Selasa, 17 Maret 2015

BAGIAN 2 END : KEENA MAHARDHIKA

SMA Patriot 1

Aku memasuki kelas yang sudah terlihat ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok Dika. Aku benar-benar merindukannya. (Kamu boleh bilang aku gila!)

Aku menemukannya. Dia sedang tertawa membicarakan sesuatu dengan teman sebangkunya sambil menenteng gitar kesayangannya. Pandangan kami beradu. Untuk pertamakalinya aku panik saat melihat matanya. Ralat, dulu lumayan sering sih. Dulu sekali. Tapi ini pertamakalinya sejak deklarasi perang yang dia lontarkan padaku.

“Eh Na, bedaknya ketebelan tuh!” Dia tertawa meledek. Sial. Aku benar-benar malu dibuatnya. Apa benar bedakku ketebelan? Aku memang melakukan make-up tambahan saking semangatnya mau bertemu dengan Dika. Dalam keadaan normal mungkin aku akan membalas ledekannya dengan teriakan atau apalah namun harus dicatat bahwa saat ini aku sedang tidak normal. Aku malah berjalan setengah berlari menuju mejaku tanpa berani melihat wajahnya lagi. Beberapa siswa terlihat keheranan. Mungkin awalnya mereka berfikir akan menyaksikan perang hebat lagi diantara kami.

Pelajaran hari ini adalah membahas tentang otak manusia. Bu guru menyinggung sesuatu yang disebut synesthesia. Sesorang yang memiliki synesthesia bisa melihat sesuatu dengan sisi bebeda. Misal melihat huruf dengan warna yang berbeda, setiap hari juga memiliki warna yang berbeda.

“Menurut kalian, synesthesia itu kelainan atau bukan?” Tanya Bu Fani.

“Kelainan bu! Cara otak si penderita mengolah data yang masuk berbeda dengan otak normal. Sehingga hasilnya pun memiliki persepsi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Sudah jelas ini kelainan.” Lukman yang duduk paling depan menjawab.

Ibu Fani mengangguk-anggukan kepalanya “Ada yang berfikir lain?” dia kembali bertanya.

“Menurut aku itu bukan kelainan, hanya sebuah kondisi atau kemampuan bu. Menurut Wiki synesthesia adalah a neurological phenomenon in which simulation of one sensory or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second sensory or cognitive pathway. Sebuah penomena, sebuah kondisi. Ini bukan penyakit ataupun kelainan yang menggangu fungsi otak. Synesthesia lebih ke berupa kemampuan lebih seseorang. Karena justru banyak pemilik kemampuan synesthesia tidak mau di sembuhkan. Seorang synethetes bisa melihat hurup atau angka dengan warna yang berbeda, suara/nada juga memiliki warna/bentuknya sendiri membuat mereka bisa membedakannya dengan cepat.”

“Wah, seperti biasa Dika seperti wiki berjalan ya?” Ibu Fani tertawa disambut tawa siswa lainnya. “Ada pendapat yang lain mungkin?” tanyanya lagi.

Akupun mengangkat tangan. Ibu Fani mempersilahkanku untuk bicara. Tiba-tiba seluruh ruangan hening – seperti biasa. Mungkin mereka sedang menunggu sebuah bom di lemparkan dari bawah mejaku. “....aku setuju dengan pendapat Dika.”
Haaaaaaahhhhh????? Suara keheranan terdengan di seluruh ruangan.

“.....kita semua memiliki synesthesia sepertinya. Seperti berkata ‘wajah cantiknya sangat manis’. Mana ada wajah yang manis? Wajah dilihat oleh indra penglihatan, manis dirasakan oleh indra pengecap. Keduanya disatukan oleh otak. Hanya karena cara kerja otaknya yang berbeda bukan berarti otak itu tidak bekerja atau terganggu. Namun apa benar yang seperti itu sudah bisa dibilang synesthesia? Menurut saya tingkat kemampuan synesthesia seseorang itu berbeda-beda. Pada tingkatan yang lebih ekstrim, saat seorang synethetes membuat hurup P, dia melihat warna ungu, setelah dia menambahkan garis menjadi hurup R warnanya berubah jadi orange. Bunyi klakson juga memiliki warna yang berbeda. Nada Do memiliki warna yang berbeda dengan Mi. Dan seterusnya. Mungkin ada juga yang misal saat melihat Lukman dia mencium bau bunga kenanga, tentu bukan bau farfume ya, dan saat melihat Dika mencium bau bunga Raflesia arnoldi, sorry, bunga mawar maksudnya.” Semua siswa tertawa mendengar penjelasanku.

“Wah menarik, bagaimana kalau kita jadikan ini pekerjaan rumah? Setiap siswa menuliskan apakah synesthesia itu penyakit,kelainan atau kemampuan lebih, atau apa? Terangkan juga pendapat kalian masing-masing. Kumpulkan minggu depan ya!” Ibu Fani mengakhiri pelajarannya dengan pekerjaan rumah. Seperti biasa, selalu seperti itu.

Jadi perbincangan heboh setelah itu bukan lagi masalah synesthesis tapi mengenai seorang Keena yang menyetujui pendapat Dika di depan semua orang. Hal ini adalah yang pertama kalinya terjadi.

“Ini aneh. Keena setuju sama pendapat Dika. OMG udah mau kiamat kayaknya. Biasanya kalopun Dika bener, Keena bakal milih diam daripada bilang setuju di depan semua orang. Dan tadi sejarah banget gak sih?” Seorang gadis bernama Hana mulai menggosip dengan siswa dari kelas lain. Dia memang biang gosip di sekolahku. Semua gosip yang beredar 99% berasal dari mulutnya.

***
“Gosip soal lo sudah berkembang sangat ekstrim Na.” Ucap Nayla sambil menyuapkan siomay mang Udin ke mulutnya.

“Ekstrim?”

“Katanya lo kayak gitu karena lo mulai suka sama Dika.”

Aku terdiam mendengar gosip itu. Ah mungkin karena itu bukan gosip. Aku memang menyukainya. Mataku tak pernah lepas dari sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di ujung meja sana. Dika dan Renata. Pasangan paling serasi di sekolah, katanya. Renata adalah siswi cantik nan populer dari kelas 2. Ya, dia adik kelas Dika.

“Halo Na? Lo liatin apa sih? Dika sama Renata?” Nayla terlihat bingung saat tahu aku sedang memperhatikan mereka.

“Lo beneran suka sama Dika ya?” tanyanya setengah berbisik.

“Berani-beraninya dia bermesraan di depan gue. Gue gak terima suami masa depan gue mesra-mesraan sama cewek lain di depan gue.”

“Bentar. Suami masa depan? Lu kesambet apaan si Na?” Nayla semakin bingung dengan sikapku.

“Tunggu disini. NAY GUE BAYAR MINUMAN DULU YA” Aku mengeraskan suaraku saat mengucapkan kalimat terakhir.

Nayla hanya mengangguk bingung padaku. Aku kemudian berjalan menuju sepasang iguana kurang ajar itu dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minumanku ke baju Renata.

“Ups. gak sengaja.” Ucapku

Renata merengek-rengek pada Dika karena baju dan rok nya basah olehku. Minta di perhatikan banget. Jijik banget liatnya. Idih dasar laler.

“Kak Keena pasti sengaja deh yang, kamu udah denger kan gosip kalo Kak Keena suka sama kamu.” Ucap Renata manja. Sementara Dika masih menatapku dingin.

“Idih, kan udah di bilangin gak sengaja.” Aku kesel juga liat muka sok nya Renata.

“Gimana itu bisa di bilang gak sengaja Na? Lo tuh paling jelek kalo akting. Minta maaf sama Rena sekarang!” Dika membentakku pemirsah. Helloooo gue istri masa depan lo Dika, buka mata lo! Gumamku dalam hati

“Kenapa gue harus minta maaf? Kan gak sengaja. Kalo sengaja baru gue mau minta maaf.” Wah aku benar-benar mengeluarkan kekejamanku. Kutatap sinis wajah sok lugunya Rena.

“Udah Re, kamu pergi ke toilet sekarang. Biar dia aku yang urus.” Rena pun pergi atas titah Dika. Setelah Rena tak kelihatan lagi, Dika melanjutkan perdebatan ini denganku

“Lo kan punya masalahnya sama gue, jadi jangan bawa-bawa cewek gue dong. Kalo lo sekali lagi ngebully Rena. Gue gak bakal tinggal diam.”

“Bully? Wow. Gue cuma gak sengaja numpahin minuman (hehe bohong, sebenernya SENGAJA :P) terus lu sebut gue ngebully dia? Wow!” Emosi Keena emosi.

“Gak sengaja? Oke!” Dika maju satu langkah dan menumpahkan minumannya padaku. “Ups, gue gak sengaja” Dika pun melempar gelas plastik itu dan pergi meninggalkanku.

“Dika!” Aku berteriak tidak percaya. Kini pakaiannyaku basah oleh teh manis yang ditumpahkannya. Saat itu aku baru sadar Nayla sudah berdiri di sampingku dan mulai mengelap bajuku dengan saputangannya.

“Duh. Lo cari masalah sih Na. Kita ke toilet yuk.” Nayla menuntun tanganku, namun aku mengibaskan tangannya. “...Na lo mau kemana, toiletnya arah sini” Nayla berlari mengejarku yang sedang berjalan ke arah toilet anak kelas 2.

Jebred. Aku membuka pintu dengan keras ala-ala sinetron abg yang lagi ngelabrak. Aku menghampiri Rena yang tengah membersihkan bajunya. Entah apa yang telah merasukiku sekarang, aku juga tak mengerti apa yang mau aku lakukan disini. “Yang lain keluar!” perintahku pada 3 cewek kelas 2 yang ada disitu.

“Na, lo ngapain sih? Udah yuk balik ke kelas!” Nayla mencoba menarikku keluar, khawatir melihat emosiku yang meletup-letup tak terkendali.

“Ini bukan pertama kalinya lo gak ngehormati gue sebagai orang yang lebih tua dari lo.” Aku mulai membuka pembicaraan dengannya.

“Gue cuma menghormati orang yang pantas gue hormati” Renata menimpali.

“Jadi maksud lo gue gak pantas buat di hormati?”

“Yes! Lo tuh cuma tukang cari perhatian , numpang tenar sama Dika. Sok pinter, sok cantik, dan sok-sokan jadi senior yang pengen di hormati. Cuma sampah!”

Aku merasa mual melihat wajah Renata saking jijiknya. Dia bahkan tidak terlihat seperti korban labrakan kakak seniornya. So confident. “Jaga ucapan lo ya, mulut lo lebih sampah!” bentakku.

“Ah...gue tahu kenapa lo over kayak gini. Apa gara-gara keluarga lo yang lagi kacau karena bokap lo yang punya wanita simpanan? Dan lo lampiasinnya ke gue.”

“Bitch!” Tanpa berfikir panjang aku mulai menyerangnya, menjambak rambutnya. Dia juga membalas jambakanku. Nayla panik berusaha menghentikan kami.

“Stop!” Dika yang entah kapan masuknya melerai kami berdua. “Lo gila ya Na? Sayang kamu gak apa-apa kan?” Dika menghampiri Rena yang mulai menangis mendramatisir keadaan. Seolah-olah dia benar-benar korban.

“Lo ternyata lebih rendah daripada yang gue kira Na. Cewek yang punya sikap dan sifat rendah itu elo Na. Bukannya minta maaf malah datang ke toilet anak kelas dua dan ngelakuin ini semua. Keterlaluan lo Na!” Dika memarahiku. Emosinya meluap-luap.

“Sebelum lo marah-marah sama gue, tolong ya ajarin dulu cewek lo sopan santun. Mulutnya lebih sampah daripada mulut gue Dik. Gue cewek rendahan? Emang lo tau apa tentang gue hah? Gue bahkan sampai sekarang masih inget apa yang lo bilang ke gue 5 tahun yang lalu kalo lo bakal bikin gue jatuh berkali-kali di depan lo. Gue gak ngerti Dik, alasan lo benci ke gue tuh apa? Yang gue tahu, gue benci elo karena elo benci gue!” Aku keluar dari toilet dengan muka yang memerah menahan tangis. Nayla mengikutiku di belakang. Kami tidak langsung kembali ke kelas, aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan diri.

‘Lo kenapa sih Na? Hari ini emosi lo susah di tebak. Cerita aja ke gue!” tanya Nayla dengan lembut.

“Lo gak bakal percaya sama apa yang gue omongin ke elo Nay.”

“Tapi gue akan selalu memahami elo Na!”

“Gue time traveler ke masa depan Nay dan ternyata gue nikah sama Dika.” Aku melihat ekspresi bingung Nayla. “.... Dika 5 tahun mendatang berbeda dengan Dika sekarang. Dia lebih dewasa, perhatian, sayang sama gue.” Lanjutku.

“Tuh kan lo gak percaya. Sudahlah.” Aku terdiam.

“Mungkin lo cuma sedang bingung sama perasaan lo ke Dika, Na! Maksud gue, lo mengharapkan Dika yang baik, perhatian, care sama lo jadi lo mimpiin Dika seperti itu.” Nayla mengucapkannya dengan hati-hati.

“Itu bukan mimpi Nay. Ini adalah gelang yang di berikan Dika di 100 hari perayaan pernikahan gue sama dia. Gelang ini dari masa depan yang ikut ke masa sekarang. Gelang ini yang buat gue percaya kalo gue gak lagi mimpi Nay.” Ucapku sambil menujukan gelang pemberian Dika.

“Na...” Nayla melihatku dengan tatapan simpatiknya. Mungkin dia berfikir aku benar-benar gila.

“Terserah lo mau percaya gue atau nggak Nay. Denger Nay, gue lihat lo dimasa depan, LO BAKALAN NIKAH SAMA TONY. Nanti, suatu saat nanti, lo bakal tau apa gue bohong atau enggak.”

“Tony?”

“Yes, Tony!”

Nayla tersenyum padaku “Balik ke kelas yuk, udahan bolosnya. Udah jam pulang.” Nayla menarik tanganku dan menggandengnya berjalan menuju kelas.

“Tony ya? Awas ya kalo ternyata gue gak jodoh sama Tony. Gue gelitikin lo sampai nangis.”

Aku tahu sekali kalau Nayla cinta mati sama Tony, anak SMA Persada si Jago Basket. Aku mengangguk dan kami pun tertawa. Mungkin Nayla tidak mempercayai ucapanku, tapi benar bahwa dia selalu berusaha memahamiku, memahami bahwa aku gila. Hahahaha.

***

Diam. Sudah 1 bulan aku dan Dika tidak saling berbicara sejak insiden di toilet. Cekcok, adu argumen, saling ledek sudah tidak pernah kami lakukan. Kami hanya diam. Ah, rasanya hari-hari yang aku lalui selama sebulan ini lebih buruk dari sebelumnya. Hatiku rasanya ingin meledak, memaki-makinya. Lebih tepatnya, aku merindukannya.

Hari ini selepas sekolah, panitia pelepasan siswa kelas 3 menggelar rapat lanjutan. Kami harus pintar membagi waktu agar persiapan kami tidak mengganggu belajar kami. Kami semua sadar bahwa kami juga akan menghadapi UAN yang ada tepat di depan mata. Kami pun mulai membagi tugas untuk acara perpisahan nanti. Ada yang bertugas sebagai dekorator, konsumsi, kostum dll. Sementara aku bertugas menjadi photografer acara.

“Na, kayaknya kita harus bicara.” Dika menahanku setelah acara rapat selesai.

“Bicara apa lagi sih Dik? Gue udah males adu mulut sama lo!”

“Ini udah sebulan kita diem-dieman Na. Lo gak ngerasa aneh apa?”

“Aneh? Bukannya lo seneng gak bicara sama cewek yang punya sikap dan sifat rendahan kayak gue?”

“Oke, sorry soal omongan kasar gue waktu itu, Na. Gue juga udah nanyain berkali-kali ke Rena soal apa yang dia bilang ke Elo sampai lo marah banget kayak gini. Tapi dia bilang dia gak ngomong apa-apa ke elo.”

“Udahlah Dik, jangan ngebahas soal itu lagi. Males sumpah.”

“Soal gosip itu. Apa bener lo suka sama gue, Na?”

Aku bingung harus jawab apa sekarang. Jantungku berdetak semakin keras dan tak terkendali. Rasanya aku ingin lari, kabur dari ruangan ini secepatnya. Pintu, aku harus segera lari. Namun aku urungkan saat melihat Renata mematung tepat di depan pintu. Mungkin dia sedang menahan dirinya untuk tidak cemburu. Entah kenapa perasaan berani muncul dari diriku. Aku ingin menyingkirkan Renata dari hidup Dika. Dan mungkin ini kesempatannya. Ku tatap wajah Dika lekat. Dan aku tersadar bahwa aku benar-benar merindukannya. Aku menciumnya lembut, awalnya aku hanya ingin memberikan kecupan cepat namun tanpa kuduga Dika malah membalas ciumanku. Ya, kami berciuman. Kakiku rasanya sangat lemas menahan desiran rasa bahagia yang mulai menghangatkan hatiku.

Keesokan harinya, hampir saja aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah saking malunya untuk bertemu dengan Dika. Namun ternyata hari itu Dika tidak masuk sekolah. Kata Nayla, Ibunya Dika di rawat di rumah sakit karena...

“Kangker.” Ucapku

“Kamu sudah tahu?”

“Ibunya akan meninggal saat hari perpisahan sekolah.”

“Hush! Jangan sembarangan kalo ngomong. Nanti kalo beneran gimana? Gue tahu lo emang benci banget sama Dika tapi jangan ngomong kayak gitu dong Na. Pamali!”

“Aku gak lagi nyumpahin Nay. Aku tahu saat aku pergi ke masa depan.”

“Hehehe....itu lagi. Udahlah ngomongin yang lain aja.”

“Yang lain? Mmm Gue sama Dika kissing!”

“What?” Nayla tersedak siomay yang dia makan. “....kapan, dimana dan bagaimana?”

***

Papaku punya simpanan? Bagaimana bisa Renata menyimpulkan hal itu. Memang sempet rada heboh sih, pas ada tante-tante ngaku kalau dia lagi hamil anak papa. Tante itu mulai ribut dan minta tanggungjawab dari papa. Papa bilang dia tidak ingat apapun malam itu. Aku dan mama tahu dengan jelas kalau papa bukan orang yang bisa mengkhianati keluarga, tapi mama juga harus punya bukti untuk mendukung keyakinannya. Mama pun menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu tentang wanita itu. Dan hasilnya, wanita itu memang hanya ingin memeras papa. Dia menjebak papa setelah keluar dari tempat karaoke. Ceritanya sangat panjang. Intinya, papaku tidak seperti yang dipikirkan Renata. Itulah kenapa aku menjambaknya waktu itu.

***

“Dik!” aku menghampiri Dika yang sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi.

“Na! Kamu dateng?” Ini adalah pertamakalinya dia memanggilku ‘kamu’ sepertinya hubungan kami mulai membaik. Aku pun duduk disampingnya.

“Udah makan?”

Dika menggeleng. “Na, boleh minjem bahu kamu gak?”

Aku menepuk pundaku. “Here!”. Dika mulai merebahkan kepalanya. Beberapa saat kemudian aku merasa pundakku terasa basah dan hangat. Dika menangis. Aku pun memeluknya. “Aku gak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja atau enggak Dik. Aku cuma bisa bilang, aku bakal ada buat kamu terus, nemenin kamu, minjemin pundak aku ke kamu Dik. Kalo mau nangis ya nangis tapi abis itu kamu harus senyum lagi.”

“Na, kamu pernah nanya kenapa aku benci sama kamu, apa masih butuh jawaban?”

“Tergantung kamu mau jawab atau enggak. Aku gak bakal maksa.”

“Ivan. Kamu tau Ivan anak kelas 2B?”

“Yang meninggal bunuh diri?” tentu saja aku ingat.

“Yang bukan cuma kamu tolak tapi juga kamu permalukan di depan banyak orang.”

Aku terdiam. Bagaimana aku bisa lupa orang itu. 2 hari setelah insiden itu, dia meninggal bunuh diri.

“Dia sahabatku Na.” Nafasku tiba-tiba tercekat. “....dia mengidap bipolar disorder. Dia selalu membicarakan tentang kamu. Dia bener-bener tulus sama kamu, Na. Gak masalah kalau kamu nolak dia, tapi gak perlu sampai mempermalukan dia seperti itu.”

“Jadi emang bener, Ivan meninggal gara-gara aku. Aku nggak nyesel nolak Ivan Dik karena aku emang gak cinta sama dia tapi aku nyesel banget udah mempermalukan dia. Semuanya karena taruhan bodoh aku sama Lili.”

“Lili?”

“Lili temen sekelasku, satu organisasi sama kamu Dik. Lili kan pernah di tolak Ivan dan dia ingin aku membalas dendam dengan bikin Ivan malu. Setelah itu Lili janji mau ngasih nomor HP kamu Dik.”

“No HP ku?”

“Sebenernya, aku udah suka kamu dari dulu Dik. Aku penasaran sama cowok badung yang sering bolos tapi selalu masuk 10 besar di kelas. Katanya kalo kamu rajin masuk, kamu yang bakal dapet rangking 1. Aku pikir ‘wah orang ini bener-bener jenius’. Aku beberapakali membuka percakapan saat kita tidak sengaja bertemu. Tapi kamu selalu cuek. 2 hari setelah insiden itu, aku baru dapat nomor HP kamu dan hari itu juga kamu nemuin aku dan bilang akan jatuhin aku berkali-kali di depan kamu.”

“Ternyata, semuanya juga salahku Na.” Dika menatapku.

“Enggak. Tapi salah aku. Maaf” Aku tertunduk.

Sejak saat itu, aku sering menengok ibunya Dika di rumah sakit. Hubungan aku dengan tante Widya sangat baik. Sepertinya beliau menyukaiku. Dia bahkan memintaku untuk terus ada disamping Dika. Dan ternyata hubungan mamaku dengan tante Widya juga sama baiknya. Beberapa kali aku datang menengok dengan mama dan papa.

Suatu hari, tante Widya memberiku sebuah cincin.

“Na, setelah tante gak ada, Dika pasti bakal ngurung diri di kamar. Murung, gak makan, gak minum, gak sekolah. Pada saat itu, kamu harus pukul kepalanya biar dia sadar. Kamu harus buat dia tersenyum lagi. Kamu harus janji sama tante ya!”

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, semua yang aku tahu saat pergi ke masa depan satu per satu terjadi. Dihari perpisahan siswa kelas 3, tante Widya meninggal. Dika 3 hari mengurung diri dikamar dan di hari ketiga aku memutuskan untuk mendobrak pintunya.

Nayla dan Tony bertunangan sebelum akhirnya 2 tahun kemudian menikah. Begitupula aku dan Dika menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan sejak kuliah. Kami menikah setahun setelah pernikahan Nayla dan Tony. Kami sangat bahagia. Sampai akhirnya sesuatu terjadi pada kami berdua.

***

3 Maret 2015 Pkl 15:05

Aku terbangun, nafasku terasa tidak beraturan. Air mata tiba-tiba saja keluar dengan derasnya. Kupukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Semua ingatan muncul bergantian tanpa jeda membuatku sangat kesakitan. Ingatan buruk yang kata dokter bisa membunuhku akhirnya muncul seperti neraka buatku. Aku semakin histeris.

Terdengar suara papa dan mama yang berusaha menenangkanku. Aku terus berteriak, sakit sekali. Bukan hanya kepalaku tapi juga hatiku.

“Dikaaaa” Aku berteriak memanggil namanya. Ku seka air mataku yang semakin deras. “Dika mana mam? Dika mana?” Mama memeluku sambil menangis. Tubuhku semakin berguncang dibuatnya.

26 Desember 2014
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, sebuah mobil inova terjun ke jurang setelah bertabrakan dengan truk di tikungan curam. Pengemudi mobil tersebut diketahui bernama Mahardika yang sedang dalam perjalanan berlibur bersama istrinya. Beruntung sang istri berhasil selamat dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis yang berada di TKP. 


***
Epilog

9 Maret 2015

“Na, lo nangis?” Nayla terlihat khawatir.

“Dika mati Nay. Huhuhu” Aku terisak.

“MATI??? Ah, cerita yang lagi lo bikin kan maksudnya? Kenapa dibikin mati sih?”

“Biar dramatis gitu.”

“Hadeuh.... udahan nangisnya! Tuh ada Dika yang asli dan nyata!”

“Mana?” Aku langsung menyeka air mataku.

“Itu duduk di depan jus mang Adang”

“Wah, iya. Tunggu disini sebentar ya Nay!”

“Mau ngapain Na?”

“Mau memulai sejarah!” Aku tersenyum pasti pada sahabatku Nayla.

Aku berjalan kearahnya dengan seluruh keberanian yang terkumpul di diriku. Aku melakukan pertaruhan besar saat ini.

“Dik, gue...gue...suka sama lo!”

“Hah? Lo abis ketiban balok Na?”


THE END

BAGIAN 1 : KEENA MAHARDHIKA

5 Februari 2015

2 bulan aku mengalami koma, katanya.
Saat aku terbangun, aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa aku dan siapa orang-orang yang berdiri disekitarku dengan cemas. Aku menderita amnesia, begitulah katanya.

Katanya, katanya. Aku hanya mendengar penjelasan singkat dari orang lain tanpa ada sedikitpun yang aku ingat.

Saat berusaha mengingatnya, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat bahkan sampai membuatku pingsan. Orang tuaku terlihat sangat panik ketika tubuhku terkulai di lantai akibat serangan vertigo tersebut.

Aku mendengar pembicaraan orang tuaku dengan dokter saat itu. Dokter menyarankan agar aku menghindari sesuatu –seperti ingatan- yang bisa membuatku drop. Tubuhku belum kuat menerima pukulan besar untuk ingatanku. Ingatan buruk yang ku ingat bisa saja membunuhku. Orang tuaku menangis. Tangisannya tertahan berharap aku tidak bisa mendengarnya.

Aku mendapatkan perawatan intensif selama aku di rumah sakit. Total sudah 1 bulan aku disini sejak terbangun dari koma. Kondisi tubuhku sudah membaik, hanya saja ingatanku masih sama. Aku masih menderita amnesia.

Beberapa orang datang menjenguk. Nayla, katanya (lagi) dia sahabatku sejak SMA. Dia datang bersama suaminya. Ah suami. Apa aku juga memiliki suami? Saat aku menanyakan hal itu pada Nayla, dia menatap ibuku ragu.

“Kamu sudah lama bercerai, setahun yang lalu” Ibuku memberi jawaban.
“Oh, sayang sekali aku gagal.” Aku mendesah kecewa.

***
3 Maret 2015

Hari ini aku pulang kerumah. Seorang pembantu rumah tangga menyambutku dengan ramah, seolah sangat merindukanku. Ayah membawaku ke kamar untuk beristirahat sementara ibu pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.

Dalam ingatanku, aku memang tidak mengingat rumah ini. Tapi hatiku pasti mengingatnya. Aku lahir dan besar disini, aku merasa tidak asing. Sesuatu yang membuatmu nyaman walaupun kamu tidak mengingatnya.

Setelah makan siang, aku kembali ke kamar. Kepalaku sedikit pusing. Kurebahkan badanku. Sesekali aku mencoba meneliti seluruh sudut di kamar ini. Sebuah piagam yang menepel di dinding menarik perhatianku. Wah juara photografi tingkat nasional. Aku tersenyum, seolah bangga dengan diriku sendiri. Di meja tepat dibawah piagam, ada sebuah kamera yang mungkin aku gunakan untuk mengikuti perlombaan itu. Aku ingin mencoba memotretnya tapi tidak kutemukan memori di dalamnya.

Aku pun mencari-cari di laci meja. Namun tetap tak ada. Aku malah menemukan sebuah cincin. Apa ini cincin kawinku? Gumamku.
Aku berjalan kembali ke ranjangku sembari terus memperhatikan cincin kawin yang begitu indah ini. Aku menyematkannya di jariku. Sangat pas dan sangat cantik. Kemudian akupun terlelap.

***
Januari 2010

Aku kalah. Selalu saja begitu. Dari dulu aku selalu jatuh berkali-kali karenanya.
Namanya Dika. Mahardika. Dia teman sekolahku. Lebih tepatnya mungkin musuh bebuyutanku sejak SMP. Dan ironisnya kita malah sekelas sejak kelas 1 SMA sampai sekarang menginjak kelas 3 semester akhir.

Dia terpilih menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan kami melalui sebuah voting yang melibatkan seluruh siswa kelas 3. Aku berada di posisi kedua dan akhirnya terpilih menjadi wakil ketua.

“Udah deh Na, lo harus mengakui kekalahan.” Ucapnya saat melihat wajahku yang cemberut. Ucapannya terdengar sangat arogan membuatku semakin kesal.

“Siapa yg gak ngakuin kekalahan? Jangan asal ngomong deh lo dik!”

“Santai dong, gue lebih populer daripada lo, itu fakta.”

Uh. Dia senang sekali membuatku kesal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat telingaku sakit.

“Iya deh Mr. Popular. Ah, atau gue harus panggil Ketua mulai sekarang. Lo kan seneng banget disanjung-sanjung.” Aku menepuk pundak Dika sekuat tenaga. Sebenernya maksud tersembunyi gue adalah PUKULAN DISENGAJA YANG DISAMARKAN SEBAGAI TEPUKAN DUKUNGAN.

Mahardika. Aku tak tahu alasan yang sebenarnya kenapa kami selalu berseteru. Seingatku perseteruan kami bermula saat kelas 2 SMP. Seorang cowok badung yang hobby bolos tiba-tiba berubah menjadi cowok teladan yang selalu mendapat peringkat satu. Bukan hanya di kelas tapi nilainya juga paling besar se-SMP Patriot 1 ini. Entah apa yang membuatnya berubah, tapi setelah dia berubah menjadi cowok Popular yang pintar dan aktif berorganisasi, dia seolah mengambil lahanku untuk bersinar. Ya. Sebelumnya akulah si Bintang sekolah bukan dia.

Sejak saat itu, kami selalu saling kejar-mengejar prestasi. Saling menyalip untuk mendapatkan perhatian guru dan siswa lainnya. Cek cok sudah biasa diantara kami.

“Mulai sekarang, gue bakal bikin lo jatuh berkali-kali di depan gue.” Aku masih ingat kalimat yang di ucapkan Dika saat mendeklarasikan perang denganku. Aku bisa melihat raut kemarahan dan kebencian terpancar untukku. Aku begidik, sedikit takut sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku dan kenapa dia ingin ‘menjatuhkanku berkali-kali’. Namun karena sikapnya yang sangat tidak bersahabat padaku, akhirnya membuatku sangat membencinya. Kami terkenal sebagai duo Na and Dika (Katanya sodara kembarnya Tom And Jerry). Dan yang lebih menyebalkannya lagi, kita bukan hanya satu SMA sekarang tapi juga 1 kelas.
Neraka. Itulah perasaanku tentang kelas kami. Kalau Aku dan Dika sedang adu argumen tentang suatu permasalahan yang dilontarkan guru, seluruh kelas hening. Adu argumen kami selalu berakhir dengan teriakanku yang sudah melewati batas emosional. Aku selalu kalah. Begitulah cara dia menjatuhkanku. Aku tidak tahu otaknya terbuat dari apa, tapi aku pikir dia siswa yang sangat jenius. Dengan berat hati aku harus mengakui itu. Tapi sikap arrogannya itu selalu membuat semua kelebihan dia minus di depanku.

“Pengumuman.....” Terdengar suara Ibu wakil kepala sekolah di speaker kelas. “.....setelah melalu hasil voting seluruh siswa kelas 3, Mahardika siswa kelas 3 IPA 1 terpilih menjadi ketua panitia pelepasan siswa kelas 3 tahun ini. Selamat.”

Ruangan kelas pun semakin riuh dengan ucapan selamat. Jabatan sebagai ketua Panitia Pelepasan siswa adalah sebuah jabatan terhormat di sekolahku. Saat kamu terpilih penjadi Ketua Panitia, itu berarti bahwa teman-teman seangkatan sangat menghormati kamu selama 3 tahun bersekolah disini. Jabatan yang selalu diperebutkan oleh siswa-siswa kelas 3 yang berprestasi dan mencuri perhatian. Tidak semua siswa populer dapat terpilih, karena siswa lainnya juga akan mempertimbangkan masalah tanggungjawab. Seberapa besar kamu percaya pada orang yang akan bertanggungjawab pada acara sakral seperti perpisahan sekolah. Sebuah acara yang sangat emosional.

Dika menatapku dengan wajah arogannya. Seperti ingin menunjukan bahwa dia, sekali lagi, berhasil menjatuhkanku.

“Keena juga terpilih jadi wakil ketua.” Dia menunjuk ke arahku. “Mohon kerjasamanya, ibu wakil.” Dia mengerlingkan matanya padaku. Sedetik kemudian aku merasa ingin muntah.

Speaker kembali berdengung. “Pengumuman. Pihak sekolah baru saja mendapatkan kabar yang menggembirakan. Salah satu siswa kita, Keena Anastasia, siswa kelas 3 IPA 1 berhasil menjuarai lomba photografi tingkat nasional. Selamat dan terus berkarya.”

“Nay, yang gue denger bener kan? Gue....Gue juara Nay!” aku memekik bahagia.

“Iya Na. Selamat Na” Nayla memeluku, begitu juga dengan anak-anak lain yang bergantian mengucapkan selamat. Bintang hari ini berganti dalam hitungan menit, dari Dika ke Aku.

Aku melihat Dika dengan wajah pamerku. Tersenyum dengan lebar pertanda bahwa kali ini aku menang, menyalip euporianya. Namun dia malah membalas senyumku sinis dan menggumamkan sesuatu. “Se-la-mat. Bu-wa-kil”. Dia selalu membuatku sangat kesal. Selalu.

“Na, sampai kapan lo mau terus gak akur sama Dika sih? Gak capek apa berantem mulu?” Nayla membuka percakapan setelah mendengar aku menyumpahi arogansi Dika sedemikian rupa.

“Capek sih iya. Tapi gimana lagi, orangnya sengak banget. Sebel banget gue Nay. Sumpah!” ucapku berapi-api.

“Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh.”
“Jodoh? Please deh Nay. Gue jodoh sama Dika? Gak mungkin. Mimpi buruk banget jodoh sama cowok kasar dan arogan kayak dia.” Aku gak habis pikir kenapa Nayla sempet-sempetnya berfikiran seperti itu. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Ralat. Aku pernah membayangkan hal itu tapi dulu. (Catat: DULU!)

***
Aku terbangun dari tidurku. Hmmm hangat. Sehangat pelukan seseorang. Aku menggeliat malas.

Cup. Ada yang mencium kepalaku. Pelukannya terasa semakin kuat dan semakin hangat.

“Good morning, sayang.” Ucap orang itu. Aku tersentak sepertinya aku sangat mengenal suara itu. Aku berbalik perlahan sambil berdo’a bahwa semua ini hanya mimpi.

“Arrrrrgggghhhhh” Aku teriak sekeras mungkin sambil terus memukuli orang itu. Shit! Aku menyadari bahwa tubuh kami berdua hanya tertutup oleh 1 selimut.

“Cabul..... dasar cabul....” Aku berteriak, menangis dan terus memukuli Dika. Ya, orang yang sedang tidur bersamaku adalah Mahardika. Musuh bebunyutanku. Kenapa aku bisa tidur dengannya? Apa aku mabuk, terus semua ini terjadi? Tapi ini tidak mungkin. Aku tidak pernah minum-minuman keras.

“Sayang, are you okay?” Dika mencoba menenangkanku. Menahan tanganku agar tidak terus memukulinya.

“Brengsek lo Dika! Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Kita kan masih sekolah!” Aku menatap kejam matanya tentu dengan sisa-sisa airmataku yang tumpah ruah seperti pancuran.

“Sekolah? Itu hampir 5 tahun yang lalu sayang! Kamu mimpi ya?” Dika mengelus rambutku khawatir.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Ini jelas bukan kamarku. Terasa asing. Di salah satu dinding terpasang sebuah foto pernikahan. What? Aku dan Dika menikah? Ini gak masuk akal, aku pasti cuma mimpi. Please bangun Na. Bangun.

Oh baby I’ll take you to the sky, Forever you and I...... (Petra S-Mine)

Suara nada dering dari lagu yang sama sekali tidak ku kenal menyadarkanku di tengah kebingungan.

“Yang, kok diem aja. Itu handphone-nya bunyi.” Dengan sedikit linglung, ku raih sebuah HP di meja samping tempat tidur.

“Halo?”

“Gak baru bangun kan?” Aku langsung menyadari suara ibuku.

“Jadi kan belanja bareng buat acara syukuran pindah ke rumah barunya? Ayo siap-siap udah siang nanti kehabisan bahan-bahan yang masih segar.”
“Iya, mam.” Aku segera menutup telepon dari Ibuku. Kulihat wallpaper di layar HP-ku adalah foto kami berdua. Aku dan Dika. Tertulis pula di layar : 24 Agustus 2014
Wait? 2014? Apa ini berarti aku time traveler ke masa depan seperti di film-film? Aku berharap semua ini hanyalah mimpi namun entah kenapa terasa begitu nyata.

Mama katanya akan menjemputku kerumah. Dari tadi aku hanya diam dan berusaha menghindari berbicara atau berinteraksi dengan Dika. Dika senang sekali melakukan kontak fisik denganku. Tiba-tiba memelukku, tiba-tiba mengelus kepalaku. Telingaku masih agak ‘gak terima’ saat Dika memanggilku mesra dengan kata ‘sayang’, ‘dear’, ataupun ‘honey’. Rasanya sedikit jijik dan geli kalau mengingat sikapnya padaku kemarin eh apa aku harus menyebutnya ‘dahulu’ karena aku datang dari masa lalu? Tapi aneh aja gitu, kok Dika bisa berubah seperti ini sikapnya padaku. Apa yang membuat dia jatuh cinta padaku? Wah ternyata sebesar apapun setidaksukaan seorang Mahardika padaku tetap tidak bisa menolak inner beauty dari seorang Keena. Hahahaha. Rasa bangga entah darimana menjalar keseluruh tubuhku.

“Kamu aneh hari ini.” Dika duduk di depanku. Memberikan segelas susu padaku.

“Ayo diminum biar sehat.” Dia tersenyum sambil, sekali lagi melakukan kontak fisik, mengacak-acak sayang rambutku.

Aku tiba-tiba begidik mengingat kenyataan bahwa semalam aku baru saja melakukan ‘itu’ dengan seorang Mahardika. Aku tidak punya pilihan selain berdo’a bahwa ini cuma mimpi belaka. Dan saat aku membuka mata besok, aku kembali ke kehidupanku sebagai Keena siswi SMA.

Wajahku dan wajah Dika tidak jauh berbeda dengan saat kami di SMA. Hanya saja penampilan kami sedikit dewasa. Dika, harus aku akui, hmm gimana ya cara menjelaskannya. HOT. Dewasa. Dan ternyata ganteng banget. Ditambah sikapnya yang sangat lembut padaku, sedikit membuatku goyah dan menikmati penjalanan mimpi ini – aku masih tidak percaya tentang time traveler – So mari kita menyebutnya perjalanan mimpi.

Mama datang, wajah mama pun tidak jauh berbeda. Aku memeluk mama dengan bahagia. Paling tidak aku tidak merasa akward saat bersama mama, tidak seperti saat aku hanya berdua saja dengan Dika. Dika menyalami mama. Mama tersenyum sambil mengelus kepala Dika dengan sayang. Sepertinya mama sangat menyukai menantu seperti Dika.

“Mama pinjam Na sebentar ya Dik!” mama mengerlingkan matanya pada Dika. Dika langsung memberikan simbol OK dengan tangannya. Dia kemudian mencium pipiku lembut. Terserah mau mengatakan aku gila atau gak tau malu, tapi aku menikmatinya, maksudku perlakuan spesial Dika padaku. Sepertinya aku sangat menyakini kalau ini hanya perjalanan mimpi yang akan segera berakhir. Anggap saja ini hanya sekedar mimpi erotis seorang remaja. Ya walaupun pasangannya adalah Mahardika si Arogan. Hello ini cuma mimpi dan besok pagi aku akan bangun sebagai Na si siswi SMA.

Di pasar, aku kebetulan bertemu dengan seseorang yang sangat ku kenal. Nayla.

“Nay! Gue seneng banget ketemu lo saat ini.” aku menghambur memeluk Nayla.

“Hai, Na. Are you ok?”

“Gue baik-baik aja kok Nay.”

“Acara syukurannya besok pagi ya?”

“Hmm.” Aku menggangguk.

“Eh Nay, ada yang mau gue ceritain ke lo. Lo pasti gak bakalan percaya deh.”

“Apaan?”

“Kayaknya lebih enak kalo kita ngobrol sambil makan atau minum gitu deh. Yuk?”

“Ok.”

“Bentar, gue bilang nyokap dulu ya. Tunggu disini.”

Aku pun menghampiri mama, dan mengatakan padanya untuk pulang lebih dulu karena aku ada urusan penting dengan Nayla.

***
“Ih gila ya tempat ini gak ada yang berubah. Padahal beberapa tempat udah ada yang berubah sedikit-sedikit.” Aku memulai percakapan. Nayla menampakan wajah bingungnya padaku.

“Eh Nay, lo pasti gak percaya kalo gue itu datang dari masa lalu. Gue kaget tiba-tiba pas gue bangun disebelah gue ada Dika. OMG, gue masih inget banget lo pernah ngomong gini ‘Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh’. Terus besoknya gue udah ada di tahun 2014 dengan status gue menikah sama Dika. Gila banget kan?” Aku nyerocos dihadapan Nayla. Aku sama sekali tidak berharap Nayla mempercayai omonganku, karena aku tahu ini gila dan gak masuk di akal. Cuma aku ngerasa plong aja setelah cerita ke Nayla.

“Gue tahu, saking cintanya elo ke Dika sampe-sampe lo spaneng kayak gini Na.” Aku sudah menduga jawaban Nayla pasti seperti ini.

“Gimana sih ceritanya kok gue bisa nikah sama Dika, kayak aneh aja gitu. Kok bisa.”

“Kayaknya lo kena sindrome misterius kayak 5 tahun yg lalu. Inget gak dulu lo juga ngomong hal-hal aneh kayak gini ke gue? Dan anehnya gue percaya. Lebih tepatnya berusaha memahami lo.”

“Maksudnya? Hal aneh apa?”

“Lo bilang kalo lo habis dari masa depan dan ternyata di masa depan lo nikah sama Dika. Sejak saat itu lo kayak kepelet sama Dika. Cinta mati sampe-sampe lo bikin Dika putus sama Renata. Katanya lo gak rela kalo ‘calon suami masa depan’ lo pacaran sama orang lain tepat di depan lo. Gue mikir kayaknya lo abis kesurupan atau abis ketiban balok. Hahahaha” Kali ini aku yang bingung mendengar penjelasan Nay tentang bagaimana hubungan aku dan Dika dimulai. Jadi bukan Dika yang tergila-gila padaku tapi aku yang ngejar-ngejar Dika. Ya Tuhan.

“Really?”

“Serius. Lo juga bilang soal gelang dari masa depan yang ikut kebawa sama lo. Katanya itu hadiah 100 hari pernikahan dari Dika. Kalau gue inget soal itu, gue jadi mikir lo bener-bener butuh psikiatris, Na. Tapi lo keukeuh bilang kalo lo gak gila. Tapi emang sih selain perasaan cinta mati lo sama Dika yang bilang kalo Dika itu ‘calon suami masa depan’ lo, semuanya masih normal-normal aja. hahaha” Nayla kembali tertawa.

“Terus lo percaya gitu aja sama gue?”

“Kan gue udah bilang, gue cuma mencoba memahami lo. Tapi lo bilang hal-hal aneh lainnya yang terbukti bener. Kayak lo bilang kalo pas hari perpisahan, Ibunya Dika meninggal. Dan itu beneran kejadian. Lo kayak punya kemampuan meramal.”

“Ibunya Dika meninggal?” Aku syok. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi.

“Kanker.” Nay berhenti sejenak, kemudian menyeruput kopinya. “Lo kelihatan sedih banget Na. Terus lo selalu ada buat Dika sejak saat itu. Akhirnya lo pacaran dan menikah. Kalo dipikir-pikir semua yang udah lo kasih tahu ke gue soal masa depan semuanya kejadian. Termasuk soal gue sama Tony.” Dia tersenyum malu.

“Tony? Oh gebetan lo yang ngenalin gue ke cowok brengsek itu (baca: Mantan, namanya Ravi). Emangnya gue ngomong apaan soal kalian berdua?”

“Lo bilang kalo, gue bakalan jadian dan nikah sama Tony.” Ucapnya sambil membentuk HATI dengan tangannya ke arahku. Terlihat jelas kalau Nayla cinta mati sama Tony.

“Jadi sekarang lo udah nikah sama Tony?”

“Setahun yang lalu.”

***
Aku semakin bingung dengan semua ini. Aku berharap esok hari, aku bisa kembali ke kehidupan SMA. Aku ingin kembali dari perjalanan mimpi ini.

Saat aku masuk kerumah, rumah terlihat gelap. Ternyata rumahku tidak terlalu jauh dari rumah orang tuaku. Masih satu komplek namun beda Blok. Aku pun menyalakan lampu di ruang tamu. Tak ada siapapun. Ah, syukurlah Dika belum pulang. Aku akan langsung tidur supaya tidak perlu bertemu atau berbicara dengannya.

“Happy 100th days for us, dear” Dika mengecup bibirku mesra. Ada sesuatu yang menjalar di tubuhku. Aku merasakan hal aneh yang sulit di jelaskan saat dia terus saja menciumi leherku. Aku mendorongnya perlahan setelah sekian lama mematung. Dia sedikit kaget melihat reaksiku namun kemudian tersenyum.

“For you. Di pake ya sayang.” Dia memberikan sebuah kotak kecil padaku. Aku pun membuka kotak itu perlahan. Sebuah gelang yang sangat indah. Dika memakaikannya di pergelanganku.
“I love you, Na. I love you so much. Aku pengen kita tetep sama-sama kayak gini terus. Aku sayang banget sama kamu Na. Aku cuma punya kamu di dunia ini.” Dia memeluku sambil terisak. Aku melepas pelukannya. Menatap wajahnya. Aku bisa merasakan ketulusan dimatanya yang basah dengan air mata. Dia balik menatap mataku lekat, penuh cinta, penuh kasih sayang. Dika yang ada di depanku sangatlah berbeda dengan Dika yang aku kenal. Atau mungkin memang sebenarnya hati Dika selembut ini. Hanya saja yang dinampakan padaku hanya sebuah tembok yang sengaja dia tinggikan?

“I love you too.” Aku menjawabnya. Melihat Dika menangis, tanpa sadar air mataku juga mengalir tak terbendung.

Dika menyeka air mataku dengan tangannya. Kemudian kami kembali berciuman. Kali ini aku juga membalas ciumannya. Ciuman hangat nan mesra berubah menjadi ciuman intens yang mendebarkan.

Malam pun ikut tersenyum melihat sepasang kekasih bergulat mesra dalam cinta. Bulan juga seakan cemburu melihat kami yang menyatu dalam satu nafas. Aku dan Dika tersenyum penuh kasih melihat mata bahagia yang terpancar dari masing-masing kami. Cinta selalu begitu, merobohkan dinding yang kami bangun dengan mudahnya.

***
Januari 2010

Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar. Aku menggeliat sambil menutupi mata yang silau karena cahaya matahari itu. Aku kemudian mengedarkan pandangan mataku ke sekeliling kamar.

“Oh No!” Aku sekarang berada di kamarku sendiri, kamar di rumah orang tuaku. Dan tentu saja tidak ada Dika yang memelukku dengan hangat atau menatapku dengan penuh cinta. Aku sedikit kecewa bahwa ini benar-benar hanya sebuah perjalanan mimpi. Ketika kau terbangun dan semuanya menghilang.

Hari ini aku harus bertemu dengan Dika yang lain. Dika yang arogan dan menyebalkan. Karena itulah Dika yang nyata. Bukan Dika yang ada di mimpiku semalam.

Aku terkejut bukan main melihat gelang yang di berikan Dika melingkar di pergelangan tanganku. Ini bukan perjalanan mimpi. Aku benar-benar melakukan perjalanan waktu ke masa depan. Sulit di percaya dan ini luar biasa.


Aku berjinkrak-jinkrak kegirangan mengetahui bahwa apa yang aku alami bukanlah mimpi. Dan aku juga bahagia karena itu berarti, aku memang akan menjadi istri Mahardika. Ah aku benar-benar gila. Seperti kata Nayla.

Rabu, 11 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (6)

BAB 6 : Pangeran dan Upik Abu

Aku tak bisa memejamkan mataku. Bayangan tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu masih menimbulkan rasa cemas. Tunangan? Aku kembali menarik nafasku. Kebohongan yang kami tulis semakin menyesakan saja.

Aku berharap ini bukanlah kebohongan. Aku akan menghadapi semua kesulitan mulai dari sekarang. Baik dari si nenek sihir maupun dari si wanita iblis. Dan aku harus menghadapi semua itu demi sebuah kebohongan bukan demi memperjuangkan cinta kami. Ya, karna kami hanya pasangan pura-pura.

Semalam 

“Tunangan? Apa kamu gila?” aku mengumpat padanya.

“Jangankan tunangan, menikah pun bisa bercerai. Jangan terlalu khawatir, ini hanya sementara.” kilahnya

“Tapi kesepakatannya bukan seperti ini!”

“Karin. Dengan memperkenalkanmu sebagai tunanganku di acara sebesar itu, akan banyak media yang menjadikannya berita. Itu akan membuat Ibuku berhenti menjodohkanku dengan Joana.”

“Kamu hanya memikirkan diri sendiri, kamu sama sekali tidak memikirkan pendapatku, perasaanku. Egois!”

“Aku akan membayarmu jika kamu mau.”

“Uang? Bukan itu inti masalahnya Arya, bukan! Aku Cuma merasa kamu benar benar memanfaatkan aku sesukamu!”

“Sepertinya kamu juga tidak menyukai Joana. Kamu juga memanfaatkanku tadi di depan Joana. Bukankah itu bagus. Win Win Solution. Ditambah wawancara eklusif yang membuatmu tidak jadi dipecat.”

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi padanya. Mulutku masih terasa kelu. Aku ingin mengeluarkan semua kekesalanku tapi seperti ada sesuatu yang menahannya.

Dia seperti angin, sangat sulit di tebak apalagi dikendalikan. Kemana arah dia berpikir, kemana arah dia bergerak, semua tak ada yang bisa kekutahui.

Hujanku kini berubah menjadi topan yang siap meluluhlantahkan apapun di sekelilingnya. Hujan merasa terseret tanpa arah oleh angin yang memegangnya.

*****

“Mana Karina?” Terdengar suara seseorang yang ku kenal. Editor majalahku.

Dia menghampiriku terburu-buru. Sial, aku belum sempat mewawncarai Arya.

“Hei Karina!” Teriaknya

“Begini Pak, ada sedikit masalah jadi wawancaranya tertunda.” Aku mencoba berkelit. Aku tau, dia pasti mencariku karena artikel kemarau.

“No...no!....” Dia menjentikan telunjukanya “....Itu gak penting sekarang. Fakta bahwa kamu adalah tunangan Pak Arya, itu lebih luar biasa. Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

“Soal itu....”

“Tidak perlu menjelaskannya. Aku tahu pasti kamu tidak ingin melibatkan koneksi. Aku semakin respect sama kamu.” Dia memotong perkataanku. Menunjukan senyum termanisnya di depanku. Aku bisa jamin bahwa senyumannya hanyalah topeng belaka.

“Soal wawancara dengan kemarau, saya akan berikan hasil secepatnya?”

“Sepertinya lebih menarik membuat artikel mengenai hubungan percintaan antara Arya Dava denganmu!” Editorku mulai membuatku sangat khawatir dengan maksud tersembunyinya.

“Bagaimana?” Tanyanya lagi padaku.

“Tapi Pak, majalah kita bukan majalah infotaiment. Itu bukan BRAVE banget. Dan saya tidak mau melakukannya. Saya tidak mau menjual kehidupan pribadi saya pada media.” Jawabku tegas.

“Sekarang kamu lebih berani ya....” Editorku tersenyum sinis, “.....Ya melihat siapa yang ada di belakangmu tentu kamu harus lebih berani dan percaya diri. Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau kamu menolak ya sudah. Nanti aku bisa dipecat gara-gara beradu argumen denganmu. Lakukan sesukamu.”

Wah, aku merasa pengumuman menggemparkan tentang aku dan Arya tidak berdampak baik pada karirku. Bukan hanya atasanku tapi juga beberapa rekan kerjaku terus saja melirik dan membicarakanku seperti topik hangat saat ini.

Darimana datangnya upik abu ini, dan bagaimana dia bisa berhasil menggoda si pangeran? Mungkin begitulah kira-kira yang ada dipikiran mereka.

“Kamu sudah datang?” aku menyapa Nana yang baru saja datang dari tugas wawancaranya. Aku merasa sedikit lega mendapati Nana ada di depanku sekarang. Dia terlihat lelah namun masih berusaha meninggalkan seulas senyum padaku.

“Eh, ada nyonya Dava Putra” Dia tersenyum meledek sambil menepuk-nepuk pundaku.

“Jangan bicara seperti itu. Semua orang disini melihatku dengan tatapan aneh. Aku berharap kamu tidak bersikap seperti mereka.”

“Santai Karin. Apa aku terlihat seperti orang-orang itu?” Nana menujuki semua orang yang sedang mencuri-curi pandang padaku dengan jarinya, membuat mereka langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura fokus pada pekerjaan masing-masing. Ah. Nana memang seperti itu. Bagiku kepribadiannya sangat menakjubkan. Dia termasuk wartawan mengerikan yang akan mengulitimu dengan segala pertanyaan saat wawancara.

“By the way, kapan dan bagaimana kamu bisa kenal dan bahkan sampai bertunangan dengan dia? Aku sama sekali tidak tau kalau kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku”

“Tidak seperti itu. Aku memang pacaran dengannya (aku berbohong, lagi), tapi aku tidak tahu kalau dia akan mengumumkan pertunangan di acara itu.”

“Wah, bagaimanapun aku memikirkannya, ini sangat luar biasa. Kalau kamu sampai menikah dengan Arya, kamu secara tidak langsung jadi pemilik Brave Magazine. Tolong naikan pangkatku ya!” Nana mencoba menggodaku. Namun apa hubungan antara  Brave dengan Arya?

“Maksudmu?”

“Hello Karina, Jangan-jangan kamu tidak tahu kalau pemegang saham terbesar Brave adalah Arya Dava.”

“What? Bukannya Ibu Widya?”

“Ibu Widya itu calon mertuamu, bodoh!” OMG si nenek sihir itu pemilik Brave Magazine. Tempat kerjaku sepertinya akan menjadi neraka yang nyata sekarang.

“Memangnya kamu tidak tahu nama ibunya Arya? Ini aneh!” Dia menyelidikku. Naluri wartawannya keluar dengan buas.

“Tentu saja aku tahu, tapi aku tidak tahu kalau ibu Widya mamanya Arya sama dengan ibu Widya pemilik Brave.” Aku berusaha untuk tidak gagap. Jujur saja, selama bekerja di BRAVE aku belum pernah bertemu langsung dengan Ibu Widya. Jadi aku benar-benar tidak tahu.

“Jangan-jangan....” Nana menatapku dengan penasaran.

“Apa?” Jujur aku sangat panik. Apa Nana menyadari sesuatu?

“Jangan-jangan sampai saat ini kamu belum mendapat restu dari Bu Widya? Karena itu, Arya nekad memperkenalkanmu sebagai tunangannya di acara besar itu untuk menyerang ibunya yang malah ingin menjodohkan Arya denga Joana.” Nana terlihat antusias mengutarakan analisanya. Ternyata dia juga sudah tahu soal perjodohan Arya dengan Joana. Kemana saja aku selama ini? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?

Bahkan wartawan politik seperti Nana tahu soal gosip Joana dan Arya. Mungkin cuma aku saja yang tidak terlalu tertarik dengan berita entertainment apalagi yang berhubungan dengan si wanita iblis itu.

“Mungkin seperti itu, hanya urutannya saja yang salah.” Ucapku

“Urutannya salah? Maksudnya?”

“Sudahlah. Yang jelas Brave sudah menjadi neraka sekarang” aku mendesah. Nana terlihat simpati melihatku.

Aku tidak mungkin menjelaskan urutan yang benar dari analisisnya – Arya ingin menyerang ibunya yang memaksa menjodohkannya dengan Joana dengan mengumumkan pertunangan kami, yang tentu saja bohong. Dan ibunya tidak akan pernah memberikan restunya kepada kami dan akan berusaha untuk memisahkan kami.

'Arya sendiri yang akan mengusirmu dari hidupnya. Akan ku pastikan' Itu adalah kalimat terakhir yang dibisikan si nenek sihir padaku. Yang tentu saja membuatku merinding.

“Hei Karin,bersemangat dong! Atau kamu mau melepaskan Arya?” Nana menepuk pundakku sampai aku terhunyung. Aku ingin membalas tepukan kerasnya yang lebih mirip sebuah pukulan, namun aku urung.

“Aku sudah pernah melepaskan orang yang aku sukai, sekali. Dan aku tidak ingin melakukannya dua kali.”

“Kemarau?”

Aku mengangguk. Nana melihat wajahku berubah kecut, kemudian dia memeluku dengan hangat.

“Jadi Karina jatuh cinta lagi? Kali ini jangan pernah lepaskan tangan Arya! Oke?”


Aku tidak pernah berbohong bahwa aku jatuh cinta pada Arya. Cinta itu hasrat ingin memiliki. Orang yang berkata bahwa cinta itu tak harus memiliki, sebenarnya hanya perkataan orang yang sudah menyerah pada cintanya.

Kamis, 05 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (5)

BAB 5 : Nenek Sihir dan Wanita Iblis

23 Januari 2015

“Itu terlalu tua, ganti yang lain!”

Si sekretaris yang baru ku ketahui bernama Pak Wahyu, mulai menilai pakaian yang aku kenakan. Ini sudah gaun ke 6 yang aku coba, namun tetap tidak lolos dimata om-om ini.

Kenapa aku panggil om-om? Pak Wahyu ini berumur sekitar 40 tahunan. Dan dari tadi karyawan butik terus saja melihatku dengan tatapan penuh tanya, mereka mungkin menganggap aku ini perempuan mainan om-om. Aku pun begidik.

Pak Wahyu membuat simbol OK dengan tanggannya saat melihat pakaian ke 7 yang aku pakai.

“Pak Wahyu, sebenernya mau Pak Arya itu apa sih?”

“Mba Karin nurut aja, dan jangan banyak bertanya. Pak Arya tidak suka orang cerewet” Ucap Pak Wahyu seraya membayar pakaian yang tadi dipilih.

Aku gondok. Secara tidak langsung, Pak Wahyu mengatakan kalau aku itu cerewet. Tapi demi wawancara ekslusif itu, aku harus bertahan.

Kali ini aku dibawa ke sebuah salon. “Make over!” dia berbicara pada seseorang seraya menunjukku.
Orang itu melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sedikit ‘jijik’. Apa aku seberantakan itu,huh?

“Susah ya, tapi aku bakal ngelakuin yg terbaik!” pria setengah wanita itu mengedipkan matanya sambil mencubit lengan si Om, Pak Wahyu maksudku. Aku kembali begidik geli.

Jam demi jam berlalu, aku benar-benar sudah lelah. Mulai dari lulur, facial, creambath, sampai make up. Jujur aku tidak terlalu suka merawat diri atau berdandan. Agak risih juga sih tapi setelah melihat hasilnya, aku cukup terkejut.

Ternyata walaupun aku tidak terlalu cantik, tapi wajahku juga tidak terlalu jelek. Aku tertawa kecil karenanya.

Diperjalanan, aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan Arya dariku. Sampai repot-repot meng-makeover-ku seperti ini. Tiba-tiba terbersit rasa waswas dibenakku.

Beberapa jam yang lalu :

“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”

“Kamu bersedia aku wawancarai?” aku balik bertanya

“Dengan satu syarat...” dia menjentikkan jari telunjuknya. “......ikut denganku malam ini dan melakukan apa yang aku minta.”

Spontan aku langsung menyilangkan tangan menutupi dadaku.

“Jangan membayangkan yang aneh-aneh.” Arya sepertinya membaca apa yang aku khawartirkan.

“Huh...Syukurlah kalau itu bukan hal yang aneh. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta asal tidak melanggar norma hukum dan norma susila.” Ucapku mantap.

Dan disinilah aku sekarang. Sebuah hotel bintang 5. Oke, perasaanku mulai tidak enak. Pak Wahyu membukakan pintu mobil dan entah dari mana datangnya, aku melihat Arya sudah berdiri di depanku dengan pakaian tuxedo-nya.
Dia terlihat sangat tampan dan mempesona. Bohong kalau aku tidak jatuh cinta melihatnya. Arya menjulurkan tangan kanannya dan akupun meraihnya. Aku berusaha menyembunyikan senyumku yang sedari tadi meluap-luap.

“Mulai sekarang dengar baik-baik apa yang akan aku katakan....” Arya berbisik di telingaku,”.....Ibuku akan mengumumkan perjodohanku dengan seseorang di acara ini. Dan kamu akan berpura-pura menjadi pacarku. Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan rencana jahat ibuku. Mengerti!”

Rencana jahat? Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu. Ibunya pasti menginginkan yang terbaik untuknya.

“Jadi kamu ingin membohongi ibumu dan semua orang? Aku tidak bisa!” Aku menarik tanganku darinya.

“Itu kesepakatannya, Karin. Aku tidak punya banyak waktu. Aku hitung 1 sampai 5 dan buat keputusanmu! Satu, Dua, Tiga, Empat...” Aku masih diam “....Empat seperempat, empat dua perempat, Empat TIGA PER EMPAT,.....liiii.....” Arya menatapku, “....Karin ini hanya sementara.”

Bayangan tentang ancaman pemecatan dan dunia pengangguran mulai menggelayuti pikiranku. Terlebih lagi bayangan mulut penuh bisa dari Clara, yang pastinya sangat puas mengejekku.

“Oke, akan aku coba.” Aku mengangguk ragu. Arya tersenyum lega melihat anggukan kepalaku itu. Dia menggandeng tanganku. Kami berjalan menyusuri red carpet menuju sebuah pesta penghargaan, begitulah yang terpasang di banner.

“Arah jam 12, kebaya berwarna biru. Itu ibuku. Ayo kesana.” Aku merasa Arya menyeretku sekuat tenaga karena berkali-kali aku berbalik hendak kabur.

Aku mematung melihatnya. Tatapan si Ibu lebih mengerikan dari pada tatapan anaknya-Arya.

“Wah, Arya sudah datang” Bapak berkepala botak menyapa Arya lebih dulu, sementara si Ibu tetap diam.

“Siapa nih?” Bapak botak ini melihat ke arahku, aku memaksakan senyumku padanya.

“Oh, Dia ini...”

“Kenapa kamu bawa asistenmu ke acara ini, nak?” Si ibu menyela dengan senyum sinisnya ke arahku dan Arya.

“Asisten? Ibu harus tahu, membujuk dia supaya mau datang ke acara ini sangat sulit...” Dia memasang wajah anak kecil didepan ibunya.

“Direktur Handoyo, Gadis yang ada di sebelah saya ini...pacar saya, namanya Karina” Lanjutnya.

“Pacar? Wah, aku pikir kamu sama Joana. Soalnya ibumu dari tadi terus membangga-banggakan Joana di depanku. Hahaha”

“Hahaha...itu cuma gosip. Iya kan,bu?” Arya melirik ke ibunya. Si ibu hanya tersenyum palsu.

“Ah, kalau begitu saya tinggal dulu. Mari Karina!” Bapak botak yang ternyata bernama Pak Handoyo itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan kami bertiga.

“Siapa tadi nama kamu?” Si ibu menyelidikku.

“Karina, bu”

“Berapa kamu dibayar? Sudahlah kalian tidak perlu berpura-pura dihadapan ibu” ucap si ibu ketus.

Nenek sihir, dia benar-benar nenek sihir. Cara bicaranya, cara dia menatap, sangat menakutkan. Siapa kira-kira menantu yang akan tahan dengan nenek sihir ini. Beberapa menit yang lalu aku masih mencoba membelanya di depan Arya soal 'rencana jahat' perjodohan namun sekarang aku menarik semua pemikiran baik tentang si ibu.

“Ibu, tolong jangan bicara seperti itu” Arya membelaku.

Si Ibu – aku akan memanggilnya nenek sihir mulai sekarang – sama sekali tidak mengacuhkan pembelaan Arya untukku. Matanya mulai berkeliling mencari sesuatu, mungkin lebih tepatnya mencari seseorang.

“Joana, kemari nak!” Si nenek sihir melambaikan tangannya. Sudah kuduga. Gumamku.

“Dia adalah orang yang sangat ingin di jodohkan denganku. Dan ibuku sangat menyukainya” Arya berbisik padaku. Aku pun menoleh ke orang yang sedang di sambut nenek sihir dengan senyuman hangatnya.

Ya Tuhan. Kenapa semua hal buruk terjadi dalam satu hari? Aku terperanjat melihat siapa gadis yang di maksud. Joana Clara Haniffan, si wanita iblis dari gunung gundul.

“Karina? Kok kamu bisa masuk ke acara seperti ini?” ucapnya meremehkanku. Sudah kuduga dia akan cepat mengenali musuh bebunyutannya.

“Kamu berdandan juga?” Lanjutnya sedikit menahan tawa.

“Kalian saling kenal?” Si nenek sihir menyela.

“Tentu. Aku dan Karina satu jurusan saat kuliah. Iya kan?” Joana melihatku sok akrab. Aku hanya mengangguk enggan.

“Aku dengar kamu mau di pecat Karin? Kenapa? Kalo kamu butuh bantuan hubungi aku aja.” Mendengar hal itu, Arya menatap wajahku. Mungkin dia mulai mengerti alasan hidup mati kenapa aku ingin mewawancarainya.

Bedebah kau wanita iblis. Dia benar-benar ingin menjatuhkanku di hadapan Arya dan ibunya. Aku ingin sekali melemparkan telor ke wajahnya yang sok manis dan sok cantik! (Ralat, dia memang manis dan cantik. Tapi aku lebih pintar darinya! Tolong dicatat!)”

“Wah, bukankah ini suatu kebetulan yang luar biasa? Orang yang akan di jodohkan denganku ternyata saling kenal dengan pacarku” Kali ini Arya yang menyela pertarungan dendam diantara aku dan Joana si wanita iblis dari gunung gundul itu.

“Pacar?” wajah Joana langsung berubah kecut.

This is my turn. Okay! Aku akan memanfaatkan ini sebaik-baiknya untuk menang dari wanita ini. Sekali tepuk dua iguana mati. Mendapatkan wawancara ekslusif dan menghacurkan si wanita iblis ini.

“Iya, aku pacarnya mas Arya. Senang bisa ketemu kamu disini” Aku akting sok manis sambil menggandeng tangan Arya dengan mesra

Si nenek sihir terlihat sangat tidak suka dengan sikapku yang menempel mesra pada anaknya.

“Sayang, aku mau ke toilet dulu ya” ucapku pada Arya. Ya Tuhan, aku baru saja memanggil Arya dengan panggilan sayang.

“Oh, iya sayang.” Jawab Arya sedikit gugup. Aku pikir Arya juga kaget dengan perubahan sikapku yang begitu tiba-tiba. Tapi ini sesuai skenario yang dia harapkan. Dia harus berterimakasih padaku.

Tidak di sangka si ‘wanita iblis dari gunung gundul’ mengikutiku ke toilet. Huh mau apa dia? Mau perang dan jambak-jambakan lagi denganku?

“Wow. Karina memang hobby sekali mencuri ikan dari kucing lain, sama seperti 4 tahun yang lalu.” Dia tersenyum di depanku, menatapku tajam melalui cermin wastafel.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi 2 kali. Arya adalah target tangkapanku.” Lanjutnya.

“Wah kamu kucing toh, kirain manusia” Ledekku.

Bagaimanapun aku harus menahan emosiku dihadapannya. Aku tidak akan melupakan kejadian 4 tahun yang lalu saat dia melabrakku karena, Doni, pria yang dia sukai malah menyukaiku. Suatu hal yang menurutnya sangat mustahil. Cewek popular seperti dia kalah oleh cewek dekil – katanya – sepertiku. Aku menderita beberapa lecet dan beberapa rambutku juga rontok. Hal yang sama seperti yang di alaminya. Kami sama kuatnya dalam hal jambak-jambakan. Dan kami tahu bahwa kami harus menghindari itu.

Bukan hanya masalah Doni tetapi juga dalam hal akademis dia selalu no 2 dan selalu kalah dariku. Hal itu membuatnya semakin membenciku. Aku pun sama bencinya karena dia selalu menyebarkan fitnah – termasuk fitnah bahwa aku adalah wanita panggilan om-om.

Hanya saja nasib kami sekarang sungguh berbeda. Aku, dengan nilai akademis yang bagus memang bisa masuk perusahaan besar seperti Brave Magazine tapi hanya sampai situ keberuntunganku.

Sementara Clara atau orang-orang lebih mengenalnya dengan nama ‘Joana Haniffan’ telah sukses menjadi anchor yang disegani. Dengan wajahnya yang cantik dan cara bicaranya yang elegan, sudah membuat banyak orang tergila-gila melihat dia membacakan berita di salah satu stasiun televisi besar tanah air.

Harus aku akui, saat dia membacakan berita, dia terlihat sangat cerdas dan menawan. Tapi bagiku dia tetaplah wanita iblis yang selalu ‘kepo’ pada pencapaianku dan memastikan bahwa aku selalu dibawah karirnya.

Dia mempermalukanku habis-habisan di depan teman-teman alumni saat acara reuni bulan lalu. Sampai aku ingin sekali mencakar wajahnya dengan garpu yang kupegang saat memakan rainbow cake saat itu.

“Aku sama sekali tidak pernah mencuri darimumu, tapi mereka yang mendatangiku sendiri. Baik itu Doni maupun Arya.”

“Munafik! Cih!”

“Mungkin kita berjodoh dalam hal seperti ini. Bedanya, dulu aku tidak menyukai Doni namun sekarang aku menyukai Arya”.

“Kita lihat saja nanti, aku pasti akan menikah dengan Arya. Harus.”

“Dengan memanfaatkan ibunya?”

“Apapun.” Clara mengelap tangannya dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh emosi.

*****

“Untuk kategori CEO terbaik tahun ini, jatuh kepada....... Bapak Arya Dava Putra dari Daun Publisher, Selamat!” Pembawa Acara pada malam itu mulai membacakan para penerima penghargaan tahunan dari Yayasan Indonesia Pride. Tepuk tangan mulai menghiasi seluruh ruangan.

Arya berdiri dan membungkuk hormat kepada para hadirin yang hadir.

“Di mohon agar Bapak Dava Putra segera maju ke atas panggung dan menerima penghargaan dari Yayasan Indonesia Pride. Seperti yang telah kita ketahui, Bapak Dava Putra telah membawa Daun Publisher menjadi Perusahaan Penerbit nomor 1 di Indonesia. Beliau juga belum lama ini memperoleh penghargaan The Best Entrepreneur di ajang Asian Youth Entrepreneur di Singapura. Beliau di usianya yang begitu muda juga merupakan pemegang saham terbesar TrustTel, salah satu perusahaan besar penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia dan Asia Tenggara.” Lanjut si Pembawa Acara. Tepuk tangan pun semakin riuh.

Aku beberapa kali memperhatikan wajah penuh senyum Arya dengan takjub. Si Arogan ini memang pantas bersikap arogan dengan prestasinya itu. Aku merasa benteng antara aku dan Arya begitu tinggi.

Si nenek sihir membisikanku sebuah kalimat yang sangat mengganggu kepercayaan diriku. “Orang yang bersanding dengan anakku harus sepadan dengannya. Dan itu bukan kamu.”

Aku merasa si nenek sihir yang berbicara dengan sangat sinis itu benar adanya. Benar, aku memang menyukai Arya. Tapi aku juga tahu, Arya hanya menganggapku sebagai pacar pura-puranya. Tidak lebih.

Aku mengedarkan pandanganku pada seorang wanita bergaun pastel. Clara, seminggu lalu dia mendapatkan penghargaan Pembawa Acara terbaik Panasonic Award, sebuah penghargaan tertinggi insan pertelevisian Indonesia. Dia juga di tunjuk sebagai Duta Save Water Oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia.

Dia juga memiliki pergaulan sosial yang bagus. Teman-temannya adalah para model terkenal, para penerus kerajaan bisnis, sampai makan siang dengan anak Presiden. Tentu dia lebih pantas bersanding dengan Arya. Seseorang yang ternyata bukan hanya CEO Daun Publisher tapi juga mungkin lebih hebat dari itu.

“Penghargaan ini adalah untuk semua karyawan dan dewan direksi Daun Publisher. Untuk Ibu saya tercinta dan juga untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya saat ini. Tunangan saya, Karina Larasati. Terima kasih untuk selalu ada disisi saya.”

Apa? Tunangan?

Aku hanya bisa membeku di tengah riuhnya suara tepuk tangan. Dan aku juga bisa merasakan tatapan syok dan tak suka si nenek sihir kepadaku. Seolah telah bersiap untuk mencabik-cabik dagingku.