Kamis, 05 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (4)

BAB 4 : ANGIN PUJAAN HUJAN


“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.

Aku membeku. Wajahnya terlihat seperti malaikat. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.

“Kamu tidak apa-apa?” Dia bertanya. Suaranya terdengar sangat merdu. Aku masih terdiam seperti orang bodoh.

“Kami persilahkan kepada Direktur Daun Publisher untuk menyampaikan sambutannya. Bapak Arya Dava Putra kami persilahkan” terdengar suara MC memulai acara, sementara aku masih menatap wajah pria ini.

Orang yang sedang kupandangi tersenyum kepadaku dan kemudian berjalan menuju panggung. Jadi pria tampan ini adalah Direktur Daun Publisher? Aku mengira-ngira usianya sekitar 26 atau 27 tahun dan dia sudah menjadi CEO. Dia benar-benar luar biasa. Tunggu! Jadi dia????

“Selamat malam kepada para Dewan Direksi dan juga para penulis kebanggaan Daun Publisher. Tahun ini kembali kita bisa berkumpul bersama menyaksikan suksesnya Perusahaan ini menjadi Perusahan penerbit nomor 1 di Indonesia” Ruangan pun riuh dengan suara tepuk tangan. Kalimat selanjutnya yang keluar darinya adalah segala pencapaian Daun Publisher selama setahun dan 3 tahun terakhir. Aku begitu terkesima dengan auranya yang luar biasa. Cara dia berdiri, cara dia berbicara, cara dia menatap tegas mata-mata audience yang hadir membuatnya terlihat begitu sempurna.

Dia melanjutkan pidatonya “Malam ini, saya akan memberitahukan sebuah rahasia kepada kalian. Rahasia bahwa saya juga seorang penulis” Pria itu tertawa rikuh, antara bangga dan malu.

Dia mengeluarkan sebuah buku dan menunjukannya kepada semua orang.

“Kemarau. Aku yang menulis buku ini” Semua orang tercengang kecuali aku yang sebelumnya diberitahu oleh mba Maya kalau Mr. K adalah CEO Daun Publisher. Menurut mba Maya, si CEO tidak ingin para wartawan tahu soal nama pena-nya karena malas jika nantinya harus menerima banyak tawaran wawancara. Fakta ini membuatku semakin kagum dengannya. Namun mungkin juga sedikit kecewa karena Mr. K ternyata bukanlah Aditya. Entah kenapa aku masih berharap berjodoh dengan Adit. Berharap Adit dan Mala berpisah. Kemudian Adit menulis sebuah buku dan berharap aku bisa mengenalinya. Seperti itulah skenario bodoh dan terlalu sinetron yang ada dikepalaku. 

Kemarau memang tidak se-populer Denting Hati yang menjadi Book of the Year. Tapi Kemarau juga termasuk jajaran buku best seller dan punya penggemarnya sendiri. Aku sudah mengantongi identitas Kemarau, yang harus aku lakukan sekarang adalah mendapatkan wawancara ekslusif dengannya. Maka masalah ‘pecat-dipecat’ akan selesai.

Setelah acara, aku memutuskan untuk menunggu Arya di luar gedung. ‘Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui’, pikirku. Selain bisa mendapatkan wawancara ekslusif aku juga akan berusaha mendekatinya. Dia adalah orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan pada Adit, dulu. Sedikit gila memang, tapi begitulah aku. Apabila aku sudah memilih satu orang, maka orang itu akan menjadi segalanya untukku. Dengan mengesampingkan apakah kami bisa bersama atau tidak tentunya.

Arya terlihat keluar dari gedung dengan sekretarisnya. Aku pun bergegas berlari menghampirinya.

“Pak Arya, bisa minta waktunya sebentar?”

Arya menatapku sejenak seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

“Ah, kamu orang katering tadi kan? Kenapa? Ada masalah?”

“Nama saya Karina Larasati, saya wartawan dari Brave Magazine” ucapku seraya memberikan kartu nama. Satu hal yang membuatku senang bekerja di kantor majalah BRAVE adalah kebanggaan saat kamu mengeluarkan kartu nama. Bekerja di sebuah majalah besar dan terkenal seperti BRAVE memang memberikan kepercayaan diri lebih bagi karyawannya.

“Wartawan? Bagaimana seorang wartawan bisa masuk ke acara tertutup kita dan berpura-pura menjadi karyawan katering?” Arya bertanya pada sekretarisnya dengan nada sedikit marah. Si sekretaris hanya diam.

“Lain kali perketat penjagaan.”

“Baik Pak” jawab si sekretaris sedikit membungkuk.

“Ada perlu apa ya?”

“Begini Pak Arya, Saya ingin mewawancarai anda sebagai penulis buku Kemarau” Aku menjelaskan maksud mengapa aku menemuinya.

“Maaf mbak Karin, tapi saya tidak berminat untuk di wawancarai. Lebih baik anda pergi sekarang” Arya mengembalikan kartu namaku dan berlalu menuju mobilnya. Aku berlari mengejar. Tak mau mengalah.

“Tolong di pertimbangkan pak. Ini masalah hidup dan mati saya. Kalau pak Arya bersedia saya wawancarai, pak Arya sudah benar-benar menolong saya” Aku sungguh tidak mau dan tidak akan menyerah.

“Kenapa aku harus menolong kamu. Saya sudah katakan, saya tidak tertarik. Pak Wahyu ayo cepat jalankan mobilnya!”

“Pak Arya...Pak mohon dipertimbangkan!” Aku berteriak sangat kencang berharap dia bisa mendengar ucapanku.

Kenapa aku berfikir bahwa ini akan lebih sulit sekarang. Pria bernama Arya itu benar-benar sombong dan arogan. Tidak ada bedanya dengan si arogan Clara Haniffan dari gunung gundul. Hatinya sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.

Kenapa aku harus menolong kamu? Hah kata-katanya seperti pisau. Jangan-jangan dia tidak pernah menolong orang asing sebelumnya.

Dengan mau di wawancarai itu berarti dia mau berbagi pemikirannya tentang buku yang dia buat. Mungkin saja ada orang-orang seperti kemarau diluar sana yang masih terperangkap dalam penjara yang dia buat sendiri. Buku dan kata-kata yang si penulis lontarkan akan membantu mereka memecahkan tembok-tembok tinggi yang membelenggu mereka.

Dan tentu saja, membantu seseorang yang tidak bersalah sepertiku agar tidak dipecat dari pekerjaannya.

Aku berfikir keras untuk membujuknya. Pekerjaanku dipertaruhkan disini.

Di hari berikutnya aku mengirimkan sebuah karangan bunga dan kuselipkan surat permintaan wawancara, namun berselang beberapa menit karangan bunga itu sudah tergeletak di teras gedung. Membuatku semakin kesal saja.

Bahkan aku mencegatnya saat Arya hendak pulang. Namun si sekretaris menghalangiku dengan sigap. Tunggu dulu, aku belum menyerah sampai disitu. Siang tadi bahkan aku sudah mengempesi ban mobilnya. Hahahaha
Si sekretaris yang juga menjadi supir pribadi Arya keluar dari mobil dan keheranan melihat ban depan sebelah kanan sudah kempes. Arya menurunkan kaca mobilnya “Kenapa,Pak?”

“Kempes Pak Arya”

“Kok bisa? Perasaan kemaren baru aja di service?”

“Saya juga bingung.” Si sekretaris menggaruk kepalanya pertanda kebingungan.

"Padahal aku harus fitting Jas buat acara nanti malam."

Kemudian terlihat Arya menoleh padaku. Demi tuhan, aku sudah siap dilaporkan ke polisi. Tatapannya yang tajam menyelidikku. Membuatku gugup.

Arya pun turun dari mobilnya dan menghampiriku. Aku mendadak gelisah. Aku tahu ini sudah sangat keterlaluan, tapi aku benar-benar kesal. Aku sudah beberapa hari seperti tuna wisma yang menjajah kantornya – lebih tepatnya tidur di kursi lobi gedung seharian – dan begitu dia melihatku, aku seperti dianggap seekor nyamuk demam berdarah yang patut dimusnahkan.

“Perbuatanmu kan?” Arya langsung menuduhku. Aku menggeleng “Jangan menuduh tanpa bukti!”

Dia kemudian melihat sekeliling. "Ah, apa kita harus memeriksa CCTV?"

Aku panik. Wajahku terasa panas. Sial, kenapa aku tidak sadar kalau di dekat sana ada CCTV. “Maaf...” aku mendesah pasrah, dengan wajah sedikit memelas aku melanjutkan “....tapi aku melakukannya karena sudah terlalu kesal.”

Dia mendekat satu langkah ke arahku dan sedikit mencondongkan wajahnya. Menatapku lekat dan kemudian terlihat memikirkan sesuatu. Aku merasakan sesuatu yang jahat sedang direncanakannya.


“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”

Entah apa yang direncanakannya. Namun aku melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang akan menyelamatkan pekerjaanku. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar