Rabu, 11 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (6)

BAB 6 : Pangeran dan Upik Abu

Aku tak bisa memejamkan mataku. Bayangan tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu masih menimbulkan rasa cemas. Tunangan? Aku kembali menarik nafasku. Kebohongan yang kami tulis semakin menyesakan saja.

Aku berharap ini bukanlah kebohongan. Aku akan menghadapi semua kesulitan mulai dari sekarang. Baik dari si nenek sihir maupun dari si wanita iblis. Dan aku harus menghadapi semua itu demi sebuah kebohongan bukan demi memperjuangkan cinta kami. Ya, karna kami hanya pasangan pura-pura.

Semalam 

“Tunangan? Apa kamu gila?” aku mengumpat padanya.

“Jangankan tunangan, menikah pun bisa bercerai. Jangan terlalu khawatir, ini hanya sementara.” kilahnya

“Tapi kesepakatannya bukan seperti ini!”

“Karin. Dengan memperkenalkanmu sebagai tunanganku di acara sebesar itu, akan banyak media yang menjadikannya berita. Itu akan membuat Ibuku berhenti menjodohkanku dengan Joana.”

“Kamu hanya memikirkan diri sendiri, kamu sama sekali tidak memikirkan pendapatku, perasaanku. Egois!”

“Aku akan membayarmu jika kamu mau.”

“Uang? Bukan itu inti masalahnya Arya, bukan! Aku Cuma merasa kamu benar benar memanfaatkan aku sesukamu!”

“Sepertinya kamu juga tidak menyukai Joana. Kamu juga memanfaatkanku tadi di depan Joana. Bukankah itu bagus. Win Win Solution. Ditambah wawancara eklusif yang membuatmu tidak jadi dipecat.”

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi padanya. Mulutku masih terasa kelu. Aku ingin mengeluarkan semua kekesalanku tapi seperti ada sesuatu yang menahannya.

Dia seperti angin, sangat sulit di tebak apalagi dikendalikan. Kemana arah dia berpikir, kemana arah dia bergerak, semua tak ada yang bisa kekutahui.

Hujanku kini berubah menjadi topan yang siap meluluhlantahkan apapun di sekelilingnya. Hujan merasa terseret tanpa arah oleh angin yang memegangnya.

*****

“Mana Karina?” Terdengar suara seseorang yang ku kenal. Editor majalahku.

Dia menghampiriku terburu-buru. Sial, aku belum sempat mewawncarai Arya.

“Hei Karina!” Teriaknya

“Begini Pak, ada sedikit masalah jadi wawancaranya tertunda.” Aku mencoba berkelit. Aku tau, dia pasti mencariku karena artikel kemarau.

“No...no!....” Dia menjentikan telunjukanya “....Itu gak penting sekarang. Fakta bahwa kamu adalah tunangan Pak Arya, itu lebih luar biasa. Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

“Soal itu....”

“Tidak perlu menjelaskannya. Aku tahu pasti kamu tidak ingin melibatkan koneksi. Aku semakin respect sama kamu.” Dia memotong perkataanku. Menunjukan senyum termanisnya di depanku. Aku bisa jamin bahwa senyumannya hanyalah topeng belaka.

“Soal wawancara dengan kemarau, saya akan berikan hasil secepatnya?”

“Sepertinya lebih menarik membuat artikel mengenai hubungan percintaan antara Arya Dava denganmu!” Editorku mulai membuatku sangat khawatir dengan maksud tersembunyinya.

“Bagaimana?” Tanyanya lagi padaku.

“Tapi Pak, majalah kita bukan majalah infotaiment. Itu bukan BRAVE banget. Dan saya tidak mau melakukannya. Saya tidak mau menjual kehidupan pribadi saya pada media.” Jawabku tegas.

“Sekarang kamu lebih berani ya....” Editorku tersenyum sinis, “.....Ya melihat siapa yang ada di belakangmu tentu kamu harus lebih berani dan percaya diri. Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau kamu menolak ya sudah. Nanti aku bisa dipecat gara-gara beradu argumen denganmu. Lakukan sesukamu.”

Wah, aku merasa pengumuman menggemparkan tentang aku dan Arya tidak berdampak baik pada karirku. Bukan hanya atasanku tapi juga beberapa rekan kerjaku terus saja melirik dan membicarakanku seperti topik hangat saat ini.

Darimana datangnya upik abu ini, dan bagaimana dia bisa berhasil menggoda si pangeran? Mungkin begitulah kira-kira yang ada dipikiran mereka.

“Kamu sudah datang?” aku menyapa Nana yang baru saja datang dari tugas wawancaranya. Aku merasa sedikit lega mendapati Nana ada di depanku sekarang. Dia terlihat lelah namun masih berusaha meninggalkan seulas senyum padaku.

“Eh, ada nyonya Dava Putra” Dia tersenyum meledek sambil menepuk-nepuk pundaku.

“Jangan bicara seperti itu. Semua orang disini melihatku dengan tatapan aneh. Aku berharap kamu tidak bersikap seperti mereka.”

“Santai Karin. Apa aku terlihat seperti orang-orang itu?” Nana menujuki semua orang yang sedang mencuri-curi pandang padaku dengan jarinya, membuat mereka langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura fokus pada pekerjaan masing-masing. Ah. Nana memang seperti itu. Bagiku kepribadiannya sangat menakjubkan. Dia termasuk wartawan mengerikan yang akan mengulitimu dengan segala pertanyaan saat wawancara.

“By the way, kapan dan bagaimana kamu bisa kenal dan bahkan sampai bertunangan dengan dia? Aku sama sekali tidak tau kalau kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku”

“Tidak seperti itu. Aku memang pacaran dengannya (aku berbohong, lagi), tapi aku tidak tahu kalau dia akan mengumumkan pertunangan di acara itu.”

“Wah, bagaimanapun aku memikirkannya, ini sangat luar biasa. Kalau kamu sampai menikah dengan Arya, kamu secara tidak langsung jadi pemilik Brave Magazine. Tolong naikan pangkatku ya!” Nana mencoba menggodaku. Namun apa hubungan antara  Brave dengan Arya?

“Maksudmu?”

“Hello Karina, Jangan-jangan kamu tidak tahu kalau pemegang saham terbesar Brave adalah Arya Dava.”

“What? Bukannya Ibu Widya?”

“Ibu Widya itu calon mertuamu, bodoh!” OMG si nenek sihir itu pemilik Brave Magazine. Tempat kerjaku sepertinya akan menjadi neraka yang nyata sekarang.

“Memangnya kamu tidak tahu nama ibunya Arya? Ini aneh!” Dia menyelidikku. Naluri wartawannya keluar dengan buas.

“Tentu saja aku tahu, tapi aku tidak tahu kalau ibu Widya mamanya Arya sama dengan ibu Widya pemilik Brave.” Aku berusaha untuk tidak gagap. Jujur saja, selama bekerja di BRAVE aku belum pernah bertemu langsung dengan Ibu Widya. Jadi aku benar-benar tidak tahu.

“Jangan-jangan....” Nana menatapku dengan penasaran.

“Apa?” Jujur aku sangat panik. Apa Nana menyadari sesuatu?

“Jangan-jangan sampai saat ini kamu belum mendapat restu dari Bu Widya? Karena itu, Arya nekad memperkenalkanmu sebagai tunangannya di acara besar itu untuk menyerang ibunya yang malah ingin menjodohkan Arya denga Joana.” Nana terlihat antusias mengutarakan analisanya. Ternyata dia juga sudah tahu soal perjodohan Arya dengan Joana. Kemana saja aku selama ini? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?

Bahkan wartawan politik seperti Nana tahu soal gosip Joana dan Arya. Mungkin cuma aku saja yang tidak terlalu tertarik dengan berita entertainment apalagi yang berhubungan dengan si wanita iblis itu.

“Mungkin seperti itu, hanya urutannya saja yang salah.” Ucapku

“Urutannya salah? Maksudnya?”

“Sudahlah. Yang jelas Brave sudah menjadi neraka sekarang” aku mendesah. Nana terlihat simpati melihatku.

Aku tidak mungkin menjelaskan urutan yang benar dari analisisnya – Arya ingin menyerang ibunya yang memaksa menjodohkannya dengan Joana dengan mengumumkan pertunangan kami, yang tentu saja bohong. Dan ibunya tidak akan pernah memberikan restunya kepada kami dan akan berusaha untuk memisahkan kami.

'Arya sendiri yang akan mengusirmu dari hidupnya. Akan ku pastikan' Itu adalah kalimat terakhir yang dibisikan si nenek sihir padaku. Yang tentu saja membuatku merinding.

“Hei Karin,bersemangat dong! Atau kamu mau melepaskan Arya?” Nana menepuk pundakku sampai aku terhunyung. Aku ingin membalas tepukan kerasnya yang lebih mirip sebuah pukulan, namun aku urung.

“Aku sudah pernah melepaskan orang yang aku sukai, sekali. Dan aku tidak ingin melakukannya dua kali.”

“Kemarau?”

Aku mengangguk. Nana melihat wajahku berubah kecut, kemudian dia memeluku dengan hangat.

“Jadi Karina jatuh cinta lagi? Kali ini jangan pernah lepaskan tangan Arya! Oke?”


Aku tidak pernah berbohong bahwa aku jatuh cinta pada Arya. Cinta itu hasrat ingin memiliki. Orang yang berkata bahwa cinta itu tak harus memiliki, sebenarnya hanya perkataan orang yang sudah menyerah pada cintanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar