Ada sebuah cerita tentang lampu merah. Bukankah disana ada 3 warna lampu? Merah, Kuning, dan Hijau. Tapi kenapa orang-orang menyebutnya Lampu Merah, bukan lampu Kuning, Lampu Hijau atau Lampu Merah Kuning Hijau? Menurutmu kenapa? Jawabannya mungkin karena jika kamu tidak berhenti saat lampu merah menyala, kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar. Cedera atau bahkan kehilangan nyawa. Berbeda saat seseorang melanggar lampu hijau atau lampu kuning semuanya masih akan baik-baik saja. Jadi ketika kita melihat 'lampu merah' dari seseorang, berhentilah! Supaya kamu tidak merasa lebih sakit.
Line.
Tania: Aku akan menerormu sampai kamu ikut liburan! Siapkan diri!
Line.
Dion: Hei. Lebih baik kamu ikut kami liburan kalo tidak pertemanan kita berakhir. Ini ancaman serius tolong jangan diabaikan.
Line.
Dion: Aku akan kirim pesan 3 kali sehari. Ah tidak, 10 kali sehari.
Dava tersenyum melihat pesan dari Dion dan Tania yang menerornya dalam waktu yang bersamaan. Ah mungkin mereka sedang duduk bersebelahan saat ini. Sepertinya Dion dan Tania ingin menjodohkan dirinya dengan Shei. Apa mereka gila? Kisah cintanya dengan putri keluarga politisi saja berakhir sia-sia setelah 7 tahun, sekarang dia harus menjalin hubungan dengan keluarga Suharjo. Sebuah keluarga konglomerat dimana ayah Sheila adalah orang terkaya di Indonesia saat ini. Dava berfikir itu semua tidak akan berhasil. Lagi pula 7 tahun hubungannya dengan Karina bukanlah waktu yang dengan mudah bisa dilupakan. Terlalu banyak kenangan indah didalamnya.
Ting tong! Suara bel terdengar. Dava berjalan gontai menuju kearah pintu. Ditariknya pegangan pintu dengan malas.
Dava sedikit tersentak melihat siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Karin..."
"Hai Va. Boleh aku masuk?" ucap Karina ragu.
Dava tidak menjawab hanya gestur tubuhnya memberikan isyarat untuk mempersilahkan Karina masuk. Karina pun duduk di sofa, dia terlihat sangat gelisah dan tak nyaman. Begitu pun dengan Dava. Namun mereka tetap harus bicara bukan? Mereka belum pernah bicara lagi sejak malam lamaran itu.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Dava memecah keheningan yang sedari tadi mengelilingi mereka.
Karina mengeluarkan sesuatu dari tas-nya dan menaruhnya di meja.
"Aku sama sekali tidak ingin kamu datang. Tapi aku pikir aku harus menyerahkan undangan ini sendiri daripada kamu terima dari orang lain. Untuk menghormati 7 tahun hubungan kita" ucap Karina sambil berusaha mengatur nada suaranya yang semakin parau. Terlihat sekali ekspresi acuhnya dibuat-buat.
"Kenapa aku berfikir sebaliknya. Kenapa aku berharap sekarang kamu gak disini buat ngasih undangan ini?" Dava berbicara dengan tenang. Dia mencoba mencari celah untuk melihat mata Karina yang sedari tadi hanya melihat ke sembarang tempat.
"Maaf, Va! Aku minta maaf!" ucap Karina lirih, suaranya terdengar semakin parau menahan tangis yang sepertinya akan pecah. Karina tidak bisa lagi berpura-pura di depan Dava kalau dia sebenarnya juga merasa hancur. Tapi toh Karina sudah membuat keputusan yang menurutnya adalah yang terbaik.
"(Teng tong). Dava ini aku, Va. Buka pintunya!" terdengar suara seseorang memanggil. Dava mencoba mengenali suara itu. Ah Shei rupanya. Dia pun kemudian berjalan kearah pintu dan membukanya. Dengan cepat Shei sudah berlari kedalam apartemen Dava dengan wajah paniknya, seakan tertulis di kening Shei 'aku baru saja keluar dari kematian'. Dava tersenyum.
"Sumpah Va. Di apartemenku banyak kecoa, semut bahkan tikus! Kotor banget, aku sampai mau pingsan! Aku boleh diam disini ya sampai mba Irah pembantuku datang. Pleaseeee!" Shei memasang muka 'cute' pada Dava tanpa menyadari kalau sedari tadi ada orang lain sedang duduk di sofa memperhatikan polahnya.
"Eh ada tamu. Maaf ya tadi aku panik jadi gak sadar kalau ada orang lain." Shei tersenyum pada Karin sambil sedikit membungkukan badannya.
"Gak apa-apa kok. Karin udah mau pulang juga. Iya kan, Rin?" Dava menatap Karin.
"Ah, iya. Aku juga mau pulang. Santai aja!" Karin membalas senyum Shei seraya berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Karin beberapa kali menoleh ke arah Dava dan Shei. Dia menyadari bahwa hatinya cemburu. Sesuatu yang seharusnya tidak dirasakan oleh orang jahat seperti dia.
"Siapa Va? Pacarmu ya?" Shei meninju manja bahu Dava sambil mengerlingkan matanya.
"Bukan. Kami cuma temen dan dia datang buat ngasih undangan pertunangan." Dava menunjuk kartu undangan yang tergelatak di meja.
"Oh" Shei manggut-manggut.
"Mau minum apa Shei?"
"Apa aja, asal jangan air keran. hehehe"
"Mana mungkin aku kasih air keran. Kamu ini! Kok bisa apartemenmu kotor begitu?"
"Salah aku juga sih, Va. Jadi kan aku gak pernah tinggal disana, nah temenku yang dari Ausie tinggal sementara disitu. Ternyata orangnya jorok banget! Sampah dimana-mana! Kesel banget!"
"Oh, tapi aneh loh. Aku juga belum pernah berpapasan sama temenmu itu. Jadi aku pikir apartemen itu masih kosong."
"Ah sudahlah jangan dibahas lagi. Aku masih kesel sama temenku yang tidak bertanggungjawab itu!"
Shei berjalan melihat sekeliling. Apartemen Dava terlihat sangat rapih, berbanding terbalik dengan apartemennya yang seperti tempat pembuangan sampah. Di meja yang ada di sebelah kiri ruang tamu terlihat berjejer piala-piala beserta piagam penghargaan yang di terima Dava.
Sekali lihat pun, Shei tahu kalau Dava memang orang yang pintar.
Shei melihat sebuah figura foto tertelungkup di meja. Shei pun mengambilnya.
Wanita ini? Gumamnya
Tentu saja foto yang dilihat Shei adalah foto Dava dan Karin. Foto mereka telihat sangat bagus dan serasi. Wajah bahagia mereka juga terpancar jelas dari foto itu. Tiba-tiba tangan Dava menarik foto yang sedang dipegang Shei dengan cepat.
"Jangan menyentuh barang pribadi orang lain, anak nakal." Dava menyentuh kepala Shei dan mengacak-acak rambutnya seperti anak kecil.
"Aku bukan anak kecil!" Shei tidak terima. Shei benar-benar penasaran akan sesuatu tapi dia ragu untuk menanyakannya pada Dava. Dia pun hanya terdiam menatap Dava.
"Namanya Karina." Ucapan Dava yang tiba-tiba itu membuat Shei tersadar dari diamnya. Shei sama sekali tidak mengira bahwa Dava ternyata membaca pikirannya.
"Kami sudah pacaran selama 7 tahun. Dan berakhir karena dia bertunangan dengan orang lain." Lanjut Dava. Dan Shei semakin tidak menyangka bahwa Dava sekarang sedang menceritakan masalalunya. Padanya!
"Wanita yang gak punya hati!" ucap Shei sedikit bergumam.
"Karina itu orang baik, Shei. Cewek terbaik yang pernah aku temui. Mungkin kita memang tidak berjodoh aja."
"Kamu masih membela dia? Gak bisa dipercaya! Well, setidaknya kita punya persamaan. Sama-sama ditinggalin sama orang yang kita sayang."
"Siapa yang berani ninggalin cewek lucu kayak kamu, Shei?" Dava tersenyum. Sementara Shei sedikit kikuk dibuatnya.
"Ada deh, cowok brengsek yang bilang kalau dari awal hubungan kami itu hubungan bisnis. Padahal aku tulus banget sama dia. Oke lah kalo memang awalnya karena bisnis tapi masa iya setelah 3 tahun pacaran dia gak punya perasaan apa-apa sama aku? Kan brengsek banget! Aku bahkan mergokin dia selingkuh di hotel" Sheila berusaha mengatur emosinya.
"Ah, jadi itu sebabnya Dion bilang supaya aku jagain kamu!"
"Jagain aku? Dasar Dion! Emangnya aku anak kecil apa? Awas aja kalau ketemu!"
"Tapi dari yang aku tahu kamu memang kayak anak kecil Shei. Lucu-lucu ngegemesin gimana gitu."
"Uhuk! Uhuk! Kok aku jadi mules dengernya. Hahahaha"
Shei mengambil kartu undangan pertunangan Karina. "Rio Arva Dharmawan?" Shei mengernyitkan dahinya. "Rio?"
"Kamu kenal dia Shei?" tanya Dava menyelidik.
"Aku ketemu dia pas Kuliah di Ausie. Bodoh banget Karina lebih milih Rio daripada kamu Va!"
"Apa yang kamu tahu soal Rio?"
"Gak tahu banyak sih. Tapi dia lebih brengsek dari Joe."
"Joe?"
"Ah, mantan pacarku yang brengsek. Rio itu temennya Joe. Aku kenal Rio ya karena dikenalin Joe. Dia suka make Va!"
"Make? Narkoba maksudnya?"
"Iya. Dia juga pernah terlibat kasus kekerasan pas di Ausie. Cuma karena orang tuanya kaya jadi semuanya diselesaikan dengan baik dan cepat."
Dava tertegun.
"Are you okay?" Shei sedikit khawatir melihat Dava yang membatu dan bergulat dengan pikirannya sendiri. Shei mengambil teh yang dipegang Dava kemudian menyeruputnya.
"Ah, aku baik-baik aja."
"Dava, kamu mau tahu sebuah cerita yang dicertakan Tania padaku?"
"Cerita apa?"
"Cerita tentang lampu merah."
"Lampu merah?"
"Ada 3 lampu di persimpangan jalan. Lampu hijau, lampu kuning, dan lampu merah. Saat lampu merah menyala, apa kamu mau tetap melajukan kendaraanmu?"
"Tentu saja tidak!"
"Jadi berhentilah saat kamu melihat lampu merah dari Karina, Va." Shei menepuk pundak Dava.
"Anak kecil bisa bicara seperti ini juga?" Dava tersenyum.
"Ini cerita Tania untuk menghiburku. Dan satu lagi AKU BUKAN ANAK KECIL!!!! Aku 24 tahun!"
"Oh ya? 24? Kamu kayak anak 17 tahun Shei. Hahahaha"
"Dava rese!"
Selasa, 29 September 2015
Selasa, 11 Agustus 2015
BROKEN HEART : (2) PATAH HATI? NOT BAD!
Sudah sebulan sejak kejadian di Hotel waktu itu. Sheila masih suka mengurung diri di kamarnya. Baginya rasa cinta yang selama ini dia tunjukan pada Joe bukanlah hanya sekedar hubungan bisnis keluarga. Tapi benar-benar tulus adanya.
Karena itulah, rasa sakit yang ditinggalkan Joe terasa sangat dalam. Baginya butuh waktu yang lama untuk kembali menata perasaannya. Tiga tahun yang dia lewati bersama Joe bukanlah waktu yang singkat yang bisa dengan mudah dilupakan.
"Woi, Shei. Cukup galaunya. Move on girl! Bangun!" Tania mulai mengoyang-goyangkan tubuh Sheila sambil berusaha menariknya menjauhi tempat tidur. Tania adalah tunangan dari Dion, sepupunya Sheila.
"Apa sih Tan? Males ah!"
"You need some air, girl! Ngapain ngegalauin cowok brengsek kayak, Joe?" Tania berkacak pinggang di depan Shei.
"Please jangan mention nama itu! Rasanya aku pengen muntah."
"Ya udah muntahin, ngapain di tahan-tahan. Setelah itu cari makanan baru yang layak untuk dimakan!"
"Gak semudah itu, Tan!"
"Sheila. You are Suharjo! Semua cowok yang deketin kamu pasti punya motif bisnis. Tapi bukan berarti mereka bisa selingkuhin kamu. Cowok seperti Jo, maksudku si brengsek, tidak pantas bikin seorang Suharjo menderita kayak gini. Be Strong Shei."
"Apa aku bener-bener terlalu naif ,Tan?"
"Yes, you are! Bukan berarti cinta tulus itu gak ada cuma status kamu memang menggiurkan banyak orang. hahahaha"
"Lalu, apa motif hubungan kamu dengan Dion?"
"Money? Bisnis? Yes! Pada awalnya memang begitu. Aku sama Dion saling memanfaatkan status keluarga kami tapi dalam prosesnya kami saling mencintai. Dan itu yang tidak terjadi antara kamu dan si brengsek. Kamu terlalu naif, sedangkan si brengsek terlalu brengsek. Kamu beruntung Shei, orang-tuamu tidak pernah melihat orang dengan statusnya, tapi berbeda dengan keluargaku maupun keluarganya Dion. Status keluarga sangat teramat penting."
"Rasanya aku pengen terlahir kembali jadi orang yang biasa-biasa aja." Keluh Shei sambil memeluk kedua lututnya.
"No, Shei. Jadi konglomerat juga tidak buruk! Kamu tau apa yang dikeluhkan orang kelas bawah? Mereka berkata 'Aku ingin dilahirkan kembali menjadi konglomerat'. Intinya manusia tidak pernah bisa puas dan bersyukur dengan hidupnya."
"Tan!"
"Ya?"
"Aku seneng kamu ada disini sekarang."
"Itu bagus! Kalau begitu sekarang bangun, mandi dan siap-siap ikut aku!"
"Kemana?"
"Nanti aku ceritakan di mobil!"
@@@
Dava membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia terlahir menjadi seorang konglomerat mungkin dia bisa melindungi cintanya. Namun apa gunanya menyalahkan takdir. Seberapa keras pun dia memaki, dia tidak akan pernah mengubah kenyataan yang ada. Sebesar apapun dia bekerja keras, dia tidak akan pernah bisa mengubah status dirinya.
Dia tersenyum kecut sambil memegang sebuah kartu undangan pertunangan yang dikirimkan ke kantornya. Kartu undangan berwarna Putih-Pink berhiaskan mawar seolah mengejek cintanya.
Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Gumamnya.
Sebuah pesan teks masuk
Tania : Va, sekarang aku OTW ke tempatmu. Soal rencana liburan.
Dava: Oke. datang aja, aku dikantor kok.
Tania : Are you ok?
Dava : Sure. Kenapa nanya gitu?
Tania : Aku denger dari Dion soal Karina.
Dava : Ah itu. Bohong kan kalo aku bilang baik2 aja.
Tania : Kamu orang baik, Va.
Dava : Aku tau :) See you!
Dava tersenyum kecil sebelum akhirnya menutup pesan dari Tania.
Tania adalah pacar Dion, sahabat Dava. 3 Tahun yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu, Dava sudah mengira kalau Dion adalah orang yang luar biasa. Pakaian yang dia kenakan dan cara dia berbicara benar-benar menunjukan kelasnya. Ternyata benar dia adalah bagian dari keluarga Suharjo.
Saat itu, Dava tidak pernah berpikir bahwa mereka akan cocok namun ternyata malah sebaliknya. Dava tidak pernah memiliki sahabat yang begitu dekat dengannya karena dia terlalu sibuk untuk belajar dan mencari uang. Baginya Sahabat tidaklah terlalu penting. Dia hanya ingin membuktikan dirinya bisa bersanding dengan Karina, orang yang sangat dicintainya. Tapi ternyata Dion mampu memasuki celah itu, celah yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dava. Dion walaupun orangnya high class tapi dia tidak pernah memandang Dava dengan pandangan Low Class. Bagi Dion, Dava adalah orang yang baik, menyenangkan, setia, pekerja keras, ambisius, dan berdedikasi. Yah begitulah gambaran seorang Dava yang dikatakan Dion langsung di depannya dan berhasil membuat Dava merasa jijik saat mendengar semua itu.
"Dava!"
"Hai, Tan. Long time no see!"
"Iya,nih! Maklum aku baru pulang dari LA. Tapi sering ketemu Dion kan?"
"Ya, Tentu. Teman dekatku kan cuma Dion." Jawab Dava tersenyum.
"Temennya Dion?" Shei menyela percakapan mereka.
"Ah sampai lupa, kenalin ini Sheila sepupunya Dion!"
"Suharjo juga ternyata. Hai, aku Dava!"
"Sheila, panggil saja Shei. Aku baru tahu kamu temannya Dion. Aku bahkan hampir mengenal semua temannya Dion."
"Hampir semua berarti tidak semua kan. Aku beberapa kali ikut pesta yang di adakan Dion kok. Tapi memang sepertinya kita baru bertemu."
"Tapi kamu bilang kamu temen dekatnya Dion. Aku cuma gak habis pikir aja kalau ada temen dekatnya Dion yang gak aku tahu."
"It's your problem!"
"What?"
"Hei, hei stop debating! Kita disini mau merencakan soal liburan." Tania mencoba melerai perdebatan mereka berdua.
"Ah, sorry. Silahkan duduk. Jadi destinasi mana yang kalian pilih?" Tanya Dava.
"Paris!" Jawab Tania mantap.
"No, Tan! NO! Aku gak ikut kalau kesana!" Shei menyatakan ketidaksetujuannya.
"Ah. Lupa. Jadi mau kemana?" Tania merasa bersalah pada Shei. Tentu saja Shei tidak akan mau pergi ke Paris setelah insiden dengan Joe. Paris adalah tempat yang bersejarah buat Shei dan Joe. Mereka jadian di kota itu.
"Belanda aja, kan lagi musim tulip." Dava memberi saran.
"Good idea! Gimana Shei?" Tania menimpali.
"Oke." jawab Shei singkat.
"Oke. Belanda! Kamu ikut juga dong Va. Aku kan pergi sama Dion, daripada Tania jadi obat nyamuk mendingan kan ditemenin kamu. Gimana?" Tania sebenernya mempunyai rencana lain. Dan tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Tania, Shei sadar akan rencana itu.
"Aku sepetinya tahu kemana arah pembicaraan kamu, Tan. Tapi aku baik-baik saja!" Shei menatap Tania dengan tatapan 'Akan ku bunuh kau kalau bicara lagi' sementara Tania membalas tatapan Shei dengan tatapan 'Aku akan hidup lagi walaupun kau bunuh'
"Ah maaf Tan sepertinya aku gak bisa ikut. Banyak kerjaan." Dava menyadari apa yang sedang di bicarakan kedua wanita di depannya.
"Aku akan menerormu sampai kamu ikut dengan kami. Hati-hati!" Tania berusaha mengancam dengan candaannya.
"Lakukan sesukamu!" ucap Dava sambil menepuk pundak Tania.
"Ah ya, aku baru ingat. Aku ada janji penting. Dava kamu bisa antar Shei pulang gak? Ini udah jam pulang jadi gak ganggu pekerjaan kamu kan?" Tania melanjarkan jurus keduanya.
"Tania! Aku bisa pulang sendiri." Ucap Shei tak nyaman.
"No! Kondisi kamu sedang tidak baik, jadi lebih baik Dava yang antar."
"Aku bisa telepon supir untuk jemput." Shei gak mau kalah.
"Gak apa-apa, biar aku yang antar." Dava menawarkan diri untuk mencoba mengakhiri perdebatan dua wanita kaya di depannya.
"Gak perlu Dava, aku bisa pulang sendiri!"
"Aku gak merasa di repotkan kok. Daripada telepon supir bukannya lebih efisien kalau aku yang antar."
"Seperti yang aku tahu, Dava adalah yang terbaik!" Tania memberikan 2 jempolnya. "Aku pergi! Bye!"
@@@
Tidak ada pembicaraan yang berarti antara mereka selama di perjalanan. Yang keluar dari mulut Shei hanya kalimat penunjuk jalan menuju apartemennya 'belok kanan', 'belok kiri', 'lurus aja'. Dava pun sepertinya tidak terlalu tertarik untuk membuka pembicaraan dengan salah satu keturunan Suharjo ini.
Sesampainya di Apartemen.
"Sudah kubilang tidak perlu di antar. Tapi makasih."
"Jadi kamu tinggal di apartemen ini?"
"Iya, sebenarnya aku lebih sering tidur di rumah sih dan hanya sesekali tidur di apartemen." jawab Shei sambil keluar dari mobil Dava. Dava pun ikut turun dari mobil.
"Kenapa keluar? Kamu gak perlu mengantar sampai dalam."
"Oke." Dava mengangguk menahan senyumnya.
Shei kemudian berjalan memasuki gedung apartemen tanpa menoleh kebelakang. Saat memasuki lift Shei terkejut melihat Dava sudah berdiri di sampingnya.
"Aku bilang tidak perlu mengantarku! Ah....Jangan-jangan kamu punya ketertarikan padaku? Aku tahu aku cantik dan menarik tapi maaf aku tidak berniat menjalin hubungan dalam waktu sekarang ini. So, segera hilangkan perasaanmu itu!" Shei mulai berbicara nyerocos di depan Dava, sementara Dava hanya tersenyum.
"Sudah selasai bicaranya?"
Shei mengangguk.
"Kamu narsis juga ya orangnya, benar-benar tipikal seorang Suharjo. Mungkin ini semacam gen yang sama kayak Dion. Pertama, aku sedang tidak mengantar kamu pulang melainkan sedang dalam perjalanan pulang kerumahku sendiri. Kedua, aku juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan dalam waktu sekarang ini." Dava mengerlingkan matanya.
"Oh, syukurlah - Shei mencoba untuk menahan rasa malunya- Kamu tinggal di apartemen ini juga? Lantai berapa?"
Dava melirik kearah tombol lift, kemudian berkata "Sepertinya kita tinggal di lantai yang sama!"
"Apa? Tapi aku belum pernah lihat kamu sebelumnya."
"Aku juga belum pernah lihat kamu selama 3 tahun aku tinggal disini."
Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan berjalan berdampingan.
"Jadi kamu sudah 3 tahun tinggal disini. Yang mana apartemenmu?" tanya Shei.
"Ini." Dava menunjuk ke arah pintu apartemennya. Bertuliskan 406.
"Wah! Aku bener-bener gak percaya! Itu apartemenku, no 409!" Giliran Shei menunjuk apartemennya.
"Ah, jadi kamu yang beli apartemennya Pak Yudi?"
"Mungkin. aku gak begitu tau pemilik lamanya."
"Well, walaubagaimana pun kita ternyata bertetangga. Mari bertetangga yang baik." Dava mengulurkan tangannya.
"Tentu!" Shei pun membalas jabatan tangan Dava dan kemudian berjalan menuju apartemennya.
Sulit dipercaya. Baik Dava maupun Shei menggumamkan hal yang sama.
"Apa sih Tan? Males ah!"
"You need some air, girl! Ngapain ngegalauin cowok brengsek kayak, Joe?" Tania berkacak pinggang di depan Shei.
"Please jangan mention nama itu! Rasanya aku pengen muntah."
"Ya udah muntahin, ngapain di tahan-tahan. Setelah itu cari makanan baru yang layak untuk dimakan!"
"Gak semudah itu, Tan!"
"Sheila. You are Suharjo! Semua cowok yang deketin kamu pasti punya motif bisnis. Tapi bukan berarti mereka bisa selingkuhin kamu. Cowok seperti Jo, maksudku si brengsek, tidak pantas bikin seorang Suharjo menderita kayak gini. Be Strong Shei."
"Apa aku bener-bener terlalu naif ,Tan?"
"Yes, you are! Bukan berarti cinta tulus itu gak ada cuma status kamu memang menggiurkan banyak orang. hahahaha"
"Lalu, apa motif hubungan kamu dengan Dion?"
"Money? Bisnis? Yes! Pada awalnya memang begitu. Aku sama Dion saling memanfaatkan status keluarga kami tapi dalam prosesnya kami saling mencintai. Dan itu yang tidak terjadi antara kamu dan si brengsek. Kamu terlalu naif, sedangkan si brengsek terlalu brengsek. Kamu beruntung Shei, orang-tuamu tidak pernah melihat orang dengan statusnya, tapi berbeda dengan keluargaku maupun keluarganya Dion. Status keluarga sangat teramat penting."
"Rasanya aku pengen terlahir kembali jadi orang yang biasa-biasa aja." Keluh Shei sambil memeluk kedua lututnya.
"No, Shei. Jadi konglomerat juga tidak buruk! Kamu tau apa yang dikeluhkan orang kelas bawah? Mereka berkata 'Aku ingin dilahirkan kembali menjadi konglomerat'. Intinya manusia tidak pernah bisa puas dan bersyukur dengan hidupnya."
"Tan!"
"Ya?"
"Aku seneng kamu ada disini sekarang."
"Itu bagus! Kalau begitu sekarang bangun, mandi dan siap-siap ikut aku!"
"Kemana?"
"Nanti aku ceritakan di mobil!"
@@@
Dava membenci dirinya sendiri. Kalau saja dia terlahir menjadi seorang konglomerat mungkin dia bisa melindungi cintanya. Namun apa gunanya menyalahkan takdir. Seberapa keras pun dia memaki, dia tidak akan pernah mengubah kenyataan yang ada. Sebesar apapun dia bekerja keras, dia tidak akan pernah bisa mengubah status dirinya.
Dia tersenyum kecut sambil memegang sebuah kartu undangan pertunangan yang dikirimkan ke kantornya. Kartu undangan berwarna Putih-Pink berhiaskan mawar seolah mengejek cintanya.
Apakah aku bisa jatuh cinta lagi? Gumamnya.
Sebuah pesan teks masuk
Tania : Va, sekarang aku OTW ke tempatmu. Soal rencana liburan.
Dava: Oke. datang aja, aku dikantor kok.
Tania : Are you ok?
Dava : Sure. Kenapa nanya gitu?
Tania : Aku denger dari Dion soal Karina.
Dava : Ah itu. Bohong kan kalo aku bilang baik2 aja.
Tania : Kamu orang baik, Va.
Dava : Aku tau :) See you!
Dava tersenyum kecil sebelum akhirnya menutup pesan dari Tania.
