Kamis, 05 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (5)

BAB 5 : Nenek Sihir dan Wanita Iblis

23 Januari 2015

“Itu terlalu tua, ganti yang lain!”

Si sekretaris yang baru ku ketahui bernama Pak Wahyu, mulai menilai pakaian yang aku kenakan. Ini sudah gaun ke 6 yang aku coba, namun tetap tidak lolos dimata om-om ini.

Kenapa aku panggil om-om? Pak Wahyu ini berumur sekitar 40 tahunan. Dan dari tadi karyawan butik terus saja melihatku dengan tatapan penuh tanya, mereka mungkin menganggap aku ini perempuan mainan om-om. Aku pun begidik.

Pak Wahyu membuat simbol OK dengan tanggannya saat melihat pakaian ke 7 yang aku pakai.

“Pak Wahyu, sebenernya mau Pak Arya itu apa sih?”

“Mba Karin nurut aja, dan jangan banyak bertanya. Pak Arya tidak suka orang cerewet” Ucap Pak Wahyu seraya membayar pakaian yang tadi dipilih.

Aku gondok. Secara tidak langsung, Pak Wahyu mengatakan kalau aku itu cerewet. Tapi demi wawancara ekslusif itu, aku harus bertahan.

Kali ini aku dibawa ke sebuah salon. “Make over!” dia berbicara pada seseorang seraya menunjukku.
Orang itu melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sedikit ‘jijik’. Apa aku seberantakan itu,huh?

“Susah ya, tapi aku bakal ngelakuin yg terbaik!” pria setengah wanita itu mengedipkan matanya sambil mencubit lengan si Om, Pak Wahyu maksudku. Aku kembali begidik geli.

Jam demi jam berlalu, aku benar-benar sudah lelah. Mulai dari lulur, facial, creambath, sampai make up. Jujur aku tidak terlalu suka merawat diri atau berdandan. Agak risih juga sih tapi setelah melihat hasilnya, aku cukup terkejut.

Ternyata walaupun aku tidak terlalu cantik, tapi wajahku juga tidak terlalu jelek. Aku tertawa kecil karenanya.

Diperjalanan, aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan Arya dariku. Sampai repot-repot meng-makeover-ku seperti ini. Tiba-tiba terbersit rasa waswas dibenakku.

Beberapa jam yang lalu :

“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”

“Kamu bersedia aku wawancarai?” aku balik bertanya

“Dengan satu syarat...” dia menjentikkan jari telunjuknya. “......ikut denganku malam ini dan melakukan apa yang aku minta.”

Spontan aku langsung menyilangkan tangan menutupi dadaku.

“Jangan membayangkan yang aneh-aneh.” Arya sepertinya membaca apa yang aku khawartirkan.

“Huh...Syukurlah kalau itu bukan hal yang aneh. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta asal tidak melanggar norma hukum dan norma susila.” Ucapku mantap.

Dan disinilah aku sekarang. Sebuah hotel bintang 5. Oke, perasaanku mulai tidak enak. Pak Wahyu membukakan pintu mobil dan entah dari mana datangnya, aku melihat Arya sudah berdiri di depanku dengan pakaian tuxedo-nya.
Dia terlihat sangat tampan dan mempesona. Bohong kalau aku tidak jatuh cinta melihatnya. Arya menjulurkan tangan kanannya dan akupun meraihnya. Aku berusaha menyembunyikan senyumku yang sedari tadi meluap-luap.

“Mulai sekarang dengar baik-baik apa yang akan aku katakan....” Arya berbisik di telingaku,”.....Ibuku akan mengumumkan perjodohanku dengan seseorang di acara ini. Dan kamu akan berpura-pura menjadi pacarku. Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan rencana jahat ibuku. Mengerti!”

Rencana jahat? Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu. Ibunya pasti menginginkan yang terbaik untuknya.

“Jadi kamu ingin membohongi ibumu dan semua orang? Aku tidak bisa!” Aku menarik tanganku darinya.

“Itu kesepakatannya, Karin. Aku tidak punya banyak waktu. Aku hitung 1 sampai 5 dan buat keputusanmu! Satu, Dua, Tiga, Empat...” Aku masih diam “....Empat seperempat, empat dua perempat, Empat TIGA PER EMPAT,.....liiii.....” Arya menatapku, “....Karin ini hanya sementara.”

Bayangan tentang ancaman pemecatan dan dunia pengangguran mulai menggelayuti pikiranku. Terlebih lagi bayangan mulut penuh bisa dari Clara, yang pastinya sangat puas mengejekku.

“Oke, akan aku coba.” Aku mengangguk ragu. Arya tersenyum lega melihat anggukan kepalaku itu. Dia menggandeng tanganku. Kami berjalan menyusuri red carpet menuju sebuah pesta penghargaan, begitulah yang terpasang di banner.

“Arah jam 12, kebaya berwarna biru. Itu ibuku. Ayo kesana.” Aku merasa Arya menyeretku sekuat tenaga karena berkali-kali aku berbalik hendak kabur.

Aku mematung melihatnya. Tatapan si Ibu lebih mengerikan dari pada tatapan anaknya-Arya.

“Wah, Arya sudah datang” Bapak berkepala botak menyapa Arya lebih dulu, sementara si Ibu tetap diam.

“Siapa nih?” Bapak botak ini melihat ke arahku, aku memaksakan senyumku padanya.

“Oh, Dia ini...”

“Kenapa kamu bawa asistenmu ke acara ini, nak?” Si ibu menyela dengan senyum sinisnya ke arahku dan Arya.

“Asisten? Ibu harus tahu, membujuk dia supaya mau datang ke acara ini sangat sulit...” Dia memasang wajah anak kecil didepan ibunya.

“Direktur Handoyo, Gadis yang ada di sebelah saya ini...pacar saya, namanya Karina” Lanjutnya.

“Pacar? Wah, aku pikir kamu sama Joana. Soalnya ibumu dari tadi terus membangga-banggakan Joana di depanku. Hahaha”

“Hahaha...itu cuma gosip. Iya kan,bu?” Arya melirik ke ibunya. Si ibu hanya tersenyum palsu.

“Ah, kalau begitu saya tinggal dulu. Mari Karina!” Bapak botak yang ternyata bernama Pak Handoyo itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan kami bertiga.

“Siapa tadi nama kamu?” Si ibu menyelidikku.

“Karina, bu”

“Berapa kamu dibayar? Sudahlah kalian tidak perlu berpura-pura dihadapan ibu” ucap si ibu ketus.

Nenek sihir, dia benar-benar nenek sihir. Cara bicaranya, cara dia menatap, sangat menakutkan. Siapa kira-kira menantu yang akan tahan dengan nenek sihir ini. Beberapa menit yang lalu aku masih mencoba membelanya di depan Arya soal 'rencana jahat' perjodohan namun sekarang aku menarik semua pemikiran baik tentang si ibu.

“Ibu, tolong jangan bicara seperti itu” Arya membelaku.

Si Ibu – aku akan memanggilnya nenek sihir mulai sekarang – sama sekali tidak mengacuhkan pembelaan Arya untukku. Matanya mulai berkeliling mencari sesuatu, mungkin lebih tepatnya mencari seseorang.

“Joana, kemari nak!” Si nenek sihir melambaikan tangannya. Sudah kuduga. Gumamku.

“Dia adalah orang yang sangat ingin di jodohkan denganku. Dan ibuku sangat menyukainya” Arya berbisik padaku. Aku pun menoleh ke orang yang sedang di sambut nenek sihir dengan senyuman hangatnya.

Ya Tuhan. Kenapa semua hal buruk terjadi dalam satu hari? Aku terperanjat melihat siapa gadis yang di maksud. Joana Clara Haniffan, si wanita iblis dari gunung gundul.

“Karina? Kok kamu bisa masuk ke acara seperti ini?” ucapnya meremehkanku. Sudah kuduga dia akan cepat mengenali musuh bebunyutannya.

“Kamu berdandan juga?” Lanjutnya sedikit menahan tawa.

“Kalian saling kenal?” Si nenek sihir menyela.

“Tentu. Aku dan Karina satu jurusan saat kuliah. Iya kan?” Joana melihatku sok akrab. Aku hanya mengangguk enggan.

“Aku dengar kamu mau di pecat Karin? Kenapa? Kalo kamu butuh bantuan hubungi aku aja.” Mendengar hal itu, Arya menatap wajahku. Mungkin dia mulai mengerti alasan hidup mati kenapa aku ingin mewawancarainya.

Bedebah kau wanita iblis. Dia benar-benar ingin menjatuhkanku di hadapan Arya dan ibunya. Aku ingin sekali melemparkan telor ke wajahnya yang sok manis dan sok cantik! (Ralat, dia memang manis dan cantik. Tapi aku lebih pintar darinya! Tolong dicatat!)”

“Wah, bukankah ini suatu kebetulan yang luar biasa? Orang yang akan di jodohkan denganku ternyata saling kenal dengan pacarku” Kali ini Arya yang menyela pertarungan dendam diantara aku dan Joana si wanita iblis dari gunung gundul itu.

“Pacar?” wajah Joana langsung berubah kecut.

This is my turn. Okay! Aku akan memanfaatkan ini sebaik-baiknya untuk menang dari wanita ini. Sekali tepuk dua iguana mati. Mendapatkan wawancara ekslusif dan menghacurkan si wanita iblis ini.

“Iya, aku pacarnya mas Arya. Senang bisa ketemu kamu disini” Aku akting sok manis sambil menggandeng tangan Arya dengan mesra

Si nenek sihir terlihat sangat tidak suka dengan sikapku yang menempel mesra pada anaknya.

“Sayang, aku mau ke toilet dulu ya” ucapku pada Arya. Ya Tuhan, aku baru saja memanggil Arya dengan panggilan sayang.

“Oh, iya sayang.” Jawab Arya sedikit gugup. Aku pikir Arya juga kaget dengan perubahan sikapku yang begitu tiba-tiba. Tapi ini sesuai skenario yang dia harapkan. Dia harus berterimakasih padaku.

Tidak di sangka si ‘wanita iblis dari gunung gundul’ mengikutiku ke toilet. Huh mau apa dia? Mau perang dan jambak-jambakan lagi denganku?

“Wow. Karina memang hobby sekali mencuri ikan dari kucing lain, sama seperti 4 tahun yang lalu.” Dia tersenyum di depanku, menatapku tajam melalui cermin wastafel.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi 2 kali. Arya adalah target tangkapanku.” Lanjutnya.

“Wah kamu kucing toh, kirain manusia” Ledekku.

Bagaimanapun aku harus menahan emosiku dihadapannya. Aku tidak akan melupakan kejadian 4 tahun yang lalu saat dia melabrakku karena, Doni, pria yang dia sukai malah menyukaiku. Suatu hal yang menurutnya sangat mustahil. Cewek popular seperti dia kalah oleh cewek dekil – katanya – sepertiku. Aku menderita beberapa lecet dan beberapa rambutku juga rontok. Hal yang sama seperti yang di alaminya. Kami sama kuatnya dalam hal jambak-jambakan. Dan kami tahu bahwa kami harus menghindari itu.

Bukan hanya masalah Doni tetapi juga dalam hal akademis dia selalu no 2 dan selalu kalah dariku. Hal itu membuatnya semakin membenciku. Aku pun sama bencinya karena dia selalu menyebarkan fitnah – termasuk fitnah bahwa aku adalah wanita panggilan om-om.

Hanya saja nasib kami sekarang sungguh berbeda. Aku, dengan nilai akademis yang bagus memang bisa masuk perusahaan besar seperti Brave Magazine tapi hanya sampai situ keberuntunganku.

Sementara Clara atau orang-orang lebih mengenalnya dengan nama ‘Joana Haniffan’ telah sukses menjadi anchor yang disegani. Dengan wajahnya yang cantik dan cara bicaranya yang elegan, sudah membuat banyak orang tergila-gila melihat dia membacakan berita di salah satu stasiun televisi besar tanah air.

Harus aku akui, saat dia membacakan berita, dia terlihat sangat cerdas dan menawan. Tapi bagiku dia tetaplah wanita iblis yang selalu ‘kepo’ pada pencapaianku dan memastikan bahwa aku selalu dibawah karirnya.

Dia mempermalukanku habis-habisan di depan teman-teman alumni saat acara reuni bulan lalu. Sampai aku ingin sekali mencakar wajahnya dengan garpu yang kupegang saat memakan rainbow cake saat itu.

“Aku sama sekali tidak pernah mencuri darimumu, tapi mereka yang mendatangiku sendiri. Baik itu Doni maupun Arya.”

“Munafik! Cih!”

“Mungkin kita berjodoh dalam hal seperti ini. Bedanya, dulu aku tidak menyukai Doni namun sekarang aku menyukai Arya”.

“Kita lihat saja nanti, aku pasti akan menikah dengan Arya. Harus.”

“Dengan memanfaatkan ibunya?”

“Apapun.” Clara mengelap tangannya dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh emosi.

*****

“Untuk kategori CEO terbaik tahun ini, jatuh kepada....... Bapak Arya Dava Putra dari Daun Publisher, Selamat!” Pembawa Acara pada malam itu mulai membacakan para penerima penghargaan tahunan dari Yayasan Indonesia Pride. Tepuk tangan mulai menghiasi seluruh ruangan.

Arya berdiri dan membungkuk hormat kepada para hadirin yang hadir.

“Di mohon agar Bapak Dava Putra segera maju ke atas panggung dan menerima penghargaan dari Yayasan Indonesia Pride. Seperti yang telah kita ketahui, Bapak Dava Putra telah membawa Daun Publisher menjadi Perusahaan Penerbit nomor 1 di Indonesia. Beliau juga belum lama ini memperoleh penghargaan The Best Entrepreneur di ajang Asian Youth Entrepreneur di Singapura. Beliau di usianya yang begitu muda juga merupakan pemegang saham terbesar TrustTel, salah satu perusahaan besar penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia dan Asia Tenggara.” Lanjut si Pembawa Acara. Tepuk tangan pun semakin riuh.

Aku beberapa kali memperhatikan wajah penuh senyum Arya dengan takjub. Si Arogan ini memang pantas bersikap arogan dengan prestasinya itu. Aku merasa benteng antara aku dan Arya begitu tinggi.

Si nenek sihir membisikanku sebuah kalimat yang sangat mengganggu kepercayaan diriku. “Orang yang bersanding dengan anakku harus sepadan dengannya. Dan itu bukan kamu.”

Aku merasa si nenek sihir yang berbicara dengan sangat sinis itu benar adanya. Benar, aku memang menyukai Arya. Tapi aku juga tahu, Arya hanya menganggapku sebagai pacar pura-puranya. Tidak lebih.

Aku mengedarkan pandanganku pada seorang wanita bergaun pastel. Clara, seminggu lalu dia mendapatkan penghargaan Pembawa Acara terbaik Panasonic Award, sebuah penghargaan tertinggi insan pertelevisian Indonesia. Dia juga di tunjuk sebagai Duta Save Water Oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia.

Dia juga memiliki pergaulan sosial yang bagus. Teman-temannya adalah para model terkenal, para penerus kerajaan bisnis, sampai makan siang dengan anak Presiden. Tentu dia lebih pantas bersanding dengan Arya. Seseorang yang ternyata bukan hanya CEO Daun Publisher tapi juga mungkin lebih hebat dari itu.

“Penghargaan ini adalah untuk semua karyawan dan dewan direksi Daun Publisher. Untuk Ibu saya tercinta dan juga untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya saat ini. Tunangan saya, Karina Larasati. Terima kasih untuk selalu ada disisi saya.”

Apa? Tunangan?

Aku hanya bisa membeku di tengah riuhnya suara tepuk tangan. Dan aku juga bisa merasakan tatapan syok dan tak suka si nenek sihir kepadaku. Seolah telah bersiap untuk mencabik-cabik dagingku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar