Selasa, 17 Maret 2015

BAGIAN 2 END : KEENA MAHARDHIKA

SMA Patriot 1

Aku memasuki kelas yang sudah terlihat ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Dika. Aku benar-benar merindukannya. (Kamu boleh bilang aku gila!)

Aku menemukannya. Dia sedang tertawa membicarakan sesuatu dengan teman sebangkunya sambil menenteng gitar kesayangannya. Pandangan kami beradu. Untuk pertamakalinya aku panik saat melihat matanya. Ralat, dulu lumayan sering sih. Dulu sekali. Tapi ini pertamakalinya sejak deklarasi perang yang dia lontarkan padaku.

“Eh Na, bedaknya ketebelan tuh!” Dia tertawa meledek. Sial. Aku benar-benar malu dibuatnya. Apa benar bedakku ketebelan? Aku memang melakukan make-up tambahan saking semangatnya mau bertemu dengan Dika. Dalam keadaan normal mungkin aku akan membalas ledekannya dengan teriakan atau apalah namun harus dicatat bahwa saat ini aku sedang tidak normal. Aku malah berjalan setengah berlari menuju mejaku tanpa berani melihat wajahnya lagi. Beberapa siswa terlihat keheranan. Mungkin awalnya mereka berfikir akan menyaksikan perang hebat lagi diantara kami.

Pelajaran hari ini adalah membahas tentang otak manusia. Bu guru menyinggung sesuatu yang disebut synesthesia. Sesorang yang memiliki synesthesia bisa melihat sesuatu dengan sisi bebeda. Misal melihat huruf dengan warna yang berbeda, setiap hari juga memiliki warna yang berbeda.

“Menurut kalian, synesthesia itu kelainan atau bukan?” Tanya Bu Fani.

“Kelainan bu! Cara otak si penderita mengolah data yang masuk berbeda dengan otak normal. Sehingga hasilnya pun memiliki persepsi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Sudah jelas ini kelainan.” Lukman yang duduk paling depan menjawab.

Ibu Fani mengangguk-anggukan kepalanya “Ada yang berfikir lain?” dia kembali bertanya.

“Menurut aku itu bukan kelainan, hanya sebuah kondisi atau kemampuan bu. Menurut Wiki synesthesia adalah a neurological phenomenon in which simulation of one sensory or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second sensory or cognitive pathway. Sebuah penomena, sebuah kondisi. Ini bukan penyakit ataupun kelainan yang menggangu fungsi otak. Synesthesia lebih ke berupa kemampuan lebih seseorang. Karena justru banyak pemilik kemampuan synesthesia tidak mau di sembuhkan. Seorang synethetes bisa melihat hurup atau angka dengan warna yang berbeda, suara/nada juga memiliki warna/bentuknya sendiri membuat mereka bisa membedakannya dengan cepat.”

“Wah, seperti biasa Dika seperti wiki berjalan ya?” Ibu Fani tertawa disambut tawa siswa lainnya. “Ada pendapat yang lain mungkin?” tanyanya lagi.

Akupun mengangkat tangan. Ibu Fani mempersilahkanku untuk bicara. Tiba-tiba seluruh ruangan hening – seperti biasa. Mungkin mereka sedang menunggu sebuah bom di lemparkan dari bawah mejaku. “....aku setuju dengan pendapat Dika.”
Haaaaaaahhhhh????? Suara keheranan terdengan di seluruh ruangan.

“.....kita semua memiliki synesthesia sepertinya. Seperti berkata ‘wajah cantiknya sangat manis’. Mana ada wajah yang manis? Wajah dilihat oleh indra penglihatan, manis dirasakan oleh indra pengecap. Keduanya disatukan oleh otak. Hanya karena cara kerja otaknya yang berbeda bukan berarti otak itu tidak bekerja atau terganggu. Namun apa benar yang seperti itu sudah bisa dibilang synesthesia? Menurut saya tingkat kemampuan synesthesia seseorang itu berbeda-beda. Pada tingkatan yang lebih ekstrim, saat seorang synethetes membuat hurup P, dia melihat warna ungu, setelah dia menambahkan garis menjadi hurup R warnanya berubah jadi orange. Bunyi klakson juga memiliki warna yang berbeda. Nada Do memiliki warna yang berbeda dengan Mi. Dan seterusnya. Mungkin ada juga yang misal saat melihat Lukman dia mencium bau bunga kenanga, tentu bukan bau farfume ya, dan saat melihat Dika mencium bau bunga Raflesia arnoldi, sorry, bunga mawar maksudnya.” Semua siswa tertawa mendengar penjelasanku.

“Wah menarik, bagaimana kalau kita jadikan ini pekerjaan rumah? Setiap siswa menuliskan apakah synesthesia itu penyakit,kelainan atau kemampuan lebih, atau apa? Terangkan juga pendapat kalian masing-masing. Kumpulkan minggu depan ya!” Ibu Fani mengakhiri pelajarannya dengan pekerjaan rumah. Seperti biasa, selalu seperti itu.

Jadi perbincangan heboh setelah itu bukan lagi masalah synesthesis tapi mengenai seorang Keena yang menyetujui pendapat Dika di depan semua orang. Hal ini adalah yang pertama kalinya terjadi.

“Ini aneh. Keena setuju sama pendapat Dika. OMG udah mau kiamat kayaknya. Biasanya kalopun Dika bener, Keena bakal milih diam daripada bilang setuju di depan semua orang. Dan tadi sejarah banget gak sih?” Seorang gadis bernama Hana mulai menggosip dengan siswa dari kelas lain. Dia memang biang gosip di sekolahku. Semua gosip yang beredar 99% berasal dari mulutnya.

***
“Gosip soal lo sudah berkembang sangat ekstrim Na.” Ucap Nayla sambil menyuapkan siomay mang Udin ke mulutnya.

“Ekstrim?”

“Katanya lo kayak gitu karena lo mulai suka sama Dika.”

Aku terdiam mendengar gosip itu. Ah mungkin karena itu bukan gosip. Aku memang menyukainya. Mataku tak pernah lepas dari sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di ujung meja sana. Dika dan Renata. Pasangan paling serasi di sekolah, katanya. Renata adalah siswi cantik nan populer dari kelas 2. Ya, dia adik kelas Dika.

“Halo Na? Lo liatin apa sih? Dika sama Renata?” Nayla terlihat bingung saat tahu aku sedang memperhatikan mereka.

“Lo beneran suka sama Dika ya?” tanyanya setengah berbisik.

“Berani-beraninya dia bermesraan di depan gue. Gue gak terima suami masa depan gue mesra-mesraan sama cewek lain di depan gue.”

“Bentar. Suami masa depan? Lu kesambet apaan si Na?” Nayla semakin bingung dengan sikapku.

“Tunggu disini. NAY GUE BAYAR MINUMAN DULU YA” Aku mengeraskan suaraku saat mengucapkan kalimat terakhir.

Nayla hanya mengangguk bingung padaku. Aku kemudian berjalan menuju sepasang iguana kurang ajar itu dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minumanku ke baju Renata.

“Ups. gak sengaja.” Ucapku

Renata merengek-rengek pada Dika karena baju dan rok nya basah olehku. Minta di perhatikan banget. Jijik banget liatnya. Idih dasar laler.

“Kak Keena pasti sengaja deh yang, kamu udah denger kan gosip kalo Kak Keena suka sama kamu.” Ucap Renata manja. Sementara Dika masih menatapku dingin.

“Idih, kan udah di bilangin gak sengaja.” Aku kesel juga liat muka sok nya Renata.

“Gimana itu bisa di bilang gak sengaja Na? Lo tuh paling jelek kalo akting. Minta maaf sama Rena sekarang!” Dika membentakku pemirsah. Helloooo gue istri masa depan lo Dika, buka mata lo! Gumamku dalam hati

“Kenapa gue harus minta maaf? Kan gak sengaja. Kalo sengaja baru gue mau minta maaf.” Wah aku benar-benar mengeluarkan kekejamanku. Kutatap sinis wajah sok lugunya Rena.

“Udah Re, kamu pergi ke toilet sekarang. Biar dia aku yang urus.” Rena pun pergi atas titah Dika. Setelah Rena tak kelihatan lagi, Dika melanjutkan perdebatan ini denganku

“Lo kan punya masalahnya sama gue, jadi jangan bawa-bawa cewek gue dong. Kalo lo sekali lagi ngebully Rena. Gue gak bakal tinggal diam.”

“Bully? Wow. Gue cuma gak sengaja numpahin minuman (hehe bohong, sebenernya SENGAJA :P) terus lu sebut gue ngebully dia? Wow!” Emosi Keena emosi.

“Gak sengaja? Oke!” Dika maju satu langkah dan menumpahkan minumannya padaku. “Ups, gue gak sengaja” Dika pun melempar gelas plastik itu dan pergi meninggalkanku.

“Dika!” Aku berteriak tidak percaya. Kini pakaiannyaku basah oleh teh manis yang ditumpahkannya. Saat itu aku baru sadar Nayla sudah berdiri di sampingku dan mulai mengelap bajuku dengan saputangannya.

“Duh. Lo cari masalah sih Na. Kita ke toilet yuk.” Nayla menuntun tanganku, namun aku mengibaskan tangannya. “...Na lo mau kemana, toiletnya arah sini” Nayla berlari mengejarku yang sedang berjalan ke arah toilet anak kelas 2.

Jebred. Aku membuka pintu dengan keras ala-ala sinetron abg yang lagi ngelabrak. Aku menghampiri Rena yang tengah membersihkan bajunya. Entah apa yang telah merasukiku sekarang, aku juga tak mengerti apa yang mau aku lakukan disini. “Yang lain keluar!” perintahku pada 3 cewek kelas 2 yang ada disitu.

“Na, lo ngapain sih? Udah yuk balik ke kelas!” Nayla mencoba menarikku keluar, khawatir melihat emosiku yang meletup-letup tak terkendali.

“Ini bukan pertama kalinya lo gak ngehormati gue sebagai orang yang lebih tua dari lo.” Aku mulai membuka pembicaraan dengannya.

“Gue cuma menghormati orang yang pantas gue hormati” Renata menimpali.

“Jadi maksud lo gue gak pantas buat di hormati?”

“Yes! Lo tuh cuma tukang cari perhatian , numpang tenar sama Dika. Sok pinter, sok cantik, dan sok-sokan jadi senior yang pengen di hormati. Cuma sampah!”

Aku merasa mual melihat wajah Renata saking jijiknya. Dia bahkan tidak terlihat seperti korban labrakan kakak seniornya. So confident. “Jaga ucapan lo ya, mulut lo lebih sampah!” bentakku.

“Ah...gue tahu kenapa lo over kayak gini. Apa gara-gara keluarga lo yang lagi kacau karena bokap lo yang punya wanita simpanan? Dan lo lampiasinnya ke gue.”

“Bitch!” Tanpa berfikir panjang aku mulai menyerangnya, menjambak rambutnya. Dia juga membalas jambakanku. Nayla panik berusaha menghentikan kami.

“Stop!” Dika yang entah kapan masuknya melerai kami berdua. “Lo gila ya Na? Sayang kamu gak apa-apa kan?” Dika menghampiri Rena yang mulai menangis mendramatisir keadaan. Seolah-olah dia benar-benar korban.

“Lo ternyata lebih rendah daripada yang gue kira Na. Cewek yang punya sikap dan sifat rendah itu elo Na. Bukannya minta maaf malah datang ke toilet anak kelas dua dan ngelakuin ini semua. Keterlaluan lo Na!” Dika memarahiku. Emosinya meluap-luap.

“Sebelum lo marah-marah sama gue, tolong ya ajarin dulu cewek lo sopan santun. Mulutnya lebih sampah daripada mulut gue Dik. Gue cewek rendahan? Emang lo tau apa tentang gue hah? Gue bahkan sampai sekarang masih inget apa yang lo bilang ke gue 5 tahun yang lalu kalo lo bakal bikin gue jatuh berkali-kali di depan lo. Gue gak ngerti Dik, alasan lo benci ke gue tuh apa? Yang gue tahu, gue benci elo karena elo benci gue!” Aku keluar dari toilet dengan muka yang memerah menahan tangis. Nayla mengikutiku di belakang. Kami tidak langsung kembali ke kelas, aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan diri.

‘Lo kenapa sih Na? Hari ini emosi lo susah di tebak. Cerita aja ke gue!” tanya Nayla dengan lembut.

“Lo gak bakal percaya sama apa yang gue omongin ke elo Nay.”

“Tapi gue akan selalu memahami elo Na!”

“Gue time traveler ke masa depan Nay dan ternyata gue nikah sama Dika.” Aku melihat ekspresi bingung Nayla. “.... Dika 5 tahun mendatang berbeda dengan Dika sekarang. Dia lebih dewasa, perhatian, sayang sama gue.” Lanjutku.

“Tuh kan lo gak percaya. Sudahlah.” Aku terdiam.

“Mungkin lo cuma sedang bingung sama perasaan lo ke Dika, Na! Maksud gue, lo mengharapkan Dika yang baik, perhatian, care sama lo jadi lo mimpiin Dika seperti itu.” Nayla mengucapkannya dengan hati-hati.

“Itu bukan mimpi Nay. Ini adalah gelang yang di berikan Dika di 100 hari perayaan pernikahan gue sama dia. Gelang ini dari masa depan yang ikut ke masa sekarang. Gelang ini yang buat gue percaya kalo gue gak lagi mimpi Nay.” Ucapku sambil menujukan gelang pemberian Dika.

“Na...” Nayla melihatku dengan tatapan simpatiknya. Mungkin dia berfikir aku benar-benar gila.

“Terserah lo mau percaya gue atau nggak Nay. Denger Nay, gue lihat lo dimasa depan, LO BAKALAN NIKAH SAMA TONY. Nanti, suatu saat nanti, lo bakal tau apa gue bohong atau enggak.”

“Tony?”

“Yes, Tony!”

Nayla tersenyum padaku “Balik ke kelas yuk, udahan bolosnya. Udah jam pulang.” Nayla menarik tanganku dan menggandengnya berjalan menuju kelas.

“Tony ya? Awas ya kalo ternyata gue gak jodoh sama Tony. Gue gelitikin lo sampai nangis.”

Aku tahu sekali kalau Nayla cinta mati sama Tony, anak SMA Persada si Jago Basket. Aku mengangguk dan kami pun tertawa. Mungkin Nayla tidak mempercayai ucapanku, tapi benar bahwa dia selalu berusaha memahamiku, memahami bahwa aku gila. Hahahaha.

***

Diam. Sudah 1 bulan aku dan Dika tidak saling berbicara sejak insiden di toilet. Cekcok, adu argumen, saling ledek sudah tidak pernah kami lakukan. Kami hanya diam. Ah, rasanya hari-hari yang aku lalui selama sebulan ini lebih buruk dari sebelumnya. Hatiku rasanya ingin meledak, memaki-makinya. Lebih tepatnya, aku merindukannya.

Hari ini selepas sekolah, panitia pelepasan siswa kelas 3 menggelar rapat lanjutan. Kami harus pintar membagi waktu agar persiapan kami tidak mengganggu belajar kami. Kami semua sadar bahwa kami juga akan menghadapi UAN yang ada tepat di depan mata. Kami pun mulai membagi tugas untuk acara perpisahan nanti. Ada yang bertugas sebagai dekorator, konsumsi, kostum dll. Sementara aku bertugas menjadi photografer acara.

“Na, kayaknya kita harus bicara.” Dika menahanku setelah acara rapat selesai.

“Bicara apa lagi sih Dik? Gue udah males adu mulut sama lo!”

“Ini udah sebulan kita diem-dieman Na. Lo gak ngerasa aneh apa?”

“Aneh? Bukannya lo seneng gak bicara sama cewek yang punya sikap dan sifat rendahan kayak gue?”

“Oke, sorry soal omongan kasar gue waktu itu, Na. Gue juga udah nanyain berkali-kali ke Rena soal apa yang dia bilang ke Elo sampai lo marah banget kayak gini. Tapi dia bilang dia gak ngomong apa-apa ke elo.”

“Udahlah Dik, jangan ngebahas soal itu lagi. Males sumpah.”

“Soal gosip itu. Apa bener lo suka sama gue, Na?”

Aku bingung harus jawab apa sekarang. Jantungku berdetak semakin keras dan tak terkendali. Rasanya aku ingin lari, kabur dari ruangan ini secepatnya. Pintu, aku harus segera lari. Namun aku urungkan saat melihat Renata mematung tepat di depan pintu. Mungkin dia sedang menahan dirinya untuk tidak cemburu. Entah kenapa perasaan berani muncul dari diriku. Aku ingin menyingkirkan Renata dari hidup Dika. Dan mungkin ini kesempatannya. Ku tatap wajah Dika lekat. Dan aku tersadar bahwa aku benar-benar merindukannya. Aku menciumnya lembut, awalnya aku hanya ingin memberikan kecupan cepat namun tanpa kuduga Dika malah membalas ciumanku. Ya, kami berciuman. Kakiku rasanya sangat lemas menahan desiran rasa bahagia yang mulai menghangatkan hatiku.

Keesokan harinya, hampir saja aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah saking malunya untuk bertemu dengan Dika. Namun ternyata hari itu Dika tidak masuk sekolah. Kata Nayla, Ibunya Dika di rawat di rumah sakit karena...

“Kangker.” Ucapku

“Kamu sudah tahu?”

“Ibunya akan meninggal saat hari perpisahan sekolah.”

“Hush! Jangan sembarangan kalo ngomong. Nanti kalo beneran gimana? Gue tahu lo emang benci banget sama Dika tapi jangan ngomong kayak gitu dong Na. Pamali!”

“Aku gak lagi nyumpahin Nay. Aku tahu saat aku pergi ke masa depan.”

“Hehehe....itu lagi. Udahlah ngomongin yang lain aja.”

“Yang lain? Mmm Gue sama Dika kissing!”

“What?” Nayla tersedak siomay yang dia makan. “....kapan, dimana dan bagaimana?”

***

Papaku punya simpanan? Bagaimana bisa Renata menyimpulkan hal itu. Memang sempet rada heboh sih, pas ada tante-tante ngaku kalau dia lagi hamil anak papa. Tante itu mulai ribut dan minta tanggungjawab dari papa. Papa bilang dia tidak ingat apapun malam itu. Aku dan mama tahu dengan jelas kalau papa bukan orang yang bisa mengkhianati keluarga, tapi mama juga harus punya bukti untuk mendukung keyakinannya. Mama pun menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu tentang wanita itu. Dan hasilnya, wanita itu memang hanya ingin memeras papa. Dia menjebak papa setelah keluar dari tempat karaoke. Ceritanya sangat panjang. Intinya, papaku tidak seperti yang dipikirkan Renata. Itulah kenapa aku menjambaknya waktu itu.

***

“Dik!” aku menghampiri Dika yang sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi.

“Na! Kamu dateng?” Ini adalah pertamakalinya dia memanggilku ‘kamu’ sepertinya hubungan kami mulai membaik. Aku pun duduk disampingnya.

“Udah makan?”

Dika menggeleng. “Na, boleh minjem bahu kamu gak?”

Aku menepuk pundaku. “Here!”. Dika mulai merebahkan kepalanya. Beberapa saat kemudian aku merasa pundakku terasa basah dan hangat. Dika menangis. Aku pun memeluknya. “Aku gak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja atau enggak Dik. Aku cuma bisa bilang, aku bakal ada buat kamu terus, nemenin kamu, minjemin pundak aku ke kamu Dik. Kalo mau nangis ya nangis tapi abis itu kamu harus senyum lagi.”

“Na, kamu pernah nanya kenapa aku benci sama kamu, apa masih butuh jawaban?”

“Tergantung kamu mau jawab atau enggak. Aku gak bakal maksa.”

“Ivan. Kamu tau Ivan anak kelas 2B?”

“Yang meninggal bunuh diri?” tentu saja aku ingat.

“Yang bukan cuma kamu tolak tapi juga kamu permalukan di depan banyak orang.”

Aku terdiam. Bagaimana aku bisa lupa orang itu. 2 hari setelah insiden itu, dia meninggal bunuh diri.

“Dia sahabatku Na.” Nafasku tiba-tiba tercekat. “....dia mengidap bipolar disorder. Dia selalu membicarakan tentang kamu. Dia bener-bener tulus sama kamu, Na. Gak masalah kalau kamu nolak dia, tapi gak perlu sampai mempermalukan dia seperti itu.”

“Jadi emang bener, Ivan meninggal gara-gara aku. Aku nggak nyesel nolak Ivan Dik karena aku emang gak cinta sama dia tapi aku nyesel banget udah mempermalukan dia. Semuanya karena taruhan bodoh aku sama Lili.”

“Lili?”

“Lili temen sekelasku, satu organisasi sama kamu Dik. Lili kan pernah di tolak Ivan dan dia ingin aku membalas dendam dengan bikin Ivan malu. Setelah itu Lili janji mau ngasih nomor HP kamu Dik.”

“No HP ku?”

“Sebenernya, aku udah suka kamu dari dulu Dik. Aku penasaran sama cowok badung yang sering bolos tapi selalu masuk 10 besar di kelas. Katanya kalo kamu rajin masuk, kamu yang bakal dapet rangking 1. Aku pikir ‘wah orang ini bener-bener jenius’. Aku beberapakali membuka percakapan saat kita tidak sengaja bertemu. Tapi kamu selalu cuek. 2 hari setelah insiden itu, aku baru dapat nomor HP kamu dan hari itu juga kamu nemuin aku dan bilang akan jatuhin aku berkali-kali di depan kamu.”

“Ternyata, semuanya juga salahku Na.” Dika menatapku.

“Enggak. Tapi salah aku. Maaf” Aku tertunduk.

Sejak saat itu, aku sering menengok ibunya Dika di rumah sakit. Hubungan aku dengan tante Widya sangat baik. Sepertinya beliau menyukaiku. Dia bahkan memintaku untuk terus ada disamping Dika. Dan ternyata hubungan mamaku dengan tante Widya juga sama baiknya. Beberapa kali aku datang menengok dengan mama dan papa.

Suatu hari, tante Widya memberiku sebuah cincin.

“Na, setelah tante gak ada, Dika pasti bakal ngurung diri di kamar. Murung, gak makan, gak minum, gak sekolah. Pada saat itu, kamu harus pukul kepalanya biar dia sadar. Kamu harus buat dia tersenyum lagi. Kamu harus janji sama tante ya!”

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, semua yang aku tahu saat pergi ke masa depan satu per satu terjadi. Dihari perpisahan siswa kelas 3, tante Widya meninggal. Dika 3 hari mengurung diri dikamar dan di hari ketiga aku memutuskan untuk mendobrak pintunya.

Nayla dan Tony bertunangan sebelum akhirnya 2 tahun kemudian menikah. Begitupula aku dan Dika menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan sejak kuliah. Kami menikah setahun setelah pernikahan Nayla dan Tony. Kami sangat bahagia. Sampai akhirnya sesuatu terjadi pada kami berdua.

***

3 Maret 2015 Pkl 15:05

Aku terbangun, nafasku terasa tidak beraturan. Air mata tiba-tiba saja keluar dengan derasnya. Kupukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Semua ingatan muncul bergantian tanpa jeda membuatku sangat kesakitan. Ingatan buruk yang kata dokter bisa membunuhku akhirnya muncul seperti neraka buatku. Aku semakin histeris.

Terdengar suara papa dan mama yang berusaha menenangkanku. Aku terus berteriak, sakit sekali. Bukan hanya kepalaku tapi juga hatiku.

“Dikaaaa” Aku berteriak memanggil namanya. Ku seka air mataku yang semakin deras. “Dika mana mam? Dika mana?” Mama memeluku sambil menangis. Tubuhku semakin berguncang dibuatnya.

26 Desember 2014
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, sebuah mobil inova terjun ke jurang setelah bertabrakan dengan truk di tikungan curam. Pengemudi mobil tersebut diketahui bernama Mahardika yang sedang dalam perjalanan berlibur bersama istrinya. Beruntung sang istri berhasil selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis yang berada di TKP. 


***
Epilog

9 Maret 2015

“Na, lo nangis?” Nayla terlihat khawatir.

“Dika mati Nay. Huhuhu” Aku terisak.

“MATI??? Ah, cerita yang lagi lo bikin kan maksudnya? Kenapa dibikin mati sih?”

“Biar dramatis gitu.”

“Hadeuh.... udahan nangisnya! Tuh ada Dika yang asli dan nyata!”

“Mana?” Aku langsung menyeka air mataku.

“Itu duduk di depan jus mang Adang”

“Wah, iya. Tunggu disini sebentar ya Nay!”

“Mau ngapain Na?”

“Mau memulai sejarah!” Aku tersenyum pasti pada sahabatku Nayla.

Aku berjalan kearahnya dengan seluruh keberanian yang terkumpul di diriku. Aku melakukan pertaruhan besar saat ini.

“Dik, gue...gue...suka sama lo!”

“Hah? Lo abis ketiban balok Na?”


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar