BAB 5 : Nenek Sihir dan Wanita Iblis
23 Januari 2015
“Itu terlalu tua, ganti yang lain!”
Si sekretaris yang baru ku ketahui bernama Pak Wahyu,
mulai menilai pakaian yang aku kenakan. Ini sudah gaun ke 6 yang aku coba, namun tetap tidak lolos dimata om-om ini.
Kenapa aku panggil om-om? Pak Wahyu ini berumur sekitar
40 tahunan. Dan dari tadi karyawan butik terus saja melihatku dengan tatapan
penuh tanya, mereka mungkin menganggap aku ini perempuan mainan om-om. Aku pun
begidik.
Pak Wahyu membuat simbol OK dengan tanggannya saat
melihat pakaian ke 7 yang aku pakai.
“Pak Wahyu, sebenernya mau Pak Arya itu apa sih?”
“Mba Karin nurut aja, dan jangan banyak bertanya. Pak
Arya tidak suka orang cerewet” Ucap Pak Wahyu seraya membayar pakaian yang tadi
dipilih.
Aku gondok. Secara tidak langsung, Pak Wahyu mengatakan
kalau aku itu cerewet. Tapi demi wawancara ekslusif itu, aku harus bertahan.
Kali ini aku dibawa ke sebuah salon. “Make over!” dia
berbicara pada seseorang seraya menunjukku.
Orang itu melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki
dengan tatapan sedikit ‘jijik’. Apa aku seberantakan itu,huh?
“Susah ya, tapi aku bakal ngelakuin yg terbaik!” pria
setengah wanita itu mengedipkan matanya sambil mencubit lengan si Om, Pak Wahyu
maksudku. Aku kembali begidik geli.
Jam demi jam berlalu, aku benar-benar sudah lelah. Mulai
dari lulur, facial, creambath, sampai make up. Jujur aku tidak terlalu suka
merawat diri atau berdandan. Agak risih juga sih tapi setelah melihat hasilnya,
aku cukup terkejut.
Ternyata walaupun aku tidak terlalu cantik, tapi wajahku
juga tidak terlalu jelek. Aku tertawa kecil karenanya.
Diperjalanan, aku terus saja memikirkan apa yang
sebenarnya diinginkan Arya dariku. Sampai repot-repot meng-makeover-ku seperti
ini. Tiba-tiba terbersit rasa waswas dibenakku.
Beberapa jam
yang lalu :
“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”
“Kamu bersedia aku wawancarai?” aku balik bertanya
“Dengan satu syarat...” dia menjentikkan jari
telunjuknya. “......ikut denganku malam ini dan melakukan apa yang aku minta.”
Spontan aku langsung menyilangkan tangan menutupi dadaku.
“Jangan membayangkan yang aneh-aneh.” Arya sepertinya
membaca apa yang aku khawartirkan.
“Huh...Syukurlah kalau itu bukan hal yang aneh. Aku akan
melakukan apapun yang kamu minta asal tidak melanggar norma hukum dan norma
susila.” Ucapku mantap.
Dan disinilah aku sekarang. Sebuah hotel bintang 5. Oke,
perasaanku mulai tidak enak. Pak Wahyu membukakan pintu mobil dan entah dari
mana datangnya, aku melihat Arya sudah berdiri di depanku dengan pakaian
tuxedo-nya.
Dia terlihat sangat tampan dan mempesona. Bohong kalau
aku tidak jatuh cinta melihatnya. Arya menjulurkan tangan kanannya dan akupun
meraihnya. Aku berusaha menyembunyikan senyumku yang sedari tadi meluap-luap.
“Mulai sekarang dengar baik-baik apa yang akan aku
katakan....” Arya berbisik di telingaku,”.....Ibuku akan mengumumkan
perjodohanku dengan seseorang di acara ini. Dan kamu akan berpura-pura menjadi
pacarku. Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan rencana jahat ibuku.
Mengerti!”
Rencana jahat? Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu. Ibunya pasti menginginkan yang terbaik untuknya.
“Jadi kamu ingin membohongi ibumu dan semua orang? Aku
tidak bisa!” Aku menarik tanganku darinya.
“Itu kesepakatannya, Karin. Aku tidak punya banyak waktu.
Aku hitung 1 sampai 5 dan buat keputusanmu! Satu, Dua, Tiga, Empat...” Aku
masih diam “....Empat seperempat, empat dua perempat, Empat TIGA PER
EMPAT,.....liiii.....” Arya menatapku, “....Karin ini hanya sementara.”
Bayangan tentang ancaman pemecatan dan dunia pengangguran
mulai menggelayuti pikiranku. Terlebih lagi bayangan mulut penuh bisa dari Clara, yang pastinya sangat puas mengejekku.
“Oke, akan aku coba.” Aku mengangguk ragu. Arya tersenyum
lega melihat anggukan kepalaku itu. Dia menggandeng tanganku. Kami berjalan
menyusuri red carpet menuju sebuah pesta penghargaan, begitulah yang terpasang
di banner.
“Arah jam 12, kebaya berwarna biru. Itu ibuku. Ayo
kesana.” Aku merasa Arya menyeretku sekuat tenaga karena berkali-kali aku
berbalik hendak kabur.
Aku mematung melihatnya. Tatapan si Ibu lebih mengerikan
dari pada tatapan anaknya-Arya.
“Wah, Arya sudah datang” Bapak berkepala botak menyapa
Arya lebih dulu, sementara si Ibu tetap diam.
“Siapa nih?” Bapak botak ini melihat ke arahku, aku memaksakan
senyumku padanya.
“Oh, Dia ini...”
“Kenapa kamu bawa asistenmu ke acara ini, nak?” Si ibu
menyela dengan senyum sinisnya ke arahku dan Arya.
“Asisten? Ibu harus tahu, membujuk dia supaya mau datang
ke acara ini sangat sulit...” Dia memasang wajah anak kecil didepan ibunya.
“Direktur Handoyo, Gadis yang ada di sebelah saya
ini...pacar saya, namanya Karina” Lanjutnya.
“Pacar? Wah, aku pikir kamu sama Joana. Soalnya ibumu
dari tadi terus membangga-banggakan Joana di depanku. Hahaha”
“Hahaha...itu cuma gosip. Iya kan,bu?” Arya melirik ke
ibunya. Si ibu hanya tersenyum palsu.
“Ah, kalau begitu saya tinggal dulu. Mari Karina!” Bapak
botak yang ternyata bernama Pak Handoyo itu tersenyum sebelum pergi
meninggalkan kami bertiga.
“Siapa tadi nama kamu?” Si ibu menyelidikku.
“Karina, bu”
“Berapa kamu dibayar? Sudahlah kalian tidak perlu
berpura-pura dihadapan ibu” ucap si ibu ketus.
Nenek sihir, dia benar-benar nenek sihir. Cara bicaranya,
cara dia menatap, sangat menakutkan. Siapa kira-kira menantu yang akan tahan
dengan nenek sihir ini. Beberapa menit yang lalu aku masih mencoba membelanya di depan Arya soal 'rencana jahat' perjodohan namun sekarang aku menarik semua pemikiran baik tentang si ibu.
“Ibu, tolong jangan bicara seperti itu” Arya membelaku.
Si Ibu – aku akan memanggilnya nenek sihir mulai sekarang
– sama sekali tidak mengacuhkan pembelaan Arya untukku. Matanya mulai
berkeliling mencari sesuatu, mungkin lebih tepatnya mencari seseorang.
“Joana, kemari nak!” Si nenek sihir melambaikan
tangannya. Sudah kuduga. Gumamku.
“Dia adalah orang yang sangat ingin di jodohkan denganku.
Dan ibuku sangat menyukainya” Arya berbisik padaku. Aku pun menoleh ke orang
yang sedang di sambut nenek sihir dengan senyuman hangatnya.
Ya Tuhan. Kenapa semua hal buruk terjadi dalam satu hari?
Aku terperanjat melihat siapa gadis yang di maksud. Joana Clara Haniffan, si
wanita iblis dari gunung gundul.
“Karina? Kok kamu bisa masuk ke acara seperti ini?”
ucapnya meremehkanku. Sudah kuduga dia akan cepat mengenali musuh
bebunyutannya.
“Kamu berdandan juga?” Lanjutnya sedikit menahan tawa.
“Kalian saling kenal?” Si nenek sihir menyela.
“Tentu. Aku dan Karina satu jurusan saat kuliah. Iya
kan?” Joana melihatku sok akrab. Aku hanya mengangguk enggan.
“Aku dengar kamu mau di pecat Karin? Kenapa? Kalo kamu
butuh bantuan hubungi aku aja.” Mendengar hal itu, Arya menatap wajahku. Mungkin dia mulai mengerti alasan hidup mati kenapa aku ingin mewawancarainya.
Bedebah kau wanita iblis. Dia benar-benar ingin
menjatuhkanku di hadapan Arya dan ibunya. Aku ingin sekali melemparkan telor ke wajahnya
yang sok manis dan sok cantik! (Ralat, dia memang manis dan cantik. Tapi aku
lebih pintar darinya! Tolong dicatat!)”
“Wah, bukankah ini suatu kebetulan yang luar biasa? Orang yang akan di
jodohkan denganku ternyata saling kenal dengan pacarku” Kali ini Arya yang
menyela pertarungan dendam diantara aku dan Joana si wanita iblis dari gunung
gundul itu.
“Pacar?” wajah Joana langsung berubah kecut.
This is my turn. Okay! Aku akan memanfaatkan ini
sebaik-baiknya untuk menang dari wanita ini. Sekali tepuk dua iguana mati.
Mendapatkan wawancara ekslusif dan menghacurkan si wanita iblis ini.
“Iya, aku pacarnya mas Arya. Senang bisa ketemu kamu
disini” Aku akting sok manis sambil menggandeng tangan Arya dengan mesra
Si nenek sihir terlihat sangat tidak suka dengan sikapku
yang menempel mesra pada anaknya.
“Sayang, aku mau ke toilet dulu ya” ucapku pada Arya. Ya
Tuhan, aku baru saja memanggil Arya dengan panggilan sayang.
“Oh, iya sayang.” Jawab Arya sedikit gugup. Aku pikir
Arya juga kaget dengan perubahan sikapku yang begitu tiba-tiba. Tapi ini sesuai
skenario yang dia harapkan. Dia harus berterimakasih padaku.
Tidak di sangka si ‘wanita iblis dari gunung gundul’
mengikutiku ke toilet. Huh mau apa dia? Mau perang dan jambak-jambakan lagi
denganku?
“Wow. Karina memang hobby sekali mencuri ikan dari kucing
lain, sama seperti 4 tahun yang lalu.” Dia tersenyum di depanku, menatapku
tajam melalui cermin wastafel.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi 2 kali. Arya
adalah target tangkapanku.” Lanjutnya.
“Wah kamu kucing toh, kirain manusia” Ledekku.
Bagaimanapun aku harus menahan emosiku dihadapannya. Aku
tidak akan melupakan kejadian 4 tahun yang lalu saat dia melabrakku karena,
Doni, pria yang dia sukai malah menyukaiku. Suatu hal yang menurutnya sangat
mustahil. Cewek popular seperti dia kalah oleh cewek dekil – katanya –
sepertiku. Aku menderita beberapa lecet dan beberapa rambutku juga rontok. Hal
yang sama seperti yang di alaminya. Kami sama kuatnya dalam hal
jambak-jambakan. Dan kami tahu bahwa kami harus menghindari itu.
Bukan hanya masalah Doni tetapi juga dalam hal akademis
dia selalu no 2 dan selalu kalah dariku. Hal itu membuatnya semakin membenciku.
Aku pun sama bencinya karena dia selalu menyebarkan fitnah – termasuk fitnah
bahwa aku adalah wanita panggilan om-om.
Hanya saja nasib kami sekarang sungguh berbeda. Aku,
dengan nilai akademis yang bagus memang bisa masuk perusahaan besar seperti
Brave Magazine tapi hanya sampai situ keberuntunganku.
Sementara Clara atau orang-orang lebih mengenalnya dengan
nama ‘Joana Haniffan’ telah sukses menjadi anchor yang disegani. Dengan
wajahnya yang cantik dan cara bicaranya yang elegan, sudah membuat banyak orang
tergila-gila melihat dia membacakan berita di salah satu stasiun televisi besar
tanah air.
Harus aku akui, saat dia membacakan berita, dia terlihat
sangat cerdas dan menawan. Tapi bagiku dia tetaplah wanita iblis yang selalu
‘kepo’ pada pencapaianku dan memastikan bahwa aku selalu dibawah karirnya.
Dia mempermalukanku habis-habisan di depan teman-teman
alumni saat acara reuni bulan lalu. Sampai aku ingin sekali mencakar wajahnya
dengan garpu yang kupegang saat memakan rainbow cake saat itu.
“Aku sama sekali tidak pernah mencuri darimumu, tapi
mereka yang mendatangiku sendiri. Baik itu Doni maupun Arya.”
“Munafik! Cih!”
“Mungkin kita berjodoh dalam hal seperti ini. Bedanya, dulu aku tidak menyukai Doni namun sekarang aku menyukai Arya”.
“Kita lihat saja nanti, aku pasti akan menikah dengan
Arya. Harus.”
“Dengan memanfaatkan ibunya?”
“Apapun.” Clara mengelap tangannya dan pergi
meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh emosi.
*****
“Untuk kategori CEO terbaik tahun ini, jatuh
kepada....... Bapak Arya Dava Putra dari Daun Publisher, Selamat!” Pembawa
Acara pada malam itu mulai membacakan para penerima penghargaan tahunan dari
Yayasan Indonesia Pride. Tepuk tangan mulai menghiasi seluruh ruangan.
Arya berdiri dan membungkuk hormat kepada para hadirin
yang hadir.
“Di mohon agar Bapak Dava Putra segera maju ke atas
panggung dan menerima penghargaan dari Yayasan Indonesia Pride. Seperti yang
telah kita ketahui, Bapak Dava Putra telah membawa Daun Publisher menjadi
Perusahaan Penerbit nomor 1 di Indonesia. Beliau juga belum lama ini memperoleh
penghargaan The Best Entrepreneur di ajang Asian Youth Entrepreneur di
Singapura. Beliau di usianya yang begitu muda juga merupakan pemegang saham
terbesar TrustTel, salah satu perusahaan besar penyedia jasa telekomunikasi di
Indonesia dan Asia Tenggara.” Lanjut si Pembawa Acara. Tepuk tangan pun semakin
riuh.
Aku beberapa kali memperhatikan wajah penuh senyum Arya
dengan takjub. Si Arogan ini memang pantas bersikap arogan dengan prestasinya
itu. Aku merasa benteng antara aku dan Arya begitu tinggi.
Si nenek sihir membisikanku sebuah kalimat yang sangat
mengganggu kepercayaan diriku. “Orang yang bersanding dengan anakku harus
sepadan dengannya. Dan itu bukan kamu.”
Aku merasa si nenek sihir yang berbicara dengan sangat
sinis itu benar adanya. Benar, aku memang menyukai Arya. Tapi aku juga tahu,
Arya hanya menganggapku sebagai pacar pura-puranya. Tidak lebih.
Aku mengedarkan pandanganku pada seorang wanita bergaun
pastel. Clara, seminggu lalu dia mendapatkan penghargaan Pembawa Acara terbaik
Panasonic Award, sebuah penghargaan tertinggi insan pertelevisian Indonesia.
Dia juga di tunjuk sebagai Duta Save Water Oleh Kementerian Lingkungan Hidup
Indonesia.
Dia juga memiliki pergaulan sosial yang bagus.
Teman-temannya adalah para model terkenal, para penerus kerajaan bisnis, sampai
makan siang dengan anak Presiden. Tentu dia lebih pantas bersanding dengan
Arya. Seseorang yang ternyata bukan hanya CEO Daun Publisher tapi juga mungkin
lebih hebat dari itu.
“Penghargaan ini adalah untuk semua karyawan dan dewan
direksi Daun Publisher. Untuk Ibu saya tercinta dan juga untuk seseorang yang
sangat berarti dalam hidup saya saat ini. Tunangan saya, Karina Larasati.
Terima kasih untuk selalu ada disisi saya.”
Apa? Tunangan?
Aku hanya bisa membeku di tengah riuhnya suara tepuk
tangan. Dan aku juga bisa merasakan tatapan syok dan tak suka si nenek sihir
kepadaku. Seolah telah bersiap untuk mencabik-cabik dagingku.