. Aku mencoba menarik nafasku berkali-kali.

Ada juga beberapa orang yang mendukung hubunganku dengan Arya walaupun masih kalah jumlah dengan para pendukung Joana.

“Karina Cantik kok. Mungkin Karina punya sesuatu yang buat Arya jatuh cinta.” – komentar @lovelygirl0909

“Jangan menghina orang dan hargai pilihan orang. Kalo cintanya sama Karina ya hak nya Mas Arya. Congrat’s deh :D” - @tulungbungkus

“Langgeng deh buat Mas Arya sama mba Karina. Jadi ngiri saya hehehehe” - @pipitceriwis12

Aku sama sekali tidak mengira kalau Arya ternyata dikenal banyak netizen. Dia cukup popular juga toh. Karena kepopularan dia, aku juga jadi ketularan.

Hari pun berganti menjadi minggu. YUP! sudah seminggu berlalu sejak kejadian di Hotel Mulia, hotel tempat Arya mengenalkan aku sebagai tunangannya kepada semua orang. Tempat dimana hidupku berubah menjadi sangat rumit. Berurusan dengan si wanita iblis saja sudah cukup membuatku mual dan sekarang harus menghadapi si nenek sihir yang super menyeramkan.

Pagi ini aku dipanggil ke ruang Direktur untuk pertamakalinya sejak aku bekerja disini. Tempat yang biasanya didatangi oleh orang-orang elit perusahaan ataupun rekanan penting. Editorku saja sepertinya baru 2 kali diundang kesana dan saat itu dia sangat kegirangan. Di Brave magazine, ruang Direktur adalah ruang yang sangat sakral, Tidak semua bisa masuk. Dengar-dengar sih karena CEO Brave orang yang sangat kaku dan ‘menyeramkan’. Dia orang yang tidak mau bertemu dengan sembarang orang. Mereka yang ingin bertemu harus memiliki janji terlebih dahulu. Nama CEO Brave Magazine adalah Ibu Widya. Ya dialah si nenek sihir, yang ternyata adalah Ibunya Arya.

Tok...tok... “Permisi!” Dengan sedikit gemetar dan tak percaya diri aku mulai mengetuk pintu.

“Masuk!” Terdengar suara si nenek sihir dari dalam ruangan. Kubuka pintu perlahan dan mencoba menarik nafas berulang kali.

Ruangan Direktur ini terlihat sangat rapi dan juga luas, beberapa lukisan terpajang dengan indah. Terdapat dua buah sofa panjang saling berhadapan dan satu single sofa ditempatkan ditengah sebagai lambang kepemimpinan. Bunga angrek mini berwarna putih-pink diletakan ditengah meja, disebelahnya terdapat gelas dan teko kaca berisi teh.

“Siang, bu.” Ucapku kikuk. Entahlah rasanya aku ingin segera menghilang dari ruangan ini atau tiba-tiba terkena amnesia. “Aku dimana? Anda siapa? Aku Siapa?”. Sudahlah abaikan, itu hanya ada di dalam pikiranku saja. Realita kadang memang lebih kejam.

“Dunia itu sempit ya! Ternyata kamu karyawan disini!” Si nenek sihir tersenyum menyeringai bersiap dengan tongkat sihirnya ingin menghilangkan eksistensiku. Aku hanya terdiam.

“Jadi, apa yang ingin ibu bicarakan dengan saya?” Aku memulai pembicaraan, lebih tepatnya ingin segera mengakhiri.

“Aku yakin kamu cukup pintar untuk menebak apa yang ingin saya bicarakan.” Si nenek sihir berjalan mendekat. Gestur tubuhnya mempersilahkan aku untuk duduk.

“Soal hubungan saya dengan Arya?” Tentu saja aku tidak asal menebak.

“Saya ingin kamu jauhi anak saya!” Sumpah demi apapun, akhirnya aku mengetahui bagaimana rasanya jadi seorang Geum Jan Di atau Gil Ra Im yang ada di drama korea (lol). Apa akan ada scene lempar melempar cek, amplop berisi uang dan sebagainya?

“Kalo saya menolak?” aku mencoba menantang nenek sihir. Sambil mengharapkan dilempar cek 1 Milyar tentunya. Hahahaha.

“Dalam 3 hari kamu dipecat! Waktu kamu 3 hari untuk mengambil keputusan.” Bam Bam Bam!!!! Keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa. Baru saja aku mendapatkan kesempatan wawancara dengan Kemarau untuk menyelamatkan aku dari pemecatan, dan sekarang ini yang terjadi? Ancaman pemecatan dari CEO-nya langsung? Karina, kamu luarrrrr biasaaaa.

Sesaat aku terdiam. Bingung ingin menjawab apa? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Apa aku lempar saja nenek sihir ini dengan sepatuku? Ah bagaimanapun beliau adalah orang tua yang harus aku hormati. Aku tidak pernah membayangan sesuatu seperti ini terjadi dalam hidupku. Maksudku adegan-adegan dalam drama korea yang aku tonton muncul satu persatu. Bentar, apa aku curi-curi waktu untuk googling dulu? Search: Tutorial menghadapi calon mertua buas. Hahaha Aku urungkan.

“Bagaimana?” Si nenek sihir mulai membuyarkan imajinasi liarku. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul. Sebuah ide yang aku pikir cukup briliant dan muncul tepat waktu. Ide untuk memanfaatkan anaknya. Toh anaknya juga memanfaatkanku seenak udelnya.

Aku melihat kontak teleponku dan langsung menelepon seseorang. Ya! Arya!

“Halo” Terdengar suara Arya diujung telepon. Suara tanpa emosi, datar dan seolah tidak tertarik. Seperti biasa.

“Aku ada diruangan ibumu sekarang. Dan aku diancam akan dipecat jika dalam 3 hari tidak memutuskan kamu!” ucapku tanpa koma maupun titik.

“Ya! Apa yang kamu lakukan? Matikan hanphone-nya!” Si nenek sihir berusaha merebut HP ku, namun aku lebih cepat darinya dan berhasil menghindar.

“Aktifkan loudspeakernya!” Arya menyuruhku dan akupun menuruti. Suara Arya terdengar berbeda dari sebelumnya, mungkin dia juga terkejut.

“Kalau Ibu memecat Karina, Aku juga akan mengundurkan diri dari perusahaan.”

WOW!!! Apa aku tidak salah mendengar? Arya rela mengundurkan diri demi aku? Atau dia hanya asal menggertak karena tahu Ibunya sangat mencintai si anak semata wayang?

“Nanti aku telepon lagi ya” ucapku sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tersebut.

“Dasar wanita penyihir! Berani-beraninya memanfaatkan anaku yang polos!”

Polos??? Arya polos??? Terus Arya yang aku kenal yang membohongi Ibunya adalah semacam makhluk kloningan? Oke. Dan satu lagi! Aku dijuluki wanita penyihir oleh si nenek sihir. Jadi kesimpulannya kalau aku suatu saat nanti menikah dengan Arya, kita akan menjadi keluarga penyihir. Hahaha baiklah kita lanjutkan aksi si wanita penyihir ini. Kepalang tanggung jadi antagonis.

“Ibu sudah dengar sendiri kan dari Arya? Kalau begitu saya permisi!” Aku sedikit membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan neraka. Aku sempat melihat wajah si nenek sihir yang penuh amarah melihat kepergianku.

Aku berjalan sedikit terseok. Kakiku sudah mulai lemas karena rasa gugup. Good Job Karin. Kamu udah melakukan hal yang terbaik. Aku mencoba menyemangati diri sendiri.

Mata-mata disekitar mulai melirik menyelidik diselingi bisik-bisik gosip dengan rekan disebelahnya. Aku tidak terlalu kaget lagi sekarang karena mungkin sudah terbiasa menjadi bahan gosip. Ah rasanya aku ingin memaki mereka semua.

Hah Arya? Ucapku dalam hati saat melihat panggilan masuk dari Hpku.

“Hallo”

“Kamu masih di kantor?”

“Emm...”

“Kamu baik-baik aja?”

“Enggak.” Aku tidak mau berbohong dengan mengatakan kalau aku baik-baik saja.

“Kalo gitu kita pergi dari sini!”

“Hah Kita? Dari sini?” Aku langsung berbalik kearah pintu masuk. Dan disitu aku melihat Arya sedang berdiri menatapku.

“Kenapa kamu disini?” ucapku melalui sambungan telepon yang belum terputus.

“Menyelamatkanmu!” ucapnya pelan. 

Kami pun bertatapan sejenak. Tidak sampai menghabiskan durasi screentime kok tatap-tatapannya. Tenang, dia memakai kacamata hitam jadi aku tidak bisa langsung melihat ke matanya. Entahlah, setelah melihat Arya berdiri disitu yang katanya untuk ‘menyelamatkanku’, air mataku seolah melumer.

Arya berjalan mendekat setelah melihat aku berusaha keras menahan tangis. Aku mulai merasakan bisikan-bisikan dari orang disekitarku terdengar semakin nyaring.

Arya berjalan semakin mendekat, dan aku semakin sesak. Membuat air mataku makin sulit dibendung. Arya kemudian melepaskan kacamata hitamnya dan memakaikannya padaku. Dia menarik tanganku.

“Target Rescued” dan kami pun melarikan diri.

Wait! Melarikan diri mungkin terdengar terlalu didramatisir. Karena akhirnya kami hanya duduk berdua di mobil di basemen gedung. Arya menyalakan musik di mobilnya dengan volume yang keras. Tidak tahu lagu apa yang dia putar. Lagu itu beraliran rock metal yang bahkan aku tidak bisa mendengar liriknya dengan jelas. Hanya seperti suara teriakan orang marah.

“Kalo mau nangis, nangis aja. Gak ada orang yang akan denger selain aku.”

Seakan dikasih gong, aku pun mulai menangis seperti anak SD yang tidak diberi uang jajan. Lebih tepatnya aku sekarang sedang meraung-raung tanpa malu didepan Arya. Tanpa melihat ke arahku, Arya memberikan beberapa tissue sampai aku berhenti menangis.

“Kamu udah bisa matiin musiknya.” Dengan suara sedikit parau dan dengan ingus yang menyumbat hidung, aku mulai mengatur emosiku. Arya kemudian mematikan musik metal yang barusan dia putar.

“Mamaku gak gigit kan?” Tanyanya polos dan berhasil membuatku tertawa.

“Kamu ternyata gampang dihibur. Baru saja tadi nangis meraung-raung sekarang sudah tertawa seperti itu.” Lanjut arya sedikit menyindir.

“Itu karena kepribadianku yang positif.” Jawabku bangga. “Tunggu! Kamu sedang menghiburku? Aku gak salah denger kan?” Aku mencoba menjangkau jidatnya dan berpura-pura mengecek suhu tubuhnya. Arya mencoba mengindari tanganku namun gagal. Dan sialnya sekarang posisi kami terasa sangat aneh, wajah kami hanya berjarak sekitar 10 cm. Cukup untuk membuat meriam-meriam dihati meledak tiba-tiba.


“Mau sampai kapan kamu menatapku seperti ini?” Ucap Arya menyadarku dari keterdiaman yang memalukan. Aku langsung menarik badanku ke posisi duduk semula. Setelah itu tiba-tiba suasana jadi hening, kikuk dan aneh. Sepertinya sekarang aku semakin yakin kalau aku menyukainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar