Kamis, 05 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (5)

BAB 5 : Nenek Sihir dan Wanita Iblis

23 Januari 2015

“Itu terlalu tua, ganti yang lain!”

Si sekretaris yang baru ku ketahui bernama Pak Wahyu, mulai menilai pakaian yang aku kenakan. Ini sudah gaun ke 6 yang aku coba, namun tetap tidak lolos dimata om-om ini.

Kenapa aku panggil om-om? Pak Wahyu ini berumur sekitar 40 tahunan. Dan dari tadi karyawan butik terus saja melihatku dengan tatapan penuh tanya, mereka mungkin menganggap aku ini perempuan mainan om-om. Aku pun begidik.

Pak Wahyu membuat simbol OK dengan tanggannya saat melihat pakaian ke 7 yang aku pakai.

“Pak Wahyu, sebenernya mau Pak Arya itu apa sih?”

“Mba Karin nurut aja, dan jangan banyak bertanya. Pak Arya tidak suka orang cerewet” Ucap Pak Wahyu seraya membayar pakaian yang tadi dipilih.

Aku gondok. Secara tidak langsung, Pak Wahyu mengatakan kalau aku itu cerewet. Tapi demi wawancara ekslusif itu, aku harus bertahan.

Kali ini aku dibawa ke sebuah salon. “Make over!” dia berbicara pada seseorang seraya menunjukku.
Orang itu melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sedikit ‘jijik’. Apa aku seberantakan itu,huh?

“Susah ya, tapi aku bakal ngelakuin yg terbaik!” pria setengah wanita itu mengedipkan matanya sambil mencubit lengan si Om, Pak Wahyu maksudku. Aku kembali begidik geli.

Jam demi jam berlalu, aku benar-benar sudah lelah. Mulai dari lulur, facial, creambath, sampai make up. Jujur aku tidak terlalu suka merawat diri atau berdandan. Agak risih juga sih tapi setelah melihat hasilnya, aku cukup terkejut.

Ternyata walaupun aku tidak terlalu cantik, tapi wajahku juga tidak terlalu jelek. Aku tertawa kecil karenanya.

Diperjalanan, aku terus saja memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan Arya dariku. Sampai repot-repot meng-makeover-ku seperti ini. Tiba-tiba terbersit rasa waswas dibenakku.

Beberapa jam yang lalu :

“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”

“Kamu bersedia aku wawancarai?” aku balik bertanya

“Dengan satu syarat...” dia menjentikkan jari telunjuknya. “......ikut denganku malam ini dan melakukan apa yang aku minta.”

Spontan aku langsung menyilangkan tangan menutupi dadaku.

“Jangan membayangkan yang aneh-aneh.” Arya sepertinya membaca apa yang aku khawartirkan.

“Huh...Syukurlah kalau itu bukan hal yang aneh. Aku akan melakukan apapun yang kamu minta asal tidak melanggar norma hukum dan norma susila.” Ucapku mantap.

Dan disinilah aku sekarang. Sebuah hotel bintang 5. Oke, perasaanku mulai tidak enak. Pak Wahyu membukakan pintu mobil dan entah dari mana datangnya, aku melihat Arya sudah berdiri di depanku dengan pakaian tuxedo-nya.
Dia terlihat sangat tampan dan mempesona. Bohong kalau aku tidak jatuh cinta melihatnya. Arya menjulurkan tangan kanannya dan akupun meraihnya. Aku berusaha menyembunyikan senyumku yang sedari tadi meluap-luap.

“Mulai sekarang dengar baik-baik apa yang akan aku katakan....” Arya berbisik di telingaku,”.....Ibuku akan mengumumkan perjodohanku dengan seseorang di acara ini. Dan kamu akan berpura-pura menjadi pacarku. Bagaimanapun caranya, kita harus menggagalkan rencana jahat ibuku. Mengerti!”

Rencana jahat? Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu. Ibunya pasti menginginkan yang terbaik untuknya.

“Jadi kamu ingin membohongi ibumu dan semua orang? Aku tidak bisa!” Aku menarik tanganku darinya.

“Itu kesepakatannya, Karin. Aku tidak punya banyak waktu. Aku hitung 1 sampai 5 dan buat keputusanmu! Satu, Dua, Tiga, Empat...” Aku masih diam “....Empat seperempat, empat dua perempat, Empat TIGA PER EMPAT,.....liiii.....” Arya menatapku, “....Karin ini hanya sementara.”

Bayangan tentang ancaman pemecatan dan dunia pengangguran mulai menggelayuti pikiranku. Terlebih lagi bayangan mulut penuh bisa dari Clara, yang pastinya sangat puas mengejekku.

“Oke, akan aku coba.” Aku mengangguk ragu. Arya tersenyum lega melihat anggukan kepalaku itu. Dia menggandeng tanganku. Kami berjalan menyusuri red carpet menuju sebuah pesta penghargaan, begitulah yang terpasang di banner.

“Arah jam 12, kebaya berwarna biru. Itu ibuku. Ayo kesana.” Aku merasa Arya menyeretku sekuat tenaga karena berkali-kali aku berbalik hendak kabur.

Aku mematung melihatnya. Tatapan si Ibu lebih mengerikan dari pada tatapan anaknya-Arya.

“Wah, Arya sudah datang” Bapak berkepala botak menyapa Arya lebih dulu, sementara si Ibu tetap diam.

“Siapa nih?” Bapak botak ini melihat ke arahku, aku memaksakan senyumku padanya.

“Oh, Dia ini...”

“Kenapa kamu bawa asistenmu ke acara ini, nak?” Si ibu menyela dengan senyum sinisnya ke arahku dan Arya.

“Asisten? Ibu harus tahu, membujuk dia supaya mau datang ke acara ini sangat sulit...” Dia memasang wajah anak kecil didepan ibunya.

“Direktur Handoyo, Gadis yang ada di sebelah saya ini...pacar saya, namanya Karina” Lanjutnya.

“Pacar? Wah, aku pikir kamu sama Joana. Soalnya ibumu dari tadi terus membangga-banggakan Joana di depanku. Hahaha”

“Hahaha...itu cuma gosip. Iya kan,bu?” Arya melirik ke ibunya. Si ibu hanya tersenyum palsu.

“Ah, kalau begitu saya tinggal dulu. Mari Karina!” Bapak botak yang ternyata bernama Pak Handoyo itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan kami bertiga.

“Siapa tadi nama kamu?” Si ibu menyelidikku.

“Karina, bu”

“Berapa kamu dibayar? Sudahlah kalian tidak perlu berpura-pura dihadapan ibu” ucap si ibu ketus.

Nenek sihir, dia benar-benar nenek sihir. Cara bicaranya, cara dia menatap, sangat menakutkan. Siapa kira-kira menantu yang akan tahan dengan nenek sihir ini. Beberapa menit yang lalu aku masih mencoba membelanya di depan Arya soal 'rencana jahat' perjodohan namun sekarang aku menarik semua pemikiran baik tentang si ibu.

“Ibu, tolong jangan bicara seperti itu” Arya membelaku.

Si Ibu – aku akan memanggilnya nenek sihir mulai sekarang – sama sekali tidak mengacuhkan pembelaan Arya untukku. Matanya mulai berkeliling mencari sesuatu, mungkin lebih tepatnya mencari seseorang.

“Joana, kemari nak!” Si nenek sihir melambaikan tangannya. Sudah kuduga. Gumamku.

“Dia adalah orang yang sangat ingin di jodohkan denganku. Dan ibuku sangat menyukainya” Arya berbisik padaku. Aku pun menoleh ke orang yang sedang di sambut nenek sihir dengan senyuman hangatnya.

Ya Tuhan. Kenapa semua hal buruk terjadi dalam satu hari? Aku terperanjat melihat siapa gadis yang di maksud. Joana Clara Haniffan, si wanita iblis dari gunung gundul.

“Karina? Kok kamu bisa masuk ke acara seperti ini?” ucapnya meremehkanku. Sudah kuduga dia akan cepat mengenali musuh bebunyutannya.

“Kamu berdandan juga?” Lanjutnya sedikit menahan tawa.

“Kalian saling kenal?” Si nenek sihir menyela.

“Tentu. Aku dan Karina satu jurusan saat kuliah. Iya kan?” Joana melihatku sok akrab. Aku hanya mengangguk enggan.

“Aku dengar kamu mau di pecat Karin? Kenapa? Kalo kamu butuh bantuan hubungi aku aja.” Mendengar hal itu, Arya menatap wajahku. Mungkin dia mulai mengerti alasan hidup mati kenapa aku ingin mewawancarainya.

Bedebah kau wanita iblis. Dia benar-benar ingin menjatuhkanku di hadapan Arya dan ibunya. Aku ingin sekali melemparkan telor ke wajahnya yang sok manis dan sok cantik! (Ralat, dia memang manis dan cantik. Tapi aku lebih pintar darinya! Tolong dicatat!)”

“Wah, bukankah ini suatu kebetulan yang luar biasa? Orang yang akan di jodohkan denganku ternyata saling kenal dengan pacarku” Kali ini Arya yang menyela pertarungan dendam diantara aku dan Joana si wanita iblis dari gunung gundul itu.

“Pacar?” wajah Joana langsung berubah kecut.

This is my turn. Okay! Aku akan memanfaatkan ini sebaik-baiknya untuk menang dari wanita ini. Sekali tepuk dua iguana mati. Mendapatkan wawancara ekslusif dan menghacurkan si wanita iblis ini.

“Iya, aku pacarnya mas Arya. Senang bisa ketemu kamu disini” Aku akting sok manis sambil menggandeng tangan Arya dengan mesra

Si nenek sihir terlihat sangat tidak suka dengan sikapku yang menempel mesra pada anaknya.

“Sayang, aku mau ke toilet dulu ya” ucapku pada Arya. Ya Tuhan, aku baru saja memanggil Arya dengan panggilan sayang.

“Oh, iya sayang.” Jawab Arya sedikit gugup. Aku pikir Arya juga kaget dengan perubahan sikapku yang begitu tiba-tiba. Tapi ini sesuai skenario yang dia harapkan. Dia harus berterimakasih padaku.

Tidak di sangka si ‘wanita iblis dari gunung gundul’ mengikutiku ke toilet. Huh mau apa dia? Mau perang dan jambak-jambakan lagi denganku?

“Wow. Karina memang hobby sekali mencuri ikan dari kucing lain, sama seperti 4 tahun yang lalu.” Dia tersenyum di depanku, menatapku tajam melalui cermin wastafel.

“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi 2 kali. Arya adalah target tangkapanku.” Lanjutnya.

“Wah kamu kucing toh, kirain manusia” Ledekku.

Bagaimanapun aku harus menahan emosiku dihadapannya. Aku tidak akan melupakan kejadian 4 tahun yang lalu saat dia melabrakku karena, Doni, pria yang dia sukai malah menyukaiku. Suatu hal yang menurutnya sangat mustahil. Cewek popular seperti dia kalah oleh cewek dekil – katanya – sepertiku. Aku menderita beberapa lecet dan beberapa rambutku juga rontok. Hal yang sama seperti yang di alaminya. Kami sama kuatnya dalam hal jambak-jambakan. Dan kami tahu bahwa kami harus menghindari itu.

Bukan hanya masalah Doni tetapi juga dalam hal akademis dia selalu no 2 dan selalu kalah dariku. Hal itu membuatnya semakin membenciku. Aku pun sama bencinya karena dia selalu menyebarkan fitnah – termasuk fitnah bahwa aku adalah wanita panggilan om-om.

Hanya saja nasib kami sekarang sungguh berbeda. Aku, dengan nilai akademis yang bagus memang bisa masuk perusahaan besar seperti Brave Magazine tapi hanya sampai situ keberuntunganku.

Sementara Clara atau orang-orang lebih mengenalnya dengan nama ‘Joana Haniffan’ telah sukses menjadi anchor yang disegani. Dengan wajahnya yang cantik dan cara bicaranya yang elegan, sudah membuat banyak orang tergila-gila melihat dia membacakan berita di salah satu stasiun televisi besar tanah air.

Harus aku akui, saat dia membacakan berita, dia terlihat sangat cerdas dan menawan. Tapi bagiku dia tetaplah wanita iblis yang selalu ‘kepo’ pada pencapaianku dan memastikan bahwa aku selalu dibawah karirnya.

Dia mempermalukanku habis-habisan di depan teman-teman alumni saat acara reuni bulan lalu. Sampai aku ingin sekali mencakar wajahnya dengan garpu yang kupegang saat memakan rainbow cake saat itu.

“Aku sama sekali tidak pernah mencuri darimumu, tapi mereka yang mendatangiku sendiri. Baik itu Doni maupun Arya.”

“Munafik! Cih!”

“Mungkin kita berjodoh dalam hal seperti ini. Bedanya, dulu aku tidak menyukai Doni namun sekarang aku menyukai Arya”.

“Kita lihat saja nanti, aku pasti akan menikah dengan Arya. Harus.”

“Dengan memanfaatkan ibunya?”

“Apapun.” Clara mengelap tangannya dan pergi meninggalkanku yang masih berdiri dengan penuh emosi.

*****

“Untuk kategori CEO terbaik tahun ini, jatuh kepada....... Bapak Arya Dava Putra dari Daun Publisher, Selamat!” Pembawa Acara pada malam itu mulai membacakan para penerima penghargaan tahunan dari Yayasan Indonesia Pride. Tepuk tangan mulai menghiasi seluruh ruangan.

Arya berdiri dan membungkuk hormat kepada para hadirin yang hadir.

“Di mohon agar Bapak Dava Putra segera maju ke atas panggung dan menerima penghargaan dari Yayasan Indonesia Pride. Seperti yang telah kita ketahui, Bapak Dava Putra telah membawa Daun Publisher menjadi Perusahaan Penerbit nomor 1 di Indonesia. Beliau juga belum lama ini memperoleh penghargaan The Best Entrepreneur di ajang Asian Youth Entrepreneur di Singapura. Beliau di usianya yang begitu muda juga merupakan pemegang saham terbesar TrustTel, salah satu perusahaan besar penyedia jasa telekomunikasi di Indonesia dan Asia Tenggara.” Lanjut si Pembawa Acara. Tepuk tangan pun semakin riuh.

Aku beberapa kali memperhatikan wajah penuh senyum Arya dengan takjub. Si Arogan ini memang pantas bersikap arogan dengan prestasinya itu. Aku merasa benteng antara aku dan Arya begitu tinggi.

Si nenek sihir membisikanku sebuah kalimat yang sangat mengganggu kepercayaan diriku. “Orang yang bersanding dengan anakku harus sepadan dengannya. Dan itu bukan kamu.”

Aku merasa si nenek sihir yang berbicara dengan sangat sinis itu benar adanya. Benar, aku memang menyukai Arya. Tapi aku juga tahu, Arya hanya menganggapku sebagai pacar pura-puranya. Tidak lebih.

Aku mengedarkan pandanganku pada seorang wanita bergaun pastel. Clara, seminggu lalu dia mendapatkan penghargaan Pembawa Acara terbaik Panasonic Award, sebuah penghargaan tertinggi insan pertelevisian Indonesia. Dia juga di tunjuk sebagai Duta Save Water Oleh Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia.

Dia juga memiliki pergaulan sosial yang bagus. Teman-temannya adalah para model terkenal, para penerus kerajaan bisnis, sampai makan siang dengan anak Presiden. Tentu dia lebih pantas bersanding dengan Arya. Seseorang yang ternyata bukan hanya CEO Daun Publisher tapi juga mungkin lebih hebat dari itu.

“Penghargaan ini adalah untuk semua karyawan dan dewan direksi Daun Publisher. Untuk Ibu saya tercinta dan juga untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya saat ini. Tunangan saya, Karina Larasati. Terima kasih untuk selalu ada disisi saya.”

Apa? Tunangan?

Aku hanya bisa membeku di tengah riuhnya suara tepuk tangan. Dan aku juga bisa merasakan tatapan syok dan tak suka si nenek sihir kepadaku. Seolah telah bersiap untuk mencabik-cabik dagingku.

ANGIN PUJAAN HUJAN (4)

BAB 4 : ANGIN PUJAAN HUJAN


“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.

Aku membeku. Wajahnya terlihat seperti malaikat. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.

“Kamu tidak apa-apa?” Dia bertanya. Suaranya terdengar sangat merdu. Aku masih terdiam seperti orang bodoh.

“Kami persilahkan kepada Direktur Daun Publisher untuk menyampaikan sambutannya. Bapak Arya Dava Putra kami persilahkan” terdengar suara MC memulai acara, sementara aku masih menatap wajah pria ini.

Orang yang sedang kupandangi tersenyum kepadaku dan kemudian berjalan menuju panggung. Jadi pria tampan ini adalah Direktur Daun Publisher? Aku mengira-ngira usianya sekitar 26 atau 27 tahun dan dia sudah menjadi CEO. Dia benar-benar luar biasa. Tunggu! Jadi dia????

“Selamat malam kepada para Dewan Direksi dan juga para penulis kebanggaan Daun Publisher. Tahun ini kembali kita bisa berkumpul bersama menyaksikan suksesnya Perusahaan ini menjadi Perusahan penerbit nomor 1 di Indonesia” Ruangan pun riuh dengan suara tepuk tangan. Kalimat selanjutnya yang keluar darinya adalah segala pencapaian Daun Publisher selama setahun dan 3 tahun terakhir. Aku begitu terkesima dengan auranya yang luar biasa. Cara dia berdiri, cara dia berbicara, cara dia menatap tegas mata-mata audience yang hadir membuatnya terlihat begitu sempurna.

Dia melanjutkan pidatonya “Malam ini, saya akan memberitahukan sebuah rahasia kepada kalian. Rahasia bahwa saya juga seorang penulis” Pria itu tertawa rikuh, antara bangga dan malu.

Dia mengeluarkan sebuah buku dan menunjukannya kepada semua orang.

“Kemarau. Aku yang menulis buku ini” Semua orang tercengang kecuali aku yang sebelumnya diberitahu oleh mba Maya kalau Mr. K adalah CEO Daun Publisher. Menurut mba Maya, si CEO tidak ingin para wartawan tahu soal nama pena-nya karena malas jika nantinya harus menerima banyak tawaran wawancara. Fakta ini membuatku semakin kagum dengannya. Namun mungkin juga sedikit kecewa karena Mr. K ternyata bukanlah Aditya. Entah kenapa aku masih berharap berjodoh dengan Adit. Berharap Adit dan Mala berpisah. Kemudian Adit menulis sebuah buku dan berharap aku bisa mengenalinya. Seperti itulah skenario bodoh dan terlalu sinetron yang ada dikepalaku. 

Kemarau memang tidak se-populer Denting Hati yang menjadi Book of the Year. Tapi Kemarau juga termasuk jajaran buku best seller dan punya penggemarnya sendiri. Aku sudah mengantongi identitas Kemarau, yang harus aku lakukan sekarang adalah mendapatkan wawancara ekslusif dengannya. Maka masalah ‘pecat-dipecat’ akan selesai.

Setelah acara, aku memutuskan untuk menunggu Arya di luar gedung. ‘Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui’, pikirku. Selain bisa mendapatkan wawancara ekslusif aku juga akan berusaha mendekatinya. Dia adalah orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Perasaan yang sama seperti yang kurasakan pada Adit, dulu. Sedikit gila memang, tapi begitulah aku. Apabila aku sudah memilih satu orang, maka orang itu akan menjadi segalanya untukku. Dengan mengesampingkan apakah kami bisa bersama atau tidak tentunya.

Arya terlihat keluar dari gedung dengan sekretarisnya. Aku pun bergegas berlari menghampirinya.

“Pak Arya, bisa minta waktunya sebentar?”

Arya menatapku sejenak seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.

“Ah, kamu orang katering tadi kan? Kenapa? Ada masalah?”

“Nama saya Karina Larasati, saya wartawan dari Brave Magazine” ucapku seraya memberikan kartu nama. Satu hal yang membuatku senang bekerja di kantor majalah BRAVE adalah kebanggaan saat kamu mengeluarkan kartu nama. Bekerja di sebuah majalah besar dan terkenal seperti BRAVE memang memberikan kepercayaan diri lebih bagi karyawannya.

“Wartawan? Bagaimana seorang wartawan bisa masuk ke acara tertutup kita dan berpura-pura menjadi karyawan katering?” Arya bertanya pada sekretarisnya dengan nada sedikit marah. Si sekretaris hanya diam.

“Lain kali perketat penjagaan.”

“Baik Pak” jawab si sekretaris sedikit membungkuk.

“Ada perlu apa ya?”

“Begini Pak Arya, Saya ingin mewawancarai anda sebagai penulis buku Kemarau” Aku menjelaskan maksud mengapa aku menemuinya.

“Maaf mbak Karin, tapi saya tidak berminat untuk di wawancarai. Lebih baik anda pergi sekarang” Arya mengembalikan kartu namaku dan berlalu menuju mobilnya. Aku berlari mengejar. Tak mau mengalah.

“Tolong di pertimbangkan pak. Ini masalah hidup dan mati saya. Kalau pak Arya bersedia saya wawancarai, pak Arya sudah benar-benar menolong saya” Aku sungguh tidak mau dan tidak akan menyerah.

“Kenapa aku harus menolong kamu. Saya sudah katakan, saya tidak tertarik. Pak Wahyu ayo cepat jalankan mobilnya!”

“Pak Arya...Pak mohon dipertimbangkan!” Aku berteriak sangat kencang berharap dia bisa mendengar ucapanku.

Kenapa aku berfikir bahwa ini akan lebih sulit sekarang. Pria bernama Arya itu benar-benar sombong dan arogan. Tidak ada bedanya dengan si arogan Clara Haniffan dari gunung gundul. Hatinya sangat kontras dengan wajahnya yang tampan.

Kenapa aku harus menolong kamu? Hah kata-katanya seperti pisau. Jangan-jangan dia tidak pernah menolong orang asing sebelumnya.

Dengan mau di wawancarai itu berarti dia mau berbagi pemikirannya tentang buku yang dia buat. Mungkin saja ada orang-orang seperti kemarau diluar sana yang masih terperangkap dalam penjara yang dia buat sendiri. Buku dan kata-kata yang si penulis lontarkan akan membantu mereka memecahkan tembok-tembok tinggi yang membelenggu mereka.

Dan tentu saja, membantu seseorang yang tidak bersalah sepertiku agar tidak dipecat dari pekerjaannya.

Aku berfikir keras untuk membujuknya. Pekerjaanku dipertaruhkan disini.

Di hari berikutnya aku mengirimkan sebuah karangan bunga dan kuselipkan surat permintaan wawancara, namun berselang beberapa menit karangan bunga itu sudah tergeletak di teras gedung. Membuatku semakin kesal saja.

Bahkan aku mencegatnya saat Arya hendak pulang. Namun si sekretaris menghalangiku dengan sigap. Tunggu dulu, aku belum menyerah sampai disitu. Siang tadi bahkan aku sudah mengempesi ban mobilnya. Hahahaha
Si sekretaris yang juga menjadi supir pribadi Arya keluar dari mobil dan keheranan melihat ban depan sebelah kanan sudah kempes. Arya menurunkan kaca mobilnya “Kenapa,Pak?”

“Kempes Pak Arya”

“Kok bisa? Perasaan kemaren baru aja di service?”

“Saya juga bingung.” Si sekretaris menggaruk kepalanya pertanda kebingungan.

"Padahal aku harus fitting Jas buat acara nanti malam."

Kemudian terlihat Arya menoleh padaku. Demi tuhan, aku sudah siap dilaporkan ke polisi. Tatapannya yang tajam menyelidikku. Membuatku gugup.

Arya pun turun dari mobilnya dan menghampiriku. Aku mendadak gelisah. Aku tahu ini sudah sangat keterlaluan, tapi aku benar-benar kesal. Aku sudah beberapa hari seperti tuna wisma yang menjajah kantornya – lebih tepatnya tidur di kursi lobi gedung seharian – dan begitu dia melihatku, aku seperti dianggap seekor nyamuk demam berdarah yang patut dimusnahkan.

“Perbuatanmu kan?” Arya langsung menuduhku. Aku menggeleng “Jangan menuduh tanpa bukti!”

Dia kemudian melihat sekeliling. "Ah, apa kita harus memeriksa CCTV?"

Aku panik. Wajahku terasa panas. Sial, kenapa aku tidak sadar kalau di dekat sana ada CCTV. “Maaf...” aku mendesah pasrah, dengan wajah sedikit memelas aku melanjutkan “....tapi aku melakukannya karena sudah terlalu kesal.”

Dia mendekat satu langkah ke arahku dan sedikit mencondongkan wajahnya. Menatapku lekat dan kemudian terlihat memikirkan sesuatu. Aku merasakan sesuatu yang jahat sedang direncanakannya.


“Kamu benar-benar ingin mewawancaraiku?”

Entah apa yang direncanakannya. Namun aku melihat ini sebagai sebuah kesempatan yang akan menyelamatkan pekerjaanku. Semoga.

Rabu, 04 Maret 2015

ANGIN PUJAAN HUJAN (3)

BAB 3 : ANGIN PUJAAN HUJAN

10 Januari 2015

Aku berjalan melewati buku-buku yang berjejer di etalase dan rak-rak yang menjulang di sampingku. Beberapa anak kecil berlarian membuat beberapa buku terjatuh. Aku mengambil salah satu buku yang terjatuh tadi. Kemarau. Begitulah judul buku yang aku ambil. Untuk sesaat aku teringat pada Adit.

Aku kemudian membaca sinopsis buku itu. Kemarau menceritakan tentang seorang pria yang mencoba untuk mencari jalan hidupnya sendiri. Mempertahankan harga dirinya yang terakhir. Seorang pria yang berusaha keluar dari zona amannya untuk meraih satu hal saja yang sangat dia inginkan, Cinta. Sesuatu yang baginya sangat sulit di dapatkan. Buku ini mengingatkanku pada Kemarau yang kukenal.

Jariku terus saja memanduku untuk membuka lembar demi lembar buku itu. Ah aku sudah membuka pembungkusnya, sepertinya aku memang harus membeli buku ini. Aku pun berjalan menuju kasir dan segera membayar buku berjudul kemarau itu.

Lembar demi lembar telah berhasil aku baca, semakin banyak lembar yang ku baca, semakin aku masuk kedalamnya.

Aku ingin merasakan sedikit saja tetesan hujan di musim kemarau.
Gersang ketika kemarau, membuat hatiku mati..

Entah kenapa aku merasakan rasa kesepian dan kesedihan yang luar biasa dalam diri kemarau. Hujan yang terjadi secara terus menerus akan menimbulkan banjir bandang dan kemarau yang berlangsung lama pun akan membuat bumi ini kering dan gersang.

Bukankah Hujan dan Kemarau harus saling mengisi supaya petani tidak merugi?

Kalimat ini merubahku. Memberikan pukulan telak padaku. Selama ini aku selalu berpikir hujan dan kemarau tidak ditakdirkan untuk bersama. Paling tidak itulah yang terjadi padaku dan Adit. Namun aku mulai berpikir tentang saling mengisi. Ketika hujan sesekali membasahi hati kemarau dan ketika kemarau sesekali menyeka air mata hujan.

Penulisnya sangat piawai berkata-kata. Setiap kalimat yang tertulis begitu indah dilafalkan. Sungguh membuatku terkagum. Dengan sedikit suara desahan puas aku berhasil menutup lembaran terakhir dari buku itu. Buku yang tidak terlalu tebal, yang bisa kuselesaikan dalam waktu semalam.

Aku mencari-cari nama si penulis. ‘K’ hanya itu yang tertulis disampulnya. Si penulis hanya memberikan initial ‘K’.
Mr. K??? Kemarau??? Gumamku

11 Januari 2015

“Kamu mau dipecat? Ini semuanya sampah!” Pak Editor menggebrak meja di depanku. Dan menghamburkan kertas-kertas yang kuberikan padanya. Aku menggeleng dengan pandangan syok.

“Kamu tau? Kamu sudah benar-benar tidak produktif Karin. Tulisanmu semuanya tidak ada yang luar biasa untuk dijadikan bahan majalah kita” Dia melanjutkan.

“Maafkan saya, Pak” hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk saat ini.

“Maaf? Aku tidak butuh kata maaf! Aku cuma ingin ke-profesional-an kamu Karin! Aku tidak mau tahu, ini adalah kesempatan terakhirmu” Dia melempar selembar kertas kepadaku. Akupun memungutnya.

“Penulis Kemarau? Bapak minta saya mewawancarai Penulis buku Kemarau?” Aku terdiam sesaat

“Tapi Pak, Kemarau itu sangat misterius. Aku mengunjungi beberapa blog dan tidak ada yang tau siapa itu Kemarau, seperti apa rupanya dan bagaimana saya bisa menghubunginya” Lanjutku.

“Justru itu! Kita akan jadi majalah pertama yang berhasil mengungkap siapa itu Kemarau. Hal seperti ini adalah bagian dari visi dan misi Brave Magazine! Dapatkan wawancara ekslusif atau di pecat, itu pilihanmu!”

Menangkap kemarau atau dipecat? Tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan besar seperti Brave magazine. Jika aku ditendang, jalan untuk menjadi wartawan sukses dan mengalahkan si arogan Clara, punahlah sudah. Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan wawancara ekslusif dari kemarau.


12 Januari 2015

‘DAUN PUBLISHER’

Aku tiba di tempat dimana kemarau diterbitkan. Aku sungguh penasaran dengan penulis buku ini. Aku tau ini sedikit sulit, namun aku tidak bisa menolak naluriku saat ini. Naluri tidak ingin dipecat.

Aku bertemu dengan salah satu karyawan Daun Publisher. Tanpa diduga, dia adalah mba Maya. Aku dan mba Maya belajar Yoga di tempat yang sama. Mba Maya mengatakan bahwa dia tidak bisa membantuku kali ini.

“Selain karena peraturan perusahaan. Mr.K juga sangat berbeda dari penulis yang lain. Dia benar-benar tidak ingin identitasnya diketahui orang-orang. Aku benar-benar minta maaf tidak bisa membantu.”

“Jadi tidak ada cara untuk bisa bertemu dengan dia? Aku benar-benar harus bertemu dengan Mr. K. Tolong bantu aku mba! Wawancara ini taruhannya adalah kontrak kerjaku. Ini kesempatan terakhir aku mba” Aku merajuk seperti anak kecil.

Mba Maya terdiam sejenak, dia terlihat sangat ragu-ragu. "Sebenarnya aku tau siapa itu Kemarau."

"Serius mba?" ucapku antusias.

"Aku mendengar secara tidak sengaja waktu itu."

"Siapa mba? Siapa?" Aku mulai tak sabar. Mba Maya kemudian membisikan sebuah nama yang membuatku cukup terkejut.

“Sebenarnya minggu depan kita akan mengundang para penulis yang berada di bawah DP untuk acara tahunan perusahaan. Tapi tidak ada wartawan yang di perbolehkan masuk ” mba maya menjelaskan sambil memberikan secangkir cappucino padaku.

“Wah! Bagaimana caranya supaya aku bisa masuk ke acara itu?”

“Aku tidak yakin. Yang bisa masuk ke acara itu hanya para penulis dan jajaran elit di perusahaan kita. Bisa dibilang acaranya benar-benar eksklusif”

Aku tidak boleh menyerah. Entah kenapa, fakta bahwa aku akan dipecat membuatku lebih berani, tidak seperti 5 tahun yang lalu ketika aku menyerah pada Adit – itu juga karena Adit menyerah padaku. Aku juga penasaran dengan sosok Kemarau. 

“Untuk acara minggu depan, pesankan katering di tempat biasa ya!” seorang wanita berusia sekitar 30an berkata pada seorang pria berkacamata tebal didepannya dan kemudian masuk kembali ke ruangannya.

Acara minggu depan? Ucapku dalam hati. Jangan-jangan! Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.

Aku mendekati pria itu. “Maaf mas, boleh saya tanya sesuatu?”

“Tentu, ada yang bisa saya bantu?”

“Mas biasa pesan katering dimana untuk acara kantor? Kantor tempat saya bekerja juga mau bikin acara gathering jadi saya lagi cari katering yang masakannya enak. Sepertinya kantor tempat mas kerja punya tempat katering langganan” aku menjelaskan dengan sangat panjang dan berharap dia tidak curiga mendengarnya.

“Ocean Cathering. Ini kartu namanya” Dia memberikan sebuah kartu nama padaku begitu saja.

“Ini Cathering keluargaku. Dijamin masakannya enak, mba!” Lanjutnya promosi. Akupun mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Untunglah dia tidak curiga.

Aku tahu ini gila. Tapi apa yang ada dipikiranku sekarang adalah suatu kegilaan yang harus aku lakukan. Aku merasa kali ini aku punya sebuah keberanian. Keberanian untuk tidak menyerah.

Hari ini langit kembali menangis, aku mendengar suara gemuruh dan petir yang saling beradu. Aku membenci hujan karena hujan mengingatkanku pada diriku sendiri. Namun untuk saat ini aku membenci hujan karena telah mengotori sepatu baruku. Aku mendesah kesal sembari membersihkan sepatuku yang terkena cipratan air hujan.

Saat seperti ini ingatanku tentang Adit kembali muncul. Dalam hujan yang sama 9 tahun yang lalu.


Musim Hujan Januari 2006

Kami berdua terjebak di halte saat hujan deras mengguyur. Dia berdiri 3 langkah di depanku. Aku mengamatinya dengan seksama. Bahkan punggungnya pun terlihat begitu indah dimataku. Entahlah, mungkin cinta memang telah mengaburkan penglihatanku.

Selain kami berdua, ada juga sepasang kekasih yang terjebak bersama kami. Mereka berdua saling membersihkan sepatu mereka yang kotor karena hujan. Mereka juga saling berpegangan tangan memberi kehangatan satu sama lain. Tertawa seolah hujan adalah lagu cinta mereka. Sementara aku masih menatap punggung Adit dengan senyuman.

Tanpa kuduga Adit berbalik. Mata kami bertemu. Sungguh membuatku terkejut dan tanpa sadar buku yang kupegang jatuh begitu saja. Adit mendekat ke arahku dan membantu mengambil buku milikku yang terjatuh tadi. Saat itulah untuk pertama kalinya tangan kami bersentuhan.

Jantungku berdetak sangat kencang. Badanku sepertinya memiliki muatan listrik yang besar saat itu. Membuatku takut terkena hujan dan tersetrum. Aku berusaha menyadarkan diriku untuk tidak pingsan di depan Adit.

Hujan pun berganti menjadi gerimis. Aditya kemudian berlari menyebrang dan berlalu bersama sebuah bus yang melaju ke arah yang berlawanan denganku.

Begitulah. Adit tidak pernah berbicara padaku. Kami tidak pernah berkenalan secara resmi. Aku tahu dia. Dia tahu aku. Tentu sebagai sesama siswa satu sekolah. Hanya sebatas itu.  



17 Januari 2015

“Silahkan dinikmati makanannya” Aku berseru. Disinilah aku berada. Acara tahunan Daun Publisher. Setelah melakukan negosiasi yang alot dengan pemilik katering, akhirnya aku bisa masuk ke acara ini sebagai karyawan Ocean Cathering.

Acara ini terlihat cukup wah. Pesta bergaya vintage dengan warna dominan cream pada dekorasi interiornya. Para penulis duduk rapih di kursi yang sudah disediakan. Aku mengenal beberapa penulis yang datang hari ini.

Misalnya pria yang duduk di kursi paling depan, dia adalah Gege Pras. Penulis novel best seller ‘Borobudur’ yang fenomenal. Bahkan Borobudur sudah difilmkan dan ditonton oleh 5 juta orang. Dia adalah kebanggaan Daun Publisher sekaligus Maskot Perusahaan.

Wanita yang duduk di arah jam 2, dia Putria Adina. Penulis buku motivasi. Beberapa kali dia diundang ke acara-acara talkshow televisi. Wajahnya cantik dan pembawaannya juga cerdas. Baru-baru ini dia sedang terkena skandal perceraian dengan aktor papan atas, Bima Admoko. Ya, dia adalah istri dari aktor pemenang penghargaan FFI 2014 yang lalu.

Perempuan yang duduk di meja kedua, tepat dibelakang meja Gege Pras adalah Revania Daud. Penulis muda yang menjadi perbincangan hangat beberapa bulan ini. Penulis berbakat yang memiliki jalan bagus untuk sukses. Buku pertamanya yang berjudul ‘Denting Hati’ dinobatkan menjadi novel terbaik tahun ini melalui survei pembaca. Dan menurut kabar, Denting Hati akan difilmkan tahun ini. Dia benar-benar bersinar dengan buku pertamanya.

Ah, pria itu. Pria berkacamata itu. Namanya Dion. Dia penulis komik. Aku tidak terlalu suka membaca komik, tapi menurut kabar, komik miliknya menjadi pelopor kemajuan komik Indonesia. Aku pernah melihat dia di surat kabar. Dia terlihat lebih tampan aslinya daripada di foto.

Aku masih mencari-cari wajah misterius Mr. K.

“Awww” Aku menabrak seseorang saat berbalik.


Aku membeku. Wajahnya terlihat bersinar seperti bintang jatuh. Siapakah dia? Gumamku. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, seperti dulu.

ANGIN PUJAAN HUJAN (2)

BAB 2 : KETIKA KEMARAU MENGHILANG

23 Desember 2007

“Ketika kita sudah menikah, katanya hujan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita bisa memeluk suami kita sampai kita merasa hangat. Tapi saat kita masih sendiri, kita hanya bisa memeluk guling kesayangan kita dengan pandangan kosong”

Itulah yang Mala ucapkan. Dia tersenyum melihat rintikan hujan diluar sana.

“Hei, jangan-jangan kamu berpikir untuk langsung menikah setelah lulus SMA?” Aku meledek Mala sambil menepuk pundaknya.

Dia memalingkan wajahnya menghadapku “Kenapa tidak? Aku tidak ingin selalu memeluk guling saat hujan turun” dia berkata dengan sangat percaya diri.

“Paling tidak kamu harus sudah punya calon yang bisa menggantikan gulingmu itu”

“Calon? Aku sudah punya kok” Jawab Mala enteng, sedikit sinis.

“Hah, sama siapa? Kenapa kamu gak pernah kenalin pacar kamu ke aku?” Entah kenapa aku merasa kesal dan marah pada Mala. Kenapa dia tidak pernah menceritakan tentang kisah cintanya padaku. Apa aku termasuk sahabat yang buruk?

Dia malah tersenyum sambil menatap kembali rintikan hujan.

“Namun hujan telah merubah kemarau” nada suaranya berubah saat mengucapkan kalimat itu.

“Siapa yang merubah siapa?” Aku sedikit tertawa karena hujan adalah nama penaku yang hanya diketahui oleh Mala.

“Aku sangat membenci hujan saat ini karena hujan sudah merubah kemarau” Mala bergumam lagi. Kali ini sambil menatapku.

“Mala? Are you okay? Kamu bersikap aneh beberapa hari ini.”

“Baik? Mana mungkin aku baik-baik saja saat hujan merubah kemarau. Aku sangat menyukai kemarau. Aku melakukan segala cara agar kemarau tidak berubah” suaranya terdengar tak beraturan. Mala seperti sedang menahan amarah dan tangisnya.

“Mala...” aku memegang pundaknya yang membelakangiku dan mencoba menenangkannya. Dia berulangkali mengatakan bahwa hujan telah merubah kemarau. Siapa yang merubah dan siapa yang berubah, aku sungguh tidak mengerti maksud dari perkataan Mala.

Dia berbalik menatapku, menyerahkan sebuah amplop berwarna biru muda kepadaku. “Kemarau tidak boleh berhenti menjadi kemarau. Aku akan mencegahnya!” tangisnya mulai membasahi pipi putihnya. Dan tatapan marahnya seperti pisau yang bersiap membunuhku. Aku tidak mengerti kenapa Mala bersikap seperti itu. Mala kemudian membawa tas nya dan berlari meninggalkanku sendiri di ruang kelas ini.

Aku membenci hujan yang telah merubah kemarau. Kalimat yang keluar dari mulut Mala masih terngiang di kepalaku.

Perlahan ku buka amplop biru yang sudah lusuh itu. Di dalamnya ada selembar kertas yang seolah memanggil agar aku membacanya.

Hujan, berapa lama lagi kau akan turun?
Kemarau ingin datang menjumpa hujan.
Namun jika kemarau datang maka hujan akan menghilang.
Bisakah kau berhenti menjadi hujan?
Dan aku akan berhenti menjadi kemarau.

Bisakah kita hanya menjadi manusia biasa saja?
Bisakah kita hanya menjadi Karina dan Aditya saja?

Aku lelah menjadi kemarau.
Aku ingin berlari dari kesendirianku. Seperti katamu.
Datanglah sore ini ke atap sekolah saat aku berhenti menjadi kemarau dan kamu berhenti menjadi hujan!
                                                                       
Tidak terasa aku menangis. Mengapa hatiku terasa perih setelah membacanya? Aditya benar-benar menyadari keberadaanku. Dia ingin menjumpa hujan.

Kemarau akan menelanku jika dia datang. Demi bisa bersama dengan hujan, kemarau akan berhenti menjadi kemarau. Dan demi bersama kemarau, aku pun harus berhenti menjadi hujan. Tapi dunia ini tidak bisa bila tidak ada hujan dan kemarau. Apakah Hujan dan kemarau hanya akan selalu berdampingan namun tidak bisa bersama.

Aku berlari menuju atap. Tak kutemukan seorangpun disana. Kubuka lagi surat itu,

20 Desember 2007
Teruntuk Hujan
Dari Kemarau

Terlambat, kemarau telah menghilang. Tinggalah sekarang hujan yang menangisi hilangnya kemarau.

xxxx

Hari ini Mala menghindariku. Walaupun kami duduk satu bangku dia sama sekali tidak berbicara padaku.
Mala kini telah benar-benar berubah. Dan aku mengerti. Lebih tepatnya, berusaha mengerti.

Kemala menyukai Kemarau.

Saat istirahat aku memaksanya untuk bicara empat mata denganku. Aku pun membawanya ke atap sekolah.

"Kita harus bicara Mala!" Aku memulai percakapan.

“Oh....Jadi di atap ini Hujan dan Kemarau berencana untuk bertemu dan menghilang bersama? Sayang sekali aku menggagalkannya” Mala malah tersenyum sinis padaku.

“Sejak kapan kamu menyukai Adit” aku bertanya tak mengiraukan ucapannya tadi.

“Sebelum kamu menyukai dia”

“Sebelum aku? Aku menyukai Adit sejak hari pertama MOS”

“Aku sejak SMP”

“Kalian satu SMP? Jadi kamu selama ini berusaha menahan perasaanmu pada Adit di depanku?”

“Tepat seperti itu. Aku menahannya sampai rasanya ingin mati. Adit adalah cinta pertamaku. Aku masuk sekolah ini agar bisa terus bersamanya.”

“Mala....kenapa kamu baru bicara sekarang soal ini?”

“Tanpa sepengetahuanmu aku memang sudah dekat dengan Adit. Aku melakukan banyak hal agar bisa terus dekat dengannya. Tidak seperti kamu, pengecut yang hanya bisa menempelkan kertas berisi sampah di mading.”

“Bicaramu terlalu kasar Mala?” aku mencoba menahan amarahku mendengar kalimat kasarnya.

“Kamu berharap dia menemukan siapa hujan? Hahahaha. Aku melakukan segala cara untuk membuatnya tidak menemukanmu dan mendekatimu”

“Terus kenapa kemarin kamu memberikan surat itu padaku? Surat yang memberitahu hujan bahwa kemarau mengenali hujan. Kenapa?”

“Karena kemarau sudah berubah. Hujan sudah merubah Kemarau. Dia bahkan menulis surat dan berusaha menemui hujan. Aku sudah lelah berpura-pura baik dan berteman denganmu. Kali ini aku benar-benar serius tidak akan memberikan celah sedikitpun untukmu.”

“Jadi selama ini kamu tidak pernah menganggapku sebagai temanmu? Kamu hanya ingin memastikan bahwa kemarau selamanya tidak menemukan hujan?”

“Aku dan Adit dijodohkan sejak SMP”

“Apa?” Jujur aku terkejut mendengarnya. Kalimat dijodohkan sejak SMP membuatku sedikit menahan senyum karena ini bukan zaman Siti Nurbaya.

“Kami akan menikah dan kuliah di universitas yang sama. Gara-gara kamu, bahkan adit berusaha membatalkan perjodohan kita. Namun itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak akan membiarkannya.”

Aku mematung mendengar apa yang dikatakan Mala.

Entah kenapa aku bisa melihat tatapan mengerikan di mata Mala. Tatapan yang seolah akan melahapmu kapanpun dia mau.

Adit ingin membatalkan perjodohannya untukku? Dan apa yang membuat Mala begitu percaya diri bahwa pembatalan perjodohan itu tidak akan terjadi? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalaku, namun tak ada satupun jawaban yang memuaskanku.

Dan setelah kejadian itu, aku pun menyerah begitu saja seperti orang bodoh. Aku juga menyerah pada cintaku. Aku bahkan membuangnya di selokan, berharap air hujan membawanya. Aku hanya ingin melupakannya. Melupakan pria yang bahkan mundur sebelum berjuang.

Sejak itulah akupun berhenti membuat puisi untuknya. Hujan telah mati. Hujan tak lagi bisa bahagia. Yang tersisa hanyalah tangisan dan amarah.

Pengecut? Ya, itulah aku. Aku bahkan tak berani bertanya apapun saat dia lewat di depanku. Aku menganggap bahwa hujan tidak pernah membaca surat dari kemarau.

Sepertinya kemarau juga sama pengecutnya sepertiku. Kemarau tetap menjadi kemarau. Dan aku, hujan tetap menjadi hujan. Tak ada yang berubah dan tak ada yang bisa merubahnya karena kita sendiri yang tidak mau berubah.

Kami melewati tahun ketiga masa SMA begitu saja.
Setelah acara perpisahan sekolah, aku mendengar Mala dan Adit akan menikah dan kuliah bersama di Australia.
Ahhh Mala akan segera menemukan pengganti guling kesayangannya. Aku sungguh iri. Sangat iri!

Sementara aku,

Aku masih belum tahu apa yang aku ingin lakukan. Aku seperti kehilangan kompas. Butuh waktu cukup lama untuk memutuskan jalan mana yang akan aku ambil.

ANGIN PUJAAN HUJAN (1)

Hujan : ketika langit tak lagi biru

BAB 1 : Kemarau Menjumpa Hujan

20 Desember 2014

Aku bermimpi. Sebuah bintang telah jatuh tepat di halaman rumahku. Anehnya, bintang itu sama sekali tidak merusak apapun disekelilingnya.
Sang bintang mengeluarkan cahaya yang sangat indah namun menyilaukan. Aku berusaha mendekat. Selangkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan aku terbangun.

Jam menunjukan pukul 06.00 WIB. Aku menggeliat dengan enggan. Kuregangkan sedikit otot-ototku yang kusebut itu sebagai olahraga pagi dan berjalan menuju jendela sembari membawa guling kesayanganku.

“Huh” aku mendesah kesal. Hujan mengguyur rumah kecilku dengan derasnya. Bagaimana aku bisa pergi bekerja hari ini? Aku hanya berharap langit segera mengisap awan hitam yang sedang menangis itu.

Hei Hujan! Ketika kau menangis bisakah kau hanya menangis sendiri? Ah sayangnya awan itu selalu membagikan kesedihannya pada semua orang. Berbeda denganku yang selalu menangis sendiri.


Ya, Menangis sendiri.
Aku merasa tak perlu bangga dan sombong kepada awan. Menangis sendiri bukanlah hal yang bisa kau sombongkan dengan senyum bangga. Menangis sendiri adalah sebuah kesunyian dalam hidup yang sangat amat menyedihkan.

Hujan terlihat semakin deras. Suaranya terdengar seperti amarah yang ditumpahkan kepada alam. Aku juga ingin menangis seperti itu dan menumpahkan semua amarah kesedihanku kepada.......Ah aku ingat, aku tidak punya siapapun. Aku mendesah lagi ketika dingin mulai menyerang.

Seseorang pernah berkata “Ketika kita sudah menikah, katanya hujan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kita bisa memeluk suami kita sampai kita merasa hangat. Tapi saat kita masih sendiri, kita hanya bisa memeluk guling kesayangan kita dengan pandangan kosong”

Kalimat itu adalah kalimat yang di ucapkan Mala padaku saat SMA. Ketika kami berdua memandangi gemericik hujan di balik jendela kelas. Hal ini jelas sangat menjengkelkan! Kenapa aku bisa mengingat kalimat itu dengan sangat jelas? Bukan sebagai istri yang memeluk suaminya sampai dia merasa hangat, namun sebagai seseorang yang masih sendiri yang memeluk guling kesayangannya dengan tatapan kosong. Menyedihkan sangat menyedihkan. Mungkin Mala sekarang sedang memeluk suaminya. Aku benar-benar membenci gadis itu. Aku memandangi guling dengan tatapan marah dan kesal.

“INGATLAH INI GULING. AKU AKAN SEGERA MENGGANTIMU DENGAN SESUATU YANG BUKAN HANYA BISA MENGHANGATKANKU TAPI JUGA BISA MEMBALAS PELUKANKU” Kugigit guling tak berdosa itu. Dan saat itu aku mengingat sebuah puisi yang aku buat saat SMA. 

Sebuah puisi tentang kesendirian yang akhirnya merubah seseorang.
Seseorang yang selalu memiliki tempat di hatiku.
Seseorang yang tanpa sadar selalu aku tunggu.
Seseorang yang membuatku sangat serakah.
Seseorang yang.........seperti kemarau, sangat gersang.

Ketika kesendirian menjadi sebuah kebiasaan.
Kesendirian tak lagi terasa menakutkan.
Kau bisa mengerti bahasa kesunyian.
Dan berbincang-bincang layaknya teman.

Teman barumu kemudian menelanmu.
Mengikatmu dan membatasi langkahmu.
Seolah dunia ini hanya seluas bayanganmu.
Namun kamu merasa nyaman dengan itu.

Kesendirian memang menakutkan
Lebih menakutkan lagi saat berubah menjadi kebiasaan.
Larilah selagi kau bisa! (Bisakah aku lari dari kesendirianku?)
                                                           
Untuk Dimas Aditya Firmansyah
Dari Hujan


20 Desember 2007 
“Apa aku bisa lari dari kesendirianku?”
Aku tersentak melihat seseorang berdiri tepat didepanku. Orang itu baru saja mengatakan kalimat terakhir dari puisiku.
Dia kemudian mengulangi pertanyaannya, “Apa aku bisa lari dari kesendirianku?”
Ini adalah kali pertama dia berbicara seperti ini padaku. Aku memang pernah berbicara banyak hal dengannya namun itu untuk urusan majalah sekolah dimana aku ‘dipaksa’ untuk mewawancarainya. Saat ini, dia memulai pembicaraan santai denganku. Nyatakah ini? Entah kenapa tak ada satu katapun yang berhasil keluar dari mulutku. Aku masih mematung.
“Kamu mendengarku?” Dia kembali bertanya sambil menatapku.
Aku bisa memasuki matanya. Kami hanya terdiam dan bertatapan untuk waktu yang cukup lama.

“Adit...ya.” Aku mencoba memecah kesunyian namun gagal. Aku kembali terdiam. Entah kenapa lorong sekolah terasa sangat sunyi. Hanya terdengar suara gemericik hujan yang menyentuh tanah dengan bahagia.

“Hujan...” Adit tersenyum dan berjalan mendekat 1 langkah. Aku goyah, kakiku membawaku mundur 1 langkah.

Apa dia tahu kalau aku hujan? Gumamku dalam hati.

“Hujan semakin deras hari ini.” Dia melanjutkan kalimatnya yg tadi terhenti dan kemudian berjalan melewatiku sambil tersenyum. Bahasa tubuhnya seperti menggodaku. Seolah dia tahu bahwa aku itu hujan namun berpura-pura tidak tahu didepanku. Aku masih bisa mencium baunya yang bercampur dengan bau hujan. Suara langkah kakinya berpadu dengan suara hujan membentuk sebuah alunan nada yang terdengar indah di telingaku.

Dimas Aditya Firmansyah. Seseorang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Seseorang yang sejak masa orientasi dua setengah tahun yang lalu terlihat sangat bersinar. Sinarnya menyilaukan namun membuatmu tak berhenti menatapnya.

“Mala.... barusan aku ketemu Adit” dengan suara gemetar aku menghampiri sahabatku.

“Terus?” Jawab Mala seolah tak peduli dan hanya fokus pada soal-soal Kimia yang dia kerjakan.

“Dia mengucapkan kalimat terakhir dalam puisiku. Apa dia akhirnya tau kalau Hujan itu aku?” Aku berbicara setengah berbisik.

“Mungkin” Jawab Mala singkat, lagi-lagi tanpa menatapku.

Aku mendesah dan mencoba mengatur nafasku yang sedari tadi tidak beraturan. Sikap Mala yang seolah tidak tertarik dengan ceritaku membuatku tak nyaman.

Sudah 2 tahun aku melakukannya. Menempelkan sebuah puisi di mading sekolah secara diam-diam. Menulis semua yang ku rasakan padanya dalam sebuah puisi dan berharap dia membacanya. Kemudian berharap dia akan mencari tahu siapa itu Hujan. Dan aku juga berharap dia membalas puisi-puisiku dengan menempelkannya di mading seperti yang kulakukan.

Namun tahun pun berlalu begitu saja. Aku mulai menyerah pada harapan dia mencari tahu tentang siapa itu Hujan. Menyerah pada harapan dia membalas puisi-puisiku. Aku tetap menulis puisi-puisi untuknya seperti sebuah kebiasaan. Aku hanya merasa sangat kosong bila tidak melakukannya.

Hari ini, kenapa Hujan tiba-tiba menumbuhkan tanaman bunga di sekitarnya?Tetesannya bahkan sampai membasahi hatiku. Salahkah bila kali ini aku benar-benar berharap?

Demi pria pendiam nan cerdas itu, aku telah menolak beberapa pria yang menyukaiku. Kecuali Aldo, satu-satunya pacarku ketika SMA. Aldo adalah hasil comblangan Mala. Dia 2 tahun lebih tua dariku. Hubungan kami berakhir karena dia melanjutkan kuliah di Singapura. Kami hanya berpacaran selama 5 bulan.

Aku selalu berfikir bahwa perasaanku pada Aldo hanya pelarianku saja. Pelarian dari ketidakberanianku dalam hubungan 'tak nampak' antara aku dan Adit. Kadang aku berfikir untuk berusaha mendekati Adit dengan cara normal –bukan dengan cara sok misteriusku – tapi aku mendapati diriku tidak seberani itu.

Bahkan saat aku berkesempatan mewawancarainya untuk majalah sekolah, mulutku tetap kelu dan kaku.
Aku merasa tak cukup hebat dan percaya diri untuk bersanding dengannya. Tapi, mau sampai kapan aku harus seperti ini? Aku pun tidak tau jawabannya.

Dia menjawab setiap pertanyaanku secukupnya, tidak lebih tidak kurang, semakin membuatku mati kutu.