Tania adalah pacar Dion, sahabat Dava. 3 Tahun yang lalu, ketika mereka pertama kali bertemu, Dava sudah mengira kalau Dion adalah orang yang luar biasa. Pakaian yang dia kenakan dan cara dia berbicara benar-benar menunjukan kelasnya. Ternyata benar dia adalah bagian dari keluarga Suharjo.
Saat itu, Dava tidak pernah berpikir bahwa mereka akan cocok namun ternyata malah sebaliknya. Dava tidak pernah memiliki sahabat yang begitu dekat dengannya karena dia terlalu sibuk untuk belajar dan mencari uang. Baginya Sahabat tidaklah terlalu penting. Dia hanya ingin membuktikan dirinya bisa bersanding dengan Karina, orang yang sangat dicintainya. Tapi ternyata Dion mampu memasuki celah itu, celah yang selama ini dibiarkan kosong oleh Dava. Dion walaupun orangnya high class tapi dia tidak pernah memandang Dava dengan pandangan Low Class. Bagi Dion, Dava adalah orang yang baik, menyenangkan, setia, pekerja keras, ambisius, dan berdedikasi. Yah begitulah gambaran seorang Dava yang dikatakan Dion langsung di depannya dan berhasil membuat Dava merasa jijik saat mendengar semua itu.
"Dava!"
"Hai, Tan. Long time no see!"
"Iya,nih! Maklum aku baru pulang dari LA. Tapi sering ketemu Dion kan?"
"Ya, Tentu. Teman dekatku kan cuma Dion." Jawab Dava tersenyum.
"Temennya Dion?" Shei menyela percakapan mereka.
"Ah sampai lupa, kenalin ini Sheila sepupunya Dion!"
"Suharjo juga ternyata. Hai, aku Dava!"
"Sheila, panggil saja Shei. Aku baru tahu kamu temannya Dion. Aku bahkan hampir mengenal semua temannya Dion."
"Hampir semua berarti tidak semua kan. Aku beberapa kali ikut pesta yang di adakan Dion kok. Tapi memang sepertinya kita baru bertemu."
"Tapi kamu bilang kamu temen dekatnya Dion. Aku cuma gak habis pikir aja kalau ada temen dekatnya Dion yang gak aku tahu."
"It's your problem!"
"What?"
"Hei, hei stop debating! Kita disini mau merencakan soal liburan." Tania mencoba melerai perdebatan mereka berdua.
"Ah, sorry. Silahkan duduk. Jadi destinasi mana yang kalian pilih?" Tanya Dava.
"Paris!" Jawab Tania mantap.
"No, Tan! NO! Aku gak ikut kalau kesana!" Shei menyatakan ketidaksetujuannya.
"Ah. Lupa. Jadi mau kemana?" Tania merasa bersalah pada Shei. Tentu saja Shei tidak akan mau pergi ke Paris setelah insiden dengan Joe. Paris adalah tempat yang bersejarah buat Shei dan Joe. Mereka jadian di kota itu.
"Belanda aja, kan lagi musim tulip." Dava memberi saran.
"Good idea! Gimana Shei?" Tania menimpali.
"Oke." jawab Shei singkat.
"Oke. Belanda! Kamu ikut juga dong Va. Aku kan pergi sama Dion, daripada Tania jadi obat nyamuk mendingan kan ditemenin kamu. Gimana?" Tania sebenernya mempunyai rencana lain. Dan tentu saja setelah mendengar apa yang dikatakan Tania, Shei sadar akan rencana itu.
"Aku sepetinya tahu kemana arah pembicaraan kamu, Tan. Tapi aku baik-baik saja!" Shei menatap Tania dengan tatapan 'Akan ku bunuh kau kalau bicara lagi' sementara Tania membalas tatapan Shei dengan tatapan 'Aku akan hidup lagi walaupun kau bunuh'
"Ah maaf Tan sepertinya aku gak bisa ikut. Banyak kerjaan." Dava menyadari apa yang sedang di bicarakan kedua wanita di depannya.
"Aku akan menerormu sampai kamu ikut dengan kami. Hati-hati!" Tania berusaha mengancam dengan candaannya.
"Lakukan sesukamu!" ucap Dava sambil menepuk pundak Tania.
"Ah ya, aku baru ingat. Aku ada janji penting. Dava kamu bisa antar Shei pulang gak? Ini udah jam pulang jadi gak ganggu pekerjaan kamu kan?" Tania melanjarkan jurus keduanya.
"Tania! Aku bisa pulang sendiri." Ucap Shei tak nyaman.
"No! Kondisi kamu sedang tidak baik, jadi lebih baik Dava yang antar."
"Aku bisa telepon supir untuk jemput." Shei gak mau kalah.
"Gak apa-apa, biar aku yang antar." Dava menawarkan diri untuk mencoba mengakhiri perdebatan dua wanita kaya di depannya.
"Gak perlu Dava, aku bisa pulang sendiri!"
"Aku gak merasa di repotkan kok. Daripada telepon supir bukannya lebih efisien kalau aku yang antar."
"Seperti yang aku tahu, Dava adalah yang terbaik!" Tania memberikan 2 jempolnya. "Aku pergi! Bye!"
@@@
Tidak ada pembicaraan yang berarti antara mereka selama di perjalanan. Yang keluar dari mulut Shei hanya kalimat penunjuk jalan menuju apartemennya 'belok kanan', 'belok kiri', 'lurus aja'. Dava pun sepertinya tidak terlalu tertarik untuk membuka pembicaraan dengan salah satu keturunan Suharjo ini.
Sesampainya di Apartemen.
"Sudah kubilang tidak perlu di antar. Tapi makasih."
"Jadi kamu tinggal di apartemen ini?"
"Iya, sebenarnya aku lebih sering tidur di rumah sih dan hanya sesekali tidur di apartemen." jawab Shei sambil keluar dari mobil Dava. Dava pun ikut turun dari mobil.
"Kenapa keluar? Kamu gak perlu mengantar sampai dalam."
"Oke." Dava mengangguk menahan senyumnya.
Shei kemudian berjalan memasuki gedung apartemen tanpa menoleh kebelakang. Saat memasuki lift Shei terkejut melihat Dava sudah berdiri di sampingnya.
"Aku bilang tidak perlu mengantarku! Ah....Jangan-jangan kamu punya ketertarikan padaku? Aku tahu aku cantik dan menarik tapi maaf aku tidak berniat menjalin hubungan dalam waktu sekarang ini. So, segera hilangkan perasaanmu itu!" Shei mulai berbicara nyerocos di depan Dava, sementara Dava hanya tersenyum.
"Sudah selasai bicaranya?"
Shei mengangguk.
"Kamu narsis juga ya orangnya, benar-benar tipikal seorang Suharjo. Mungkin ini semacam gen yang sama kayak Dion. Pertama, aku sedang tidak mengantar kamu pulang melainkan sedang dalam perjalanan pulang kerumahku sendiri. Kedua, aku juga tidak berniat menjalin hubungan percintaan dalam waktu sekarang ini." Dava mengerlingkan matanya.
"Oh, syukurlah - Shei mencoba untuk menahan rasa malunya- Kamu tinggal di apartemen ini juga? Lantai berapa?"
Dava melirik kearah tombol lift, kemudian berkata "Sepertinya kita tinggal di lantai yang sama!"
"Apa? Tapi aku belum pernah lihat kamu sebelumnya."
"Aku juga belum pernah lihat kamu selama 3 tahun aku tinggal disini."
Pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan berjalan berdampingan.
"Jadi kamu sudah 3 tahun tinggal disini. Yang mana apartemenmu?" tanya Shei.
"Ini." Dava menunjuk ke arah pintu apartemennya. Bertuliskan 406.
"Wah! Aku bener-bener gak percaya! Itu apartemenku, no 409!" Giliran Shei menunjuk apartemennya.
"Ah, jadi kamu yang beli apartemennya Pak Yudi?"
"Mungkin. aku gak begitu tau pemilik lamanya."
"Well, walaubagaimana pun kita ternyata bertetangga. Mari bertetangga yang baik." Dava mengulurkan tangannya.
"Tentu!" Shei pun membalas jabatan tangan Dava dan kemudian berjalan menuju apartemennya.
Sulit dipercaya. Baik Dava maupun Shei menggumamkan hal yang sama.
Senin, 10 Agustus 2015
BROKEN HEART : (1) INI SEPERTI TAKDIR
"Hallo sayang kamu lagi dimana?" Gadis bermata bulat itu terus saja mengayunkan kakinya saat berbicara di telepon.
"Aku lagi ada meeting di kantor. Kenapa sayang?" ucap pria disebrang telepon lembut.
"Cuma mau ngingetin, jangan pulang terlalu malam. Kan kamu bilang lagi gak enak badan!"
"Iya sayang. Tenang aja, aku sudah baikan kok! Udah dulu ya, aku sudah di tunggu di ruang meeting nih."
"Hmm, oke. I love you, Joe!"
"I love you too, shei"
Sambungan pun terputus.
Shei dan Joe telah berpacaran sejak 3 tahun yang lalu. Mereka bertemu di sebuah pesta yang diadakan keluarga Hadiningrat, keluarga besar Joe.
Baginya Joe adalah pria tampan yang sempurna. Selalu membuatnya bahagia dan istimewa. Joe selalu memperlakukan Shei dengan sangat baik yang membuat banyak wanita lain merasa iri.
Royal Couple, begitulah orang-orang menjuluki mereka. Dengan background keluarga mereka yang luar biasa cukup membuat banyak orang merasa iri.
Joenathan Aksa Hadiningrat. Merupakan pewaris utama dari kerajaan bisnis Properti Hadiningrat. Sebagai anak pertama, Joe, memiliki tanggungjawab besar terhadap keluarganya. Namun Joe termasuk 'Prince' yang santai. Dia bahkan masih memiliki waktu untuk membuat pesta dan bersenang-senang ditengah kesibukannya.
Sementara Sheila Revana Suharjo adalah anak kedua dari CEO SC Group. Sebuah perusahaan Ritel terbesar di Indonesia. Selain dibidang Ritel semacam Suharjo Store dan S-mart, SC grup juga menggarap sektor lain seperti Properti, Pariwisata, Farmasi hingga pertambangan. Bisnis keluarga Suharjo sudah sangat mengakar. Menurut Survei Forbes, Adnan Suharjo, ayah Shei adalah orang terkaya no 1 di Indonesia saat ini.
@@@
"Tolong letakan bunganya di sebelah sana!"
"Ah hati-hati bawa mejanya!"
"Aku ingin semuanya terlihat sangat manis!"
Seorang pria lengkap dengan tuxedo-nya terlihat sangat tampan. Berkali-kali dia melihat jam tanggannya. Dia biarkan dirinya berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan rasa gugup. Malam ini, dia akan melamar kekasih yang sudah dia kencani selama 7 tahun. Seorang gadis yang selalu ada untuk menyemangatinya dan tentunya mencintainya.
Mereka bertemu di tahun ke 3 masa kuliahnya dan tidak lama kemudian mereka berpacaran. Dava Putra Ghanindra seorang pria cerdas yang memiliki ambisi besar dalam dirinya. Dia berjuang sangat keras untuk membuktikan kepada keluarga Karina bahwa dia pantas bersanding dengan putri dari keluarga besar Karina yang kaya raya dan terpandang.
Karina berasal keluarga politisi salah satu Partai Besar di Indonesia. Ayahnya adalah orang yang terpandang dan disegani di dunia politik Tanah Air. Mungkin kalian sering mendengar nama Lukman Pranoto di berbagai media. Ya, dialah ayah Karina.
Sebenarnya Karina mencintai Dava apa adanya, tanpa memandang status keluarganya yang dari kalangan biasa. Karina melihat potensi dari Dava. Dava adalah pekerja keras, baik dan juga cerdas. Oleh karena itu Karina mendukung Dava dari Nol. Saat Dava mendirikan perusahan travel pertamanya 3 tahun yang lalu, Karinalah yang selalu ada disisinya. Kini perusahaannya sudah berkembang pesat. Perusahaan Travel milik Dava masuk 10 besar perusahaan Travel terbaik tahun ini. Sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat perusahaannya baru berdiri selama 3 tahun.
Kebaikan hati Karinalah yang membuat Dava mantap untuk melamar. Dan dia akan memperjuangkannya di depan keluarga Karina. Sampai saat ini, keluarga Karina belum memberikan lampu hijau atas hubungan mereka. Dengan melamar Karina, Dava ingin menunjukan keseriusannya. Dia yakin dengan penghasilannya sekarang, dia bisa menghidupi Karina dengan baik.
@@@
"Restorannya tutup ya?" Shei bertanya pada salah satu petugas yang bejaga di depan restoran favoritnya. Sebuah restoran yang terletak di dalam hotel bintang 5 ini memang memiliki citarasa yang khas. Shei sering mengajak Joe maupun teman-temannya makan disini.
"Iya, mba. Restorannya disewa malam ini!"
"Di sewa? Wah sepertinya acara lamaran?" Shei melongok kearah dalam restoran yang benuansa putih-pink dihiasi bunga mawar disekelilingnya. Dia juga melihat seorang pria terlihat sedang mondar-mandir menahan rasa gugup. Shei tersenyum kecil. Sesaat dia membayangkan bagaimana cara Joe akan melamarnya. Apakah Joe akan terlihat sangat gugup seperti pria itu?
"Iya, mba. Acara lamaran. Pria itu kebetulan teman kuliah pemilik restoran jadi bos kami rela menutup restorannya malam ini. Kalo begitu saya permisi"
"Iya sayang tenang aja aku sudah atur semuanya. Ini akan jadi hari ulang tahun terbaik kamu!"
Deg. Jantung Shei tiba-tiba berdetak lebih kencang.
Ah tidak, mungkin aku salah dengar. Gumamnya. Shei membalikan badannya secara perlahan seraya mengatur nafasnya yang terasa sesak.
Shei mengambil handphone-nya
Terlihat Joe melihat layar HPnya dengan tenang.
"Sheila ya?" ucap wanita di sebelah Joe. Joe mengangguk.
"Halo sayang!" Joe mengangkat teleponnya.
"Kamu dimana?"
"Aku? Masih meeting. Kenapa? Sudah kangen ya?" Joe mengeluarkan suara manjanya.
"Iya, aku pengen ketemu kamu." jawab Shei datar.
"Besok aku jemput kamu, kita makan siang bareng di restoran favoritmu. Sekarang aku tutup teleponnya ya sayang. Love you!"
Sambungan terputus. Shei masih terpaku di tempat. Pikirannya kalut begitupun hatinya.
"Kamu beneran gak bisa putus sama Shei? Jadi aku harus terus jadi yang kedua?" Tanya wanita bergaun merah itu merajuk manja.
"Kamu tahu sendiri, aku sama Sheila itu cuma hubungan bisnis. Kita sudah bahas ini sebelumnya kan?"
@@@
"Kamu pasti terkejut ya, Sayang? Aku mempersiapkan ini untuk kamu." Ucap Dava seraya menatap lekat mata kekasihnya.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu dan aku yakin kamu sudah bisa menebaknya." Lanjut Dava.
Karina melepaskan pegangan tangan Dava perlahan dan mulai menangis.
"Apapun yang mau kamu bilang, aku gak mau denger." Karina tertunduk. Tubuhnya sedikit bergetar menahan tangis.
"Maksud kamu?"
"Aku udah mutusin untuk mengakhiri hubungan kita, Va!"
Dava tersentak, tak terasa tangannya mulai gemetar dan berkeringat. Dia sungguh tidak ingin mendengar kalimat itu keluar dari mulut Karina. Tidak ingin.
"Kenapa Rin?"
"Aku memilih orangtuaku, Va. Maaf."
"Rin, aku sudah berusaha sangat keras untuk membuktikan kalau aku pantas ada disamping kamu. 7 tahun hubungan kita apa kamu ingin membuangnya seperti ini?"
"Selama 7 tahun juga aku berusaha menyakinkan keluargaku kalau kamu pantas untuk aku. Tapi selama itu juga aku merasa menderita karena kita tidak pernah mendapat restu. Aku menyerah, Va!"
Karina melangkahkan kakinya keluar restoran tanpa menoleh lagi. Semua berakhir untuk mereka berdua.
Dava tertunduk dan perlahan air matanya keluar tak terbendung. Rasa sakitnya berbaur dengan air mata yang terus keluar membasahi tuxedo-nya. Seperti hujan yang terlihat semakin deras diluar sana. Dia membiarkan dirinya menangis bersama hujan berharap kesedihannya akan menghilang.
@@@
Shei berjalan mengikuti Joe dan selingkuhannya dengan tatapan kosong. Sesampainya di depan kamar yang mereka masuki. Kakinya terasa sangat berat. Dia benar-benar taku tidak bisa menanggung rasa kecewa. Tapi Sheila adalah orang yang kuat. Dia yakin bisa melakukannya. Saat itu dia melihat seorang petugas hotel berjalan melewatinya.
"Tok...Tok.."
"Siapa?"
"Room service!"
"Sebentar."
Pintu pun terbuka.... "Sheila?"
"Hubungan bisnis? Hah! Brengsek!" Shei mulai memukuli badan Joe dengan tangan mungilnya.
"Shei!" Joe berusaha menahan tangan Sheila.
"Ah, lupa. Aku kesini bukan untuk menangis di depan kamu, atau pun meminta penjelasan dari kamu. Aku kesini ingin bilang kalo mulai saat ini kita putus! Silahkan kalian lanjutkan apapun yang akan kalian lakukan!"
"Berhenti kekanak-kanakan seperti ini Shei!"
"Apa? Kekanak-kanakan?"
"Ya! Jangan bersikap seperti anak remaja usia 17 tahun yang mengharapkan cinta tulus. Kita hidup di dunia yang menempatkan bisnis keluarga diatas segalanya. Cinta? Itu hanya mainan anak-anak kelas bawah. Hubungan diantara orang-orang kelas atas seperti kita adalah hubungan bisnis yang dibungkus seperti cinta!"
"Kamu benar-benar brengsek. Perasaanku padamu tulus, Joe! Aku harap aku tidak pernah ketemu kamu lagi, Joe"
"Baiklah kalo itu yang kamu mau. Tapi jangan sampai mempengaruhi bisnis yang sedang kedua perusahaan keluarga kita lakukan."
"Kamu bener-bener brengsek sampai akhir, Joe!"
@@@
Mendung pun tak terlihat saat malam. Hujan yang turun juga semakin deras. Dua orang yang sedang patah hati terlihat sangat menyedihkan saat itu. Mereka hanya berdiri menatap kosong ke arah hujan.
"Taksi"
"Taksi"
Saat itulah mereka pertamakali bertemu. Dalam tangis yang sama di bawah hujan yang sama.
Selasa, 17 Maret 2015
BAGIAN 2 END : KEENA MAHARDHIKA
SMA Patriot 1
Aku memasuki
kelas yang sudah terlihat ramai. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosok
Dika. Aku benar-benar merindukannya. (Kamu boleh bilang aku gila!)
Aku menemukannya.
Dia sedang tertawa membicarakan sesuatu dengan teman sebangkunya sambil menenteng
gitar kesayangannya. Pandangan kami beradu. Untuk pertamakalinya aku panik saat
melihat matanya. Ralat, dulu lumayan sering sih. Dulu sekali. Tapi ini
pertamakalinya sejak deklarasi perang yang dia lontarkan padaku.
“Eh Na, bedaknya
ketebelan tuh!” Dia tertawa meledek. Sial. Aku benar-benar malu dibuatnya. Apa
benar bedakku ketebelan? Aku memang melakukan make-up tambahan saking
semangatnya mau bertemu dengan Dika. Dalam keadaan normal mungkin aku akan
membalas ledekannya dengan teriakan atau apalah namun harus dicatat bahwa saat
ini aku sedang tidak normal. Aku malah berjalan setengah berlari menuju mejaku
tanpa berani melihat wajahnya lagi. Beberapa siswa terlihat keheranan. Mungkin
awalnya mereka berfikir akan menyaksikan perang hebat lagi diantara kami.
Pelajaran hari
ini adalah membahas tentang otak manusia. Bu guru menyinggung sesuatu yang
disebut synesthesia. Sesorang yang memiliki synesthesia bisa melihat sesuatu
dengan sisi bebeda. Misal melihat huruf dengan warna yang berbeda, setiap hari
juga memiliki warna yang berbeda.
“Menurut kalian,
synesthesia itu kelainan atau bukan?” Tanya Bu Fani.
“Kelainan bu!
Cara otak si penderita mengolah data yang masuk berbeda dengan otak normal.
Sehingga hasilnya pun memiliki persepsi yang berbeda dengan kebanyakan orang.
Sudah jelas ini kelainan.” Lukman yang duduk paling depan menjawab.
Ibu Fani
mengangguk-anggukan kepalanya “Ada yang berfikir lain?” dia kembali bertanya.
“Menurut aku itu
bukan kelainan, hanya sebuah kondisi atau kemampuan bu. Menurut Wiki
synesthesia adalah a neurological phenomenon in which simulation of one sensory
or cognitive pathway leads to automatic, involuntary experiences in a second
sensory or cognitive pathway. Sebuah penomena, sebuah kondisi. Ini bukan
penyakit ataupun kelainan yang menggangu fungsi otak. Synesthesia lebih ke
berupa kemampuan lebih seseorang. Karena justru banyak pemilik kemampuan
synesthesia tidak mau di sembuhkan. Seorang synethetes bisa melihat hurup atau
angka dengan warna yang berbeda, suara/nada juga memiliki warna/bentuknya
sendiri membuat mereka bisa membedakannya dengan cepat.”
“Wah, seperti biasa
Dika seperti wiki berjalan ya?” Ibu Fani tertawa disambut tawa siswa lainnya.
“Ada pendapat yang lain mungkin?” tanyanya lagi.
Akupun mengangkat
tangan. Ibu Fani mempersilahkanku untuk bicara. Tiba-tiba seluruh ruangan
hening – seperti biasa. Mungkin mereka sedang menunggu sebuah bom di lemparkan
dari bawah mejaku. “....aku setuju dengan pendapat Dika.”
Haaaaaaahhhhh?????
Suara keheranan terdengan di seluruh ruangan.
“.....kita semua
memiliki synesthesia sepertinya. Seperti berkata ‘wajah cantiknya sangat
manis’. Mana ada wajah yang manis? Wajah dilihat oleh indra penglihatan, manis
dirasakan oleh indra pengecap. Keduanya disatukan oleh otak. Hanya karena cara
kerja otaknya yang berbeda bukan berarti otak itu tidak bekerja atau terganggu.
Namun apa benar yang seperti itu sudah bisa dibilang synesthesia? Menurut saya
tingkat kemampuan synesthesia seseorang itu berbeda-beda. Pada tingkatan yang
lebih ekstrim, saat seorang synethetes membuat hurup P, dia melihat warna ungu,
setelah dia menambahkan garis menjadi hurup R warnanya berubah jadi orange.
Bunyi klakson juga memiliki warna yang berbeda. Nada Do memiliki warna yang
berbeda dengan Mi. Dan seterusnya. Mungkin ada juga yang misal saat melihat
Lukman dia mencium bau bunga kenanga, tentu bukan bau farfume ya, dan saat
melihat Dika mencium bau bunga Raflesia arnoldi, sorry, bunga mawar maksudnya.”
Semua siswa tertawa mendengar penjelasanku.
“Wah menarik,
bagaimana kalau kita jadikan ini pekerjaan rumah? Setiap siswa menuliskan
apakah synesthesia itu penyakit,kelainan atau kemampuan lebih, atau apa?
Terangkan juga pendapat kalian masing-masing. Kumpulkan minggu depan ya!” Ibu
Fani mengakhiri pelajarannya dengan pekerjaan rumah. Seperti biasa, selalu
seperti itu.
Jadi perbincangan
heboh setelah itu bukan lagi masalah synesthesis tapi mengenai seorang Keena
yang menyetujui pendapat Dika di depan semua orang. Hal ini adalah yang pertama
kalinya terjadi.
“Ini aneh. Keena
setuju sama pendapat Dika. OMG udah mau kiamat kayaknya. Biasanya kalopun Dika
bener, Keena bakal milih diam daripada bilang setuju di depan semua orang. Dan
tadi sejarah banget gak sih?” Seorang gadis bernama Hana mulai menggosip dengan
siswa dari kelas lain. Dia memang biang gosip di sekolahku. Semua gosip yang
beredar 99% berasal dari mulutnya.
***
“Gosip soal lo
sudah berkembang sangat ekstrim Na.” Ucap Nayla sambil menyuapkan siomay mang
Udin ke mulutnya.
“Ekstrim?”
“Katanya lo kayak
gitu karena lo mulai suka sama Dika.”
Aku terdiam
mendengar gosip itu. Ah mungkin karena itu bukan gosip. Aku memang menyukainya.
Mataku tak pernah lepas dari sepasang muda-mudi yang sedang bermesraan di ujung
meja sana. Dika dan Renata. Pasangan paling serasi di sekolah, katanya. Renata
adalah siswi cantik nan populer dari kelas 2. Ya, dia adik kelas Dika.
“Halo Na? Lo
liatin apa sih? Dika sama Renata?” Nayla terlihat bingung saat tahu aku sedang
memperhatikan mereka.
“Lo beneran suka
sama Dika ya?” tanyanya setengah berbisik.
“Berani-beraninya
dia bermesraan di depan gue. Gue gak terima suami masa depan gue mesra-mesraan
sama cewek lain di depan gue.”
“Bentar. Suami
masa depan? Lu kesambet apaan si Na?” Nayla semakin bingung dengan sikapku.
“Tunggu disini. NAY
GUE BAYAR MINUMAN DULU YA” Aku mengeraskan suaraku saat mengucapkan kalimat
terakhir.
Nayla hanya
mengangguk bingung padaku. Aku kemudian berjalan menuju sepasang iguana kurang
ajar itu dan berpura-pura tidak sengaja menumpahkan minumanku ke baju Renata.
“Ups. gak
sengaja.” Ucapku
Renata
merengek-rengek pada Dika karena baju dan rok nya basah olehku. Minta di
perhatikan banget. Jijik banget liatnya. Idih dasar laler.
“Kak Keena pasti
sengaja deh yang, kamu udah denger kan gosip kalo Kak Keena suka sama kamu.”
Ucap Renata manja. Sementara Dika masih menatapku dingin.
“Idih, kan udah
di bilangin gak sengaja.” Aku kesel juga liat muka sok nya Renata.
“Gimana itu bisa
di bilang gak sengaja Na? Lo tuh paling jelek kalo akting. Minta maaf sama Rena
sekarang!” Dika membentakku pemirsah. Helloooo
gue istri masa depan lo Dika, buka mata lo! Gumamku dalam hati
“Kenapa gue harus
minta maaf? Kan gak sengaja. Kalo sengaja baru gue mau minta maaf.” Wah aku
benar-benar mengeluarkan kekejamanku. Kutatap sinis wajah sok lugunya Rena.
“Udah Re, kamu
pergi ke toilet sekarang. Biar dia aku yang urus.” Rena pun pergi atas titah
Dika. Setelah Rena tak kelihatan lagi, Dika melanjutkan perdebatan ini denganku
“Lo kan punya
masalahnya sama gue, jadi jangan bawa-bawa cewek gue dong. Kalo lo sekali lagi
ngebully Rena. Gue gak bakal tinggal diam.”
“Bully? Wow. Gue
cuma gak sengaja numpahin minuman (hehe bohong, sebenernya SENGAJA :P) terus lu
sebut gue ngebully dia? Wow!” Emosi Keena emosi.
“Gak sengaja?
Oke!” Dika maju satu langkah dan menumpahkan minumannya padaku. “Ups, gue gak
sengaja” Dika pun melempar gelas plastik itu dan pergi meninggalkanku.
“Dika!” Aku
berteriak tidak percaya. Kini pakaiannyaku basah oleh teh manis yang
ditumpahkannya. Saat itu aku baru sadar Nayla sudah berdiri di sampingku dan
mulai mengelap bajuku dengan saputangannya.
“Duh. Lo cari
masalah sih Na. Kita ke toilet yuk.” Nayla menuntun tanganku, namun aku
mengibaskan tangannya. “...Na lo mau kemana, toiletnya arah sini” Nayla berlari
mengejarku yang sedang berjalan ke arah toilet anak kelas 2.
Jebred. Aku
membuka pintu dengan keras ala-ala sinetron abg yang lagi ngelabrak. Aku
menghampiri Rena yang tengah membersihkan bajunya. Entah apa yang telah
merasukiku sekarang, aku juga tak mengerti apa yang mau aku lakukan disini. “Yang
lain keluar!” perintahku pada 3 cewek kelas 2 yang ada disitu.
“Na, lo ngapain
sih? Udah yuk balik ke kelas!” Nayla mencoba menarikku keluar, khawatir melihat
emosiku yang meletup-letup tak terkendali.
“Ini bukan
pertama kalinya lo gak ngehormati gue sebagai orang yang lebih tua dari lo.”
Aku mulai membuka pembicaraan dengannya.
“Gue cuma
menghormati orang yang pantas gue hormati” Renata menimpali.
“Jadi maksud lo
gue gak pantas buat di hormati?”
“Yes! Lo tuh cuma
tukang cari perhatian , numpang tenar sama Dika. Sok pinter, sok cantik, dan
sok-sokan jadi senior yang pengen di hormati. Cuma sampah!”
Aku merasa mual
melihat wajah Renata saking jijiknya. Dia bahkan tidak terlihat seperti korban
labrakan kakak seniornya. So confident. “Jaga ucapan lo ya, mulut lo lebih
sampah!” bentakku.
“Ah...gue tahu
kenapa lo over kayak gini. Apa gara-gara keluarga lo yang lagi kacau karena bokap
lo yang punya wanita simpanan? Dan lo lampiasinnya ke gue.”
“Bitch!” Tanpa
berfikir panjang aku mulai menyerangnya, menjambak rambutnya. Dia juga membalas
jambakanku. Nayla panik berusaha menghentikan kami.
“Stop!” Dika yang
entah kapan masuknya melerai kami berdua. “Lo gila ya Na? Sayang kamu gak
apa-apa kan?” Dika menghampiri Rena yang mulai menangis mendramatisir keadaan.
Seolah-olah dia benar-benar korban.
“Lo ternyata
lebih rendah daripada yang gue kira Na. Cewek yang punya sikap dan sifat rendah
itu elo Na. Bukannya minta maaf malah datang ke toilet anak kelas dua dan
ngelakuin ini semua. Keterlaluan lo Na!” Dika memarahiku. Emosinya meluap-luap.
“Sebelum lo
marah-marah sama gue, tolong ya ajarin dulu cewek lo sopan santun. Mulutnya
lebih sampah daripada mulut gue Dik. Gue cewek rendahan? Emang lo tau apa
tentang gue hah? Gue bahkan sampai sekarang masih inget apa yang lo bilang ke
gue 5 tahun yang lalu kalo lo bakal bikin gue jatuh berkali-kali di depan lo.
Gue gak ngerti Dik, alasan lo benci ke gue tuh apa? Yang gue tahu, gue benci
elo karena elo benci gue!” Aku keluar dari toilet dengan muka yang memerah
menahan tangis. Nayla mengikutiku di belakang. Kami tidak langsung kembali ke
kelas, aku memutuskan pergi ke atap untuk menenangkan diri.
‘Lo kenapa sih
Na? Hari ini emosi lo susah di tebak. Cerita aja ke gue!” tanya Nayla dengan
lembut.
“Lo gak bakal
percaya sama apa yang gue omongin ke elo Nay.”
“Tapi gue akan
selalu memahami elo Na!”
“Gue time
traveler ke masa depan Nay dan ternyata gue nikah sama Dika.” Aku melihat
ekspresi bingung Nayla. “.... Dika 5 tahun mendatang berbeda dengan Dika
sekarang. Dia lebih dewasa, perhatian, sayang sama gue.” Lanjutku.
“Tuh kan lo gak
percaya. Sudahlah.” Aku terdiam.
“Mungkin lo cuma
sedang bingung sama perasaan lo ke Dika, Na! Maksud gue, lo mengharapkan Dika
yang baik, perhatian, care sama lo jadi lo mimpiin Dika seperti itu.” Nayla
mengucapkannya dengan hati-hati.
“Itu bukan mimpi
Nay. Ini adalah gelang yang di berikan Dika di 100 hari perayaan pernikahan gue
sama dia. Gelang ini dari masa depan yang ikut ke masa sekarang. Gelang ini
yang buat gue percaya kalo gue gak lagi mimpi Nay.” Ucapku sambil menujukan
gelang pemberian Dika.
“Na...” Nayla
melihatku dengan tatapan simpatiknya. Mungkin dia berfikir aku benar-benar
gila.
“Terserah lo mau
percaya gue atau nggak Nay. Denger Nay, gue lihat lo dimasa depan, LO BAKALAN
NIKAH SAMA TONY. Nanti, suatu saat nanti, lo bakal tau apa gue bohong atau
enggak.”
“Tony?”
“Yes, Tony!”
Nayla tersenyum
padaku “Balik ke kelas yuk, udahan bolosnya. Udah jam pulang.” Nayla menarik
tanganku dan menggandengnya berjalan menuju kelas.
“Tony ya? Awas ya
kalo ternyata gue gak jodoh sama Tony. Gue gelitikin lo sampai nangis.”
Aku tahu sekali
kalau Nayla cinta mati sama Tony, anak SMA Persada si Jago Basket. Aku
mengangguk dan kami pun tertawa. Mungkin Nayla tidak mempercayai ucapanku, tapi
benar bahwa dia selalu berusaha memahamiku, memahami bahwa aku gila. Hahahaha.
***
Diam. Sudah 1
bulan aku dan Dika tidak saling berbicara sejak insiden di toilet. Cekcok, adu
argumen, saling ledek sudah tidak pernah kami lakukan. Kami hanya diam. Ah,
rasanya hari-hari yang aku lalui selama sebulan ini lebih buruk dari
sebelumnya. Hatiku rasanya ingin meledak, memaki-makinya. Lebih tepatnya, aku
merindukannya.
Hari ini selepas
sekolah, panitia pelepasan siswa kelas 3 menggelar rapat lanjutan. Kami harus
pintar membagi waktu agar persiapan kami tidak mengganggu belajar kami. Kami
semua sadar bahwa kami juga akan menghadapi UAN yang ada tepat di depan mata.
Kami pun mulai membagi tugas untuk acara perpisahan nanti. Ada yang bertugas
sebagai dekorator, konsumsi, kostum dll. Sementara aku bertugas menjadi
photografer acara.
“Na, kayaknya
kita harus bicara.” Dika menahanku setelah acara rapat selesai.
“Bicara apa lagi
sih Dik? Gue udah males adu mulut sama lo!”
“Ini udah sebulan
kita diem-dieman Na. Lo gak ngerasa aneh apa?”
“Aneh? Bukannya
lo seneng gak bicara sama cewek yang punya sikap dan sifat rendahan kayak gue?”
“Oke, sorry soal
omongan kasar gue waktu itu, Na. Gue juga udah nanyain berkali-kali ke Rena
soal apa yang dia bilang ke Elo sampai lo marah banget kayak gini. Tapi dia
bilang dia gak ngomong apa-apa ke elo.”
“Udahlah Dik,
jangan ngebahas soal itu lagi. Males sumpah.”
“Soal gosip itu.
Apa bener lo suka sama gue, Na?”
Aku bingung harus
jawab apa sekarang. Jantungku berdetak semakin keras dan tak terkendali.
Rasanya aku ingin lari, kabur dari ruangan ini secepatnya. Pintu, aku harus
segera lari. Namun aku urungkan saat melihat Renata mematung tepat di depan
pintu. Mungkin dia sedang menahan dirinya untuk tidak cemburu. Entah kenapa
perasaan berani muncul dari diriku. Aku ingin menyingkirkan Renata dari hidup
Dika. Dan mungkin ini kesempatannya. Ku tatap wajah Dika lekat. Dan aku
tersadar bahwa aku benar-benar merindukannya. Aku menciumnya lembut, awalnya
aku hanya ingin memberikan kecupan cepat namun tanpa kuduga Dika malah membalas
ciumanku. Ya, kami berciuman. Kakiku rasanya sangat lemas menahan desiran rasa
bahagia yang mulai menghangatkan hatiku.
Keesokan harinya,
hampir saja aku memutuskan untuk tidak masuk sekolah saking malunya untuk
bertemu dengan Dika. Namun ternyata hari itu Dika tidak masuk sekolah. Kata
Nayla, Ibunya Dika di rawat di rumah sakit karena...
“Kangker.” Ucapku
“Kamu sudah
tahu?”
“Ibunya akan
meninggal saat hari perpisahan sekolah.”
“Hush! Jangan
sembarangan kalo ngomong. Nanti kalo beneran gimana? Gue tahu lo emang benci
banget sama Dika tapi jangan ngomong kayak gitu dong Na. Pamali!”
“Aku gak lagi
nyumpahin Nay. Aku tahu saat aku pergi ke masa depan.”
“Hehehe....itu
lagi. Udahlah ngomongin yang lain aja.”
“Yang lain? Mmm Gue
sama Dika kissing!”
“What?” Nayla
tersedak siomay yang dia makan. “....kapan, dimana dan bagaimana?”
***
Papaku punya
simpanan? Bagaimana bisa Renata menyimpulkan hal itu. Memang sempet rada heboh
sih, pas ada tante-tante ngaku kalau dia lagi hamil anak papa. Tante itu mulai
ribut dan minta tanggungjawab dari papa. Papa bilang dia tidak ingat apapun
malam itu. Aku dan mama tahu dengan jelas kalau papa bukan orang yang bisa
mengkhianati keluarga, tapi mama juga harus punya bukti untuk mendukung
keyakinannya. Mama pun menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu
tentang wanita itu. Dan hasilnya, wanita itu memang hanya ingin memeras papa.
Dia menjebak papa setelah keluar dari tempat karaoke. Ceritanya sangat panjang.
Intinya, papaku tidak seperti yang dipikirkan Renata. Itulah kenapa aku
menjambaknya waktu itu.
***
“Dik!” aku
menghampiri Dika yang sedang tertunduk lesu di depan ruang operasi.
“Na! Kamu
dateng?” Ini adalah pertamakalinya dia memanggilku ‘kamu’ sepertinya hubungan
kami mulai membaik. Aku pun duduk disampingnya.
“Udah makan?”
Dika menggeleng.
“Na, boleh minjem bahu kamu gak?”
Aku menepuk
pundaku. “Here!”. Dika mulai merebahkan kepalanya. Beberapa saat kemudian aku
merasa pundakku terasa basah dan hangat. Dika menangis. Aku pun memeluknya.
“Aku gak bisa bilang semuanya akan baik-baik saja atau enggak Dik. Aku cuma
bisa bilang, aku bakal ada buat kamu terus, nemenin kamu, minjemin pundak aku
ke kamu Dik. Kalo mau nangis ya nangis tapi abis itu kamu harus senyum lagi.”
“Na, kamu pernah
nanya kenapa aku benci sama kamu, apa masih butuh jawaban?”
“Tergantung kamu
mau jawab atau enggak. Aku gak bakal maksa.”
“Ivan. Kamu tau
Ivan anak kelas 2B?”
“Yang meninggal
bunuh diri?” tentu saja aku ingat.
“Yang bukan cuma
kamu tolak tapi juga kamu permalukan di depan banyak orang.”
Aku terdiam.
Bagaimana aku bisa lupa orang itu. 2 hari setelah insiden itu, dia meninggal
bunuh diri.
“Dia sahabatku
Na.” Nafasku tiba-tiba tercekat. “....dia mengidap bipolar disorder. Dia selalu
membicarakan tentang kamu. Dia bener-bener tulus sama kamu, Na. Gak masalah
kalau kamu nolak dia, tapi gak perlu sampai mempermalukan dia seperti itu.”
“Jadi emang
bener, Ivan meninggal gara-gara aku. Aku nggak nyesel nolak Ivan Dik karena aku
emang gak cinta sama dia tapi aku nyesel banget udah mempermalukan dia.
Semuanya karena taruhan bodoh aku sama Lili.”
“Lili?”
“Lili temen
sekelasku, satu organisasi sama kamu Dik. Lili kan pernah di tolak Ivan dan dia
ingin aku membalas dendam dengan bikin Ivan malu. Setelah itu Lili janji mau
ngasih nomor HP kamu Dik.”
“No HP ku?”
“Sebenernya, aku
udah suka kamu dari dulu Dik. Aku penasaran sama cowok badung yang sering bolos
tapi selalu masuk 10 besar di kelas. Katanya kalo kamu rajin masuk, kamu yang
bakal dapet rangking 1. Aku pikir ‘wah orang ini bener-bener jenius’. Aku
beberapakali membuka percakapan saat kita tidak sengaja bertemu. Tapi kamu
selalu cuek. 2 hari setelah insiden itu, aku baru dapat nomor HP kamu dan hari
itu juga kamu nemuin aku dan bilang akan jatuhin aku berkali-kali di depan
kamu.”
“Ternyata,
semuanya juga salahku Na.” Dika menatapku.
“Enggak. Tapi
salah aku. Maaf” Aku tertunduk.
Sejak saat itu,
aku sering menengok ibunya Dika di rumah sakit. Hubungan aku dengan tante Widya
sangat baik. Sepertinya beliau menyukaiku. Dia bahkan memintaku untuk terus ada
disamping Dika. Dan ternyata hubungan mamaku dengan tante Widya juga sama
baiknya. Beberapa kali aku datang menengok dengan mama dan papa.
Suatu hari, tante
Widya memberiku sebuah cincin.
“Na, setelah
tante gak ada, Dika pasti bakal ngurung diri di kamar. Murung, gak makan, gak
minum, gak sekolah. Pada saat itu, kamu harus pukul kepalanya biar dia sadar.
Kamu harus buat dia tersenyum lagi. Kamu harus janji sama tante ya!”
Seperti yang
sudah kukatakan sebelumnya, semua yang aku tahu saat pergi ke masa depan satu
per satu terjadi. Dihari perpisahan siswa kelas 3, tante Widya meninggal. Dika
3 hari mengurung diri dikamar dan di hari ketiga aku memutuskan untuk mendobrak
pintunya.
Nayla dan Tony bertunangan
sebelum akhirnya 2 tahun kemudian menikah. Begitupula aku dan Dika menjadi
sepasang kekasih yang tak terpisahkan sejak kuliah. Kami menikah setahun
setelah pernikahan Nayla dan Tony. Kami sangat bahagia. Sampai akhirnya sesuatu
terjadi pada kami berdua.
***
3 Maret 2015 Pkl
15:05
Aku terbangun,
nafasku terasa tidak beraturan. Air mata tiba-tiba saja keluar dengan derasnya.
Kupukul kepalaku yang terasa sangat sakit. Semua ingatan muncul bergantian
tanpa jeda membuatku sangat kesakitan. Ingatan buruk yang kata dokter bisa
membunuhku akhirnya muncul seperti neraka buatku. Aku semakin histeris.
Terdengar suara
papa dan mama yang berusaha menenangkanku. Aku terus berteriak, sakit sekali.
Bukan hanya kepalaku tapi juga hatiku.
“Dikaaaa” Aku
berteriak memanggil namanya. Ku seka air mataku yang semakin deras. “Dika mana
mam? Dika mana?” Mama memeluku sambil menangis. Tubuhku semakin berguncang
dibuatnya.
26 Desember 2014
Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi, sebuah
mobil inova terjun ke jurang setelah bertabrakan dengan truk di tikungan curam.
Pengemudi mobil tersebut diketahui bernama Mahardika yang sedang dalam
perjalanan berlibur bersama istrinya. Beruntung sang istri berhasil selamat dan
langsung dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis yang berada di TKP.
***
Epilog
9 Maret 2015
“Na, lo nangis?”
Nayla terlihat khawatir.
“Dika mati Nay.
Huhuhu” Aku terisak.
“MATI??? Ah,
cerita yang lagi lo bikin kan maksudnya? Kenapa dibikin mati sih?”
“Biar dramatis
gitu.”
“Hadeuh....
udahan nangisnya! Tuh ada Dika yang asli dan nyata!”
“Mana?” Aku
langsung menyeka air mataku.
“Itu duduk di
depan jus mang Adang”
“Wah, iya. Tunggu
disini sebentar ya Nay!”
“Mau ngapain Na?”
“Mau memulai
sejarah!” Aku tersenyum pasti pada sahabatku Nayla.
Aku berjalan
kearahnya dengan seluruh keberanian yang terkumpul di diriku. Aku melakukan
pertaruhan besar saat ini.
“Dik,
gue...gue...suka sama lo!”
“Hah? Lo abis
ketiban balok Na?”
THE END
BAGIAN 1 : KEENA MAHARDHIKA
5 Februari 2015
2 bulan aku
mengalami koma, katanya.
Saat aku
terbangun, aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa aku dan siapa orang-orang
yang berdiri disekitarku dengan cemas. Aku menderita amnesia, begitulah katanya.
Katanya, katanya.
Aku hanya mendengar penjelasan singkat dari orang lain tanpa ada sedikitpun
yang aku ingat.
Saat berusaha
mengingatnya, aku merasakan sakit kepala yang sangat hebat bahkan sampai
membuatku pingsan. Orang tuaku terlihat sangat panik ketika tubuhku terkulai di
lantai akibat serangan vertigo tersebut.
Aku mendengar
pembicaraan orang tuaku dengan dokter saat itu. Dokter menyarankan agar aku
menghindari sesuatu –seperti ingatan- yang bisa membuatku drop. Tubuhku belum
kuat menerima pukulan besar untuk ingatanku. Ingatan buruk yang ku ingat bisa
saja membunuhku. Orang tuaku menangis. Tangisannya tertahan berharap aku tidak
bisa mendengarnya.
Aku mendapatkan
perawatan intensif selama aku di rumah sakit. Total sudah 1 bulan aku disini
sejak terbangun dari koma. Kondisi tubuhku sudah membaik, hanya saja ingatanku
masih sama. Aku masih menderita amnesia.
Beberapa orang
datang menjenguk. Nayla, katanya (lagi) dia sahabatku sejak SMA. Dia datang
bersama suaminya. Ah suami. Apa aku juga memiliki suami? Saat aku menanyakan
hal itu pada Nayla, dia menatap ibuku ragu.
“Kamu sudah lama
bercerai, setahun yang lalu” Ibuku memberi jawaban.
“Oh, sayang
sekali aku gagal.” Aku mendesah kecewa.
***
3 Maret 2015
Hari ini aku
pulang kerumah. Seorang pembantu rumah tangga menyambutku dengan ramah, seolah
sangat merindukanku. Ayah membawaku ke kamar untuk beristirahat sementara ibu
pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Dalam ingatanku,
aku memang tidak mengingat rumah ini. Tapi hatiku pasti mengingatnya. Aku lahir
dan besar disini, aku merasa tidak asing. Sesuatu yang membuatmu nyaman
walaupun kamu tidak mengingatnya.
Setelah makan
siang, aku kembali ke kamar. Kepalaku sedikit pusing. Kurebahkan badanku. Sesekali
aku mencoba meneliti seluruh sudut di kamar ini. Sebuah piagam yang menepel di
dinding menarik perhatianku. Wah juara photografi tingkat nasional. Aku
tersenyum, seolah bangga dengan diriku sendiri. Di meja tepat dibawah piagam,
ada sebuah kamera yang mungkin aku gunakan untuk mengikuti perlombaan itu. Aku
ingin mencoba memotretnya tapi tidak kutemukan memori di dalamnya.
Aku pun
mencari-cari di laci meja. Namun tetap tak ada. Aku malah menemukan sebuah
cincin. Apa ini cincin kawinku? Gumamku.
Aku berjalan
kembali ke ranjangku sembari terus memperhatikan cincin kawin yang begitu indah
ini. Aku menyematkannya di jariku. Sangat pas dan sangat cantik. Kemudian
akupun terlelap.
***
Januari 2010
Aku kalah. Selalu
saja begitu. Dari dulu aku selalu jatuh berkali-kali karenanya.
Namanya Dika.
Mahardika. Dia teman sekolahku. Lebih tepatnya mungkin musuh bebuyutanku sejak
SMP. Dan ironisnya kita malah sekelas sejak kelas 1 SMA sampai sekarang
menginjak kelas 3 semester akhir.
Dia terpilih
menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan kami melalui sebuah voting yang
melibatkan seluruh siswa kelas 3. Aku berada di posisi kedua dan akhirnya
terpilih menjadi wakil ketua.
“Udah deh Na, lo
harus mengakui kekalahan.” Ucapnya saat melihat wajahku yang cemberut.
Ucapannya terdengar sangat arogan membuatku semakin kesal.
“Siapa yg gak
ngakuin kekalahan? Jangan asal ngomong deh lo dik!”
“Santai dong, gue
lebih populer daripada lo, itu fakta.”
Uh. Dia senang
sekali membuatku kesal. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat telingaku
sakit.
“Iya deh Mr.
Popular. Ah, atau gue harus panggil Ketua mulai sekarang. Lo kan seneng banget
disanjung-sanjung.” Aku menepuk pundak Dika sekuat tenaga. Sebenernya maksud
tersembunyi gue adalah PUKULAN DISENGAJA YANG DISAMARKAN SEBAGAI TEPUKAN
DUKUNGAN.
Mahardika. Aku tak
tahu alasan yang sebenarnya kenapa kami selalu berseteru. Seingatku perseteruan
kami bermula saat kelas 2 SMP. Seorang cowok badung yang hobby bolos tiba-tiba
berubah menjadi cowok teladan yang selalu mendapat peringkat satu. Bukan hanya
di kelas tapi nilainya juga paling besar se-SMP Patriot 1 ini. Entah apa yang
membuatnya berubah, tapi setelah dia berubah menjadi cowok Popular yang pintar
dan aktif berorganisasi, dia seolah mengambil lahanku untuk bersinar. Ya.
Sebelumnya akulah si Bintang sekolah bukan dia.
Sejak saat itu, kami
selalu saling kejar-mengejar prestasi. Saling menyalip untuk mendapatkan
perhatian guru dan siswa lainnya. Cek cok sudah biasa diantara kami.
“Mulai sekarang,
gue bakal bikin lo jatuh berkali-kali di depan gue.” Aku masih ingat kalimat yang
di ucapkan Dika saat mendeklarasikan perang denganku. Aku bisa melihat raut
kemarahan dan kebencian terpancar untukku. Aku begidik, sedikit takut
sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia sangat membenciku dan kenapa dia ingin ‘menjatuhkanku
berkali-kali’. Namun karena sikapnya yang sangat tidak bersahabat padaku,
akhirnya membuatku sangat membencinya. Kami terkenal sebagai duo Na and Dika
(Katanya sodara kembarnya Tom And Jerry). Dan yang lebih menyebalkannya lagi,
kita bukan hanya satu SMA sekarang tapi juga 1 kelas.
Neraka. Itulah perasaanku
tentang kelas kami. Kalau Aku dan Dika sedang adu argumen tentang suatu
permasalahan yang dilontarkan guru, seluruh kelas hening. Adu argumen kami
selalu berakhir dengan teriakanku yang sudah melewati batas emosional. Aku
selalu kalah. Begitulah cara dia menjatuhkanku. Aku tidak tahu otaknya terbuat
dari apa, tapi aku pikir dia siswa yang sangat jenius. Dengan berat hati aku
harus mengakui itu. Tapi sikap arrogannya itu selalu membuat semua kelebihan
dia minus di depanku.
“Pengumuman.....”
Terdengar suara Ibu wakil kepala sekolah di speaker kelas. “.....setelah melalu
hasil voting seluruh siswa kelas 3, Mahardika siswa kelas 3 IPA 1 terpilih
menjadi ketua panitia pelepasan siswa kelas 3 tahun ini. Selamat.”
Ruangan kelas pun
semakin riuh dengan ucapan selamat. Jabatan sebagai ketua Panitia Pelepasan
siswa adalah sebuah jabatan terhormat di sekolahku. Saat kamu terpilih penjadi
Ketua Panitia, itu berarti bahwa teman-teman seangkatan sangat menghormati kamu
selama 3 tahun bersekolah disini. Jabatan yang selalu diperebutkan oleh
siswa-siswa kelas 3 yang berprestasi dan mencuri perhatian. Tidak semua siswa
populer dapat terpilih, karena siswa lainnya juga akan mempertimbangkan masalah
tanggungjawab. Seberapa besar kamu percaya pada orang yang akan
bertanggungjawab pada acara sakral seperti perpisahan sekolah. Sebuah acara
yang sangat emosional.
Dika menatapku
dengan wajah arogannya. Seperti ingin menunjukan bahwa dia, sekali lagi,
berhasil menjatuhkanku.
“Keena juga terpilih
jadi wakil ketua.” Dia menunjuk ke arahku. “Mohon kerjasamanya, ibu wakil.” Dia
mengerlingkan matanya padaku. Sedetik kemudian aku merasa ingin muntah.
Speaker kembali
berdengung. “Pengumuman. Pihak sekolah baru saja mendapatkan kabar yang
menggembirakan. Salah satu siswa kita, Keena Anastasia, siswa kelas 3 IPA 1
berhasil menjuarai lomba photografi tingkat nasional. Selamat dan terus
berkarya.”
“Nay, yang gue
denger bener kan? Gue....Gue juara Nay!” aku memekik bahagia.
“Iya Na. Selamat
Na” Nayla memeluku, begitu juga dengan anak-anak lain yang bergantian
mengucapkan selamat. Bintang hari ini berganti dalam hitungan menit, dari Dika
ke Aku.
Aku melihat Dika
dengan wajah pamerku. Tersenyum dengan lebar pertanda bahwa kali ini aku
menang, menyalip euporianya. Namun dia malah membalas senyumku sinis dan
menggumamkan sesuatu. “Se-la-mat. Bu-wa-kil”. Dia selalu membuatku sangat
kesal. Selalu.
“Na, sampai kapan
lo mau terus gak akur sama Dika sih? Gak capek apa berantem mulu?” Nayla
membuka percakapan setelah mendengar aku menyumpahi arogansi Dika sedemikian
rupa.
“Capek sih iya.
Tapi gimana lagi, orangnya sengak banget. Sebel banget gue Nay. Sumpah!” ucapku
berapi-api.
“Awas loh jangan
terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh.”
“Jodoh? Please
deh Nay. Gue jodoh sama Dika? Gak mungkin. Mimpi buruk banget jodoh sama cowok
kasar dan arogan kayak dia.” Aku gak habis pikir kenapa Nayla sempet-sempetnya
berfikiran seperti itu. Bahkan membayangkannya saja aku tidak pernah. Ralat.
Aku pernah membayangkan hal itu tapi dulu. (Catat: DULU!)
***
Aku terbangun
dari tidurku. Hmmm hangat. Sehangat pelukan seseorang. Aku menggeliat malas.
Cup. Ada yang mencium kepalaku. Pelukannya terasa semakin kuat dan semakin
hangat.
“Good morning,
sayang.” Ucap orang itu. Aku tersentak sepertinya aku sangat mengenal suara
itu. Aku berbalik perlahan sambil berdo’a bahwa semua ini hanya mimpi.
“Arrrrrgggghhhhh”
Aku teriak sekeras mungkin sambil terus memukuli orang itu. Shit! Aku menyadari
bahwa tubuh kami berdua hanya tertutup oleh 1 selimut.
“Cabul..... dasar
cabul....” Aku berteriak, menangis dan terus memukuli Dika. Ya, orang yang
sedang tidur bersamaku adalah Mahardika. Musuh bebunyutanku. Kenapa aku bisa
tidur dengannya? Apa aku mabuk, terus semua ini terjadi? Tapi ini tidak
mungkin. Aku tidak pernah minum-minuman keras.
“Sayang, are you
okay?” Dika mencoba menenangkanku. Menahan tanganku agar tidak terus
memukulinya.
“Brengsek lo
Dika! Kenapa lo ngelakuin hal ini ke gue? Kita kan masih sekolah!” Aku menatap
kejam matanya tentu dengan sisa-sisa airmataku yang tumpah ruah seperti
pancuran.
“Sekolah? Itu
hampir 5 tahun yang lalu sayang! Kamu mimpi ya?” Dika mengelus rambutku
khawatir.
Aku mengedarkan
pandanganku ke sekeliling kamar. Ini jelas bukan kamarku. Terasa asing. Di
salah satu dinding terpasang sebuah foto pernikahan. What? Aku dan Dika
menikah? Ini gak masuk akal, aku pasti cuma mimpi. Please bangun Na. Bangun.
Oh
baby I’ll take you to the sky, Forever you and I......
(Petra S-Mine)
Suara nada dering
dari lagu yang sama sekali tidak ku kenal menyadarkanku di tengah kebingungan.
“Yang, kok diem
aja. Itu handphone-nya bunyi.” Dengan sedikit linglung, ku raih sebuah HP di
meja samping tempat tidur.
“Halo?”
“Gak baru bangun
kan?” Aku langsung menyadari suara ibuku.
“Jadi kan belanja
bareng buat acara syukuran pindah ke rumah barunya? Ayo siap-siap udah siang
nanti kehabisan bahan-bahan yang masih segar.”
“Iya, mam.” Aku
segera menutup telepon dari Ibuku. Kulihat wallpaper di layar HP-ku adalah foto
kami berdua. Aku dan Dika. Tertulis pula di layar : 24 Agustus 2014
Wait? 2014? Apa
ini berarti aku time traveler ke masa depan seperti di film-film? Aku berharap
semua ini hanyalah mimpi namun entah kenapa terasa begitu nyata.
Mama katanya akan
menjemputku kerumah. Dari tadi aku hanya diam dan berusaha menghindari
berbicara atau berinteraksi dengan Dika. Dika senang sekali melakukan kontak
fisik denganku. Tiba-tiba memelukku, tiba-tiba mengelus kepalaku. Telingaku
masih agak ‘gak terima’ saat Dika memanggilku mesra dengan kata ‘sayang’,
‘dear’, ataupun ‘honey’. Rasanya sedikit jijik dan geli kalau mengingat
sikapnya padaku kemarin eh apa aku harus menyebutnya ‘dahulu’ karena aku datang
dari masa lalu? Tapi aneh aja gitu, kok Dika bisa berubah seperti ini sikapnya
padaku. Apa yang membuat dia jatuh cinta padaku? Wah ternyata sebesar apapun
setidaksukaan seorang Mahardika padaku tetap tidak bisa menolak inner beauty
dari seorang Keena. Hahahaha. Rasa bangga entah darimana menjalar keseluruh
tubuhku.
“Kamu aneh hari
ini.” Dika duduk di depanku. Memberikan segelas susu padaku.
“Ayo diminum biar
sehat.” Dia tersenyum sambil, sekali lagi melakukan kontak fisik, mengacak-acak
sayang rambutku.
Aku tiba-tiba
begidik mengingat kenyataan bahwa semalam aku baru saja melakukan ‘itu’ dengan
seorang Mahardika. Aku tidak punya pilihan selain berdo’a bahwa ini cuma mimpi
belaka. Dan saat aku membuka mata besok, aku kembali ke kehidupanku sebagai
Keena siswi SMA.
Wajahku dan wajah
Dika tidak jauh berbeda dengan saat kami di SMA. Hanya saja penampilan kami
sedikit dewasa. Dika, harus aku akui, hmm gimana ya cara menjelaskannya. HOT.
Dewasa. Dan ternyata ganteng banget. Ditambah sikapnya yang sangat lembut
padaku, sedikit membuatku goyah dan menikmati penjalanan mimpi ini – aku masih
tidak percaya tentang time traveler – So mari kita menyebutnya perjalanan
mimpi.
Mama datang,
wajah mama pun tidak jauh berbeda. Aku memeluk mama dengan bahagia. Paling
tidak aku tidak merasa akward saat bersama mama, tidak seperti saat aku hanya
berdua saja dengan Dika. Dika menyalami mama. Mama tersenyum sambil mengelus
kepala Dika dengan sayang. Sepertinya mama sangat menyukai menantu seperti
Dika.
“Mama pinjam Na
sebentar ya Dik!” mama mengerlingkan matanya pada Dika. Dika langsung
memberikan simbol OK dengan tangannya. Dia kemudian mencium pipiku lembut.
Terserah mau mengatakan aku gila atau gak tau malu, tapi aku menikmatinya, maksudku
perlakuan spesial Dika padaku. Sepertinya aku sangat menyakini kalau ini hanya
perjalanan mimpi yang akan segera berakhir. Anggap saja ini hanya sekedar mimpi
erotis seorang remaja. Ya walaupun pasangannya adalah Mahardika si Arogan.
Hello ini cuma mimpi dan besok pagi aku akan bangun sebagai Na si siswi SMA.
Di pasar, aku
kebetulan bertemu dengan seseorang yang sangat ku kenal. Nayla.
“Nay! Gue seneng
banget ketemu lo saat ini.” aku menghambur memeluk Nayla.
“Hai, Na. Are you
ok?”
“Gue baik-baik
aja kok Nay.”
“Acara
syukurannya besok pagi ya?”
“Hmm.” Aku
menggangguk.
“Eh Nay, ada yang
mau gue ceritain ke lo. Lo pasti gak bakalan percaya deh.”
“Apaan?”
“Kayaknya lebih
enak kalo kita ngobrol sambil makan atau minum gitu deh. Yuk?”
“Ok.”
“Bentar, gue
bilang nyokap dulu ya. Tunggu disini.”
Aku pun
menghampiri mama, dan mengatakan padanya untuk pulang lebih dulu karena aku ada
urusan penting dengan Nayla.
***
“Ih gila ya
tempat ini gak ada yang berubah. Padahal beberapa tempat udah ada yang berubah
sedikit-sedikit.” Aku memulai percakapan. Nayla menampakan wajah bingungnya
padaku.
“Eh Nay, lo pasti
gak percaya kalo gue itu datang dari masa lalu. Gue kaget tiba-tiba pas gue
bangun disebelah gue ada Dika. OMG, gue masih inget banget lo pernah ngomong
gini ‘Awas loh jangan terlalu sebel sama orang, entar malah jodoh’. Terus
besoknya gue udah ada di tahun 2014 dengan status gue menikah sama Dika. Gila
banget kan?” Aku nyerocos dihadapan Nayla. Aku sama sekali tidak berharap Nayla
mempercayai omonganku, karena aku tahu ini gila dan gak masuk di akal. Cuma aku
ngerasa plong aja setelah cerita ke Nayla.
“Gue tahu, saking
cintanya elo ke Dika sampe-sampe lo spaneng kayak gini Na.” Aku sudah menduga
jawaban Nayla pasti seperti ini.
“Gimana sih
ceritanya kok gue bisa nikah sama Dika, kayak aneh aja gitu. Kok bisa.”
“Kayaknya lo kena
sindrome misterius kayak 5 tahun yg lalu. Inget gak dulu lo juga ngomong
hal-hal aneh kayak gini ke gue? Dan anehnya gue percaya. Lebih tepatnya
berusaha memahami lo.”
“Maksudnya? Hal
aneh apa?”
“Lo bilang kalo
lo habis dari masa depan dan ternyata di masa depan lo nikah sama Dika. Sejak
saat itu lo kayak kepelet sama Dika. Cinta mati sampe-sampe lo bikin Dika putus
sama Renata. Katanya lo gak rela kalo ‘calon suami masa depan’ lo pacaran sama
orang lain tepat di depan lo. Gue mikir kayaknya lo abis kesurupan atau abis
ketiban balok. Hahahaha” Kali ini aku yang bingung mendengar penjelasan Nay
tentang bagaimana hubungan aku dan Dika dimulai. Jadi bukan Dika yang
tergila-gila padaku tapi aku yang ngejar-ngejar Dika. Ya Tuhan.
“Really?”
“Serius. Lo juga
bilang soal gelang dari masa depan yang ikut kebawa sama lo. Katanya itu hadiah
100 hari pernikahan dari Dika. Kalau gue inget soal itu, gue jadi mikir lo
bener-bener butuh psikiatris, Na. Tapi lo keukeuh bilang kalo lo gak gila. Tapi
emang sih selain perasaan cinta mati lo sama Dika yang bilang kalo Dika itu
‘calon suami masa depan’ lo, semuanya masih normal-normal aja. hahaha” Nayla
kembali tertawa.
“Terus lo percaya
gitu aja sama gue?”
“Kan gue udah
bilang, gue cuma mencoba memahami lo. Tapi lo bilang hal-hal aneh lainnya yang
terbukti bener. Kayak lo bilang kalo pas hari perpisahan, Ibunya Dika
meninggal. Dan itu beneran kejadian. Lo kayak punya kemampuan meramal.”
“Ibunya Dika
meninggal?” Aku syok. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi.
“Kanker.” Nay
berhenti sejenak, kemudian menyeruput kopinya. “Lo kelihatan sedih banget Na.
Terus lo selalu ada buat Dika sejak saat itu. Akhirnya lo pacaran dan menikah.
Kalo dipikir-pikir semua yang udah lo kasih tahu ke gue soal masa depan
semuanya kejadian. Termasuk soal gue sama Tony.” Dia tersenyum malu.
“Tony? Oh gebetan
lo yang ngenalin gue ke cowok brengsek itu (baca: Mantan, namanya Ravi).
Emangnya gue ngomong apaan soal kalian berdua?”
“Lo bilang kalo,
gue bakalan jadian dan nikah sama Tony.” Ucapnya sambil membentuk HATI dengan
tangannya ke arahku. Terlihat jelas kalau Nayla cinta mati sama Tony.
“Jadi sekarang lo
udah nikah sama Tony?”
“Setahun yang
lalu.”
***
Aku semakin
bingung dengan semua ini. Aku berharap esok hari, aku bisa kembali ke kehidupan
SMA. Aku ingin kembali dari perjalanan mimpi ini.
Saat aku masuk
kerumah, rumah terlihat gelap. Ternyata rumahku tidak terlalu jauh dari rumah
orang tuaku. Masih satu komplek namun beda Blok. Aku pun menyalakan lampu di
ruang tamu. Tak ada siapapun. Ah, syukurlah Dika belum pulang. Aku akan
langsung tidur supaya tidak perlu bertemu atau berbicara dengannya.
“Happy 100th days
for us, dear” Dika mengecup bibirku mesra. Ada sesuatu yang menjalar di
tubuhku. Aku merasakan hal aneh yang sulit di jelaskan saat dia terus saja
menciumi leherku. Aku mendorongnya perlahan setelah sekian lama mematung. Dia
sedikit kaget melihat reaksiku namun kemudian tersenyum.
“For you. Di pake
ya sayang.” Dia memberikan sebuah kotak kecil padaku. Aku pun membuka kotak itu
perlahan. Sebuah gelang yang sangat indah. Dika memakaikannya di pergelanganku.
“I love you, Na.
I love you so much. Aku pengen kita tetep sama-sama kayak gini terus. Aku
sayang banget sama kamu Na. Aku cuma punya kamu di dunia ini.” Dia memeluku
sambil terisak. Aku melepas pelukannya. Menatap wajahnya. Aku bisa merasakan
ketulusan dimatanya yang basah dengan air mata. Dia balik menatap mataku lekat,
penuh cinta, penuh kasih sayang. Dika yang ada di depanku sangatlah berbeda
dengan Dika yang aku kenal. Atau mungkin memang sebenarnya hati Dika selembut
ini. Hanya saja yang dinampakan padaku hanya sebuah tembok yang sengaja dia
tinggikan?
“I love you too.”
Aku menjawabnya. Melihat Dika menangis, tanpa sadar air mataku juga mengalir
tak terbendung.
Dika menyeka air
mataku dengan tangannya. Kemudian kami kembali berciuman. Kali ini aku juga
membalas ciumannya. Ciuman hangat nan mesra berubah menjadi ciuman intens yang
mendebarkan.
Malam pun ikut
tersenyum melihat sepasang kekasih bergulat mesra dalam cinta. Bulan juga
seakan cemburu melihat kami yang menyatu dalam satu nafas. Aku dan Dika
tersenyum penuh kasih melihat mata bahagia yang terpancar dari masing-masing
kami. Cinta selalu begitu, merobohkan dinding yang kami bangun dengan mudahnya.
***
Januari 2010
Cahaya matahari
masuk melalui celah jendela kamar. Aku menggeliat sambil menutupi mata yang
silau karena cahaya matahari itu. Aku kemudian mengedarkan pandangan mataku ke
sekeliling kamar.
“Oh No!” Aku
sekarang berada di kamarku sendiri, kamar di rumah orang tuaku. Dan tentu saja
tidak ada Dika yang memelukku dengan hangat atau menatapku dengan penuh cinta.
Aku sedikit kecewa bahwa ini benar-benar hanya sebuah perjalanan mimpi. Ketika
kau terbangun dan semuanya menghilang.
Hari ini aku
harus bertemu dengan Dika yang lain. Dika yang arogan dan menyebalkan. Karena
itulah Dika yang nyata. Bukan Dika yang ada di mimpiku semalam.
Aku terkejut
bukan main melihat gelang yang di berikan Dika melingkar di pergelangan
tanganku. Ini bukan perjalanan mimpi. Aku benar-benar melakukan perjalanan
waktu ke masa depan. Sulit di percaya dan ini luar biasa.
Aku
berjinkrak-jinkrak kegirangan mengetahui bahwa apa yang aku alami bukanlah
mimpi. Dan aku juga bahagia karena itu berarti, aku memang akan menjadi istri
Mahardika. Ah aku benar-benar gila. Seperti kata Nayla.
Rabu, 11 Maret 2015
ANGIN PUJAAN HUJAN (6)
BAB 6 : Pangeran dan Upik Abu
Aku tak bisa memejamkan mataku. Bayangan tentang apa yang
terjadi beberapa jam yang lalu masih menimbulkan rasa cemas. Tunangan? Aku
kembali menarik nafasku. Kebohongan yang kami tulis semakin menyesakan saja.
Aku berharap ini bukanlah kebohongan. Aku akan menghadapi
semua kesulitan mulai dari sekarang. Baik dari si nenek sihir maupun dari si
wanita iblis. Dan aku harus menghadapi semua itu demi sebuah kebohongan bukan
demi memperjuangkan cinta kami. Ya, karna kami hanya pasangan pura-pura.
Semalam
“Tunangan? Apa kamu gila?” aku mengumpat padanya.
“Jangankan tunangan, menikah pun bisa bercerai. Jangan
terlalu khawatir, ini hanya sementara.” kilahnya
“Tapi kesepakatannya bukan seperti ini!”
“Karin. Dengan memperkenalkanmu sebagai tunanganku di
acara sebesar itu, akan banyak media yang menjadikannya berita. Itu akan
membuat Ibuku berhenti menjodohkanku dengan Joana.”
“Kamu hanya memikirkan diri sendiri, kamu sama sekali
tidak memikirkan pendapatku, perasaanku. Egois!”
“Aku akan membayarmu jika kamu mau.”
“Uang? Bukan itu inti masalahnya Arya, bukan! Aku Cuma
merasa kamu benar benar memanfaatkan aku sesukamu!”
“Sepertinya kamu juga tidak menyukai Joana. Kamu juga
memanfaatkanku tadi di depan Joana. Bukankah itu bagus. Win Win Solution.
Ditambah wawancara eklusif yang membuatmu tidak jadi dipecat.”
Aku tidak tahu harus bicara apa lagi padanya. Mulutku
masih terasa kelu. Aku ingin mengeluarkan semua kekesalanku tapi seperti ada
sesuatu yang menahannya.
Dia seperti angin, sangat sulit di tebak apalagi
dikendalikan. Kemana arah dia berpikir, kemana arah dia bergerak, semua tak ada
yang bisa kekutahui.
Hujanku kini berubah menjadi topan yang siap
meluluhlantahkan apapun di sekelilingnya. Hujan merasa terseret tanpa arah oleh
angin yang memegangnya.
*****
“Mana Karina?” Terdengar suara seseorang yang ku kenal.
Editor majalahku.
Dia menghampiriku terburu-buru. Sial, aku belum sempat
mewawncarai Arya.
“Hei Karina!” Teriaknya
“Begini Pak, ada sedikit masalah jadi wawancaranya
tertunda.” Aku mencoba berkelit. Aku tau, dia pasti mencariku karena artikel
kemarau.
“No...no!....” Dia menjentikan telunjukanya “....Itu gak
penting sekarang. Fakta bahwa kamu adalah tunangan Pak Arya, itu lebih luar
biasa. Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
“Soal itu....”
“Tidak perlu menjelaskannya. Aku tahu pasti kamu
tidak ingin melibatkan koneksi. Aku semakin respect sama kamu.” Dia memotong
perkataanku. Menunjukan senyum termanisnya di depanku. Aku bisa jamin bahwa senyumannya
hanyalah topeng belaka.
“Soal wawancara dengan kemarau, saya akan berikan hasil
secepatnya?”
“Sepertinya lebih menarik membuat artikel mengenai
hubungan percintaan antara Arya Dava denganmu!” Editorku mulai membuatku sangat
khawatir dengan maksud tersembunyinya.
“Bagaimana?” Tanyanya lagi padaku.
“Tapi Pak, majalah kita bukan majalah infotaiment. Itu
bukan BRAVE banget. Dan saya tidak mau melakukannya. Saya tidak mau menjual kehidupan pribadi saya pada media.” Jawabku tegas.
“Sekarang kamu lebih berani ya....” Editorku tersenyum
sinis, “.....Ya melihat siapa yang ada di belakangmu tentu kamu harus lebih
berani dan percaya diri. Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kalau kamu
menolak ya sudah. Nanti aku bisa dipecat gara-gara beradu argumen denganmu.
Lakukan sesukamu.”
Wah, aku merasa pengumuman menggemparkan tentang aku dan
Arya tidak berdampak baik pada karirku. Bukan hanya atasanku tapi juga beberapa
rekan kerjaku terus saja melirik dan membicarakanku seperti topik hangat saat
ini.
Darimana datangnya upik abu ini, dan bagaimana dia bisa
berhasil menggoda si pangeran? Mungkin begitulah kira-kira yang ada dipikiran
mereka.
“Kamu sudah datang?” aku menyapa Nana yang baru saja
datang dari tugas wawancaranya. Aku merasa sedikit lega mendapati Nana ada di
depanku sekarang. Dia terlihat lelah namun masih berusaha meninggalkan seulas senyum padaku.
“Eh, ada nyonya Dava Putra” Dia tersenyum meledek sambil
menepuk-nepuk pundaku.
“Jangan bicara seperti itu. Semua orang disini melihatku
dengan tatapan aneh. Aku berharap kamu tidak bersikap seperti mereka.”
“Santai Karin. Apa aku terlihat seperti orang-orang itu?”
Nana menujuki semua orang yang sedang mencuri-curi pandang padaku dengan
jarinya, membuat mereka langsung memalingkan wajahnya dan berpura-pura fokus
pada pekerjaan masing-masing. Ah. Nana memang seperti itu. Bagiku kepribadiannya sangat menakjubkan. Dia termasuk wartawan mengerikan yang akan mengulitimu dengan segala pertanyaan saat wawancara.
“By the way, kapan dan bagaimana kamu bisa kenal dan
bahkan sampai bertunangan dengan dia? Aku sama sekali tidak tau kalau kamu menyembunyikan
hal sebesar ini dariku”
“Tidak seperti itu. Aku memang pacaran dengannya (aku
berbohong, lagi), tapi aku tidak tahu kalau dia akan mengumumkan pertunangan di
acara itu.”
“Wah, bagaimanapun aku memikirkannya, ini sangat luar
biasa. Kalau kamu sampai menikah dengan Arya, kamu secara tidak langsung jadi
pemilik Brave Magazine. Tolong naikan pangkatku ya!” Nana mencoba menggodaku.
Namun apa hubungan antara Brave dengan
Arya?
“Maksudmu?”
“Hello Karina, Jangan-jangan kamu tidak tahu kalau
pemegang saham terbesar Brave adalah Arya Dava.”
“What? Bukannya Ibu Widya?”
“Ibu Widya itu calon mertuamu, bodoh!” OMG si nenek sihir
itu pemilik Brave Magazine. Tempat kerjaku sepertinya akan menjadi neraka yang
nyata sekarang.
“Memangnya kamu tidak tahu nama ibunya Arya? Ini aneh!”
Dia menyelidikku. Naluri wartawannya keluar dengan buas.
“Tentu saja aku tahu, tapi aku tidak tahu kalau ibu Widya
mamanya Arya sama dengan ibu Widya pemilik Brave.” Aku berusaha untuk tidak gagap. Jujur saja, selama bekerja di BRAVE aku belum pernah bertemu langsung dengan Ibu Widya. Jadi aku benar-benar tidak tahu.
“Jangan-jangan....” Nana menatapku dengan penasaran.
“Apa?” Jujur aku sangat panik. Apa Nana menyadari sesuatu?
“Jangan-jangan sampai saat ini kamu belum mendapat restu
dari Bu Widya? Karena itu, Arya nekad memperkenalkanmu sebagai tunangannya di
acara besar itu untuk menyerang ibunya yang malah ingin menjodohkan Arya denga
Joana.” Nana terlihat antusias mengutarakan analisanya. Ternyata dia juga sudah tahu soal perjodohan Arya dengan Joana. Kemana saja aku selama ini? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?
Bahkan wartawan politik seperti Nana tahu soal gosip Joana dan Arya. Mungkin cuma aku saja yang tidak terlalu tertarik dengan berita entertainment apalagi yang berhubungan dengan si wanita iblis itu.
“Mungkin seperti itu, hanya urutannya saja yang salah.” Ucapku
“Mungkin seperti itu, hanya urutannya saja yang salah.” Ucapku
“Urutannya salah? Maksudnya?”
“Sudahlah. Yang jelas Brave sudah menjadi neraka
sekarang” aku mendesah. Nana terlihat simpati melihatku.
Aku tidak mungkin menjelaskan urutan yang benar dari
analisisnya – Arya ingin menyerang ibunya yang memaksa menjodohkannya dengan
Joana dengan mengumumkan pertunangan kami, yang tentu saja bohong. Dan ibunya
tidak akan pernah memberikan restunya kepada kami dan akan berusaha untuk
memisahkan kami.
'Arya sendiri yang akan mengusirmu dari hidupnya. Akan ku
pastikan' Itu adalah kalimat terakhir yang dibisikan si nenek sihir padaku. Yang
tentu saja membuatku merinding.
“Hei Karin,bersemangat dong! Atau kamu mau
melepaskan Arya?” Nana menepuk pundakku sampai aku terhunyung. Aku ingin
membalas tepukan kerasnya yang lebih mirip sebuah pukulan, namun aku urung.
“Aku sudah pernah melepaskan orang yang aku sukai,
sekali. Dan aku tidak ingin melakukannya dua kali.”
“Kemarau?”
Aku mengangguk. Nana melihat wajahku berubah kecut, kemudian dia memeluku dengan hangat.
“Jadi Karina jatuh cinta lagi? Kali ini jangan pernah
lepaskan tangan Arya! Oke?”
Aku tidak pernah berbohong bahwa aku jatuh cinta pada
Arya. Cinta itu hasrat ingin memiliki. Orang yang berkata bahwa cinta itu tak
harus memiliki, sebenarnya hanya perkataan orang yang sudah menyerah pada cintanya.
Langganan:
Postingan (Atom)