Rabu, 04 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (3)

BAB 3 : ANGIN PUJAAN HUJAN

10 Januari 2015

Aku berjalan melewati buku-buku yang berjejer di etalase dan rak-rak yang menjulang di sampingku. Beberapa anak kecil berlarian membuat beberapa buku terjatuh. Aku mengambil salah satu buku yang terjatuh tadi. Kemarau. Begitulah judul buku yang aku ambil. Untuk sesaat aku teringat pada Adit.

Aku kemudian membaca sinopsis buku itu. Kemarau menceritakan tentang seorang pria yang mencoba untuk mencari jalan hidupnya sendiri. Mempertahankan harga dirinya yang terakhir. Seorang pria yang berusaha keluar dari zona amannya untuk meraih satu hal saja yang sangat dia inginkan, Cinta. Sesuatu yang baginya sangat sulit di dapatkan. Buku ini mengingatkanku pada Kemarau yang kukenal.

Jariku terus saja memanduku untuk membuka lembar demi lembar buku itu. Ah aku sudah membuka pembungkusnya, sepertinya aku memang harus membeli buku ini. Aku pun berjalan menuju kasir dan segera membayar buku berjudul kemarau itu.

Lembar demi lembar telah berhasil aku baca, semakin banyak lembar yang ku baca, semakin aku masuk kedalamnya.

Aku ingin merasakan sedikit saja tetesan hujan di musim kemarau.
Gersang ketika kemarau, membuat hatiku mati..

Entah kenapa aku merasakan rasa kesepian dan kesedihan yang luar biasa dalam diri kemarau. Hujan yang terjadi secara terus menerus akan menimbulkan banjir bandang dan kemarau yang berlangsung lama pun akan membuat bumi ini kering dan gersang.

Bukankah Hujan dan Kemarau harus saling mengisi supaya petani tidak merugi?

Kalimat ini merubahku. Memberikan pukulan telak padaku. Selama ini aku selalu berpikir hujan dan kemarau tidak ditakdirkan untuk bersama. Paling tidak itulah yang terjadi padaku dan Adit. Namun aku mulai berpikir tentang saling mengisi. Ketika hujan sesekali membasahi hati kemarau dan ketika kemarau sesekali menyeka air mata hujan.

Penulisnya sangat piawai berkata-kata. Setiap kalimat yang tertulis begitu indah dilafalkan. Sungguh membuatku terkagum. Dengan sedikit suara desahan puas aku berhasil menutup lembaran terakhir dari buku itu. Buku yang tidak terlalu tebal, yang bisa kuselesaikan dalam waktu semalam.

Aku mencari-cari nama si penulis. ‘K’ hanya itu yang tertulis disampulnya. Si penulis hanya memberikan initial ‘K’.
Mr. K??? Kemarau??? Gumamku

11 Januari 2015

“Kamu mau dipecat? Ini semuanya sampah!” Pak Editor menggebrak meja di depanku. Dan menghamburkan kertas-kertas yang kuberikan padanya. Aku menggeleng dengan pandangan syok.

“Kamu tau? Kamu sudah benar-benar tidak produktif Karin. Tulisanmu semuanya tidak ada yang luar biasa untuk dijadikan bahan majalah kita” Dia melanjutkan.

“Maafkan saya, Pak” hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk saat ini.

“Maaf? Aku tidak butuh kata maaf! Aku cuma ingin ke-profesional-an kamu Karin! Aku tidak mau tahu, ini adalah kesempatan terakhirmu” Dia melempar selembar kertas kepadaku. Akupun memungutnya.

“Penulis Kemarau? Bapak minta saya mewawancarai Penulis buku Kemarau?” Aku terdiam sesaat

“Tapi Pak, Kemarau itu sangat misterius. Aku mengunjungi beberapa blog dan tidak ada yang tau siapa itu Kemarau, seperti apa rupanya dan bagaimana saya bisa menghubunginya” Lanjutku.

“Justru itu! Kita akan jadi majalah pertama yang berhasil mengungkap siapa itu Kemarau. Hal seperti ini adalah bagian dari visi dan misi Brave Magazine! Dapatkan wawancara ekslusif atau di pecat, itu pilihanmu!”

