Rabu, 04 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (1)

Hujan : ketika langit tak lagi biru

BAB 1 : Kemarau Menjumpa Hujan

20 Desember 2014

Aku bermimpi. Sebuah bintang telah jatuh tepat di halaman rumahku. Anehnya, bintang itu sama sekali tidak merusak apapun disekelilingnya.
Sang bintang mengeluarkan cahaya yang sangat indah namun menyilaukan. Aku berusaha mendekat. Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan aku terbangun.

Jam menunjukan pukul 06.00 WIB. Aku menggeliat dengan enggan. Kuregangkan sedikit otot-ototku yang kusebut itu sebagai olahraga pagi dan berjalan menuju jendela sembari membawa guling kesayanganku.

“Huh” aku mendesah kesal. Hujan mengguyur rumah kecilku dengan derasnya. Bagaimana aku bisa pergi bekerja hari ini? Aku hanya berharap langit segera mengisap awan hitam yang sedang menangis itu.

Hei Hujan! Ketika kau menangis bisakah kau hanya menangis sendiri? Ah sayangnya awan itu selalu membagikan kesedihannya pada semua orang. Berbeda denganku yang selalu menangis sendiri.


Ya, Menangis sendiri.
Aku merasa tak perlu bangga dan sombong kepada awan. Menangis sendiri bukanlah hal yang bisa kau sombongkan dengan senyum bangga. Menangis sendiri adalah sebuah kesunyian dalam hidup yang sangat amat menyedihkan.

Hujan terlihat semakin deras. Suaranya terdengar seperti amarah yang ditumpahkan kepada alam. Aku juga ingin menangis seperti itu dan menumpahkan semua amarah kesedihanku kepada.......Ah aku ingat, aku tidak punya siapapun. Aku mendesah lagi ketika dingin mulai menyerang.

Seseorang pernah berkata “Ketika kita sudah menikah, katanya hujan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita bisa memeluk suami kita sampai kita merasa hangat. Tapi saat kita masih sendiri, kita hanya bisa memeluk guling kesayangan kita dengan pandangan kosong”

Kalimat itu adalah kalimat yang di ucapkan Mala padaku saat SMA. Ketika kami berdua memandangi gemericik hujan di balik jendela kelas. Hal ini jelas sangat menjengkelkan! Kenapa aku bisa mengingat kalimat itu dengan sangat jelas? Bukan sebagai istri yang memeluk suaminya sampai dia merasa hangat, namun sebagai seseorang yang masih sendiri yang memeluk guling kesayangannya dengan tatapan kosong. Menyedihkan sangat menyedihkan. Mungkin Mala sekarang sedang memeluk suaminya. Aku benar-benar membenci gadis itu. Aku memandangi guling dengan tatapan marah dan kesal.

“INGATLAH INI GULING. AKU AKAN SEGERA MENGGANTIMU DENGAN SESUATU YANG BUKAN HANYA BISA MENGHANGATKANKU TAPI JUGA BISA MEMBALAS PELUKANKU” Kugigit guling tak berdosa itu. Dan saat itu aku mengingat sebuah puisi yang aku buat saat SMA. 

Sebuah puisi tentang kesendirian yang akhirnya merubah seseorang.
Seseorang yang selalu memiliki tempat di hatiku.
Seseorang yang tanpa sadar selalu aku tunggu.
Seseorang yang membuatku sangat serakah.
Seseorang yang.........seperti kemarau, sangat gersang.

Ketika kesendirian menjadi sebuah kebiasaan.
Kesendirian tak lagi terasa menakutkan.
Kau bisa mengerti bahasa kesunyian.
Dan berbincang-bincang layaknya teman.

Teman barumu kemudian menelanmu.
Mengikatmu dan membatasi langkahmu.
Seolah dunia ini hanya seluas bayanganmu.
Namun kamu merasa nyaman dengan itu.

Kesendirian memang menakutkan
Lebih menakutkan lagi saat berubah menjadi kebiasaan.
Larilah selagi kau bisa! (Bisakah aku lari dari kesendirianku?)
                                                           
Untuk Dimas Aditya Firmansyah
Dari Hujan


20 Desember 2007 
“Apa aku bisa lari dari kesendirianku?”
Aku tersentak melihat seseorang berdiri tepat didepanku. Orang itu baru saja mengatakan kalimat terakhir dari puisiku.
Dia kemudian mengulangi pertanyaannya, “Apa aku bisa lari dari kesendirianku?”
Ini adalah kali pertama dia berbicara seperti ini padaku. Aku memang pernah berbicara banyak hal dengannya namun itu untuk urusan majalah sekolah dimana aku ‘dipaksa’ untuk mewawancarainya. Saat ini, dia memulai pembicaraan santai denganku. Nyatakah ini? Entah kenapa tak ada satu katapun yang berhasil keluar dari mulutku. Aku masih mematung.
“Kamu mendengarku?” Dia kembali bertanya sambil menatapku.
Aku bisa memasuki matanya. Kami hanya terdiam dan bertatapan untuk waktu yang cukup lama.

“Adit...ya.” Aku mencoba memecah kesunyian namun gagal. Aku kembali terdiam. Entah kenapa lorong sekolah terasa sangat sunyi. Hanya terdengar suara gemericik hujan yang menyentuh tanah dengan bahagia.

“Hujan...” Adit tersenyum dan berjalan mendekat 1 langkah. Aku goyah, kakiku membawaku mundur 1 langkah.

Apa dia tahu kalau aku hujan? Gumamku dalam hati.

“Hujan semakin deras hari ini.” Dia melanjutkan kalimatnya yg tadi terhenti dan kemudian berjalan melewatiku sambil tersenyum. Bahasa tubuhnya seperti menggodaku. Seolah dia tahu bahwa aku itu hujan namun berpura-pura tidak tahu didepanku. Aku masih bisa mencium baunya yang bercampur dengan bau hujan. Suara langkah kakinya berpadu dengan suara hujan membentuk sebuah alunan nada yang terdengar indah di telingaku.

Dimas Aditya Firmansyah. Seseorang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Seseorang yang sejak masa orientasi dua setengah tahun yang lalu terlihat sangat bersinar. Sinarnya menyilaukan namun membuatmu tak berhenti menatapnya.

“Mala.... barusan aku ketemu Adit” dengan suara gemetar aku menghampiri sahabatku.

“Terus?” Jawab Mala seolah tak peduli dan hanya fokus pada soal-soal Kimia yang dia kerjakan.

“Dia mengucapkan kalimat terakhir dalam puisiku. Apa dia akhirnya tau kalau Hujan itu aku?” Aku berbicara setengah berbisik.

“Mungkin” Jawab Mala singkat, lagi-lagi tanpa menatapku.

Aku mendesah dan mencoba mengatur nafasku yang sedari tadi tidak beraturan. Sikap Mala yang seolah tidak tertarik dengan ceritaku membuatku tak nyaman.

Sudah 2 tahun aku melakukannya. Menempelkan sebuah puisi di mading sekolah secara diam-diam. Menulis semua yang ku rasakan padanya dalam sebuah puisi dan berharap dia membacanya. Kemudian berharap dia akan mencari tahu siapa itu Hujan. Dan aku juga berharap dia membalas puisi-puisiku dengan menempelkannya di mading seperti yang kulakukan.

Namun tahun pun berlalu begitu saja. Aku mulai menyerah pada harapan dia mencari tahu tentang siapa itu Hujan. Menyerah pada harapan dia membalas puisi-puisiku. Aku tetap menulis puisi-puisi untuknya seperti sebuah kebiasaan. Aku hanya merasa sangat kosong bila tidak melakukannya.

Hari ini, kenapa Hujan tiba-tiba menumbuhkan tanaman bunga di sekitarnya?Tetesannya bahkan sampai membasahi hatiku. Salahkah bila kali ini aku benar-benar berharap?

Demi pria pendiam nan cerdas itu, aku telah menolak beberapa pria yang menyukaiku. Kecuali Aldo, satu-satunya pacarku ketika SMA. Aldo adalah hasil comblangan Mala. Dia 2 tahun lebih tua dariku. Hubungan kami berakhir karena dia melanjutkan kuliah di Singapura. Kami hanya berpacaran selama 5 bulan.

Aku selalu berfikir bahwa perasaanku pada Aldo hanya pelarianku saja. Pelarian dari ketidakberanianku dalam hubungan 'tak nampak' antara aku dan Adit. Kadang aku berfikir untuk berusaha mendekati Adit dengan cara normal –bukan dengan cara sok misteriusku – tapi aku mendapati diriku tidak seberani itu.

Bahkan saat aku berkesempatan mewawancarainya untuk majalah sekolah, mulutku tetap kelu dan kaku.
Aku merasa tak cukup hebat dan percaya diri untuk bersanding dengannya. Tapi, mau sampai kapan aku harus seperti ini? Aku pun tidak tau jawabannya.

Dia menjawab setiap pertanyaanku secukupnya, tidak lebih tidak kurang, semakin membuatku mati kutu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar