Selasa, 17 Maret 2015

BAGIAN 1 : KEENA MAHARDHIKA

5 Februari 2015

2 bulan aku mengalami koma, katanya.
Saat aku terbangun, aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa aku dan siapa orang-orang yang berdiri disekitarku dengan cemas. Aku menderita amnesia, begitulah katanya.

Katanya, katanya. Aku hanya mendengar penjelasan singkat dari orang lain tanpa ada sedikitpun yang aku ingat.

Saat berusaha mengingatnya, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat bahkan sampai membuatku pingsan. Orang tuaku terlihat sangat panik ketika tubuhku terkulai di lantai akibat serangan vertigo tersebut.

Aku mendengar pembicaraan orang tuaku dengan dokter saat itu. Dokter menyarankan agar aku menghindari sesuatu –seperti ingatan- yang bisa membuatku drop. Tubuhku belum kuat menerima pukulan besar untuk ingatanku. Ingatan buruk yang ku ingat bisa saja membunuhku. Orang tuaku menangis. Tangisannya tertahan berharap aku tidak bisa mendengarnya.

Aku mendapatkan perawatan intensif selama aku di rumah sakit. Total sudah 1 bulan aku disini sejak terbangun dari koma. Kondisi tubuhku sudah membaik, hanya saja ingatanku masih sama. Aku masih menderita amnesia.

Beberapa orang datang menjenguk. Nayla, katanya (lagi) dia sahabatku sejak SMA. Dia datang bersama suaminya. Ah suami. Apa aku juga memiliki suami? Saat aku menanyakan hal itu pada Nayla, dia menatap ibuku ragu.

“Kamu sudah lama bercerai, setahun yang lalu” Ibuku memberi jawaban.
“Oh, sayang sekali aku gagal.” Aku mendesah kecewa.

***
3 Maret 2015

Hari ini aku pulang kerumah. Seorang pembantu rumah tangga menyambutku dengan ramah, seolah sangat merindukanku. Ayah membawaku ke kamar untuk beristirahat sementara ibu pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.

Dalam ingatanku, aku memang tidak mengingat rumah ini. Tapi hatiku pasti mengingatnya. Aku lahir dan besar disini, aku merasa tidak asing. Sesuatu yang membuatmu nyaman walaupun kamu tidak mengingatnya.

Setelah makan siang, aku kembali ke kamar. Kepalaku sedikit pusing. Kurebahkan badanku. Sesekali aku mencoba meneliti seluruh sudut di kamar ini. Sebuah piagam yang menepel di dinding menarik perhatianku. Wah juara photografi tingkat nasional. Aku tersenyum, seolah bangga dengan diriku sendiri. Di meja tepat dibawah piagam, ada sebuah kamera yang mungkin aku gunakan untuk mengikuti perlombaan itu. Aku ingin mencoba memotretnya tapi tidak kutemukan memori di dalamnya.

Aku pun mencari-cari di laci meja. Namun tetap tak ada. Aku malah menemukan sebuah cincin. Apa ini cincin kawinku? Gumamku.
Aku berjalan kembali ke ranjangku sembari terus memperhatikan cincin kawin yang begitu indah ini. Aku menyematkannya di jariku. Sangat pas dan sangat cantik. Kemudian akupun terlelap.

***
Januari 2010

Aku kalah. Selalu saja begitu. Dari dulu aku selalu jatuh berkali-kali karenanya.
Namanya Dika. Mahardika. Dia teman sekolahku. Lebih tepatnya mungkin musuh bebuyutanku sejak SMP. Dan ironisnya kita malah sekelas sejak kelas 1 SMA sampai sekarang menginjak kelas 3 semester akhir.

Dia terpilih menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan kami melalui sebuah voting yang melibatkan seluruh siswa kelas 3. Aku berada di posisi kedua dan akhirnya terpilih menjadi wakil ketua.

“Udah deh Na, lo harus mengakui kekalahan.” Ucapnya saat melihat wajahku yang cemberut. Ucapannya terdengar sangat arogan membuatku semakin kesal.

“Siapa yg gak ngakuin kekalahan? Jangan asal ngomong deh lo dik!”

“Santai dong, gue lebih populer daripada lo, itu fakta.”

Uh. Dia senang sekali membuatku kesal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat telingaku sakit.

“Iya deh Mr. Popular. Ah, atau gue harus panggil Ketua mulai sekarang. Lo kan seneng banget disanjung-sanjung.” Aku menepuk pundak Dika sekuat tenaga. Sebenernya maksud tersembunyi gue adalah PUKULAN DISENGAJA YANG DISAMARKAN SEBAGAI TEPUKAN DUKUNGAN.

Mahardika. Aku tak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kami selalu berseteru. Seingatku perseteruan kami bermula saat kelas 2 SMP. Seorang cowok badung yang hobby bolos tiba-tiba berubah menjadi cowok teladan yang selalu mendapat peringkat satu. Bukan hanya di kelas tapi nilainya juga paling besar se-SMP Patriot 1 ini. Entah apa yang membuatnya berubah, tapi setelah dia berubah menjadi cowok Popular yang pintar dan aktif berorganisasi, dia seolah mengambil lahanku untuk bersinar. Ya. Sebelumnya akulah si Bintang sekolah bukan dia.

Sejak saat itu, kami selalu saling kejar-mengejar prestasi. Saling menyalip untuk mendapatkan perhatian guru dan siswa lainnya. Cek cok sudah biasa diantara kami.

“Mulai sekarang, gue bakal bikin lo jatuh berkali-kali di depan gue.” Aku masih ingat kalimat yang di ucapkan Dika saat mendeklarasikan perang denganku. Aku bisa melihat raut kemarahan dan kebencian terpancar untukku. Aku begidik, sedikit takut sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku dan kenapa dia ingin ‘menjatuhkanku berkali-kali’. Namun karena sikapnya yang sangat tidak bersahabat padaku, akhirnya membuatku sangat membencinya. Kami terkenal sebagai duo Na and Dika (Katanya sodara kembarnya Tom And Jerry). Dan yang lebih menyebalkannya lagi, kita bukan hanya satu SMA sekarang tapi juga 1 kelas.
Neraka. Itulah perasaanku tentang kelas kami. Kalau Aku dan Dika sedang adu argumen tentang suatu permasalahan yang dilontarkan guru, seluruh kelas hening. Adu argumen kami selalu berakhir dengan teriakanku yang sudah melewati batas emosional. Aku selalu kalah. Begitulah cara dia menjatuhkanku. Aku tidak tahu otaknya terbuat dari apa, tapi aku pikir dia siswa yang sangat jenius. Dengan berat hati aku harus mengakui itu. Tapi sikap arrogannya itu selalu membuat semua kelebihan dia minus di depanku.

“Pengumuman.....” Terdengar suara Ibu wakil kepala sekolah di speaker kelas. “.....setelah melalu hasil voting seluruh siswa kelas 3, Mahardika siswa kelas 3 IPA 1 terpilih menjadi ketua panitia pelepasan siswa kelas 3 tahun ini. Selamat.”

Ruangan kelas pun semakin riuh dengan ucapan selamat. Jabatan sebagai ketua Panitia Pelepasan siswa adalah sebuah jabatan terhormat di sekolahku. Saat kamu terpilih penjadi Ketua Panitia, itu berarti bahwa teman-teman seangkatan sangat menghormati kamu selama 3 tahun bersekolah disini. Jabatan yang selalu diperebutkan oleh siswa-siswa kelas 3 yang berprestasi dan mencuri perhatian. Tidak semua siswa populer dapat terpilih, karena siswa lainnya juga akan mempertimbangkan masalah tanggungjawab. Seberapa besar kamu percaya pada orang yang akan bertanggungjawab pada acara sakral seperti perpisahan sekolah. Sebuah acara yang sangat emosional.

Dika menatapku dengan wajah arogannya. Seperti ingin menunjukan bahwa dia, sekali lagi, berhasil menjatuhkanku.

“Keena juga terpilih jadi wakil ketua.” Dia menunjuk ke arahku. “Mohon kerjasamanya, ibu wakil.” Dia mengerlingkan matanya padaku. Sedetik kemudian aku merasa ingin muntah.

Speaker kembali berdengung. “Pengumuman. Pihak sekolah baru saja mendapatkan kabar yang menggembirakan. Salah satu siswa kita, Keena Anastasia, siswa kelas 3 IPA 1 berhasil menjuarai lomba photografi tingkat nasional. Selamat dan terus berkarya.”

“Nay, yang gue denger bener kan? Gue....Gue juara Nay!” aku memekik bahagia.

“Iya Na. Selamat Na” Nayla memeluku, begitu juga dengan anak-anak lain yang bergantian mengucapkan selamat. Bintang hari ini berganti dalam hitungan menit, dari Dika ke Aku.

Aku melihat Dika dengan wajah pamerku. Tersenyum dengan lebar pertanda bahwa kali ini aku menang, menyalip euporianya. Namun dia malah membalas senyumku sinis dan menggumamkan sesuatu. “Se-la-mat. Bu-wa-kil”. Dia selalu membuatku sangat kesal. Selalu.

“Na, sampai kapan lo mau terus gak akur sama Dika sih? Gak capek apa berantem mulu?” Nayla membuka percakapan setelah mendengar aku menyumpahi arogansi Dika sedemikian rupa.

“Capek sih iya. Tapi gimana lagi, orangnya sengak banget. Sebel banget gue Nay. Sumpah!” ucapku berapi-api.

“Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh.”
“Jodoh? Please deh Nay. Gue jodoh sama Dika? Gak mungkin. Mimpi buruk banget jodoh sama cowok kasar dan arogan kayak dia.” Aku gak habis pikir kenapa Nayla sempet-sempetnya berfikiran seperti itu. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Ralat. Aku pernah membayangkan hal itu tapi dulu. (Catat: DULU!)

***
Aku terbangun dari tidurku. Hmmm hangat. Sehangat pelukan seseorang. Aku menggeliat malas.

Cup. Ada yang mencium kepalaku. Pelukannya terasa semakin kuat dan semakin hangat.

“Good morning, sayang.” Ucap orang itu. Aku tersentak sepertinya aku sangat mengenal suara itu. Aku berbalik perlahan sambil berdo’a bahwa semua ini hanya mimpi.

“Arrrrrgggghhhhh” Aku teriak sekeras mungkin sambil terus memukuli orang itu. Shit! Aku menyadari bahwa tubuh kami berdua hanya tertutup oleh 1 selimut.

“Cabul..... dasar cabul....” Aku berteriak, menangis dan terus memukuli Dika. Ya, orang yang sedang tidur bersamaku adalah Mahardika. Musuh bebunyutanku. Kenapa aku bisa tidur dengannya? Apa aku mabuk, terus semua ini terjadi? Tapi ini tidak mungkin. Aku tidak pernah minum-minuman keras.

“Sayang, are you okay?” Dika mencoba menenangkanku. Menahan tanganku agar tidak terus memukulinya.

“Brengsek lo Dika! Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Kita kan masih sekolah!” Aku menatap kejam matanya tentu dengan sisa-sisa airmataku yang tumpah ruah seperti pancuran.

“Sekolah? Itu hampir 5 tahun yang lalu sayang! Kamu mimpi ya?” Dika mengelus rambutku khawatir.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Ini jelas bukan kamarku. Terasa asing. Di salah satu dinding terpasang sebuah foto pernikahan. What? Aku dan Dika menikah? Ini gak masuk akal, aku pasti cuma mimpi. Please bangun Na. Bangun.

Oh baby I’ll take you to the sky, Forever you and I...... (Petra S-Mine)

Suara nada dering dari lagu yang sama sekali tidak ku kenal menyadarkanku di tengah kebingungan.

“Yang, kok diem aja. Itu handphone-nya bunyi.” Dengan sedikit linglung, ku raih sebuah HP di meja samping tempat tidur.

“Halo?”

“Gak baru bangun kan?” Aku langsung menyadari suara ibuku.

“Jadi kan belanja bareng buat acara syukuran pindah ke rumah barunya? Ayo siap-siap udah siang nanti kehabisan bahan-bahan yang masih segar.”
“Iya, mam.” Aku segera menutup telepon dari Ibuku. Kulihat wallpaper di layar HP-ku adalah foto kami berdua. Aku dan Dika. Tertulis pula di layar : 24 Agustus 2014
Wait? 2014? Apa ini berarti aku time traveler ke masa depan seperti di film-film? Aku berharap semua ini hanyalah mimpi namun entah kenapa terasa begitu nyata.

Mama katanya akan menjemputku kerumah. Dari tadi aku hanya diam dan berusaha menghindari berbicara atau berinteraksi dengan Dika. Dika senang sekali melakukan kontak fisik denganku. Tiba-tiba memelukku, tiba-tiba mengelus kepalaku. Telingaku masih agak ‘gak terima’ saat Dika memanggilku mesra dengan kata ‘sayang’, ‘dear’, ataupun ‘honey’. Rasanya sedikit jijik dan geli kalau mengingat sikapnya padaku kemarin eh apa aku harus menyebutnya ‘dahulu’ karena aku datang dari masa lalu? Tapi aneh aja gitu, kok Dika bisa berubah seperti ini sikapnya padaku. Apa yang membuat dia jatuh cinta padaku? Wah ternyata sebesar apapun setidaksukaan seorang Mahardika padaku tetap tidak bisa menolak inner beauty dari seorang Keena. Hahahaha. Rasa bangga entah darimana menjalar keseluruh tubuhku.

“Kamu aneh hari ini.” Dika duduk di depanku. Memberikan segelas susu padaku.

“Ayo diminum biar sehat.” Dia tersenyum sambil, sekali lagi melakukan kontak fisik, mengacak-acak sayang rambutku.

Aku tiba-tiba begidik mengingat kenyataan bahwa semalam aku baru saja melakukan ‘itu’ dengan seorang Mahardika. Aku tidak punya pilihan selain berdo’a bahwa ini cuma mimpi belaka. Dan saat aku membuka mata besok, aku kembali ke kehidupanku sebagai Keena siswi SMA.

Wajahku dan wajah Dika tidak jauh berbeda dengan saat kami di SMA. Hanya saja penampilan kami sedikit dewasa. Dika, harus aku akui, hmm gimana ya cara menjelaskannya. HOT. Dewasa. Dan ternyata ganteng banget. Ditambah sikapnya yang sangat lembut padaku, sedikit membuatku goyah dan menikmati penjalanan mimpi ini – aku masih tidak percaya tentang time traveler – So mari kita menyebutnya perjalanan mimpi.

Mama datang, wajah mama pun tidak jauh berbeda. Aku memeluk mama dengan bahagia. Paling tidak aku tidak merasa akward saat bersama mama, tidak seperti saat aku hanya berdua saja dengan Dika. Dika menyalami mama. Mama tersenyum sambil mengelus kepala Dika dengan sayang. Sepertinya mama sangat menyukai menantu seperti Dika.

“Mama pinjam Na sebentar ya Dik!” mama mengerlingkan matanya pada Dika. Dika langsung memberikan simbol OK dengan tangannya. Dia kemudian mencium pipiku lembut. Terserah mau mengatakan aku gila atau gak tau malu, tapi aku menikmatinya, maksudku perlakuan spesial Dika padaku. Sepertinya aku sangat menyakini kalau ini hanya perjalanan mimpi yang akan segera berakhir. Anggap saja ini hanya sekedar mimpi erotis seorang remaja. Ya walaupun pasangannya adalah Mahardika si Arogan. Hello ini cuma mimpi dan besok pagi aku akan bangun sebagai Na si siswi SMA.

Di pasar, aku kebetulan bertemu dengan seseorang yang sangat ku kenal. Nayla.

“Nay! Gue seneng banget ketemu lo saat ini.” aku menghambur memeluk Nayla.

“Hai, Na. Are you ok?”

“Gue baik-baik aja kok Nay.”

“Acara syukurannya besok pagi ya?”

“Hmm.” Aku menggangguk.

“Eh Nay, ada yang mau gue ceritain ke lo. Lo pasti gak bakalan percaya deh.”

“Apaan?”

“Kayaknya lebih enak kalo kita ngobrol sambil makan atau minum gitu deh. Yuk?”

“Ok.”

“Bentar, gue bilang nyokap dulu ya. Tunggu disini.”

Aku pun menghampiri mama, dan mengatakan padanya untuk pulang lebih dulu karena aku ada urusan penting dengan Nayla.

***
“Ih gila ya tempat ini gak ada yang berubah. Padahal beberapa tempat udah ada yang berubah sedikit-sedikit.” Aku memulai percakapan. Nayla menampakan wajah bingungnya padaku.

“Eh Nay, lo pasti gak percaya kalo gue itu datang dari masa lalu. Gue kaget tiba-tiba pas gue bangun disebelah gue ada Dika. OMG, gue masih inget banget lo pernah ngomong gini ‘Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh’. Terus besoknya gue udah ada di tahun 2014 dengan status gue menikah sama Dika. Gila banget kan?” Aku nyerocos dihadapan Nayla. Aku sama sekali tidak berharap Nayla mempercayai omonganku, karena aku tahu ini gila dan gak masuk di akal. Cuma aku ngerasa plong aja setelah cerita ke Nayla.

“Gue tahu, saking cintanya elo ke Dika sampe-sampe lo spaneng kayak gini Na.” Aku sudah menduga jawaban Nayla pasti seperti ini.

“Gimana sih ceritanya kok gue bisa nikah sama Dika, kayak aneh aja gitu. Kok bisa.”

“Kayaknya lo kena sindrome misterius kayak 5 tahun yg lalu. Inget gak dulu lo juga ngomong hal-hal aneh kayak gini ke gue? Dan anehnya gue percaya. Lebih tepatnya berusaha memahami lo.”

“Maksudnya? Hal aneh apa?”

“Lo bilang kalo lo habis dari masa depan dan ternyata di masa depan lo nikah sama Dika. Sejak saat itu lo kayak kepelet sama Dika. Cinta mati sampe-sampe lo bikin Dika putus sama Renata. Katanya lo gak rela kalo ‘calon suami masa depan’ lo pacaran sama orang lain tepat di depan lo. Gue mikir kayaknya lo abis kesurupan atau abis ketiban balok. Hahahaha” Kali ini aku yang bingung mendengar penjelasan Nay tentang bagaimana hubungan aku dan Dika dimulai. Jadi bukan Dika yang tergila-gila padaku tapi aku yang ngejar-ngejar Dika. Ya Tuhan.

“Really?”

“Serius. Lo juga bilang soal gelang dari masa depan yang ikut kebawa sama lo. Katanya itu hadiah 100 hari pernikahan dari Dika. Kalau gue inget soal itu, gue jadi mikir lo bener-bener butuh psikiatris, Na. Tapi lo keukeuh bilang kalo lo gak gila. Tapi emang sih selain perasaan cinta mati lo sama Dika yang bilang kalo Dika itu ‘calon suami masa depan’ lo, semuanya masih normal-normal aja. hahaha” Nayla kembali tertawa.

“Terus lo percaya gitu aja sama gue?”

“Kan gue udah bilang, gue cuma mencoba memahami lo. Tapi lo bilang hal-hal aneh lainnya yang terbukti bener. Kayak lo bilang kalo pas hari perpisahan, Ibunya Dika meninggal. Dan itu beneran kejadian. Lo kayak punya kemampuan meramal.”

“Ibunya Dika meninggal?” Aku syok. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi.

“Kanker.” Nay berhenti sejenak, kemudian menyeruput kopinya. “Lo kelihatan sedih banget Na. Terus lo selalu ada buat Dika sejak saat itu. Akhirnya lo pacaran dan menikah. Kalo dipikir-pikir semua yang udah lo kasih tahu ke gue soal masa depan semuanya kejadian. Termasuk soal gue sama Tony.” Dia tersenyum malu.

“Tony? Oh gebetan lo yang ngenalin gue ke cowok brengsek itu (baca: Mantan, namanya Ravi). Emangnya gue ngomong apaan soal kalian berdua?”

“Lo bilang kalo, gue bakalan jadian dan nikah sama Tony.” Ucapnya sambil membentuk HATI dengan tangannya ke arahku. Terlihat jelas kalau Nayla cinta mati sama Tony.

“Jadi sekarang lo udah nikah sama Tony?”

“Setahun yang lalu.”

***
Aku semakin bingung dengan semua ini. Aku berharap esok hari, aku bisa kembali ke kehidupan SMA. Aku ingin kembali dari perjalanan mimpi ini.

Saat aku masuk kerumah, rumah terlihat gelap. Ternyata rumahku tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Masih satu komplek namun beda Blok. Aku pun menyalakan lampu di ruang tamu. Tak ada siapapun. Ah, syukurlah Dika belum pulang. Aku akan langsung tidur supaya tidak perlu bertemu atau berbicara dengannya.

“Happy 100th days for us, dear” Dika mengecup bibirku mesra. Ada sesuatu yang menjalar di tubuhku. Aku merasakan hal aneh yang sulit di jelaskan saat dia terus saja menciumi leherku. Aku mendorongnya perlahan setelah sekian lama mematung. Dia sedikit kaget melihat reaksiku namun kemudian tersenyum.

“For you. Di pake ya sayang.” Dia memberikan sebuah kotak kecil padaku. Aku pun membuka kotak itu perlahan. Sebuah gelang yang sangat indah. Dika memakaikannya di pergelanganku.
“I love you, Na. I love you so much. Aku pengen kita tetep sama-sama kayak gini terus. Aku sayang banget sama kamu Na. Aku cuma punya kamu di dunia ini.” Dia memeluku sambil terisak. Aku melepas pelukannya. Menatap wajahnya. Aku bisa merasakan ketulusan dimatanya yang basah dengan air mata. Dia balik menatap mataku lekat, penuh cinta, penuh kasih sayang. Dika yang ada di depanku sangatlah berbeda dengan Dika yang aku kenal. Atau mungkin memang sebenarnya hati Dika selembut ini. Hanya saja yang dinampakan padaku hanya sebuah tembok yang sengaja dia tinggikan?

“I love you too.” Aku menjawabnya. Melihat Dika menangis, tanpa sadar air mataku juga mengalir tak terbendung.

Dika menyeka air mataku dengan tangannya. Kemudian kami kembali berciuman. Kali ini aku juga membalas ciumannya. Ciuman hangat nan mesra berubah menjadi ciuman intens yang mendebarkan.

Malam pun ikut tersenyum melihat sepasang kekasih bergulat mesra dalam cinta. Bulan juga seakan cemburu melihat kami yang menyatu dalam satu nafas. Aku dan Dika tersenyum penuh kasih melihat mata bahagia yang terpancar dari masing-masing kami. Cinta selalu begitu, merobohkan dinding yang kami bangun dengan mudahnya.

***
Januari 2010

Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar. Aku menggeliat sambil menutupi mata yang silau karena cahaya matahari itu. Aku kemudian mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling kamar.

“Oh No!” Aku sekarang berada di kamarku sendiri, kamar di rumah orang tuaku. Dan tentu saja tidak ada Dika yang memelukku dengan hangat atau menatapku dengan penuh cinta. Aku sedikit kecewa bahwa ini benar-benar hanya sebuah perjalanan mimpi. Ketika kau terbangun dan semuanya menghilang.

Hari ini aku harus bertemu dengan Dika yang lain. Dika yang arogan dan menyebalkan. Karena itulah Dika yang nyata. Bukan Dika yang ada di mimpiku semalam.

Aku terkejut bukan main melihat gelang yang di berikan Dika melingkar di pergelangan tanganku. Ini bukan perjalanan mimpi. Aku benar-benar melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Sulit di percaya dan ini luar biasa.


Aku berjinkrak-jinkrak kegirangan mengetahui bahwa apa yang aku alami bukanlah mimpi. Dan aku juga bahagia karena itu berarti, aku memang akan menjadi istri Mahardika. Ah aku benar-benar gila. Seperti kata Nayla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar