BAB 4 : ANGIN PUJAAN HUJAN
“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.
Aku membeku. Wajahnya terlihat seperti malaikat. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku
jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.
“Kamu tidak apa-apa?” Dia bertanya. Suaranya terdengar
sangat merdu. Aku masih terdiam seperti orang bodoh.
“Kami persilahkan kepada Direktur Daun Publisher untuk
menyampaikan sambutannya. Bapak Arya Dava Putra kami persilahkan” terdengar
suara MC memulai acara, sementara aku masih menatap wajah pria ini.
Orang yang sedang kupandangi tersenyum kepadaku dan
kemudian berjalan menuju panggung. Jadi pria tampan ini adalah Direktur Daun
Publisher? Aku mengira-ngira usianya sekitar 26 atau 27 tahun dan dia sudah
menjadi CEO. Dia benar-benar luar biasa. Tunggu! Jadi dia????
“Selamat malam kepada para Dewan Direksi dan juga para
penulis kebanggaan Daun Publisher. Tahun ini kembali kita bisa berkumpul
bersama menyaksikan suksesnya Perusahaan ini menjadi Perusahan penerbit nomor 1
di Indonesia” Ruangan pun riuh dengan suara tepuk tangan. Kalimat selanjutnya
yang keluar darinya adalah segala pencapaian Daun Publisher selama setahun dan
3 tahun terakhir. Aku begitu terkesima dengan auranya yang luar biasa. Cara dia
berdiri, cara dia berbicara, cara dia menatap tegas mata-mata audience yang hadir membuatnya terlihat
begitu sempurna.
Dia melanjutkan pidatonya “Malam ini, saya akan memberitahukan
sebuah rahasia kepada kalian. Rahasia bahwa saya juga seorang penulis” Pria itu
tertawa rikuh, antara bangga dan malu.
Dia mengeluarkan sebuah buku dan menunjukannya kepada semua orang.
“Kemarau. Aku yang menulis buku ini” Semua orang tercengang kecuali aku yang sebelumnya diberitahu oleh mba Maya kalau Mr. K adalah CEO Daun Publisher. Menurut mba Maya, si CEO tidak ingin para wartawan tahu soal nama pena-nya karena malas jika nantinya harus menerima banyak tawaran wawancara. Fakta ini membuatku semakin kagum dengannya. Namun mungkin juga sedikit kecewa karena Mr. K ternyata bukanlah Aditya. Entah kenapa aku masih berharap berjodoh dengan Adit. Berharap Adit dan Mala berpisah. Kemudian Adit menulis sebuah buku dan berharap aku bisa mengenalinya. Seperti itulah skenario bodoh dan terlalu sinetron yang ada dikepalaku.
Kemarau memang tidak se-populer Denting Hati yang menjadi
Book of the Year. Tapi Kemarau juga termasuk jajaran buku best seller dan punya
penggemarnya sendiri. Aku sudah mengantongi identitas Kemarau, yang harus aku
lakukan sekarang adalah mendapatkan wawancara ekslusif dengannya. Maka masalah
‘pecat-dipecat’ akan selesai.
Setelah acara, aku memutuskan untuk menunggu Arya di luar gedung. ‘Sekali
dayung dua tiga pulau terlampaui’, pikirku. Selain bisa mendapatkan wawancara
ekslusif aku juga akan berusaha mendekatinya. Dia adalah orang
yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Perasaan yang sama seperti
yang kurasakan pada Adit, dulu. Sedikit gila memang, tapi begitulah aku. Apabila aku sudah memilih satu orang, maka orang itu akan menjadi segalanya untukku. Dengan mengesampingkan apakah kami bisa bersama atau tidak tentunya.
Arya terlihat keluar dari gedung dengan sekretarisnya.
Aku pun bergegas berlari menghampirinya.
“Pak Arya, bisa minta waktunya sebentar?”
Arya menatapku sejenak seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
Arya menatapku sejenak seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
“Ah, kamu orang katering tadi kan? Kenapa? Ada masalah?”
“Nama saya Karina Larasati, saya wartawan dari Brave
Magazine” ucapku seraya memberikan kartu nama. Satu hal yang membuatku senang bekerja di kantor majalah BRAVE adalah kebanggaan saat kamu mengeluarkan kartu nama. Bekerja di sebuah majalah besar dan terkenal seperti BRAVE memang memberikan kepercayaan diri lebih bagi karyawannya.
“Wartawan? Bagaimana seorang wartawan bisa masuk ke acara
tertutup kita dan berpura-pura menjadi karyawan katering?” Arya bertanya pada sekretarisnya dengan nada sedikit marah. Si
sekretaris hanya diam.
“Lain kali perketat penjagaan.”
“Baik Pak” jawab si sekretaris sedikit membungkuk.
“Ada perlu apa ya?”
“Begini Pak Arya, Saya ingin mewawancarai anda sebagai
penulis buku Kemarau” Aku menjelaskan maksud mengapa aku menemuinya.
“Maaf mbak Karin, tapi saya tidak berminat untuk di
wawancarai. Lebih baik anda pergi sekarang” Arya mengembalikan kartu namaku dan
berlalu menuju mobilnya. Aku berlari mengejar. Tak mau mengalah.
“Tolong di pertimbangkan pak. Ini masalah hidup dan mati
saya. Kalau pak Arya bersedia saya wawancarai, pak Arya sudah benar-benar
menolong saya” Aku sungguh tidak mau dan tidak akan menyerah.
“Kenapa aku harus menolong kamu. Saya sudah katakan, saya
tidak tertarik. Pak Wahyu ayo cepat jalankan mobilnya!”
“Pak Arya...Pak mohon dipertimbangkan!” Aku berteriak
sangat kencang berharap dia bisa mendengar ucapanku.
Kenapa aku berfikir bahwa ini akan lebih sulit sekarang. Pria
bernama Arya itu benar-benar sombong dan arogan. Tidak ada bedanya dengan si
arogan Clara Haniffan dari gunung gundul. Hatinya sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.
Kenapa aku harus menolong kamu? Hah kata-katanya seperti
pisau. Jangan-jangan dia tidak pernah menolong orang asing sebelumnya.
Dengan mau di wawancarai itu berarti dia mau
berbagi pemikirannya tentang buku yang dia buat. Mungkin saja ada orang-orang
seperti kemarau diluar sana yang masih terperangkap dalam penjara yang dia buat
sendiri. Buku dan kata-kata yang si penulis lontarkan akan membantu mereka
memecahkan tembok-tembok tinggi yang membelenggu mereka.
Dan tentu saja, membantu seseorang yang tidak bersalah
sepertiku agar tidak dipecat dari pekerjaannya.
Aku berfikir keras untuk membujuknya. Pekerjaanku dipertaruhkan disini.
Di hari berikutnya
aku mengirimkan sebuah karangan bunga dan kuselipkan surat permintaan
wawancara, namun berselang beberapa menit karangan bunga itu sudah tergeletak
di teras gedung. Membuatku semakin kesal saja.
Bahkan aku mencegatnya saat Arya hendak pulang. Namun si
sekretaris menghalangiku dengan sigap. Tunggu dulu, aku belum menyerah sampai
disitu. Siang tadi bahkan aku sudah mengempesi ban mobilnya. Hahahaha
Si sekretaris yang juga menjadi supir pribadi Arya keluar
dari mobil dan keheranan melihat ban depan sebelah kanan sudah kempes. Arya
menurunkan kaca mobilnya “Kenapa,Pak?”
“Kempes Pak Arya”
“Kok bisa? Perasaan kemaren baru aja di service?”
“Saya juga bingung.” Si sekretaris menggaruk kepalanya
pertanda kebingungan.
"Padahal aku harus fitting Jas buat acara nanti malam."
"Padahal aku harus fitting Jas buat acara nanti malam."
Kemudian terlihat Arya menoleh padaku. Demi tuhan, aku sudah siap
dilaporkan ke polisi. Tatapannya yang tajam menyelidikku. Membuatku gugup.
Arya pun turun dari mobilnya dan menghampiriku. Aku
mendadak gelisah. Aku tahu ini sudah sangat keterlaluan, tapi aku benar-benar
kesal. Aku sudah beberapa hari seperti tuna wisma yang menjajah kantornya –
lebih tepatnya tidur di kursi lobi gedung seharian – dan begitu dia melihatku,
aku seperti dianggap seekor nyamuk demam berdarah yang patut dimusnahkan.
“Perbuatanmu kan?” Arya langsung menuduhku. Aku
menggeleng “Jangan menuduh tanpa bukti!”
Dia kemudian melihat sekeliling. "Ah, apa kita harus memeriksa CCTV?"
Aku panik. Wajahku terasa panas. Sial, kenapa aku tidak sadar kalau di dekat sana ada CCTV. “Maaf...” aku mendesah
pasrah, dengan wajah sedikit memelas aku melanjutkan “....tapi aku melakukannya karena sudah terlalu kesal.”
Dia mendekat satu langkah ke arahku dan sedikit mencondongkan wajahnya. Menatapku lekat dan kemudian terlihat memikirkan sesuatu. Aku merasakan sesuatu yang jahat sedang direncanakannya.
“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”
Entah apa yang direncanakannya. Namun aku melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang akan menyelamatkan pekerjaanku. Semoga.