Menangkap kemarau atau dipecat? Tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan besar seperti Brave magazine. Jika aku ditendang, jalan untuk menjadi wartawan sukses dan mengalahkan si arogan Clara, punahlah sudah. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan wawancara ekslusif dari kemarau.


12 Januari 2015

‘DAUN PUBLISHER’

Aku tiba di tempat dimana kemarau diterbitkan. Aku sungguh penasaran dengan penulis buku ini. Aku tau ini sedikit sulit, namun aku tidak bisa menolak naluriku saat ini. Naluri tidak ingin dipecat.

Aku bertemu dengan salah satu karyawan Daun Publisher. Tanpa diduga, dia adalah mba Maya. Aku dan mba Maya belajar Yoga di tempat yang sama. Mba Maya mengatakan bahwa dia tidak bisa membantuku kali ini.

“Selain karena peraturan perusahaan. Mr.K juga sangat berbeda dari penulis yang lain. Dia benar-benar tidak ingin identitasnya diketahui orang-orang. Aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu.”

“Jadi tidak ada cara untuk bisa bertemu dengan dia? Aku benar-benar harus bertemu dengan Mr. K. Tolong bantu aku mba! Wawancara ini taruhannya adalah kontrak kerjaku. Ini kesempatan terakhir aku mba” Aku merajuk seperti anak kecil.

Mba Maya terdiam sejenak, dia terlihat sangat ragu-ragu. "Sebenarnya aku tau siapa itu Kemarau."

"Serius mba?" ucapku antusias.

"Aku mendengar secara tidak sengaja waktu itu."

"Siapa mba? Siapa?" Aku mulai tak sabar. Mba Maya kemudian membisikan sebuah nama yang membuatku cukup terkejut.

“Sebenarnya minggu depan kita akan mengundang para penulis yang berada di bawah DP untuk acara tahunan perusahaan. Tapi tidak ada wartawan yang di perbolehkan masuk ” mba maya menjelaskan sambil memberikan secangkir cappucino padaku.

“Wah! Bagaimana caranya supaya aku bisa masuk ke acara itu?”

“Aku tidak yakin. Yang bisa masuk ke acara itu hanya para penulis dan jajaran elit di perusahaan kita. Bisa dibilang acaranya benar-benar eksklusif”

Aku tidak boleh menyerah. Entah kenapa, fakta bahwa aku akan dipecat membuatku lebih berani, tidak seperti 5 tahun yang lalu ketika aku menyerah pada Adit – itu juga karena Adit menyerah padaku. Aku juga penasaran dengan sosok Kemarau. 

“Untuk acara minggu depan, pesankan katering di tempat biasa ya!” seorang wanita berusia sekitar 30an berkata pada seorang pria berkacamata tebal didepannya dan kemudian masuk kembali ke ruangannya.

Acara minggu depan? Ucapku dalam hati. Jangan-jangan! Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.

Aku mendekati pria itu. “Maaf mas, boleh saya tanya sesuatu?”

“Tentu, ada yang bisa saya bantu?”

“Mas biasa pesan katering dimana untuk acara kantor? Kantor tempat saya bekerja juga mau bikin acara gathering jadi saya lagi cari katering yang masakannya enak. Sepertinya kantor tempat mas kerja punya tempat katering langganan” aku menjelaskan dengan sangat panjang dan berharap dia tidak curiga mendengarnya.

“Ocean Cathering. Ini kartu namanya” Dia memberikan sebuah kartu nama padaku begitu saja.

“Ini Cathering keluargaku. Dijamin masakannya enak, mba!” Lanjutnya promosi. Akupun mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Untunglah dia tidak curiga.

Aku tahu ini gila. Tapi apa yang ada dipikiranku sekarang adalah suatu kegilaan yang harus aku lakukan. Aku merasa kali ini aku punya sebuah keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah.

Hari ini langit kembali menangis, aku mendengar suara gemuruh dan petir yang saling beradu. Aku membenci hujan karena hujan mengingatkanku pada diriku sendiri. Namun untuk saat ini aku membenci hujan karena telah mengotori sepatu baruku. Aku mendesah kesal sembari membersihkan sepatuku yang terkena cipratan air hujan.

Saat seperti ini ingatanku tentang Adit kembali muncul. Dalam hujan yang sama 9 tahun yang lalu.


Musim Hujan Januari 2006

Kami berdua terjebak di halte saat hujan deras mengguyur. Dia berdiri 3 langkah di depanku. Aku mengamatinya dengan seksama. Bahkan punggungnya pun terlihat begitu indah dimataku. Entahlah, mungkin cinta memang telah mengaburkan penglihatanku.

Selain kami berdua, ada juga sepasang kekasih yang terjebak bersama kami. Mereka berdua saling membersihkan sepatu mereka yang kotor karena hujan. Mereka juga saling berpegangan tangan memberi kehangatan satu sama lain. Tertawa seolah hujan adalah lagu cinta mereka. Sementara aku masih menatap punggung Adit dengan senyuman.

Tanpa kuduga Adit berbalik. Mata kami bertemu. Sungguh membuatku terkejut dan tanpa sadar buku yang kupegang jatuh begitu saja. Adit mendekat ke arahku dan membantu mengambil buku milikku yang terjatuh tadi. Saat itulah untuk pertama kalinya tangan kami bersentuhan.

Jantungku berdetak sangat kencang. Badanku sepertinya memiliki muatan listrik yang besar saat itu. Membuatku takut terkena hujan dan tersetrum. Aku berusaha menyadarkan diriku untuk tidak pingsan di depan Adit.

Hujan pun berganti menjadi gerimis. Aditya kemudian berlari menyebrang dan berlalu bersama sebuah bus yang melaju ke arah yang berlawanan denganku.

Begitulah. Adit tidak pernah berbicara padaku. Kami tidak pernah berkenalan secara resmi. Aku tahu dia. Dia tahu aku. Tentu sebagai sesama siswa satu sekolah. Hanya sebatas itu.  



17 Januari 2015

“Silahkan dinikmati makanannya” Aku berseru. Disinilah aku berada. Acara tahunan Daun Publisher. Setelah melakukan negosiasi yang alot dengan pemilik katering, akhirnya aku bisa masuk ke acara ini sebagai karyawan Ocean Cathering.

Acara ini terlihat cukup wah. Pesta bergaya vintage dengan warna dominan cream pada dekorasi interiornya. Para penulis duduk rapih di kursi yang sudah disediakan. Aku mengenal beberapa penulis yang datang hari ini.

Misalnya pria yang duduk di kursi paling depan, dia adalah Gege Pras. Penulis novel best seller ‘Borobudur’ yang fenomenal. Bahkan Borobudur sudah difilmkan dan ditonton oleh 5 juta orang. Dia adalah kebanggaan Daun Publisher sekaligus Maskot Perusahaan.

Wanita yang duduk di arah jam 2, dia Putria Adina. Penulis buku motivasi. Beberapa kali dia diundang ke acara-acara talkshow televisi. Wajahnya cantik dan pembawaannya juga cerdas. Baru-baru ini dia sedang terkena skandal perceraian dengan aktor papan atas, Bima Admoko. Ya, dia adalah istri dari aktor pemenang penghargaan FFI 2014 yang lalu.

Perempuan yang duduk di meja kedua, tepat dibelakang meja Gege Pras adalah Revania Daud. Penulis muda yang menjadi perbincangan hangat beberapa bulan ini. Penulis berbakat yang memiliki jalan bagus untuk sukses. Buku pertamanya yang berjudul ‘Denting Hati’ dinobatkan menjadi novel terbaik tahun ini melalui survei pembaca. Dan menurut kabar, Denting Hati akan difilmkan tahun ini. Dia benar-benar bersinar dengan buku pertamanya.

Ah, pria itu. Pria berkacamata itu. Namanya Dion. Dia penulis komik. Aku tidak terlalu suka membaca komik, tapi menurut kabar, komik miliknya menjadi pelopor kemajuan komik Indonesia. Aku pernah melihat dia di surat kabar. Dia terlihat lebih tampan aslinya daripada di foto.

Aku masih mencari-cari wajah misterius Mr. K.

“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.


Aku membeku. Wajahnya terlihat bersinar seperti bintang jatuh. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar