Rabu, 04 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (2)

BAB 2 : KETIKA KEMARAU MENGHILANG

23 Desember 2007

“Ketika kita sudah menikah, katanya hujan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita bisa memeluk suami kita sampai kita merasa hangat. Tapi saat kita masih sendiri, kita hanya bisa memeluk guling kesayangan kita dengan pandangan kosong”

Itulah yang Mala ucapkan. Dia tersenyum melihat rintikan hujan diluar sana.

“Hei, jangan-jangan kamu berpikir untuk langsung menikah setelah lulus SMA?” Aku meledek Mala sambil menepuk pundaknya.

Dia memalingkan wajahnya menghadapku “Kenapa tidak? Aku tidak ingin selalu memeluk guling saat hujan turun” dia berkata dengan sangat percaya diri.

“Paling tidak kamu harus sudah punya calon yang bisa menggantikan gulingmu itu”

“Calon? Aku sudah punya kok” Jawab Mala enteng, sedikit sinis.

“Hah, sama siapa? Kenapa kamu gak pernah kenalin pacar kamu ke aku?” Entah kenapa aku merasa kesal dan marah pada Mala. Kenapa dia tidak pernah menceritakan tentang kisah cintanya padaku. Apa aku termasuk sahabat yang buruk?

Dia malah tersenyum sambil menatap kembali rintikan hujan.

“Namun hujan telah merubah kemarau” nada suaranya berubah saat mengucapkan kalimat itu.

“Siapa yang merubah siapa?” Aku sedikit tertawa karena hujan adalah nama penaku yang hanya diketahui oleh Mala.

“Aku sangat membenci hujan saat ini karena hujan sudah merubah kemarau” Mala bergumam lagi. Kali ini sambil menatapku.

“Mala? Are you okay? Kamu bersikap aneh beberapa hari ini.”

“Baik? Mana mungkin aku baik-baik saja saat hujan merubah kemarau. Aku sangat menyukai kemarau. Aku melakukan segala cara agar kemarau tidak berubah” suaranya terdengar tak beraturan. Mala seperti sedang menahan amarah dan tangisnya.

“Mala...” aku memegang pundaknya yang membelakangiku dan mencoba menenangkannya. Dia berulangkali mengatakan bahwa hujan telah merubah kemarau. Siapa yang merubah dan siapa yang berubah, aku sungguh tidak mengerti maksud dari perkataan Mala.

Dia berbalik menatapku, menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda kepadaku. “Kemarau tidak boleh berhenti menjadi kemarau. Aku akan mencegahnya!” tangisnya mulai membasahi pipi putihnya. Dan tatapan marahnya seperti pisau yang bersiap membunuhku. Aku tidak mengerti kenapa Mala bersikap seperti itu. Mala kemudian membawa tas nya dan berlari meninggalkanku sendiri di ruang kelas ini.

Aku membenci hujan yang telah merubah kemarau. Kalimat yang keluar dari mulut Mala masih terngiang di kepalaku.

Perlahan ku buka amplop biru yang sudah lusuh itu. Di dalamnya ada selembar kertas yang seolah memanggil agar aku membacanya.

Hujan, berapa lama lagi kau akan turun?
Kemarau ingin datang menjumpa hujan.
Namun jika kemarau datang maka hujan akan menghilang.
Bisakah kau berhenti menjadi hujan?
Dan aku akan berhenti menjadi kemarau.

Bisakah kita hanya menjadi manusia biasa saja?
Bisakah kita hanya menjadi Karina dan Aditya saja?

Aku lelah menjadi kemarau.
Aku ingin berlari dari kesendirianku. Seperti katamu.
Datanglah sore ini ke atap sekolah saat aku berhenti menjadi kemarau dan kamu berhenti menjadi hujan!
                                                                       
Tidak terasa aku menangis. Mengapa hatiku terasa perih setelah membacanya? Aditya benar-benar menyadari keberadaanku. Dia ingin menjumpa hujan.

Kemarau akan menelanku jika dia datang. Demi bisa bersama dengan hujan, kemarau akan berhenti menjadi kemarau. Dan demi bersama kemarau, aku pun harus berhenti menjadi hujan. Tapi dunia ini tidak bisa bila tidak ada hujan dan kemarau. Apakah Hujan dan kemarau hanya akan selalu berdampingan namun tidak bisa bersama.

Aku berlari menuju atap. Tak kutemukan seorangpun disana. Kubuka lagi surat itu,

20 Desember 2007
Teruntuk Hujan
Dari Kemarau

Terlambat, kemarau telah menghilang. Tinggalah sekarang hujan yang menangisi hilangnya kemarau.

xxxx

Hari ini Mala menghindariku. Walaupun kami duduk satu bangku dia sama sekali tidak berbicara padaku.
Mala kini telah benar-benar berubah. Dan aku mengerti. Lebih tepatnya, berusaha mengerti.

Kemala menyukai Kemarau.

Saat istirahat aku memaksanya untuk bicara empat mata denganku. Aku pun membawanya ke atap sekolah.

"Kita harus bicara Mala!" Aku memulai percakapan.

“Oh....Jadi di atap ini Hujan dan Kemarau berencana untuk bertemu dan menghilang bersama? Sayang sekali aku menggagalkannya” Mala malah tersenyum sinis padaku.

“Sejak kapan kamu menyukai Adit” aku bertanya tak mengiraukan ucapannya tadi.

“Sebelum kamu menyukai dia”

“Sebelum aku? Aku menyukai Adit sejak hari pertama MOS”

“Aku sejak SMP”

“Kalian satu SMP? Jadi kamu selama ini berusaha menahan perasaanmu pada Adit di depanku?”

“Tepat seperti itu. Aku menahannya sampai rasanya ingin mati. Adit adalah cinta pertamaku. Aku masuk sekolah ini agar bisa terus bersamanya.”

“Mala....kenapa kamu baru bicara sekarang soal ini?”

“Tanpa sepengetahuanmu aku memang sudah dekat dengan Adit. Aku melakukan banyak hal agar bisa terus dekat dengannya. Tidak seperti kamu, pengecut yang hanya bisa menempelkan kertas berisi sampah di mading.”

“Bicaramu terlalu kasar Mala?” aku mencoba menahan amarahku mendengar kalimat kasarnya.

“Kamu berharap dia menemukan siapa hujan? Hahahaha. Aku melakukan segala cara untuk membuatnya tidak menemukanmu dan mendekatimu”

“Terus kenapa kemarin kamu memberikan surat itu padaku? Surat yang memberitahu hujan bahwa kemarau mengenali hujan. Kenapa?”

“Karena kemarau sudah berubah. Hujan sudah merubah Kemarau. Dia bahkan menulis surat dan berusaha menemui hujan. Aku sudah lelah berpura-pura baik dan berteman denganmu. Kali ini aku benar-benar serius tidak akan memberikan celah sedikitpun untukmu.”

“Jadi selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai temanmu? Kamu hanya ingin memastikan bahwa kemarau selamanya tidak menemukan hujan?”

“Aku dan Adit dijodohkan sejak SMP”

“Apa?” Jujur aku terkejut mendengarnya. Kalimat dijodohkan sejak SMP membuatku sedikit menahan senyum karena ini bukan zaman Siti Nurbaya.

“Kami akan menikah dan kuliah di universitas yang sama. Gara-gara kamu, bahkan adit berusaha membatalkan perjodohan kita. Namun itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak akan membiarkannya.”

Aku mematung mendengar apa yang dikatakan Mala.

Entah kenapa aku bisa melihat tatapan mengerikan di mata Mala. Tatapan yang seolah akan melahapmu kapanpun dia mau.

Adit ingin membatalkan perjodohannya untukku? Dan apa yang membuat Mala begitu percaya diri bahwa pembatalan perjodohan itu tidak akan terjadi? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku, namun tak ada satupun jawaban yang memuaskanku.

Dan setelah kejadian itu, aku pun menyerah begitu saja seperti orang bodoh. Aku juga menyerah pada cintaku. Aku bahkan membuangnya di selokan, berharap air hujan membawanya. Aku hanya ingin melupakannya. Melupakan pria yang bahkan mundur sebelum berjuang.

Sejak itulah akupun berhenti membuat puisi untuknya. Hujan telah mati. Hujan tak lagi bisa bahagia. Yang tersisa hanyalah tangisan dan amarah.

Pengecut? Ya, itulah aku. Aku bahkan tak berani bertanya apapun saat dia lewat di depanku. Aku menganggap bahwa hujan tidak pernah membaca surat dari kemarau.

Sepertinya kemarau juga sama pengecutnya sepertiku. Kemarau tetap menjadi kemarau. Dan aku, hujan tetap menjadi hujan. Tak ada yang berubah dan tak ada yang bisa merubahnya karena kita sendiri yang tidak mau berubah.

Kami melewati tahun ketiga masa SMA begitu saja.
Setelah acara perpisahan sekolah, aku mendengar Mala dan Adit akan menikah dan kuliah bersama di Australia.
Ahhh Mala akan segera menemukan pengganti guling kesayangannya. Aku sungguh iri. Sangat iri!

Sementara aku,

Aku masih belum tahu apa yang aku ingin lakukan. Aku seperti kehilangan kompas. Butuh waktu cukup lama untuk memutuskan jalan mana yang akan aku ambil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar