BAB 3 : ANGIN
PUJAAN HUJAN
10 Januari 2015
Aku berjalan melewati buku-buku yang berjejer di etalase
dan rak-rak yang menjulang di sampingku. Beberapa anak kecil berlarian membuat
beberapa buku terjatuh. Aku mengambil salah satu buku yang terjatuh tadi.
Kemarau. Begitulah judul buku yang aku ambil. Untuk sesaat aku teringat pada
Adit.
Aku kemudian membaca sinopsis buku itu. Kemarau
menceritakan tentang seorang pria yang mencoba untuk mencari jalan hidupnya
sendiri. Mempertahankan harga dirinya yang terakhir. Seorang pria yang berusaha
keluar dari zona amannya untuk meraih satu hal saja yang sangat dia inginkan,
Cinta. Sesuatu yang baginya sangat sulit di dapatkan. Buku ini mengingatkanku
pada Kemarau yang kukenal.
Jariku terus saja memanduku untuk membuka lembar demi
lembar buku itu. Ah aku sudah membuka pembungkusnya, sepertinya aku memang
harus membeli buku ini. Aku pun berjalan menuju kasir dan segera membayar buku
berjudul kemarau itu.
Lembar demi lembar telah berhasil aku baca, semakin
banyak lembar yang ku baca, semakin aku masuk kedalamnya.
Aku ingin merasakan sedikit saja tetesan hujan di musim kemarau.
Gersang ketika kemarau, membuat hatiku mati..
Entah kenapa aku merasakan rasa kesepian dan kesedihan yang
luar biasa dalam diri kemarau. Hujan yang terjadi secara terus menerus akan
menimbulkan banjir bandang dan kemarau yang berlangsung lama pun akan membuat
bumi ini kering dan gersang.
Bukankah Hujan dan Kemarau harus saling mengisi supaya petani tidak merugi?
Kalimat ini merubahku. Memberikan pukulan telak padaku.
Selama ini aku selalu berpikir hujan dan kemarau tidak ditakdirkan untuk
bersama. Paling tidak itulah yang terjadi padaku dan Adit. Namun aku mulai
berpikir tentang saling mengisi. Ketika hujan sesekali membasahi hati kemarau
dan ketika kemarau sesekali menyeka air mata hujan.
Penulisnya sangat piawai berkata-kata. Setiap kalimat
yang tertulis begitu indah dilafalkan. Sungguh membuatku terkagum. Dengan
sedikit suara desahan puas aku berhasil menutup lembaran terakhir dari buku
itu. Buku yang tidak terlalu tebal, yang bisa kuselesaikan dalam waktu semalam.
Aku mencari-cari nama si penulis. ‘K’ hanya itu yang
tertulis disampulnya. Si penulis hanya memberikan initial ‘K’.
Mr. K???
Kemarau??? Gumamku
11 Januari 2015
“Kamu mau dipecat? Ini semuanya sampah!” Pak Editor
menggebrak meja di depanku. Dan menghamburkan kertas-kertas yang kuberikan
padanya. Aku menggeleng dengan pandangan syok.
“Kamu tau? Kamu sudah benar-benar tidak produktif Karin.
Tulisanmu semuanya tidak ada yang luar biasa untuk dijadikan bahan majalah
kita” Dia melanjutkan.
“Maafkan saya, Pak” hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk
saat ini.
“Maaf? Aku tidak butuh kata maaf! Aku cuma ingin
ke-profesional-an kamu Karin! Aku tidak mau tahu, ini adalah kesempatan
terakhirmu” Dia melempar selembar kertas kepadaku. Akupun memungutnya.
“Penulis Kemarau? Bapak minta saya mewawancarai Penulis
buku Kemarau?” Aku terdiam sesaat
“Tapi Pak, Kemarau itu sangat misterius. Aku mengunjungi
beberapa blog dan tidak ada yang tau siapa itu Kemarau, seperti apa rupanya dan
bagaimana saya bisa menghubunginya” Lanjutku.
“Justru itu! Kita akan jadi majalah pertama yang berhasil
mengungkap siapa itu Kemarau. Hal seperti ini adalah bagian dari visi dan misi
Brave Magazine! Dapatkan wawancara ekslusif atau di pecat, itu pilihanmu!”
Menangkap kemarau atau dipecat? Tidak mudah untuk
mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan besar seperti Brave magazine. Jika aku
ditendang, jalan untuk menjadi wartawan sukses dan mengalahkan si arogan Clara,
punahlah sudah. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan wawancara ekslusif
dari kemarau.
12 Januari 2015
‘DAUN
PUBLISHER’
Aku tiba di tempat dimana kemarau diterbitkan. Aku
sungguh penasaran dengan penulis buku ini. Aku tau ini sedikit sulit, namun aku
tidak bisa menolak naluriku saat ini. Naluri tidak ingin dipecat.
Aku bertemu dengan salah satu karyawan Daun Publisher.
Tanpa diduga, dia adalah mba Maya. Aku dan mba Maya belajar Yoga di tempat yang
sama. Mba Maya mengatakan bahwa dia tidak bisa membantuku kali ini.
“Selain karena peraturan perusahaan. Mr.K juga sangat
berbeda dari penulis yang lain. Dia benar-benar tidak ingin identitasnya
diketahui orang-orang. Aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu.”
“Jadi tidak ada cara untuk bisa bertemu dengan dia?
Aku benar-benar harus bertemu dengan Mr. K. Tolong bantu aku mba! Wawancara ini taruhannya adalah kontrak kerjaku. Ini kesempatan terakhir aku mba” Aku merajuk
seperti anak kecil.
Mba Maya terdiam sejenak, dia terlihat sangat ragu-ragu. "Sebenarnya aku tau siapa itu Kemarau."
"Serius mba?" ucapku antusias.
"Aku mendengar secara tidak sengaja waktu itu."
"Siapa mba? Siapa?" Aku mulai tak sabar. Mba Maya kemudian membisikan sebuah nama yang membuatku cukup terkejut.
Mba Maya terdiam sejenak, dia terlihat sangat ragu-ragu. "Sebenarnya aku tau siapa itu Kemarau."
"Serius mba?" ucapku antusias.
"Aku mendengar secara tidak sengaja waktu itu."
"Siapa mba? Siapa?" Aku mulai tak sabar. Mba Maya kemudian membisikan sebuah nama yang membuatku cukup terkejut.
“Sebenarnya minggu depan kita akan mengundang para penulis
yang berada di bawah DP untuk acara tahunan perusahaan. Tapi tidak ada wartawan yang di perbolehkan masuk ” mba maya menjelaskan sambil memberikan
secangkir cappucino padaku.
“Wah! Bagaimana caranya supaya
aku bisa masuk ke acara itu?”
“Aku tidak yakin. Yang bisa masuk ke acara itu hanya para penulis dan jajaran elit di
perusahaan kita. Bisa dibilang acaranya benar-benar eksklusif”
Aku tidak boleh menyerah. Entah kenapa, fakta bahwa aku
akan dipecat membuatku lebih berani, tidak seperti 5 tahun yang lalu ketika aku
menyerah pada Adit – itu juga karena Adit menyerah padaku. Aku juga penasaran
dengan sosok Kemarau.
“Untuk acara minggu depan, pesankan katering di tempat
biasa ya!” seorang wanita berusia sekitar 30an berkata pada seorang pria
berkacamata tebal didepannya dan kemudian masuk kembali ke ruangannya.
Acara minggu
depan? Ucapku dalam hati. Jangan-jangan!
Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.
Aku mendekati pria itu. “Maaf mas, boleh saya tanya
sesuatu?”
“Tentu, ada yang bisa saya bantu?”
“Mas biasa pesan katering dimana untuk acara kantor?
Kantor tempat saya bekerja juga mau bikin
acara gathering jadi saya lagi cari katering yang masakannya enak. Sepertinya
kantor tempat mas kerja punya tempat katering langganan” aku menjelaskan dengan
sangat panjang dan berharap dia tidak curiga mendengarnya.
“Ocean Cathering. Ini kartu namanya” Dia memberikan
sebuah kartu nama padaku begitu saja.
“Ini Cathering keluargaku. Dijamin masakannya enak, mba!”
Lanjutnya promosi. Akupun mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Untunglah dia tidak curiga.
Aku tahu ini gila. Tapi apa yang ada dipikiranku sekarang
adalah suatu kegilaan yang harus aku lakukan. Aku merasa kali ini aku punya
sebuah keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah.
Hari ini langit kembali menangis, aku mendengar suara
gemuruh dan petir yang saling beradu. Aku membenci hujan karena hujan
mengingatkanku pada diriku sendiri. Namun untuk saat ini aku membenci hujan
karena telah mengotori sepatu baruku. Aku mendesah kesal sembari membersihkan
sepatuku yang terkena cipratan air hujan.
Saat seperti ini ingatanku tentang Adit kembali muncul.
Dalam hujan yang sama 9 tahun yang lalu.
Musim Hujan Januari 2006
Kami berdua terjebak di halte saat hujan deras mengguyur.
Dia berdiri 3 langkah di depanku. Aku mengamatinya dengan seksama. Bahkan
punggungnya pun terlihat begitu indah dimataku. Entahlah, mungkin cinta memang
telah mengaburkan penglihatanku.
Selain kami berdua, ada juga sepasang kekasih yang
terjebak bersama kami. Mereka berdua saling membersihkan sepatu mereka yang
kotor karena hujan. Mereka juga saling berpegangan tangan memberi kehangatan
satu sama lain. Tertawa seolah hujan adalah lagu cinta mereka. Sementara aku
masih menatap punggung Adit dengan senyuman.
Tanpa kuduga Adit berbalik. Mata kami bertemu. Sungguh
membuatku terkejut dan tanpa sadar buku yang kupegang jatuh begitu saja. Adit
mendekat ke arahku dan membantu mengambil buku milikku yang terjatuh tadi. Saat
itulah untuk pertama kalinya tangan kami bersentuhan.
Jantungku berdetak sangat kencang. Badanku sepertinya
memiliki muatan listrik yang besar saat itu. Membuatku takut terkena hujan dan
tersetrum. Aku berusaha menyadarkan diriku untuk tidak pingsan di depan Adit.
Hujan pun berganti menjadi gerimis. Aditya kemudian
berlari menyebrang dan berlalu bersama sebuah bus yang melaju ke arah yang
berlawanan denganku.
Begitulah. Adit tidak pernah berbicara padaku. Kami tidak
pernah berkenalan secara resmi. Aku tahu dia. Dia tahu aku. Tentu sebagai sesama
siswa satu sekolah. Hanya sebatas itu.
17 Januari 2015
“Silahkan dinikmati makanannya” Aku berseru. Disinilah
aku berada. Acara tahunan Daun Publisher. Setelah melakukan negosiasi yang alot
dengan pemilik katering, akhirnya aku bisa masuk ke acara ini sebagai karyawan
Ocean Cathering.
Acara ini terlihat cukup wah. Pesta bergaya vintage dengan warna dominan cream pada dekorasi
interiornya. Para penulis duduk rapih di kursi yang sudah disediakan. Aku mengenal
beberapa penulis yang datang hari ini.
Misalnya pria yang duduk di kursi paling depan, dia
adalah Gege Pras. Penulis novel best seller ‘Borobudur’ yang fenomenal. Bahkan
Borobudur sudah difilmkan dan ditonton oleh 5 juta orang. Dia adalah kebanggaan
Daun Publisher sekaligus Maskot Perusahaan.
Wanita yang duduk di arah jam 2, dia Putria Adina.
Penulis buku motivasi. Beberapa kali dia diundang ke acara-acara talkshow
televisi. Wajahnya cantik dan pembawaannya juga cerdas. Baru-baru ini dia
sedang terkena skandal perceraian dengan aktor papan atas, Bima Admoko. Ya, dia
adalah istri dari aktor pemenang penghargaan FFI 2014 yang lalu.
Perempuan yang duduk di meja kedua, tepat dibelakang meja
Gege Pras adalah Revania Daud. Penulis muda yang menjadi perbincangan hangat
beberapa bulan ini. Penulis berbakat yang memiliki jalan bagus untuk sukses.
Buku pertamanya yang berjudul ‘Denting Hati’ dinobatkan menjadi novel terbaik
tahun ini melalui survei pembaca. Dan menurut kabar, Denting Hati akan
difilmkan tahun ini. Dia benar-benar bersinar dengan buku pertamanya.
Ah, pria itu. Pria berkacamata itu. Namanya Dion. Dia
penulis komik. Aku tidak terlalu suka membaca komik, tapi menurut kabar, komik
miliknya menjadi pelopor kemajuan komik Indonesia. Aku pernah melihat dia di
surat kabar. Dia terlihat lebih tampan aslinya daripada di foto.
Aku masih mencari-cari wajah misterius Mr. K.
“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.
Aku membeku. Wajahnya terlihat bersinar seperti bintang jatuh. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku
jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar