Hujan : ketika langit tak lagi biru
BAB 1 : Kemarau Menjumpa Hujan
20 Desember
2014
Aku bermimpi. Sebuah bintang telah jatuh tepat di halaman rumahku. Anehnya,
bintang itu sama sekali tidak merusak apapun disekelilingnya.
Sang bintang mengeluarkan cahaya yang sangat indah namun menyilaukan. Aku
berusaha mendekat. Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan aku terbangun.
Jam menunjukan pukul 06.00 WIB. Aku menggeliat dengan
enggan. Kuregangkan sedikit otot-ototku yang kusebut itu sebagai olahraga pagi
dan berjalan menuju jendela sembari membawa guling kesayanganku.
“Huh” aku mendesah kesal. Hujan mengguyur rumah kecilku
dengan derasnya. Bagaimana aku bisa pergi bekerja hari ini? Aku hanya berharap
langit segera mengisap awan hitam yang sedang menangis itu.
Hei Hujan! Ketika kau menangis bisakah kau hanya menangis
sendiri? Ah sayangnya awan itu selalu membagikan kesedihannya pada semua orang.
Berbeda denganku yang selalu menangis sendiri.
Ya, Menangis sendiri.
Aku merasa tak perlu bangga dan sombong kepada awan.
Menangis sendiri bukanlah hal yang bisa kau sombongkan dengan senyum bangga.
Menangis sendiri adalah sebuah kesunyian dalam hidup yang sangat amat
menyedihkan.
Hujan terlihat semakin deras. Suaranya terdengar seperti
amarah yang ditumpahkan kepada alam. Aku juga ingin menangis seperti itu dan
menumpahkan semua amarah kesedihanku kepada.......Ah aku ingat, aku tidak punya
siapapun. Aku mendesah lagi ketika dingin mulai menyerang.
Seseorang pernah berkata “Ketika kita sudah menikah, katanya hujan adalah sesuatu yang sangat
menyenangkan. Kita bisa memeluk suami kita sampai kita merasa hangat. Tapi saat
kita masih sendiri, kita hanya bisa memeluk guling kesayangan kita dengan
pandangan kosong”
Kalimat itu adalah kalimat yang di ucapkan Mala padaku
saat SMA. Ketika kami berdua memandangi gemericik hujan di balik jendela kelas.
Hal ini jelas sangat menjengkelkan! Kenapa aku bisa mengingat kalimat itu
dengan sangat jelas? Bukan sebagai istri yang memeluk suaminya sampai dia
merasa hangat, namun sebagai seseorang yang masih sendiri yang memeluk guling
kesayangannya dengan tatapan kosong. Menyedihkan sangat menyedihkan. Mungkin
Mala sekarang sedang memeluk suaminya. Aku benar-benar membenci gadis itu. Aku
memandangi guling dengan tatapan marah dan kesal.
“INGATLAH INI GULING. AKU AKAN SEGERA MENGGANTIMU DENGAN
SESUATU YANG BUKAN HANYA BISA MENGHANGATKANKU TAPI JUGA BISA MEMBALAS
PELUKANKU” Kugigit guling tak berdosa itu. Dan saat itu aku mengingat sebuah
puisi yang aku buat saat SMA.
Sebuah puisi tentang kesendirian yang akhirnya
merubah seseorang.
Seseorang yang selalu memiliki tempat di hatiku.
Seseorang yang tanpa sadar selalu aku tunggu.
Seseorang yang membuatku sangat serakah.
Seseorang yang.........seperti kemarau, sangat gersang.
Ketika kesendirian menjadi sebuah kebiasaan.
Kesendirian tak lagi terasa menakutkan.
Kau bisa mengerti bahasa kesunyian.
Dan berbincang-bincang layaknya teman.
Teman barumu kemudian menelanmu.
Mengikatmu dan membatasi langkahmu.
Seolah dunia ini hanya seluas bayanganmu.
Namun kamu merasa nyaman dengan itu.
Kesendirian memang menakutkan
Lebih menakutkan lagi saat berubah menjadi kebiasaan.
Larilah selagi kau bisa! (Bisakah aku lari dari
kesendirianku?)
Untuk Dimas Aditya Firmansyah
Dari Hujan
20 Desember 2007
“Apa aku bisa lari dari kesendirianku?”
Aku tersentak melihat seseorang berdiri tepat didepanku.
Orang itu baru saja mengatakan kalimat terakhir dari puisiku.
Dia kemudian mengulangi pertanyaannya, “Apa aku bisa lari
dari kesendirianku?”
Ini adalah kali pertama dia berbicara seperti ini padaku. Aku memang
pernah berbicara banyak hal dengannya namun itu untuk urusan majalah sekolah dimana
aku ‘dipaksa’ untuk mewawancarainya. Saat ini, dia memulai pembicaraan santai
denganku. Nyatakah ini? Entah kenapa tak ada satu katapun yang berhasil keluar
dari mulutku. Aku masih mematung.
“Kamu mendengarku?” Dia kembali bertanya sambil menatapku.
Aku bisa memasuki matanya. Kami hanya terdiam dan
bertatapan untuk waktu yang cukup lama.
“Adit...ya.” Aku mencoba memecah kesunyian namun gagal. Aku
kembali terdiam. Entah kenapa lorong sekolah terasa sangat sunyi. Hanya
terdengar suara gemericik hujan yang menyentuh tanah dengan bahagia.
“Hujan...” Adit tersenyum dan berjalan mendekat 1
langkah. Aku goyah, kakiku membawaku mundur 1 langkah.
Apa dia tahu
kalau aku hujan? Gumamku dalam hati.
“Hujan semakin deras hari ini.” Dia melanjutkan
kalimatnya yg tadi terhenti dan kemudian berjalan melewatiku sambil tersenyum.
Bahasa tubuhnya seperti menggodaku. Seolah dia tahu bahwa aku itu hujan namun
berpura-pura tidak tahu didepanku. Aku masih bisa mencium baunya yang bercampur
dengan bau hujan. Suara langkah kakinya berpadu dengan suara hujan membentuk
sebuah alunan nada yang terdengar indah di telingaku.
Dimas Aditya Firmansyah. Seseorang yang membuatku jatuh
cinta pada pandangan pertama. Seseorang yang sejak masa orientasi dua setengah tahun yang
lalu terlihat sangat bersinar. Sinarnya menyilaukan namun membuatmu tak
berhenti menatapnya.
“Mala.... barusan aku ketemu Adit” dengan suara gemetar
aku menghampiri sahabatku.
“Terus?” Jawab Mala seolah tak peduli dan hanya fokus
pada soal-soal Kimia yang dia kerjakan.
“Dia mengucapkan kalimat terakhir dalam puisiku. Apa dia
akhirnya tau kalau Hujan itu aku?” Aku berbicara setengah berbisik.
“Mungkin” Jawab Mala singkat, lagi-lagi tanpa menatapku.
Aku mendesah
dan mencoba mengatur nafasku yang sedari tadi tidak beraturan. Sikap
Mala yang seolah tidak tertarik dengan ceritaku membuatku tak nyaman.
Sudah 2 tahun aku melakukannya. Menempelkan sebuah puisi
di mading sekolah secara diam-diam. Menulis semua yang ku rasakan padanya dalam
sebuah puisi dan berharap dia membacanya. Kemudian berharap dia akan mencari
tahu siapa itu Hujan. Dan aku juga berharap dia membalas puisi-puisiku dengan
menempelkannya di mading seperti yang kulakukan.
Namun tahun pun berlalu begitu saja. Aku mulai menyerah
pada harapan dia mencari tahu tentang siapa itu Hujan. Menyerah pada harapan
dia membalas puisi-puisiku. Aku tetap menulis puisi-puisi untuknya seperti
sebuah kebiasaan. Aku hanya merasa sangat kosong bila tidak melakukannya.
Hari ini, kenapa Hujan tiba-tiba menumbuhkan tanaman
bunga di sekitarnya?Tetesannya bahkan sampai membasahi hatiku. Salahkah bila
kali ini aku benar-benar berharap?
Demi pria pendiam nan cerdas itu, aku telah menolak
beberapa pria yang menyukaiku. Kecuali Aldo, satu-satunya pacarku ketika SMA. Aldo adalah hasil comblangan Mala. Dia 2 tahun lebih tua dariku. Hubungan kami berakhir karena dia melanjutkan kuliah di Singapura. Kami hanya berpacaran selama 5 bulan.
Aku selalu berfikir bahwa perasaanku pada Aldo hanya pelarianku saja. Pelarian dari ketidakberanianku dalam hubungan 'tak nampak' antara aku dan Adit. Kadang aku berfikir untuk berusaha mendekati Adit dengan cara normal –bukan dengan cara sok misteriusku – tapi aku mendapati
diriku tidak seberani itu.
Bahkan saat aku berkesempatan mewawancarainya untuk
majalah sekolah, mulutku tetap kelu dan kaku.
Aku merasa tak cukup hebat dan percaya diri untuk bersanding
dengannya. Tapi, mau sampai kapan aku harus seperti ini? Aku pun tidak tau jawabannya.
Dia menjawab setiap pertanyaanku secukupnya, tidak lebih tidak
kurang, semakin membuatku mati kutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar