5 Februari 2015
2 bulan aku
mengalami koma, katanya.
Saat aku
terbangun, aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa aku dan siapa orang-orang
yang berdiri disekitarku dengan cemas. Aku menderita amnesia, begitulah katanya.
Katanya, katanya.
Aku hanya mendengar penjelasan singkat dari orang lain tanpa ada sedikitpun
yang aku ingat.
Saat berusaha
mengingatnya, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat bahkan sampai
membuatku pingsan. Orang tuaku terlihat sangat panik ketika tubuhku terkulai di
lantai akibat serangan vertigo tersebut.
Aku mendengar
pembicaraan orang tuaku dengan dokter saat itu. Dokter menyarankan agar aku
menghindari sesuatu –seperti ingatan- yang bisa membuatku drop. Tubuhku belum
kuat menerima pukulan besar untuk ingatanku. Ingatan buruk yang ku ingat bisa
saja membunuhku. Orang tuaku menangis. Tangisannya tertahan berharap aku tidak
bisa mendengarnya.
Aku mendapatkan
perawatan intensif selama aku di rumah sakit. Total sudah 1 bulan aku disini
sejak terbangun dari koma. Kondisi tubuhku sudah membaik, hanya saja ingatanku
masih sama. Aku masih menderita amnesia.
Beberapa orang
datang menjenguk. Nayla, katanya (lagi) dia sahabatku sejak SMA. Dia datang
bersama suaminya. Ah suami. Apa aku juga memiliki suami? Saat aku menanyakan
hal itu pada Nayla, dia menatap ibuku ragu.
“Kamu sudah lama
bercerai, setahun yang lalu” Ibuku memberi jawaban.
“Oh, sayang
sekali aku gagal.” Aku mendesah kecewa.
***
3 Maret 2015
Hari ini aku
pulang kerumah. Seorang pembantu rumah tangga menyambutku dengan ramah, seolah
sangat merindukanku. Ayah membawaku ke kamar untuk beristirahat sementara ibu
pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Dalam ingatanku,
aku memang tidak mengingat rumah ini. Tapi hatiku pasti mengingatnya. Aku lahir
dan besar disini, aku merasa tidak asing. Sesuatu yang membuatmu nyaman
walaupun kamu tidak mengingatnya.
Setelah makan
siang, aku kembali ke kamar. Kepalaku sedikit pusing. Kurebahkan badanku. Sesekali
aku mencoba meneliti seluruh sudut di kamar ini. Sebuah piagam yang menepel di
dinding menarik perhatianku. Wah juara photografi tingkat nasional. Aku
tersenyum, seolah bangga dengan diriku sendiri. Di meja tepat dibawah piagam,
ada sebuah kamera yang mungkin aku gunakan untuk mengikuti perlombaan itu. Aku
ingin mencoba memotretnya tapi tidak kutemukan memori di dalamnya.
Aku pun
mencari-cari di laci meja. Namun tetap tak ada. Aku malah menemukan sebuah
cincin. Apa ini cincin kawinku? Gumamku.
Aku berjalan
kembali ke ranjangku sembari terus memperhatikan cincin kawin yang begitu indah
ini. Aku menyematkannya di jariku. Sangat pas dan sangat cantik. Kemudian
akupun terlelap.
***
Januari 2010
Aku kalah. Selalu
saja begitu. Dari dulu aku selalu jatuh berkali-kali karenanya.
Namanya Dika.
Mahardika. Dia teman sekolahku. Lebih tepatnya mungkin musuh bebuyutanku sejak
SMP. Dan ironisnya kita malah sekelas sejak kelas 1 SMA sampai sekarang
menginjak kelas 3 semester akhir.
Dia terpilih
menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan kami melalui sebuah voting yang
melibatkan seluruh siswa kelas 3. Aku berada di posisi kedua dan akhirnya
terpilih menjadi wakil ketua.
“Udah deh Na, lo
harus mengakui kekalahan.” Ucapnya saat melihat wajahku yang cemberut.
Ucapannya terdengar sangat arogan membuatku semakin kesal.
“Siapa yg gak
ngakuin kekalahan? Jangan asal ngomong deh lo dik!”
“Santai dong, gue
lebih populer daripada lo, itu fakta.”
Uh. Dia senang
sekali membuatku kesal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat telingaku
sakit.
“Iya deh Mr.
Popular. Ah, atau gue harus panggil Ketua mulai sekarang. Lo kan seneng banget
disanjung-sanjung.” Aku menepuk pundak Dika sekuat tenaga. Sebenernya maksud
tersembunyi gue adalah PUKULAN DISENGAJA YANG DISAMARKAN SEBAGAI TEPUKAN
DUKUNGAN.
Mahardika. Aku tak
tahu alasan yang sebenarnya kenapa kami selalu berseteru. Seingatku perseteruan
kami bermula saat kelas 2 SMP. Seorang cowok badung yang hobby bolos tiba-tiba
berubah menjadi cowok teladan yang selalu mendapat peringkat satu. Bukan hanya
di kelas tapi nilainya juga paling besar se-SMP Patriot 1 ini. Entah apa yang
membuatnya berubah, tapi setelah dia berubah menjadi cowok Popular yang pintar
dan aktif berorganisasi, dia seolah mengambil lahanku untuk bersinar. Ya.
Sebelumnya akulah si Bintang sekolah bukan dia.
Sejak saat itu, kami
selalu saling kejar-mengejar prestasi. Saling menyalip untuk mendapatkan
perhatian guru dan siswa lainnya. Cek cok sudah biasa diantara kami.
“Mulai sekarang,
gue bakal bikin lo jatuh berkali-kali di depan gue.” Aku masih ingat kalimat yang
di ucapkan Dika saat mendeklarasikan perang denganku. Aku bisa melihat raut
kemarahan dan kebencian terpancar untukku. Aku begidik, sedikit takut
sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku dan kenapa dia ingin ‘menjatuhkanku
berkali-kali’. Namun karena sikapnya yang sangat tidak bersahabat padaku,
akhirnya membuatku sangat membencinya. Kami terkenal sebagai duo Na and Dika
(Katanya sodara kembarnya Tom And Jerry). Dan yang lebih menyebalkannya lagi,
kita bukan hanya satu SMA sekarang tapi juga 1 kelas.
Neraka. Itulah perasaanku
tentang kelas kami. Kalau Aku dan Dika sedang adu argumen tentang suatu
permasalahan yang dilontarkan guru, seluruh kelas hening. Adu argumen kami
selalu berakhir dengan teriakanku yang sudah melewati batas emosional. Aku
selalu kalah. Begitulah cara dia menjatuhkanku. Aku tidak tahu otaknya terbuat
dari apa, tapi aku pikir dia siswa yang sangat jenius. Dengan berat hati aku
harus mengakui itu. Tapi sikap arrogannya itu selalu membuat semua kelebihan
dia minus di depanku.
“Pengumuman.....”
Terdengar suara Ibu wakil kepala sekolah di speaker kelas. “.....setelah melalu
hasil voting seluruh siswa kelas 3, Mahardika siswa kelas 3 IPA 1 terpilih
menjadi ketua panitia pelepasan siswa kelas 3 tahun ini. Selamat.”
Ruangan kelas pun
semakin riuh dengan ucapan selamat. Jabatan sebagai ketua Panitia Pelepasan
siswa adalah sebuah jabatan terhormat di sekolahku. Saat kamu terpilih penjadi
Ketua Panitia, itu berarti bahwa teman-teman seangkatan sangat menghormati kamu
selama 3 tahun bersekolah disini. Jabatan yang selalu diperebutkan oleh
siswa-siswa kelas 3 yang berprestasi dan mencuri perhatian. Tidak semua siswa
populer dapat terpilih, karena siswa lainnya juga akan mempertimbangkan masalah
tanggungjawab. Seberapa besar kamu percaya pada orang yang akan
bertanggungjawab pada acara sakral seperti perpisahan sekolah. Sebuah acara
yang sangat emosional.
Dika menatapku
dengan wajah arogannya. Seperti ingin menunjukan bahwa dia, sekali lagi,
berhasil menjatuhkanku.
“Keena juga terpilih
jadi wakil ketua.” Dia menunjuk ke arahku. “Mohon kerjasamanya, ibu wakil.” Dia
mengerlingkan matanya padaku. Sedetik kemudian aku merasa ingin muntah.
Speaker kembali
berdengung. “Pengumuman. Pihak sekolah baru saja mendapatkan kabar yang
menggembirakan. Salah satu siswa kita, Keena Anastasia, siswa kelas 3 IPA 1
berhasil menjuarai lomba photografi tingkat nasional. Selamat dan terus
berkarya.”
“Nay, yang gue
denger bener kan? Gue....Gue juara Nay!” aku memekik bahagia.
“Iya Na. Selamat
Na” Nayla memeluku, begitu juga dengan anak-anak lain yang bergantian
mengucapkan selamat. Bintang hari ini berganti dalam hitungan menit, dari Dika
ke Aku.
Aku melihat Dika
dengan wajah pamerku. Tersenyum dengan lebar pertanda bahwa kali ini aku
menang, menyalip euporianya. Namun dia malah membalas senyumku sinis dan
menggumamkan sesuatu. “Se-la-mat. Bu-wa-kil”. Dia selalu membuatku sangat
kesal. Selalu.
“Na, sampai kapan
lo mau terus gak akur sama Dika sih? Gak capek apa berantem mulu?” Nayla
membuka percakapan setelah mendengar aku menyumpahi arogansi Dika sedemikian
rupa.
“Capek sih iya.
Tapi gimana lagi, orangnya sengak banget. Sebel banget gue Nay. Sumpah!” ucapku
berapi-api.
“Awas loh jangan
terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh.”
“Jodoh? Please
deh Nay. Gue jodoh sama Dika? Gak mungkin. Mimpi buruk banget jodoh sama cowok
kasar dan arogan kayak dia.” Aku gak habis pikir kenapa Nayla sempet-sempetnya
berfikiran seperti itu. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Ralat.
Aku pernah membayangkan hal itu tapi dulu. (Catat: DULU!)
***
Aku terbangun
dari tidurku. Hmmm hangat. Sehangat pelukan seseorang. Aku menggeliat malas.
Cup. Ada yang mencium kepalaku. Pelukannya terasa semakin kuat dan semakin
hangat.
“Good morning,
sayang.” Ucap orang itu. Aku tersentak sepertinya aku sangat mengenal suara
itu. Aku berbalik perlahan sambil berdo’a bahwa semua ini hanya mimpi.
“Arrrrrgggghhhhh”
Aku teriak sekeras mungkin sambil terus memukuli orang itu. Shit! Aku menyadari
bahwa tubuh kami berdua hanya tertutup oleh 1 selimut.
“Cabul..... dasar
cabul....” Aku berteriak, menangis dan terus memukuli Dika. Ya, orang yang
sedang tidur bersamaku adalah Mahardika. Musuh bebunyutanku. Kenapa aku bisa
tidur dengannya? Apa aku mabuk, terus semua ini terjadi? Tapi ini tidak
mungkin. Aku tidak pernah minum-minuman keras.
“Sayang, are you
okay?” Dika mencoba menenangkanku. Menahan tanganku agar tidak terus
memukulinya.
“Brengsek lo
Dika! Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Kita kan masih sekolah!” Aku menatap
kejam matanya tentu dengan sisa-sisa airmataku yang tumpah ruah seperti
pancuran.
“Sekolah? Itu
hampir 5 tahun yang lalu sayang! Kamu mimpi ya?” Dika mengelus rambutku
khawatir.
Aku mengedarkan
pandanganku ke sekeliling kamar. Ini jelas bukan kamarku. Terasa asing. Di
salah satu dinding terpasang sebuah foto pernikahan. What? Aku dan Dika
menikah? Ini gak masuk akal, aku pasti cuma mimpi. Please bangun Na. Bangun.
Oh
baby I’ll take you to the sky, Forever you and I......
(Petra S-Mine)
Suara nada dering
dari lagu yang sama sekali tidak ku kenal menyadarkanku di tengah kebingungan.
“Yang, kok diem
aja. Itu handphone-nya bunyi.” Dengan sedikit linglung, ku raih sebuah HP di
meja samping tempat tidur.
“Halo?”
“Gak baru bangun
kan?” Aku langsung menyadari suara ibuku.
“Jadi kan belanja
bareng buat acara syukuran pindah ke rumah barunya? Ayo siap-siap udah siang
nanti kehabisan bahan-bahan yang masih segar.”
“Iya, mam.” Aku
segera menutup telepon dari Ibuku. Kulihat wallpaper di layar HP-ku adalah foto
kami berdua. Aku dan Dika. Tertulis pula di layar : 24 Agustus 2014
Wait? 2014? Apa
ini berarti aku time traveler ke masa depan seperti di film-film? Aku berharap
semua ini hanyalah mimpi namun entah kenapa terasa begitu nyata.
Mama katanya akan
menjemputku kerumah. Dari tadi aku hanya diam dan berusaha menghindari
berbicara atau berinteraksi dengan Dika. Dika senang sekali melakukan kontak
fisik denganku. Tiba-tiba memelukku, tiba-tiba mengelus kepalaku. Telingaku
masih agak ‘gak terima’ saat Dika memanggilku mesra dengan kata ‘sayang’,
‘dear’, ataupun ‘honey’. Rasanya sedikit jijik dan geli kalau mengingat
sikapnya padaku kemarin eh apa aku harus menyebutnya ‘dahulu’ karena aku datang
dari masa lalu? Tapi aneh aja gitu, kok Dika bisa berubah seperti ini sikapnya
padaku. Apa yang membuat dia jatuh cinta padaku? Wah ternyata sebesar apapun
setidaksukaan seorang Mahardika padaku tetap tidak bisa menolak inner beauty
dari seorang Keena. Hahahaha. Rasa bangga entah darimana menjalar keseluruh
tubuhku.
“Kamu aneh hari
ini.” Dika duduk di depanku. Memberikan segelas susu padaku.
“Ayo diminum biar
sehat.” Dia tersenyum sambil, sekali lagi melakukan kontak fisik, mengacak-acak
sayang rambutku.
Aku tiba-tiba
begidik mengingat kenyataan bahwa semalam aku baru saja melakukan ‘itu’ dengan
seorang Mahardika. Aku tidak punya pilihan selain berdo’a bahwa ini cuma mimpi
belaka. Dan saat aku membuka mata besok, aku kembali ke kehidupanku sebagai
Keena siswi SMA.
Wajahku dan wajah
Dika tidak jauh berbeda dengan saat kami di SMA. Hanya saja penampilan kami
sedikit dewasa. Dika, harus aku akui, hmm gimana ya cara menjelaskannya. HOT.
Dewasa. Dan ternyata ganteng banget. Ditambah sikapnya yang sangat lembut
padaku, sedikit membuatku goyah dan menikmati penjalanan mimpi ini – aku masih
tidak percaya tentang time traveler – So mari kita menyebutnya perjalanan
mimpi.
Mama datang,
wajah mama pun tidak jauh berbeda. Aku memeluk mama dengan bahagia. Paling
tidak aku tidak merasa akward saat bersama mama, tidak seperti saat aku hanya
berdua saja dengan Dika. Dika menyalami mama. Mama tersenyum sambil mengelus
kepala Dika dengan sayang. Sepertinya mama sangat menyukai menantu seperti
Dika.
“Mama pinjam Na
sebentar ya Dik!” mama mengerlingkan matanya pada Dika. Dika langsung
memberikan simbol OK dengan tangannya. Dia kemudian mencium pipiku lembut.
Terserah mau mengatakan aku gila atau gak tau malu, tapi aku menikmatinya, maksudku
perlakuan spesial Dika padaku. Sepertinya aku sangat menyakini kalau ini hanya
perjalanan mimpi yang akan segera berakhir. Anggap saja ini hanya sekedar mimpi
erotis seorang remaja. Ya walaupun pasangannya adalah Mahardika si Arogan.
Hello ini cuma mimpi dan besok pagi aku akan bangun sebagai Na si siswi SMA.
Di pasar, aku
kebetulan bertemu dengan seseorang yang sangat ku kenal. Nayla.
“Nay! Gue seneng
banget ketemu lo saat ini.” aku menghambur memeluk Nayla.
“Hai, Na. Are you
ok?”
“Gue baik-baik
aja kok Nay.”
“Acara
syukurannya besok pagi ya?”
“Hmm.” Aku
menggangguk.
“Eh Nay, ada yang
mau gue ceritain ke lo. Lo pasti gak bakalan percaya deh.”
“Apaan?”
“Kayaknya lebih
enak kalo kita ngobrol sambil makan atau minum gitu deh. Yuk?”
“Ok.”
“Bentar, gue
bilang nyokap dulu ya. Tunggu disini.”
Aku pun
menghampiri mama, dan mengatakan padanya untuk pulang lebih dulu karena aku ada
urusan penting dengan Nayla.
***
“Ih gila ya
tempat ini gak ada yang berubah. Padahal beberapa tempat udah ada yang berubah
sedikit-sedikit.” Aku memulai percakapan. Nayla menampakan wajah bingungnya
padaku.
“Eh Nay, lo pasti
gak percaya kalo gue itu datang dari masa lalu. Gue kaget tiba-tiba pas gue
bangun disebelah gue ada Dika. OMG, gue masih inget banget lo pernah ngomong
gini ‘Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh’. Terus
besoknya gue udah ada di tahun 2014 dengan status gue menikah sama Dika. Gila
banget kan?” Aku nyerocos dihadapan Nayla. Aku sama sekali tidak berharap Nayla
mempercayai omonganku, karena aku tahu ini gila dan gak masuk di akal. Cuma aku
ngerasa plong aja setelah cerita ke Nayla.
“Gue tahu, saking
cintanya elo ke Dika sampe-sampe lo spaneng kayak gini Na.” Aku sudah menduga
jawaban Nayla pasti seperti ini.
“Gimana sih
ceritanya kok gue bisa nikah sama Dika, kayak aneh aja gitu. Kok bisa.”
“Kayaknya lo kena
sindrome misterius kayak 5 tahun yg lalu. Inget gak dulu lo juga ngomong
hal-hal aneh kayak gini ke gue? Dan anehnya gue percaya. Lebih tepatnya
berusaha memahami lo.”
“Maksudnya? Hal
aneh apa?”
“Lo bilang kalo
lo habis dari masa depan dan ternyata di masa depan lo nikah sama Dika. Sejak
saat itu lo kayak kepelet sama Dika. Cinta mati sampe-sampe lo bikin Dika putus
sama Renata. Katanya lo gak rela kalo ‘calon suami masa depan’ lo pacaran sama
orang lain tepat di depan lo. Gue mikir kayaknya lo abis kesurupan atau abis
ketiban balok. Hahahaha” Kali ini aku yang bingung mendengar penjelasan Nay
tentang bagaimana hubungan aku dan Dika dimulai. Jadi bukan Dika yang
tergila-gila padaku tapi aku yang ngejar-ngejar Dika. Ya Tuhan.
“Really?”
“Serius. Lo juga
bilang soal gelang dari masa depan yang ikut kebawa sama lo. Katanya itu hadiah
100 hari pernikahan dari Dika. Kalau gue inget soal itu, gue jadi mikir lo
bener-bener butuh psikiatris, Na. Tapi lo keukeuh bilang kalo lo gak gila. Tapi
emang sih selain perasaan cinta mati lo sama Dika yang bilang kalo Dika itu
‘calon suami masa depan’ lo, semuanya masih normal-normal aja. hahaha” Nayla
kembali tertawa.
“Terus lo percaya
gitu aja sama gue?”
“Kan gue udah
bilang, gue cuma mencoba memahami lo. Tapi lo bilang hal-hal aneh lainnya yang
terbukti bener. Kayak lo bilang kalo pas hari perpisahan, Ibunya Dika
meninggal. Dan itu beneran kejadian. Lo kayak punya kemampuan meramal.”
“Ibunya Dika
meninggal?” Aku syok. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi.
“Kanker.” Nay
berhenti sejenak, kemudian menyeruput kopinya. “Lo kelihatan sedih banget Na.
Terus lo selalu ada buat Dika sejak saat itu. Akhirnya lo pacaran dan menikah.
Kalo dipikir-pikir semua yang udah lo kasih tahu ke gue soal masa depan
semuanya kejadian. Termasuk soal gue sama Tony.” Dia tersenyum malu.
“Tony? Oh gebetan
lo yang ngenalin gue ke cowok brengsek itu (baca: Mantan, namanya Ravi).
Emangnya gue ngomong apaan soal kalian berdua?”
“Lo bilang kalo,
gue bakalan jadian dan nikah sama Tony.” Ucapnya sambil membentuk HATI dengan
tangannya ke arahku. Terlihat jelas kalau Nayla cinta mati sama Tony.
“Jadi sekarang lo
udah nikah sama Tony?”
“Setahun yang
lalu.”
***
Aku semakin
bingung dengan semua ini. Aku berharap esok hari, aku bisa kembali ke kehidupan
SMA. Aku ingin kembali dari perjalanan mimpi ini.
Saat aku masuk
kerumah, rumah terlihat gelap. Ternyata rumahku tidak terlalu jauh dari rumah
orang tuaku. Masih satu komplek namun beda Blok. Aku pun menyalakan lampu di
ruang tamu. Tak ada siapapun. Ah, syukurlah Dika belum pulang. Aku akan
langsung tidur supaya tidak perlu bertemu atau berbicara dengannya.
“Happy 100th days
for us, dear” Dika mengecup bibirku mesra. Ada sesuatu yang menjalar di
tubuhku. Aku merasakan hal aneh yang sulit di jelaskan saat dia terus saja
menciumi leherku. Aku mendorongnya perlahan setelah sekian lama mematung. Dia
sedikit kaget melihat reaksiku namun kemudian tersenyum.
“For you. Di pake
ya sayang.” Dia memberikan sebuah kotak kecil padaku. Aku pun membuka kotak itu
perlahan. Sebuah gelang yang sangat indah. Dika memakaikannya di pergelanganku.
“I love you, Na.
I love you so much. Aku pengen kita tetep sama-sama kayak gini terus. Aku
sayang banget sama kamu Na. Aku cuma punya kamu di dunia ini.” Dia memeluku
sambil terisak. Aku melepas pelukannya. Menatap wajahnya. Aku bisa merasakan
ketulusan dimatanya yang basah dengan air mata. Dia balik menatap mataku lekat,
penuh cinta, penuh kasih sayang. Dika yang ada di depanku sangatlah berbeda
dengan Dika yang aku kenal. Atau mungkin memang sebenarnya hati Dika selembut
ini. Hanya saja yang dinampakan padaku hanya sebuah tembok yang sengaja dia
tinggikan?
“I love you too.”
Aku menjawabnya. Melihat Dika menangis, tanpa sadar air mataku juga mengalir
tak terbendung.
Dika menyeka air
mataku dengan tangannya. Kemudian kami kembali berciuman. Kali ini aku juga
membalas ciumannya. Ciuman hangat nan mesra berubah menjadi ciuman intens yang
mendebarkan.
Malam pun ikut
tersenyum melihat sepasang kekasih bergulat mesra dalam cinta. Bulan juga
seakan cemburu melihat kami yang menyatu dalam satu nafas. Aku dan Dika
tersenyum penuh kasih melihat mata bahagia yang terpancar dari masing-masing
kami. Cinta selalu begitu, merobohkan dinding yang kami bangun dengan mudahnya.
***
Januari 2010
Cahaya matahari
masuk melalui celah jendela kamar. Aku menggeliat sambil menutupi mata yang
silau karena cahaya matahari itu. Aku kemudian mengedarkan pandangan mataku ke
sekeliling kamar.
“Oh No!” Aku
sekarang berada di kamarku sendiri, kamar di rumah orang tuaku. Dan tentu saja
tidak ada Dika yang memelukku dengan hangat atau menatapku dengan penuh cinta.
Aku sedikit kecewa bahwa ini benar-benar hanya sebuah perjalanan mimpi. Ketika
kau terbangun dan semuanya menghilang.
Hari ini aku
harus bertemu dengan Dika yang lain. Dika yang arogan dan menyebalkan. Karena
itulah Dika yang nyata. Bukan Dika yang ada di mimpiku semalam.
Aku terkejut
bukan main melihat gelang yang di berikan Dika melingkar di pergelangan
tanganku. Ini bukan perjalanan mimpi. Aku benar-benar melakukan perjalanan
waktu ke masa depan. Sulit di percaya dan ini luar biasa.
Aku
berjinkrak-jinkrak kegirangan mengetahui bahwa apa yang aku alami bukanlah
mimpi. Dan aku juga bahagia karena itu berarti, aku memang akan menjadi istri
Mahardika. Ah aku benar-benar gila. Seperti kata Nayla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar